8 Cara Budidaya Tanaman Kakao Terbukti Berhasil

Diposting pada

Mendengar nama kakao, barangkali yang terlintas dibenak beberapa orang adalah coklat. Anggapan itu memang tidak salah mengingat tanaman kakao memang menjadi tanaman penghasil coklat. Penggunaan kakao yang diolah menjadi coklat baik dulunya diawali di dataran Amerika Selatan.

8 Cara Budidaya Tanaman Kakao Terbukti Berhasil
8 Cara Budidaya Tanaman Kakao Terbukti Berhasil

Daerah tersebut dinilai menjadi daerah asal pertama kali kakao ditemukan. Bahkan, tanaman itu telah dibudidayakan lebih dari 2000 tahun di Amerika Tengah.

Warga di dataran Amerika pertama kali memanfaatkan serbuk kokoa menjadi minuman yang dicampur dengan rempah-rempah serta dijadikan sebagai minuman persembahan dalam upacara tradisional di negara tersebut.

Dari upacara itu, tanaman kakao pun dalam bahasa latin dijuluki sebagai Theobroma cacao, yang mana mempunyai arti makanan atau minuman persembahan untuk Tuhan.

Bermula dari adat tersebut juga, tanaman kakao mulai menyebar ke dataran Eropa dan oleh beberapa kalangan menjadikan kakao sebagai minuman untuk raja dan orang-orang yang setara dengannya.

Sementara itu, tanaman kakao pertama kali dibudidayakan di Indonesia tepatnya di  Minahasa pada tahun 1700-an. Lalu, berlanjut ke Maluku dan Ambon pada tahun 1800-an.

Pada abad ke 19, terjadi suatu bencana yang mana banyak perkebunan kopi terserang penyakit, sehingga menjadikan para petaninya berganti untuk membudidayakan kakao.

Sejak awal mulanya tanaman ini dibudidayakan di Indonesia, kakao telah mempunyai potensi produksi lebih dari 1000 kg untuk per hektarnya. Sehingga, dapat dikatakan jika tanaman ini mempunyai potensi yang cukup besar untuk dibudidayakan.

Syarat Tumbuh Tanaman Kakao

Jika ingin budidaya tanaman kakao dengan hasil yang lebih baik, maka ada syarat  tumbuh tanaman kakao yang seharusnya dipenuhi. Syarat tumbuh itu berhubungan dengan iklim dan media tanam bagi tanaman.

  • Iklim

Tanaman kakao sebenarnya tidak begitu beradaptasi dengan baik pada lingkungan yang beriklim kering. Suhu yang sesuai untuk tanaman kakao adalah sekitar 25-28 °C. Jika suhu suatu daerah berada di atas 30 °C, tanaman akan mengalami pertumbuhan vegetatif.

Kemudian, dalam hal curah hujan, tanaman kakao membutuhkan curah hujan antara 1800-3000 mm untuk per tahunnya. Pada musim kemarau tanaman kakao masih dapat beradaptasi hanya sekitar 2 bulan saja. Dalam hal kelembaban udara, tingkat kelembaban yang dibutuhkan sekitar 80-90%.

Sementara itu, angin yang berhembus terlalu kencang pada daerah penanaman akan mengakibatkan tanaman kakao mengalami matinya jaringan sel daun.

Intensitas cahaya matahari pun juga menjadi hal penting untuk membantu pertumbuhan kakao. Namun, pada beberapa budidaya yang dilakukan, tanaman kakao biasanya dilindungi oleh pohon pelindung untuk menghindari paparan sinar matahari berlebihan.

  • Media Tanam

Tanah yang tepat untuk budidaya kakao merupakan tanah yang memiliki derajat kemiringan 0-40%. Lalu, mengandung banyak humus, mampu menyerap air dengan mudah, dan mempunyai pH 5-7.

Ketinggian juga kerap kali dijadikan sebagai salah satu syarat tumbuh tanaman kakao. Biasanya tanaman kakao ditanam pada daerah dengan ketinggian 500-800 m dpl.

Cara Budidaya Tanaman Kakao

Membudidayakan suatu tanaman biasanya memerlukan tahapan-tahapan serta proses yang tidak sembarangan. Langkah-langkah itu dilakukan untuk menghasilkan hasil budidaya yang baik dan optimal.

Cara Budidaya Tanaman Kakao dimulai dari pembibitan, penyemaian, pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman, dan proses panen.

1. Pembibitan

Pembibitan untuk budidaya kakao dapat dilakukan dengan dua cara. Cara yang pertama yaitu dengan metode generatif atau melalui biji. Lalu, cara yang kedua adalah dengan metode vegetatif atau melaui stek dan okulasi.

Pembibitan Tanaman Kakao
Pembibitan Tanaman Kakao

Pembibitan dengan metode generatif lebih umum dilakukan oleh pembudidaya kakao dibandingkan dengan metode vegetatif.

Dalam pemilihan bibit kakao dengan biji, sebaiknya dipilih dari biji tanaman kakao yang unggul. Namun, bisa juga didapatkan dari toko pertanian.

2. Penyemaian Bibit

Tahapan penyemaian bibit kakao terbagi menjadi dua, yaitu penyemaian awal dan penyemaian pemeliharaan. Pada penyemaian awal ini dilakukan sebelum penyemaian pemeliharaan.

Langkah yang dilakukan adalah dengan menyiapkan peti atau kotakan sebagai media semai. Dalam peti itu, diisi dengan pasir yang steril atau dengan bubuk gergaji yang steril atau yang sudah direbus.

Biji-biji kakao lantas disemai dalam media tersebut dengan posisi yang berdekatan, tetapi tidak boleh sampai biji saling berdempetan. Pada proses ini merupakan proses berkecambahnya biji-biji kakao.

Selanjutnya, pada penyemaian pemeliharaan, merupakan tahap lanjutan dari  penyemaian awal. Jika sebelumnya biji-biji kakao dikecambahkan dalam satu peti, maka pada penyemaian pemeliharaan ini biji kakao yang sudah berkecambah akan dipindahkan ke media polybag satu persatu.

Polybag tersebut diberikan campuran tanah, pasir, pupuk kompos, dan pupuk kandang dengan perbandingan masing-masing 4:1:1:1. Lalu, biji yang sudah berkecambah dibenamkan dalam campuran tersebut.

Dalam penyemaian dengan polybag ini, ada langkah-langkah pemeliharaan juga seperti melakukan penyiraman 1 kali sehari, dan pemberian pupuk urea 1,4 gram untuk setiap polybag dalam kurun 10 hari sekali.

3. Pengolahan Lahan Media Tanam

Jenis lahan yang boleh untuk digunakan sebagai media tanam kakao bisa berupa lahan apapun baik pekarangan, atau lahan perkebunan, asalkan memenuhi syarat tumbuh seperti yang telah disebutkan di atas. Namun, jika kondisi tanah ternyata memiliki kemiringan hingga 60%, maka pembuatan teras individu harus dilakukan.

Kemudian, lahan juga harus dibersihkan dari adanya gangguan gulma atau tanaman pengganggu lainnya. Jika di lahan tersebut ada sistem pengairan yang terbentuk secara alami, usahakan untuk tidak menghilangkan sistem pengairan tersebut.

Langkah selanjutnya, lakukan pengukuran derajat keasaman pada tanah. Tanah yang memenuhi syarat tumbuh kakao adalah dengan pH 5-7. Sehingga, jika ada tanah dengan yang mempunyai pH di bawah 5, maka pemberian kapur pertanian dianjurkan dengan jumlah yang disesuaikan dengan ukuran lahan.

Lantas, pembuatan lubang tanam menjadi proses selanjutnya dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm, yang mana lubang tanam ini akan diberikan pupuk.

Proses pemupukan ini menjadi pemupukan awal yang bertujuan agar tanah menjadi lebih sehat sehingga akan meningkatkan kualitas pertumbuhan tanaman kakao.

Pemberian pupuk ini diberikan kurang lebih dua minggu sebelum proses penanaman. Setiap lubang tanamnya, diberikan pupuk agrophos 300 gram, pupuk urea 200 gram, dan pupuk TSP 100 gram. Lubang yang telah diberikan pupuk pun ditutup dengan tanah.

4. Penanaman

Tanaman kakao berbeda dengan tanaman lain dalam hal budidayanya. Pada tanaman kakao diperlukan adanya pohon pelindung sebagai perlindungan tanaman kakao. Ada dua jenis tanaman pelindung kakao yaitu pelindung tetap dan pelindung sementara.

Pohon pelindung sementara umumnya berupa tanaman Theprosia candida (kacang putih serigala putih) yang ditanam 2 minggu sebelum penanaman bibit kakao. Kedua, berupa tanaman Flemingia congesta (sejenis tanaman semak perdu) yang ditanam 6 bulan sebelum penanaman tanaman kakao.

Sementara itu, pohon perlindungan tetap terdiri dari pohon albizia ditanam 2 minggu sebelum tanaman kakao ditanam dan tanaman lamtoro (Leucaena sp) yang ditanam 6 bulan sebelum penanaman kakao.

Kemudian, untuk proses penanaman kakao sendiri, dilakukan dengan memindahkan tanaman semai yang ada di polybag ke lubang tanam yang telah disiapkan. Pemindahan ini harus dilakukan dengan cara yang hati-hati.

6. Pemeliharaan Tanaman

Setelah tanaman kakao sudah selesai ditanam, ada beberapa tahapan pemeliharaan yang perlu untuk dilakukan. Tahapan ini dimulai dari penjaringan hingga penyemprotan pestisida untuk pengendalian hama. Semua tahapan ini akan dikupas lebih lanjut sebagai berikut.

  • Penyulaman dan Penyiangan

Tahapan penyulaman dilakukan dilakukan secara berkala ketika menemukan tanaman dengan kondisi pertumbuhan yang tidak baik. Umumnya, penyulaman ini dilakukan hingga usia tanaman mencapai 10 tahun.

Lalu, pada tahapan penyiangan ini merupakan tahapan pengendalian tanaman pengganggu atau gulma. Penyiangan ini dianjurkan dilakukan dengan mencabuti tanaman gulma tersebut. Disarankan juga jika proses penyiangan dilakukan secara teratur paling tidak sekali dalam satu bulan.

  • Pemangkasan

Pemangkasan terbagi menjadi tiga fase yaitu pemangkasan bentuk, pemangkasan pemeliharaan, dan pemangkasan produksi. Pemangkasan bentuk terbagi lagi menjadi dua fase yakni fase muda dan fase remaja, dimana kedua fase ini dilakukan dengan memangkas cabang-cabang pohon yang terlihat jelek dalam pertumbuhan.

Pada pemangkasan pemeliharaan, cabang, tunas, dan ranting yang kering juga dipangkas. Kemudian, pada pemangkasan produksi, dilakukan dengan tujuan supaya tanaman kakao bisa tumbuh dengan maksimal dengan memangkas daun-daun kering atau layu.

  • Pemupukan

Tahapan pemupukan susulan pada tanaman kakao dilakukan secara berkala dengan jenis pupuk yang berbeda pula. Pada usia 2 bulan, pupuk yang digunakan adalah ZA sebanyak 50 gram. Pada usia 6 bulan, pupuk yang digunakan ZA 75 gram, TSP 50 gram, KCl 30 gram, Kleserit 2 gram.

Kemudian, dilanjutkan pada usia 12 bulan dengan pupuk ZA sebanyak 100 gram. Pada usia 18 bulan, pupuk yang dipakai berupa ZA 150 gram, TSP 100 gram, KCl 70 gram, dan Kleserit 50 gram.

  • Pengairan

Pengairan lebih diprioritaskan pada tanaman kakao yang tidak ditanami dengan pohon pelindung. Jika tanaman kakao disertai dengan tanaman pelindung, maka penyiraman cukup dilakuakn rutin dan usahakan tidak membuat tanah terlalu becek. Kondisi tanah yang terlalu becek hanya akan menghambat pertumbuhan kakao.

  • Penyemprotan Pestisida

Penyemprotan pestisida dibagi menjadi dua kali yaitu penyemprotan pencegahan dan penyemprotan saat hama mulai menyerang.

Jenis pestisida yang digunakan juga menyesuaikan dengan jenis hama apa yang sering menyerang kakao. Akan tetapi, secara umum pestisida yang digunakan berupa Dekametrin, Fenitron, Sihalotrin, Sipermetrin, dan Metomil Nudrin.

7. Jenis Hama dan Penyakit

Jenis dan Hama Tanaman Kakao
Jenis dan Hama Tanaman Kakao

Hama yang paling sering ditemukan menyerang tanaman kakao adalah kepik penghisap buah, pengerek cabang, pengerek buah, kutu putih, ulat kantong, dan kutu jengkal.

Sementara itu, penyakit yang sering menghinggapi tanaman kakao berupa kanker batang, penyakit busuk buah hitam, busuk buah diplodia, penyakit akar, bercak daun, dan mati ranting.

Baca Juga : Cara Pengendalian Penyakit Busuk Pada Buah Kakao

8. Panen

Tanaman kakao dapat dipanen buahnya jika usianya mencapai 5-6 bulan dengan periode panen sekitar seminggu sampai dua minggu sekali.

Panen Tanaman Kakao
Panen Tanaman Kakao

Matangnya buah kakao ditandai oleh perubahan warna alurnya, misalnya saja alur buah yang sebelumnya berwarna hijau, maka saat masak menjadi warna kuning. Proses pemetikan buah kakao harus dilakukan dengan alat tajam seperti pisau, namun tidak boleh mengenai bagian batang.

Begitulah cara budidaya tanaman kakao mulai dari pembibitannya hingga proses panennya. Tanaman kakao merupakan tanaman yang bisa hidup secara jangka panjang hingga 10 tahun lebih. Untuk hasil produksinya pun bisa mencapai 1000 kg lebih.

Dengan melihat peluang ini, bisa dikatakan jika Cara Budidaya Tanaman Kakao dapat dijadikan lahan bisnis yang mengntungkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *