Cara Budidaya Tanaman Padi dengan Metode SRI

Diposting pada

Cara Budidaya Tanaman Padi dengan Metode SRI diharapkan dapat memberikan tambahan produksi padi sebanyak 1 – 2 ton per hektar sawah.

Cara Budidaya Tanaman Padi dengan Metode SRI
Cara Budidaya Tanaman Padi dengan Metode SRI

SRI pertama kali dikembangkan oleh French priest dan Fr. Henri de Laulanie, S. J DI Madagaskar pada awal tahun 1980. SRI kemudian mulai dikenal oleh beberapa negara di dunia termasuk Indonesia pada tahun 1997.

Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa prinsip dasar yang menjadi ketentuan dalam teknik budidaya padi dengan metode SRI, yaitu sebagai berikut:

Prinsip Budidaya Padi Metode SRI

  1. Bibit ditanam pada usia yang sangat muda, yaitu bibit yang berumur kurang dari 12 hari setelah semai (hss) – ketika bibit masih berdaun dua helai
  2. Bibit ditanam dengan pola satu lubang untuk satu tanaman, dengan jarak tanam lebar 25 x 25 cm atau 30 x 30 cm atau lebih jarang lagi, bisa juga menggunakan sistem jajar legowo 2
  3. Bibit ditanam pada usia muda dan masih lemah. Pindah tanam harus sesegera mungkin (kurang dari 30 menit) dan harus ekstra berhati-hati agar akar tidak putus dan ditanam dengan dangkal
  4. Tanah tidak diairi dengan terus menerus, pemberian air maksimum 2 cm (macak-macak) dan periode tertentu dikeringkan sampai pecah (irigasi berselang/terputus)
  5. Mengoptimalkan pengolahan tanah dengan pembajakan untuk meningkatkan aerasi tanah
  6. Penyiangan sejak awal sekitar umur 10 hari dan diulang 2 – 3 kali dengan interval 10 hari, sedapat mungkin menggunakan pupuk organik dan pestisida organik untuk mempertahankan kualitas tanah dan menjaga keseimbangan biota tanah. Baca Juga : Pengertian Pupuk Organik

Cara Budidaya Tanaman Padi dengan Metode SRI

1. Pengolahan Lahan

Lahan diolah seperti menanam padi dengan metode biasa, yaitu tanah dibajak sedalam 25 hingga 30 cm sambil membenamkan sisa-sisa gulma dan rumput-rumputan, kemudian digemburkan menggunakan garu, lalu diratakan sebaik mungkin sehingga ketika diberi air, ketinggiannya di petakan sawah akan merata.

2. Parit

Pada petak SRI perlu dibuat parit keliling dan melintang petak untuk membuang kelebihan air. Letak dan jumlah parit pembuang disesuaikan dengan bentuk dan ukuran petak, serta dimensi saluran irigasi.

3. Pemilihan Benih yang Baik

Untuk mendapatkan benih yang bermutu baik, terlebih dahulu dilakukan pengujian benih dengan cara penyeleksian menggunakan larutan air garam. Benih yang tenggelam adalah benih yang bermutu baik, lantas dicuci dengan air biasa sampai bersih.

4. Perendaman Benih

Benih yang telah diuji tersebut kemudian direndam dengan air biasa, bertujuan untuk melunakkan sekam gabah sehingga dapat mempercepat benih untuk berkecambah. Perendaman dilakukan selama 24 hingga 48 jam.

5. Penganginan Benih

Benih yang telah direndam kemudian diangkat dan dimasukkan ke dalam karung yang berpori-pori, dengan tujuan untuk memberikan udara masuk ke dalam benih padi, lalu kemudian disimpan di tempat yang lembab. Penganginan dilakukan selama 24 jam.

6. Persemaian Benih

Persemaian benih dilakukan menggunakan tampah atau besek atau juga di hamparan sawah. Benih yang sudah dianginankan ini, ditaburkan ke dalam besek yang berisi tanah. Seusai benih ditabur, ditutup dengan lapisan tanah yang tipis. Selama masa persemian, pemberian air dilakukan setiap hari agar media tetap lembab dan tanaman tetap segar.

7. Penyaplakan

Sebelum ditana, terlebih dahulu dilakukan penyaplakan dengan memakai caplak agar jarak tanam areal persawahan menjadi lurus dan rapi sehingga mudah untuk disiang.

8. Penanaman

Penanaman bibit padi harus dangkal dengan kedalaman 1 – 1,5 cm, serta pertakaran saat penanaman seperti huruf L dengan kondisi tanah sawah saat penanaman tidak tergenang air.

9. Pemupukan

Pemupukan dilakukan hingga tiga kali dalam satu musim tanam. Oleh karena budidaya padi metode SRI adalah budidaya secara organic, maka pupuk yang digunakan haruslah organik, yaitu pupuk kandang atau kompos yang sudah benar-benar matang. Pemupukan dilakukan tiga kali, pemupukan 1 dilakukan pada usia 7 – 14 hss, pemupukan 2 pada usia 20 – 30 hss, dan pemupukan 3 pada usia 40 – 45 hss.

Baca Juga :

10. Penanggulangan Hama dan Penyakit

Perlu diingat bahwa metode SRI adalah budidaya tanaman yang berbasis organik, maka sebisa mungkin menghindari penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan hama tanaman padi.

11. Panen

Panen dapat dilakukan setelah tanaman dinyatakan tua, ditandai dengan menguningnya bulir secara penuh dan merata. Panen dengan metode SRI biasanya lebih awal dibandingkan dengan metode biasa, dihitung dari hari dimulainya persemaian.

Keunggulan Metode SRI

  1. Hemat air: teknik pengairan budidaya padi metode SRI menggunakan sistem pengairan berselang atau sistem irigasi terputus. Oleh karena itu, ada masa pengairan dan ada masa pengeringan. Pengairan pun hanya dilakukan dengan ketinggian 5 mm – 2 cm saja sehingga menghemat penggunaan air.
  2. Hemat benih: dengan menggunakan metode ini, satu bibit ditanam pada satu lubang, sehingga untuk lahan seluas 1 hektar hanya membutuhkan bibit sebanyak 5 kilogram. Hal ini tentu saja menghemat penggunaan benih.
  3. Hemat waktu: metode ini mengharuskan penanaman bibit pada usia yang muda, yaitu di bawah 12 hari setelah semai (hss) sehingga waktu panen bisa menjadi lebih cepat. Dengan demikian, biaya pemeliharaan dapat ditekan.
  4. Produksi meningkat: hasil produksi padi dapat meningkat dari 50 hingga 100 % jika dibandingkan dengan metode pada umumnya. Di beberapa tempat, produksi bisa mencapai 11 ton per hektar sawah.
  5. Ramah lingkungan: secara bertahap, penggunaan pupuk kimia (Urea, SP36, KCl) akan dikurangi dan digantikan dengan pupuk organik (kompos dan kandang), begitu juga dengan digunakannya pestisida organik.

Demikianlah penjelasan dan ulasan mengenai cara budidaya tanaman padi dengan metode SRI. Semoga hasil pertanian yang sedang Anda kerjakan memperoleh keuntungan yang melimpah. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *