Panduan Membuat Kandang Burung Merpati yang Nyaman, Bersih, dan Aman

Diposting pada

Kandang merupakan salah satu faktor penting yang menentukan kenyamanan, kesehatan, dan keamanan burung merpati. Kandang yang dirancang dengan baik dapat membantu merpati beristirahat, makan, berkembang biak, serta beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.

Panduan Membuat Kandang Burung Merpati yang Nyaman, Bersih, dan Aman

Sebaliknya, kandang yang terlalu sempit, lembap, kotor, atau mudah dimasuki predator dapat meningkatkan risiko stres, penyakit, dan cedera.

Membuat kandang burung merpati sebenarnya tidak harus menggunakan bahan mahal. Peternak dapat memanfaatkan kayu, bambu, kawat ram, serta bahan bangunan lain yang tersedia di sekitar rumah. Hal terpenting adalah memperhatikan ukuran kandang, sirkulasi udara, pencahayaan, drainase, kemudahan pembersihan, dan kekuatan konstruksi.

Cara Membuat Kandang Burung Merpati yang Nyaman

Panduan ini membahas cara membuat kandang burung merpati dari tahap perencanaan hingga pemeliharaan agar kandang dapat digunakan dalam jangka panjang.

1. Menentukan Tujuan Pembuatan Kandang

Langkah pertama adalah menentukan tujuan pemeliharaan merpati. Tujuan ini berpengaruh terhadap desain, ukuran, jumlah sekat, serta fasilitas yang perlu disediakan.

Beberapa jenis kandang yang umum digunakan antara lain:

  • Kandang pemeliharaan harian: digunakan untuk menampung merpati dewasa yang dipelihara sebagai hobi atau untuk tujuan pembiakan.
  • Kandang indukan: dilengkapi tempat bersarang yang memberikan ruang cukup bagi pasangan merpati untuk bertelur dan membesarkan anaknya.
  • Kandang pembesaran: digunakan untuk merpati muda dengan memperhatikan kebutuhan ruang, tempat bertengger, dan akses pakan.
  • Kandang karantina: dipisahkan dari kandang utama untuk menempatkan burung baru atau burung yang menunjukkan gejala sakit sambil mendapatkan pengawasan.

Sebelum membuat kandang, tentukan jumlah burung yang akan dipelihara, perkiraan pertambahan populasi, serta ketersediaan lahan. Hindari membuat kandang hanya berdasarkan jumlah burung saat ini tanpa mempertimbangkan kebutuhan ruang di masa mendatang.

2. Memilih Lokasi Kandang yang Tepat

Lokasi menentukan kenyamanan kandang sekaligus memengaruhi kesehatan merpati. Pilih tempat yang tidak mudah tergenang air, memiliki sirkulasi udara baik, dan tidak terlalu dekat dengan sumber pencemaran.

Memilih Lokasi Kandang yang Tepat

Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika menentukan lokasi kandang adalah sebagai berikut.

Terlindung dari hujan dan angin kencang

Pilih lokasi yang memungkinkan atap melindungi bagian dalam kandang dari hujan. Air yang masuk terus-menerus dapat membuat alas kandang lembap dan meningkatkan risiko pertumbuhan jamur.

Kandang juga sebaiknya tidak langsung terpapar angin kencang. Namun, perlindungan tersebut tidak berarti seluruh kandang harus ditutup rapat karena merpati tetap memerlukan pertukaran udara yang baik.

Mendapatkan sinar matahari yang cukup

Pencahayaan alami membantu menjaga kondisi lingkungan kandang tetap kering. Sediakan akses sinar matahari pagi secara wajar, tetapi hindari paparan panas berlebihan pada siang hari.

Di wilayah bercuaca panas, seperti sebagian besar daerah Indonesia, atap yang memiliki kemampuan menahan panas dan area teduh sangat membantu menjaga suhu kandang.

Jauh dari gangguan dan sumber pencemaran

Hindari lokasi yang terlalu bising, berdebu, atau dekat dengan asap kendaraan dan bahan kimia. Kandang juga sebaiknya tidak berada di tempat yang mudah dijangkau kucing, tikus, ular, dan predator lainnya.

Pastikan lokasi mudah dijangkau pemilik agar kegiatan memberi pakan, mengganti air, dan membersihkan kandang dapat dilakukan secara rutin.

3. Menentukan Ukuran Kandang Burung Merpati

Ukuran kandang harus disesuaikan dengan jumlah burung, ukuran tubuh, perilaku, serta waktu yang dihabiskan merpati di dalam kandang. Tidak ada satu ukuran yang ideal untuk seluruh kondisi pemeliharaan.

Sebagai titik awal perencanaan kandang rumahan, tabel berikut dapat digunakan sebagai perkiraan praktis, bukan standar minimum universal.

Jumlah dan tujuan pemeliharaan Contoh ukuran awal Catatan
2 ekor merpati 100 × 60 × 100 cm Perhatikan ruang bergerak dan kebutuhan sarang
4 ekor merpati 150 × 100 × 150 cm Sediakan tempat bertengger dan area makan yang cukup
6–8 ekor merpati 200 × 150 × 180 cm Perlu pengaturan fasilitas agar burung tidak berdesakan
Koloni lebih besar Disesuaikan dengan populasi Sebaiknya menggunakan kandang lebih luas dan beberapa zona

Ukuran pada tabel merupakan contoh desain awal untuk membantu perencanaan. Kandang dengan dimensi tersebut tidak otomatis memenuhi kebutuhan semua merpati, terutama apabila burung harus terus-menerus berada di dalamnya. Sediakan ruang tambahan atau area terbang yang aman jika memungkinkan.

Tinggi kandang juga perlu memungkinkan burung berdiri, mengepakkan sayap, berpindah tempat, dan bertengger tanpa membentur atap.

Untuk kandang indukan, pertimbangkan penggunaan sekat agar setiap pasangan mempunyai ruang bersarang yang relatif tenang. Hindari kepadatan berlebihan karena dapat memicu persaingan pakan, gangguan ant burung, serta penumpukan kotoran.

4. Menyiapkan Alat dan Bahan Pembuatan Kandang

Setelah menentukan lokasi dan ukuran, siapkan bahan yang kuat, tahan terhadap kondisi lingkungan, serta aman untuk burung.

Bahan yang dapat digunakan meliputi:

  1. Kayu atau bambu: untuk membuat rangka utama dan penyangga kandang.
  2. Kawat ram: untuk bagian dinding yang membutuhkan ventilasi dan perlindungan dari predator.
  3. Bahan atap: dapat berupa lembaran atap yang tahan cuaca dan mampu mengurangi paparan panas.
  4. Papan atau bahan lantai: dipilih sesuai desain, dengan mempertimbangkan kekuatan, drainase, dan kemudahan pembersihan.
  5. Sekrup, baut, atau pengikat: digunakan untuk menyatukan rangka dan mengurangi risiko bagian kandang terlepas.
  6. Engsel dan pengunci pintu: membantu memudahkan akses sekaligus mencegah burung kabur.
  7. Tempat pakan dan minum: pilih wadah yang stabil dan mudah dicuci.
  8. Bahan sarang: misalnya wadah sarang yang kokoh dan bahan sarang yang bersih serta sesuai untuk merpati.

Gunakan kayu yang tidak lapuk, bambu yang tidak mudah pecah, dan kawat yang tidak memiliki ujung tajam. Jika menggunakan bahan bekas, pastikan tidak terkontaminasi cat beracun, pestisida, oli, atau bahan kimia lain.

Hindari penggunaan cat atau pelapis yang belum aman untuk hewan. Biarkan bahan pelapis mengering dan menghilangkan uapnya sesuai petunjuk produk sebelum burung ditempatkan di kandang.

5. Membuat Rangka Kandang yang Kokoh

Rangka merupakan bagian utama yang menentukan kekuatan kandang. Rangka yang tidak stabil dapat bergoyang ketika terkena angin, mengalami kerusakan akibat kelembapan, atau roboh apabila menerima beban terlalu besar.

Berikut langkah membuat rangka kandang.

  1. Ukur lahan sesuai panjang, lebar, dan tinggi kandang yang telah direncanakan.
  2. Potong kayu atau bambu sesuai ukuran. Pastikan setiap potongan memiliki panjang yang tepat.
  3. Buat rangka dasar dengan sambungan yang kuat dan rata.
  4. Pasang tiang vertikal pada setiap sudut serta titik penyangga tambahan jika bentang kandang cukup lebar.
  5. Hubungkan tiang dengan rangka bagian atas agar konstruksi lebih stabil.
  6. Periksa setiap sambungan, lalu pastikan rangka tidak mudah bergoyang.

Apabila kandang ditempatkan di luar ruangan, gunakan penyangga atau fondasi yang sesuai dengan kondisi tanah. Bagian kayu yang bersentuhan langsung dengan tanah basah sebaiknya dihindari karena lebih mudah lapuk.

Periksa juga kemungkinan adanya celah pada sambungan. Celah yang terlalu lebar dapat menjadi jalan masuk tikus atau predator kecil, sedangkan celah sempit yang memiliki tepi tajam bisa menjepit kaki dan jari burung.

6. Memasang Dinding dan Atap Kandang

Memasang Dinding dan Atap Kandang

Setelah rangka selesai, pasang dinding dan atap sesuai fungsi setiap bagian.

Pemasangan dinding

Kawat ram dapat digunakan pada sisi kandang yang membutuhkan ventilasi. Pilih ukuran lubang yang sesuai sehingga merpati tidak dapat menyelipkan kepala atau tubuhnya dan predator tidak mudah menjangkau burung dari luar.

Pasang kawat dengan kencang menggunakan pengikat atau sekrup yang sesuai. Tutup semua ujung kawat agar tidak ada bagian tajam yang terbuka.

Jika menggunakan dinding papan, sisakan bukaan ventilasi yang cukup dan terlindung dari hujan. Kandang tidak boleh menjadi ruang tertutup yang pengap, tetapi juga tidak boleh terlalu terbuka hingga burung terus-menerus terkena hujan dan angin kencang.

Pemasangan atap

Atap sebaiknya menutupi seluruh bagian yang digunakan untuk tidur, makan, dan bersarang. Buat kemiringan yang memadai agar air hujan mengalir keluar, bukan menggenang di permukaan atap.

Jika memungkinkan, buat bagian atap yang menjorok melewati dinding. Desain ini membantu mengurangi masuknya air hujan melalui sisi kandang.

Bahan atap yang menyerap atau menghantarkan panas secara berlebihan perlu diimbangi dengan insulasi atau lapisan peneduh yang sesuai. Pastikan bahan tambahan tidak mudah dijangkau dan dipatuk burung.

7. Membuat Lantai Kandang yang Mudah Dibersihkan

Lantai merupakan bagian yang sering terkena kotoran, sisa pakan, dan tumpahan air. Karena itu, desain lantai harus mendukung kebersihan dan mencegah kelembapan berlebihan.

Ada beberapa pilihan lantai yang dapat digunakan.

  • Lantai padat yang mudah dibersihkan. Lantai dari bahan yang kokoh dan tidak mudah menyerap air dapat mempermudah pengumpulan kotoran. Pastikan permukaannya tidak licin dan tidak memiliki bagian yang dapat melukai kaki merpati.
  • Lantai dengan baki penampung kotoran. Baki yang dapat dilepas memudahkan pemilik membersihkan kotoran tanpa harus membongkar kandang. Letakkan pada posisi yang aman agar tidak menjadi tempat burung terperosok.
  • Lantai panggung. Kandang yang ditinggikan dari tanah dapat membantu mengurangi risiko masuknya air saat hujan. Namun, konstruksi harus stabil, celah lantai tidak boleh menjepit kaki, dan bagian bawah tetap perlu dibersihkan.

Tidak semua desain lantai berlubang cocok untuk merpati. Hindari permukaan yang membuat kaki mudah terjepit atau menyebabkan burung kesulitan berdiri.

Sediakan sistem pembuangan air yang baik di sekitar kandang. Jangan biarkan air cucian, air hujan, atau kotoran mengalir dan menumpuk di bawah kandang.

8. Menyediakan Tempat Bertengger dan Sarang

Tempat bertengger membantu merpati beristirahat dengan nyaman. Sementara itu, sarang diperlukan terutama untuk pasangan yang akan bertelur dan membesarkan anak.

Menyediakan Tempat Bertengger dan Sarang

Membuat tempat bertengger

Gunakan batang kayu yang kuat dengan permukaan relatif halus, tidak licin, dan tidak memiliki serpihan tajam. Diameter tempat bertengger harus sesuai dengan ukuran kaki burung.

Pasang beberapa tempat bertengger dengan jarak yang memungkinkan burung berpindah tanpa terus-menerus bertabrakan. Hindari menempatkan tempat bertengger tepat di atas wadah pakan atau minum karena kotoran dapat jatuh ke dalamnya.

Menyediakan tempat bersarang

Gunakan wadah sarang yang stabil dan cukup luas untuk pasangan merpati. Wadah dapat dibuat dari kayu atau bahan lain yang mudah dibersihkan dan tidak berbahaya.

Letakkan sarang di bagian kandang yang relatif tenang, terlindung dari hujan, serta tidak terlalu dekat dengan pintu yang sering dibuka.

Untuk kandang beberapa pasangan, sediakan tempat bersarang yang memadai agar burung tidak terus-menerus berebut lokasi. Pisahkan sarang dari area pakan dan minum supaya kotoran tidak mudah mencemari perlengkapan tersebut.

9. Mengatur Ventilasi dan Pencahayaan

Ventilasi yang baik membantu mengurangi kelembapan dan penumpukan debu. Kandang yang pengap dapat membuat lingkungan menjadi tidak nyaman dan memperburuk kualitas udara.

Buat bukaan pada beberapa sisi kandang agar udara dapat bertukar. Akan tetapi, jangan mengarahkan aliran udara kencang secara langsung ke tempat anak merpati atau area istirahatnya.

Perhatikan beberapa prinsip berikut:

  • Pastikan udara segar dapat masuk dan udara lembap dapat keluar.
  • Hindari menutup seluruh dinding dengan bahan yang tidak memungkinkan pertukaran udara.
  • Gunakan atap atau peneduh untuk mengurangi panas berlebihan.
  • Jaga agar cahaya alami masuk tanpa membuat kandang terlalu panas.
  • Pastikan kandang tetap cukup terang untuk memudahkan pemeriksaan kondisi burung.

Pada cuaca panas, perhatikan tanda-tanda kepanasan seperti terengah-engah, mengepakkan sayap menjauh dari tubuh, atau terlihat sangat lemah. Segera perbaiki kondisi lingkungan dan sediakan air minum bersih.

10. Memasang Pintu dan Sistem Pengamanan

Pintu kandang perlu cukup lebar untuk memasukkan wadah pakan, mengeluarkan baki kotoran, serta menangani burung dengan aman.

Pasang engsel yang kuat dan pengunci yang tidak mudah terbuka. Hindari mekanisme yang memiliki celah berbahaya bagi jari burung.

Jika lokasi memiliki risiko predator tinggi, pertimbangkan penggunaan pintu ganda atau ruang masuk kecil. Sistem ini membantu mengurangi risiko merpati kabur ketika pintu utama dibuka.

Periksa bagian bawah, sudut dinding, dan sambungan atap secara rutin. Tikus dapat masuk melalui celah yang tidak terlihat, sedangkan kucing atau predator lain bisa merusak bagian kandang yang lemah.

Simpan pakan dalam wadah tertutup agar tidak menarik tikus. Hindari meninggalkan sisa pakan berlebihan semalaman karena dapat meningkatkan risiko gangguan hama.

11. Menempatkan Tempat Pakan dan Minum

Tempat pakan dan minum harus mudah dijangkau merpati, tetapi tidak menghalangi ruang bergerak. Pilih wadah yang stabil, mudah dicuci, dan tidak memiliki tepi tajam.

Tempat pakan sebaiknya ditempatkan di area yang kering dan terlindung dari kotoran. Gunakan wadah yang mengurangi kemungkinan burung menginjak atau mengacak-acak pakan.

Air minum perlu diganti secara rutin, lebih sering ketika cuaca panas atau air cepat tercemar. Cuci wadah menggunakan alat khusus untuk kandang dan bilas sampai bersih agar tidak ada sisa bahan pembersih.

Jangan menempatkan air minum tepat di bawah tempat bertengger. Kotoran yang jatuh dapat mencemari air dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

12. Membuat Sistem Kebersihan yang Praktis

Kandang yang nyaman bukan hanya kandang yang terlihat rapi, tetapi juga kandang yang dapat dibersihkan secara konsisten. Karena itu, sejak awal desain harus memudahkan pemilik menjangkau sudut kandang dan mengeluarkan kotoran.

Beberapa cara yang dapat diterapkan antara lain:

  1. Gunakan baki kotoran yang dapat dilepas apabila desain kandang memungkinkan.
  2. Buat pintu akses yang cukup besar untuk membersihkan bagian dalam.
  3. Pisahkan tempat pakan dan minum dari area yang sering terkena kotoran.
  4. Hindari sudut sempit yang sulit dijangkau alat pembersih.
  5. Sediakan alat khusus untuk membersihkan kandang agar tidak bercampur dengan peralatan rumah tangga.

Kotoran dan sisa pakan perlu dibuang secara rutin. Frekuensi pembersihan disesuaikan dengan jumlah burung, kelembapan, kondisi lantai, dan seberapa cepat kandang menjadi kotor.

Pembersihan harian dapat mencakup penggantian air minum, pemeriksaan pakan, dan pengambilan kotoran yang menumpuk. Pembersihan lebih menyeluruh dilakukan secara berkala, termasuk mencuci wadah, memeriksa sudut kandang, dan membersihkan tempat sarang jika diperlukan.

Setelah mencuci kandang, pastikan permukaannya cukup kering sebelum digunakan kembali. Jika menggunakan disinfektan, pilih produk yang sesuai untuk lingkungan pemeliharaan burung dan ikuti petunjuk pengenceran, waktu kontak, pembilasan, serta pengeringan. Jangan mencampur bahan kimia pembersih.

Untuk memahami hubungan kebersihan lingkungan dan kesehatan hewan, pemilik dapat membaca referensi pemeliharaan hewan yang relevan, kemudian berkonsultasi dengan dokter hewan jika ditemukan gejala penyakit.

13. Memilih Bahan Kandang yang Tahan Lama

Pemilihan bahan yang tepat membantu mengurangi biaya perbaikan dan menjaga keamanan kandang dalam jangka panjang.

Kayu mudah dibentuk dan dapat memberikan kesan alami, tetapi perlu dilindungi dari kelembapan dan rayap. Bambu relatif mudah diperoleh, tetapi harus dipilih yang kuat, tidak lapuk, dan tidak memiliki ujung pecah.

Kawat galvanis yang sesuai untuk penggunaan luar ruangan dapat digunakan untuk dinding, asalkan tidak berkarat, tidak memiliki ujung tajam, dan dipasang dengan benar. Periksa kondisi lapisannya secara berkala.

Atap perlu dipilih berdasarkan ketahanan terhadap hujan, kemampuan mengurangi panas, dan kemudahan pemasangan. Jangan hanya memilih bahan berdasarkan harga termurah karena atap yang terlalu panas dapat mengurangi kenyamanan burung.

Untuk menghemat biaya, gunakan desain sederhana dengan ukuran yang mudah diukur dan bahan yang tersedia di sekitar rumah. Namun, jangan mengurangi kualitas pengunci, sambungan rangka, atau perlindungan dari predator demi menghemat pengeluaran.

14. Melakukan Pemeriksaan Sebelum Merpati Dimasukkan

Kandang yang baru selesai dibuat harus diperiksa terlebih dahulu. Jangan langsung memasukkan burung sebelum seluruh bagian dipastikan aman.

Gunakan daftar pemeriksaan berikut:

  • Rangka tidak goyah dan seluruh sambungan terpasang kuat.
  • Atap tidak bocor dan mampu mengalirkan air hujan.
  • Tidak ada kawat, paku, atau serpihan kayu yang tajam.
  • Pintu dapat dibuka dan dikunci dengan baik.
  • Celah kandang tidak memungkinkan burung terjepit atau predator mudah masuk.
  • Ventilasi cukup dan bagian dalam tidak pengap.
  • Lantai kering serta mudah dibersihkan.
  • Tempat pakan, minum, bertengger, dan sarang telah terpasang stabil.
  • Tidak ada bau menyengat dari cat, lem, atau bahan pelapis.
  • Kandang terlindung dari genangan dan panas berlebihan.

Setelah pemeriksaan, amati kandang pada kondisi cuaca berbeda jika memungkinkan. Periksa apakah air hujan masuk melalui dinding, apakah atap menyimpan panas, dan apakah pintu masih dapat berfungsi dengan baik.

Jika semua komponen sudah aman, masukkan merpati secara bertahap sambil mengamati perilakunya. Burung harus dapat bergerak, bertengger, makan, dan minum tanpa kesulitan.

15. Menjaga Kandang Tetap Nyaman Setelah Digunakan

Pembuatan kandang bukan pekerjaan yang selesai setelah rangka dan atap terpasang. Kondisi kandang harus terus dipantau agar tetap nyaman digunakan.

Lakukan pemeriksaan harian terhadap kondisi burung, kebersihan air minum, sisa pakan, dan penumpukan kotoran. Amati pula apakah ada burung yang terlihat lesu, tidak mau makan, mengalami luka, atau terus-menerus dijauhi oleh burung lain.

Periksa rangka, kawat, pintu, serta atap secara berkala, terutama setelah hujan lebat atau angin kencang. Segera perbaiki bagian yang rusak agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Jika ada burung baru, tempatkan secara terpisah terlebih dahulu sesuai kebutuhan karantina dan mintalah saran dokter hewan mengenai pemeriksaan kesehatan. Jangan langsung mencampur burung baru dengan kelompok lama karena ada kemungkinan membawa penyakit.

Hindari kepadatan berlebihan. Jika populasi bertambah, tambahkan ruang atau pisahkan kelompok burung. Kandang yang terlalu padat lebih sulit dibersihkan dan meningkatkan persaingan untuk mendapatkan pakan, air, serta tempat bersarang.

Kandang yang baik juga perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi burung. Anak merpati membutuhkan perlindungan lebih besar, sedangkan burung dewasa memerlukan ruang bergerak dan tempat bertengger yang memadai.

Kesimpulan

Panduan membuat kandang burung merpati yang nyaman, bersih, dan aman dimulai dari pemilihan lokasi, penentuan ukuran, pemilihan bahan, hingga pemasangan rangka, dinding, atap, lantai, tempat bertengger, dan sarang.

Setiap bagian harus dirancang agar burung dapat bergerak dengan nyaman, memperoleh udara segar, terlindung dari cuaca, dan terhindar dari predator.

Kebersihan serta perawatan rutin sama pentingnya dengan konstruksi kandang. Sediakan air minum bersih, kelola pakan dengan baik, buang kotoran secara teratur, dan periksa kerusakan kandang sebelum menimbulkan bahaya.

Dengan perencanaan yang tepat dan pemeriksaan berkala, kandang sederhana pun dapat menjadi tempat pemeliharaan merpati yang lebih nyaman dan mendukung kesehatan burung dalam jangka panjang.

Baca Juga : Cara Menjaga Kebersihan Kandang Merpati untuk Mencegah Penyakit

Sumber dan Referensi

  • Djanah, D., & Sulistyani. (1985). Beternak Merpati. Jakarta: CV. Simplex.
  • Sarjana, T. A., Kismiati, S., & Shihah, H. D. (2022). Panduan Budidaya Merpati. Semarang: Penerbit Universitas Diponegoro.
  • Suhaeni, N. (2023). Petunjuk Praktis Beternak Merpati. Bandung: Nuansa Cendekia.
  • Rasyaf, M., & Amrullah, I. K. (1982). Beternak Burung Dara. Jakarta: Penebar Swadaya.
  • Agrihobi. (2005). Memelihara dan Beternak Merpati. Jakarta: Penebar Swadaya.
  • Soesonoe, A. (1989). Memelihara dan Berternak Burung Merpati. Jakarta: Penebar Swadaya.
  • Mulyantini, N. G. A. (2010). Ilmu Manajemen Ternak Unggas. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  • Sudjarwo, E., Muharlien, Hamiyanti, A. A., Prayogi, H. S., & Yulianti, D. L. (2019). Manajemen Produksi Ternak Unggas. Malang: Universitas Brawijaya Press.
  • Suprijatna, E., Atmomarsono, U., & Kartasudjana, R. (2005). Ilmu Dasar Ternak Unggas. Jakarta: Penebar Swadaya.
  • Rasyaf, M. (1992). Pengelolaan Peternakan Unggas Pedaging. Yogyakarta: Kanisius.
  • Murtidjo, B. A. (1992). Mengelola Ayam Buras. Yogyakarta: Kanisius.
  • Anwar, K., Rizkuna, A., Hakim, M., dkk. (2026). Perkandangan dan Peralatan Ternak Unggas. Azzia Karya Bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *