Klasifikasi dan Morfologi Jamur Shiitake dengan Ciri dan Tahapan Pertumbuhannya

Diposting pada

Jamur shiitake merupakan salah satu jamur pangan yang sangat dikenal di dunia, terutama di negara-negara Asia Timur seperti Jepang, China, dan Korea. Nama ilmiahnya adalah Lentinula edodes (Berk.) Pegler.

Klasifikasi dan Morfologi Jamur Shiitake dengan Ciri dan Tahapan Pertumbuhannya

Jamur ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena dimanfaatkan sebagai bahan pangan, bahan baku industri pangan, serta menjadi salah satu objek penelitian dalam bidang biologi, genetika, bioteknologi, fisiologi, dan budidaya jamur.

Dalam berbagai tulisan lama, shiitake sering disebut sebagai “tanaman jamur”. Istilah tersebut sebenarnya kurang tepat secara biologis.

Shiitake bukan tanaman, melainkan organisme dari Kingdom Fungi. Jamur tidak memiliki klorofil sehingga tidak melakukan fotosintesis seperti tumbuhan hijau.

Sebagai organisme heterotrof, shiitake memperoleh nutrisi dari bahan organik, terutama material berkayu yang mengandung lignoselulosa.

Pemahaman mengenai jamur juga merupakan bagian dari kajian biologi. Pembaca yang ingin memahami ruang lingkup ilmu yang mempelajari makhluk hidup dapat membaca artikel Pengertian Biologi Adalah Manfaat dan Cabang-Cabangnya, termasuk pembahasan mengenai mikologi, morfologi, fisiologi, genetika, dan taksonomi.

Sampai 2026, pemahaman mengenai shiitake juga semakin berkembang. Penelitian modern tidak hanya mengamati bentuk tudung, tangkai, insang, dan spora, tetapi juga menggunakan pendekatan molekuler dan genomik untuk memahami hubungan kekerabatan, variasi genetik, pembentukan tubuh buah, serta perbedaan antarkultivar.

Analisis genom bahkan menunjukkan bahwa kelompok Lentinula memiliki keragaman genetik yang lebih kompleks daripada yang sebelumnya dipahami.

Apa Itu Jamur Shiitake?

Jamur shiitake adalah jamur kayu yang secara alami tumbuh pada atau berasosiasi dengan kayu keras. Nama spesiesnya adalah Lentinula edodes.

Dalam bahasa Jepang, “shiitake” berasal dari kata yang berkaitan dengan pohon shii, yaitu salah satu jenis pohon yang secara tradisional menjadi substrat tumbuh jamur tersebut.

Shiitake termasuk kelompok jamur pelapuk putih atau white-rot fungi. Kelompok ini mempunyai kemampuan untuk menguraikan komponen kayu, termasuk lignin, sehingga berperan dalam proses dekomposisi bahan organik di alam.

Spesies Lentinula pada umumnya berasosiasi dengan kayu dan banyak ditemukan pada kelompok pohon berdaun lebar.

Berbeda dengan tumbuhan, bagian yang terlihat seperti “tanaman” pada shiitake sebenarnya merupakan tubuh buah atau basidioma. Tubuh buah tersebut merupakan struktur reproduktif yang menghasilkan dan melepaskan spora.

Bagian utama organisme shiitake justru berada di dalam substrat berupa jaringan hifa yang disebut miselium. Jaringan inilah yang berperan dalam pertumbuhan vegetatif dan kolonisasi substrat sebelum tubuh buah terbentuk.

Klasifikasi Jamur Shiitake

Klasifikasi ilmiah digunakan untuk mengelompokkan organisme berdasarkan karakteristik dan hubungan kekerabatannya.

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, klasifikasi tidak hanya menggunakan karakter morfologi, tetapi juga dapat memanfaatkan informasi genetika dan molekuler.

Pembahasan yang lebih luas mengenai pendekatan klasifikasi dapat dilihat pada artikel Metode Klasifikasi Tanaman. Artikel tersebut menjelaskan klasifikasi berdasarkan morfologi serta perkembangan metode molekuler dan analisis DNA.

Klasifikasi shiitake yang digunakan dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut:

Tingkatan Taksonomi Klasifikasi
Domain Eukaryota
Kingdom Fungi
Filum Basidiomycota
Subfilum Agaricomycotina
Kelas Agaricomycetes
Subkelas Agaricomycetidae
Ordo Agaricales
Famili Omphalotaceae
Genus Lentinula
Spesies Lentinula edodes

Klasifikasi Jamur Shiitake

Klasifikasi tersebut menempatkan shiitake secara jelas dalam Kingdom Fungi, bukan Kingdom Plantae. Posisi tersebut penting karena jamur mempunyai struktur tubuh, cara memperoleh nutrisi, sistem reproduksi, dan pola pertumbuhan yang berbeda dari tumbuhan.

Klasifikasi modern menempatkan shiitake dalam Fungi, Basidiomycota, Agaricomycetes, Agaricales, Omphalotaceae, Lentinula, dan Lentinula edodes.

Perubahan Nama Ilmiah Shiitake

Nama ilmiah shiitake memiliki sejarah yang cukup panjang. Pada awalnya, Miles Joseph Berkeley memberikan nama Agaricus edodes pada abad ke-19.

Setelah perkembangan ilmu taksonomi dan pemahaman terhadap karakter morfologi jamur, spesies ini mengalami beberapa kali perubahan penempatan genus.

Nama Lentinus edodes juga pernah banyak digunakan. Saat ini nama yang diterima secara luas adalah Lentinula edodes (Berk.) Pegler. NCBI mencatat Agaricus edodes sebagai basionim dan Lentinus edodes sebagai sinonim homotipik.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa klasifikasi jamur tidak selalu bersifat tetap. Perkembangan mikroskopi, karakter perkembangbiakan, dan terutama analisis DNA menyebabkan hubungan kekerabatan antarjamur dapat dipahami dengan lebih baik.

Karena itu, klasifikasi organisme modern sebaiknya tidak hanya mengandalkan bentuk luar. Karakter morfologi tetap penting, tetapi dapat dilengkapi dengan data molekuler untuk memperoleh gambaran kekerabatan yang lebih akurat.

Perkembangan Klasifikasi Shiitake Berdasarkan Genetika

Salah satu perkembangan penting dalam penelitian shiitake adalah penggunaan analisis DNA dan genom.

Dahulu, identifikasi spesies terutama dilakukan berdasarkan karakter yang terlihat, seperti bentuk tudung, warna, ukuran tangkai, susunan insang, dan karakter spora. Namun, beberapa karakter tersebut dapat berubah karena umur tubuh buah, lingkungan tumbuh, substrat, dan kondisi budidaya.

Penelitian filogenetik modern menggunakan penanda molekuler seperti ITS, LSU, dan TEF1-α untuk membandingkan hubungan antarpopulasi Lentinula.

Penelitian berskala global menemukan keragaman garis keturunan yang lebih kompleks dalam genus tersebut. Bahkan, L. edodes sensu lato menunjukkan beberapa garis keturunan yang secara genetik berbeda dan berpotensi memiliki implikasi terhadap konsep spesies.

Hal ini penting dalam budidaya karena berbagai strain atau kultivar shiitake dapat memiliki perbedaan dalam kecepatan pertumbuhan, bentuk tubuh buah, toleransi suhu, ukuran tudung, dan hasil produksi.

Pembahasan mengenai istilah genetik dapat dilanjutkan melalui artikel 50+ Istilah dalam Ilmu Genetik dan Penjelasan Lengkapnya.

Istilah seperti gen, alel, genotipe, fenotipe, mutasi, dan rekombinasi membantu memahami mengapa organisme dapat mempunyai variasi sifat.

Penelitian yang dipublikasikan pada 2026 juga menunjukkan adanya keragaman genetik pada strain L. edodes dari India berdasarkan beberapa penanda molekuler.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa karakter genetik antargalur dapat menjadi informasi penting untuk pemuliaan dan pengembangan strain baru.

Ciri-Ciri Umum Jamur Shiitake

Jamur shiitake memiliki tubuh buah yang relatif mudah dikenali. Ciri utamanya adalah tudung berwarna cokelat, insang berwarna putih hingga krem, serta tangkai yang relatif pendek dan kuat.

Namun, bentuk tubuh buah tidak selalu sama. Ukuran dan warna dapat berbeda tergantung strain, umur, kondisi lingkungan, substrat, dan metode budidaya.

Secara umum, karakter shiitake meliputi:

  • Tudung berwarna cokelat muda hingga cokelat tua;
  • Permukaan tudung dapat memiliki sisik atau bercak putih;
  • Bentuk tudung pada awalnya cembung;
  • Tudung berkembang menjadi lebih melebar ketika dewasa;
  • Bagian bawah tudung memiliki lamela atau insang;
  • Insang umumnya berwarna putih hingga krem;
  • Tangkai berwarna putih kecokelatan hingga cokelat;
  • Tangkai bersifat relatif kuat dan berserat;
  • Tubuh buah menghasilkan spora berwarna putih hingga putih-krem.

Beberapa deskripsi morfologi mencatat diameter tudung dapat berada pada kisaran beberapa sentimeter hingga lebih dari 20 cm pada kondisi atau spesimen tertentu.

Karena itu, angka ukuran sebaiknya dipahami sebagai kisaran morfologis, bukan ukuran mutlak untuk semua kultivar.

Untuk melihat contoh karakter morfologi jamur pangan lainnya, pembaca dapat membandingkan shiitake dengan Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Jamur Tiram.

Jamur tiram juga termasuk jamur kayu dan mempunyai miselium serta tubuh buah, tetapi bentuk tudung, tangkai, dan karakter lainnya berbeda.

Morfologi Tudung Jamur Shiitake

Morfologi Tudung Jamur Shiitake

Bagian paling mudah dikenali dari shiitake adalah tudung atau pileus.

Pada fase muda, tudung cenderung berbentuk bulat, menggembung, atau hemisferis. Seiring pertumbuhan, tudung semakin melebar dan dapat berubah menjadi bentuk cembung hingga hampir datar.

Warna tudung biasanya berada pada spektrum cokelat, mulai dari cokelat muda, cokelat kemerahan hingga cokelat tua. Pada beberapa strain, warna dapat terlihat lebih gelap.

Permukaan tudung dapat memiliki sisik, bercak, atau pola retakan. Pola tersebut tidak selalu menunjukkan kerusakan. Pada kondisi tertentu, retakan alami pada permukaan tudung justru merupakan karakter yang digunakan dalam penilaian kualitas shiitake.

Penelitian morfologi terbaru menunjukkan bahwa variasi bentuk tudung dapat cukup besar antarstrain. Diameter tudung, ketebalan, warna, dan bentuk keseluruhan tubuh buah dapat dipengaruhi oleh faktor genetik maupun lingkungan.

Lamela atau Insang

Di bagian bawah tudung terdapat struktur berupa lembaran-lembaran yang disebut lamela atau gills.

Lamela merupakan bagian penting karena pada permukaannya terdapat struktur reproduktif yang berhubungan dengan pembentukan basidiospora.

Warna lamela pada shiitake umumnya putih hingga krem. Pada tubuh buah yang semakin tua, perubahan warna dapat terjadi.

Susunan lamela merupakan salah satu karakter morfologi yang membantu membedakan shiitake dari beberapa kelompok jamur lainnya. Deskripsi taksonomi mencatat lamela Lentinula dapat memiliki hubungan tertentu dengan tangkai, sementara karakter permukaan dan susunannya dapat berubah seiring umur tubuh buah.

Tangkai Jamur Shiitake

Tangkai disebut juga stipe.

Pada shiitake, tangkai umumnya relatif pendek dibandingkan diameter tudung. Bentuknya dapat silindris dengan bagian yang sedikit membesar atau mengecil tergantung posisi dan kondisi pertumbuhan.

Tekstur tangkai cenderung keras dan berserat. Warna tangkai biasanya lebih pucat dibandingkan tudung, walaupun variasi dapat ditemukan pada berbagai strain.

Ukuran tangkai juga sangat dipengaruhi kondisi budidaya. Penelitian menunjukkan bahwa karakter seperti panjang dan diameter tangkai dapat berubah berdasarkan strain dan kondisi lingkungan.

Spora Jamur Shiitake

Sebagai anggota Basidiomycota, shiitake berkembang biak secara seksual melalui pembentukan basidiospora.

Spora dihasilkan pada struktur mikroskopis yang disebut basidium, yang terdapat pada permukaan himenium, terutama pada bagian lamela.

Spora shiitake berukuran mikroskopis dan umumnya berbentuk bulat telur hingga elipsoid. Beberapa deskripsi morfologi mencatat ukuran sekitar 5,5–6,5 × 3–3,5 μm, dengan spora yang halus, hialin, dan tidak amiloid.

Setelah dilepaskan dan berada pada lingkungan yang sesuai, spora dapat berkecambah dan menghasilkan hifa. Hifa kemudian berkembang menjadi miselium.

Hifa dan Miselium

Jika tubuh buah merupakan bagian yang paling mudah dilihat, maka miselium adalah bagian vegetatif utama jamur.

Miselium tersusun atas kumpulan hifa. Hifa berbentuk seperti benang halus yang dapat tumbuh dan bercabang di dalam substrat.

Pada awal pertumbuhan, miselium shiitake umumnya berwarna putih. Miselium kemudian berkembang dan memenuhi substrat kayu atau media budidaya.

Dalam proses pematangan substrat, miselium dapat mengalami perubahan warna menjadi cokelat. Pada budidaya modern, proses perubahan tersebut merupakan salah satu indikator perkembangan menuju fase pembentukan tubuh buah.

Karena itu, pertumbuhan shiitake sebenarnya tidak dimulai dari tudung. Pertumbuhan dimulai dari spora atau kultur, kemudian hifa berkembang menjadi miselium, dan setelah kondisi sesuai barulah tubuh buah terbentuk.

Tahapan Pertumbuhan Jamur Shiitake

Pertumbuhan shiitake dapat dijelaskan melalui beberapa tahapan utama. Setiap tahapan mempunyai perubahan morfologi dan fisiologi yang berbeda.

1. Perkecambahan Spora

Siklus dapat dimulai ketika basidiospora dilepaskan dari tubuh buah. Dalam kondisi yang sesuai, spora berkecambah dan membentuk hifa.

Hifa berkembang dan membentuk jaringan miselium.

Tahap ini merupakan awal dari pembentukan organisme jamur secara vegetatif. Keberhasilan perkecambahan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang sesuai.

2. Pertumbuhan Miselium

Miselium kemudian menyebar ke dalam substrat dan menggunakan komponen organik sebagai sumber nutrisi.

Pada budidaya berbasis serbuk kayu, miselium secara perlahan mengkolonisasi seluruh media. Pada tahap awal, permukaan media dapat terlihat tertutup oleh lapisan hifa putih.

Kecepatan kolonisasi dapat berbeda tergantung strain, komposisi substrat, suhu, kelembapan, aerasi, serta kondisi inokulum.

3. Pembentukan Lapisan Pelindung dan Browning

Setelah substrat terkolonisasi, miselium mengalami perubahan perkembangan. Permukaan blok dapat menjadi lebih keras dan secara bertahap berubah warna menjadi cokelat.

Tahap browning merupakan karakter penting dalam budidaya shiitake. Penelitian budidaya modern membagi perkembangan miselium menjadi beberapa fase, termasuk pertumbuhan miselium, pembentukan lapisan miselium, pembentukan tonjolan, pigmentasi atau browning, dan pengerasan lapisan pelindung.

Perubahan tersebut menandai perkembangan substrat menuju kondisi yang mendukung pembentukan tubuh buah.

4. Pembentukan Primordia

Setelah kondisi lingkungan mendukung, kumpulan miselium mulai membentuk struktur awal tubuh buah yang disebut primordia.

Primordia dapat terlihat seperti tonjolan kecil pada permukaan substrat. Struktur ini kemudian berkembang menjadi calon tubuh buah.

Tahap pembentukan primordia sangat penting karena menentukan awal transisi dari pertumbuhan vegetatif menuju perkembangan reproduktif.

5. Stadium Pinhead

Pada tahap awal pembentukan tubuh buah, ukurannya masih sangat kecil sehingga sering disebut sebagai stadium pinhead.

Bentuknya belum menyerupai jamur dewasa. Tudung masih kecil dan tangkai belum berkembang sempurna.

Pada artikel lama Agrotek.id tentang shiitake, stadium pinhead juga menjadi salah satu tahap perkembangan yang dibahas. Versi baru ini memperluas pembahasan tersebut dengan memasukkan proses dari spora, hifa, miselium, browning hingga pembentukan tubuh buah.

6. Stadium Button

Tubuh buah kemudian berkembang menjadi bentuk seperti kancing atau button stage.

Pada tahap ini tudung mulai terlihat lebih jelas, tetapi masih berukuran kecil dan belum membuka.

Perubahan dari pinhead menuju button menunjukkan bahwa struktur tubuh buah mulai mengalami perkembangan yang lebih cepat.

7. Perkembangan Tubuh Buah

Selanjutnya, tudung dan tangkai berkembang secara cepat. Diameter tudung meningkat, lamela mulai berkembang, dan struktur tubuh buah menjadi semakin jelas.

Faktor seperti suhu, kelembapan, cahaya, oksigen, kadar air substrat, dan karakter strain dapat memengaruhi perkembangan tubuh buah.

Penelitian menunjukkan bahwa pencahayaan juga dapat memengaruhi rasio perkembangan tudung dan tangkai. Oleh sebab itu, pengelolaan lingkungan menjadi bagian penting dalam budidaya shiitake.

8. Stadium Matang dan Panen

Pada tahap matang, tudung telah berkembang dan bentuk tubuh buah menjadi jelas. Lamela mulai terlihat pada bagian bawah tudung.

Waktu panen bergantung pada tujuan produksi dan standar kualitas. Tubuh buah dapat dipanen sebelum tudung terbuka sepenuhnya untuk mendapatkan karakter tertentu.

Penelitian modern bahkan telah mengembangkan sistem pengenalan berbasis computer vision dan kecerdasan buatan untuk mendeteksi serta mengklasifikasikan tingkat perkembangan tubuh buah shiitake. Salah satu penelitian terbaru menggunakan pendekatan Mamba-YOLO untuk mendeteksi tubuh buah dan membantu proses klasifikasi otomatis dalam produksi.

Faktor yang Memengaruhi Morfologi Shiitake

Bentuk tubuh buah shiitake tidak hanya ditentukan oleh genetik. Faktor lingkungan juga mempunyai pengaruh besar.

Beberapa faktor penting antara lain:

  • Suhu;
  • Kelembapan;
  • Cahaya;
  • Aerasi;
  • Kadar air substrat;
  • Komposisi media;
  • Jenis kayu;
  • Umur dan kualitas strain;
  • Metode induksi pembentukan tubuh buah.

Penelitian menunjukkan bahwa bahkan komposisi substrat dapat memengaruhi ukuran tudung, ketebalan tudung, dan karakter tangkai.

Hal ini menjelaskan mengapa dua shiitake dari spesies yang sama dapat memiliki bentuk tubuh buah yang berbeda.

Faktor lingkungan juga merupakan aspek penting dalam budidaya jenis jamur lain.

Perbandingan Morfologi Shiitake dengan Jamur Pangan Lain

Shiitake bukan satu-satunya jamur pangan yang mempunyai nilai ekonomi. Berbagai jenis jamur lain juga dibudidayakan dan mempunyai karakter morfologi masing-masing.

Beberapa contoh yang telah dibahas Agrotek.id adalah jamur tiram, jamur merang, dan jamur kancing.

Perbandingan sederhana dapat dilihat pada tabel berikut:

Karakter Shiitake Jamur Tiram Jamur Merang Jamur Kancing
Genus Lentinula Pleurotus Volvariella Agaricus
Kelompok Basidiomycota Basidiomycota Basidiomycota Basidiomycota
Habitat/substrat Kayu keras Kayu/substrat lignoselulosa Substrat organik Substrat organik
Warna tudung Cokelat Putih hingga abu-abu/cokelat Putih hingga cokelat/abu-abu Putih hingga cokelat
Bagian vegetatif Miselium Miselium Miselium Miselium
Struktur reproduktif Basidiospora Basidiospora Basidiospora Basidiospora

Untuk melihat pembahasan khusus mengenai jamur tiram, pembaca dapat mengunjungi Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Jamur Tiram.

Sementara itu, karakter jamur merang dapat dipelajari melalui Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Jamur Merang, sedangkan pembahasan mengenai jamur kancing tersedia dalam Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Jamur Kancing.

Perbandingan tersebut membantu memperlihatkan bahwa meskipun berbagai jamur pangan sama-sama termasuk organisme Fungi dan banyak di antaranya berasal dari Basidiomycota, masing-masing spesies mempunyai karakter morfologi, habitat, substrat, dan kebutuhan pertumbuhan yang berbeda.

Perkembangan Penelitian Shiitake hingga 2026

Penelitian mengenai shiitake saat ini sudah berkembang jauh melampaui pengamatan morfologi sederhana.

Salah satu arah penelitian yang penting adalah genomik dan identifikasi kultivar. Diversifikasi kultivar shiitake membuat identifikasi hanya berdasarkan bentuk tubuh buah menjadi semakin sulit.

Penelitian terbaru bahkan mengembangkan pendekatan berbasis sekuensing untuk membedakan strain secara lebih akurat.

Penelitian lain juga mulai mengkaji hubungan antara gen, pembentukan tubuh buah, dan variasi morfologi.

Studi yang diterbitkan pada akhir 2025, misalnya, membagi tubuh buah shiitake ke dalam beberapa jaringan seperti epidermis tudung, jaringan tudung, jaringan sisik, lamela, epidermis tangkai, dan jaringan tangkai untuk memahami mekanisme pembentukan morfologinya.

Hasilnya menunjukkan bahwa jaringan tubuh buah mengalami diferensiasi selama perkembangan dan sisa struktur selubung dapat berkontribusi terhadap pembentukan sisik pada tudung serta struktur pada tangkai.

Penelitian hingga 2026 juga semakin memperhatikan kemampuan strain tertentu untuk beradaptasi terhadap suhu yang lebih tinggi.

Studi terbaru melaporkan adanya strain yang menunjukkan potensi untuk dibudidayakan pada sekitar 25°C, sehingga membuka peluang pengembangan shiitake untuk wilayah dengan iklim yang lebih hangat.

Mengapa Mempelajari Morfologi Shiitake Penting?

Morfologi merupakan salah satu dasar untuk mengenali organisme.

Pada shiitake, pengamatan terhadap tudung, lamela, tangkai, spora, miselium, serta tahapan perkembangan tubuh buah dapat membantu memahami proses pertumbuhan dan reproduksi.

Pengetahuan morfologi juga bermanfaat dalam budidaya. Perubahan bentuk, warna, dan struktur tubuh buah dapat menjadi indikator perkembangan tertentu.

Namun, morfologi tidak selalu cukup untuk mengidentifikasi strain secara akurat. Faktor lingkungan dapat mengubah karakter tubuh buah sehingga data morfologi sebaiknya dilengkapi dengan informasi fisiologi, genetika, dan molekuler.

Dengan pendekatan tersebut, pemahaman terhadap shiitake menjadi lebih komprehensif.

Kesimpulan

Jamur shiitake (Lentinula edodes) merupakan jamur pangan dari Kingdom Fungi dengan ciri khas berupa tudung cokelat, lamela putih hingga krem, tangkai kuat, dan spora berwarna putih-krem.

Shiitake bukan tanaman dan memperoleh nutrisi secara heterotrof dengan menguraikan bahan organik, terutama kayu keras.

Klasifikasinya termasuk Filum Basidiomycota, Kelas Agaricomycetes, Ordo Agaricales, Famili Omphalotaceae, Genus Lentinula, dan Spesies Lentinula edodes.

Pertumbuhannya meliputi pembentukan spora, hifa, miselium, kolonisasi substrat, pembentukan primordia, perkembangan tubuh buah, hingga panen.

Morfologi dan produktivitas shiitake dipengaruhi oleh strain, substrat, suhu, kelembapan, cahaya, aerasi, kadar air, dan metode budidaya.

Pemahaman mengenai morfologi, fisiologi, genetika, dan teknologi modern menjadi dasar penting untuk meningkatkan budidaya, pemuliaan strain, serta produksi shiitake secara berkelanjutan.

Daftar Referensi

  1. Hibbett, D. S., et al. (2022). Global phylogeny of the Shiitake mushroom and related Lentinula species uncovers novel diversity and suggests an origin in the Neotropics. Molecular Phylogenetics and Evolution, 173.
  2. Shen, N., Xie, H., Liu, K., Li, X., Wang, L., Deng, Y., Chen, L., Bian, Y., & Xiao, Y. (2024). Near-gapless genome and transcriptome analyses provide insights into fruiting body development in Lentinula edodes. International Journal of Biological Macromolecules, 263, 130610.
  3. Genome Sequencing of Lentinula edodes Revealed a Genomic Variant Block Associated with a Thermo-Tolerant Trait in Fruit Body Formation. (2024). Journal of Fungi, 10(9), 628.
  4. Fruiting Body Morphogenesis and Tissue-Specific Functional Gene Expression in Lentinula edodes. (2025). Journal of Fungal Research.
  5. Two sexually compatible monokaryons from a heterokaryotic Lentinula edodes strain respond differently to heat stress. (2025). Frontiers in Microbiology.
  6. Makkar, S., Singh, A., Annepu, S. K., & Nehra, K. (2026). Multilocus genetic and functional profiling of Indian-origin Lentinula edodes strains: Implications for cultivation and nutraceutical breeding. Computational Biology and Chemistry, 120, 108667. https://doi.org/10.1016/j.compbiolchem.2025.108667.
  7. NCBI Taxonomy. Lentinula edodes (Berk.) Pegler. Taxonomy ID: 5353. National Center for Biotechnology Information.