Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kelapa Sawit

Diposting pada

Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kelapa Sawit – Tanaman kelapa sawit alias si primadona yang kontroversial, begitulah julukan untuk tanaman kelapa sawit yang akhir-akhir ini namanya banyak diperbincangkan.

Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kelapa Sawit
Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kelapa Sawit

Mulai dari Uni Eropa yang dianggap mendiskriminasi tanaman kelapa sawit karena mereka membatasi akses pasar untuk produk yang mengandung kelapa sawit.

Baru-baru ini bahkan Pemerintah Indonesia berani melawan dengan melayangkan gugatan ke World Trade Organization (WTO) mengenai hal ini serta mengancam untuk menghentikan pembelian pesawat Airbus sebagai bentuk perlawanan terhadap pihak uni Eropa.

Ada juga beberapa isu lain yang sudah lama menyebar dan dianggap sebagai Black Campaign, perkebunan kelapa sawit dianggap sebagai penyebab tingginya emisi karbon dan kerusakan lingkungan.

Pasti anda penasaran bukan? Seperti apa sih sebenarnya tanaman kelapa sawit ini hingga menyebabkan kontroversi sebesar itu. Mari kita mulai dengan memahami klasifikasi serta morfologi tanaman kelapa sawit terlebih dahulu.

Jadi, Kelapa sawit merupakan tanaman penghasil CPO (Crude Palm Oil) dan PKO (Palm Kernel Oil) yang merupakan bahan baku untuk industri makanan, kosmetik, bahkan bahan bakar.

Produsen terbesar kelapa sawit di dunia adalah Indonesia dan Malaysia yang menguasai sekitar 80% pasar. Tanaman kelapa sawit berasal dari Afrika Barat, lalu dikenalkan oleh pemerintah Hindia Belanda kr Indonesia pada tahun 1848.

Baca Juga : Cara Budidaya Tanaman Kelapa Sawit

Klasifikasi Tanaman Kelapa Sawit

Klasifikasi tanaman kelapa sawit adalah sebagai berikut:

  • Kingdom : Plantae
  • Divisi : Embryophyta Shiponagama
  • Kelas : Angiospermae
  • Ordo : Monocotyledonae
  • Famili : Arecaceae
  • Subfamili : Cocoideae
  • Genus : Elaeis
  • Spesies : Elaeis guineensis Jacq, Elaeis oleifera (H.B.K.) Cortez, Elaeis odora

Morfologi Tanaman Kelapa Sawit

1. Akar Tanaman Kelapa Sawit

Anda pasti sudah membayangkan bahwa tanaman kelapa sawit memiliki akar serabut karena termasuk kedalam tumbuhan monokotil. Tapi jangan berpikir bahwa karena akarnya serabut, tanaman kelapa sawit akan mudah roboh. Tentu saja tidak.

Tanaman kelapa sawit memiliki akar yang kuat mencengkram tanah karena jumlahnya yang sangat banyak dan menyebar.

Akar tanaman kelapa sawit terbagi menjadi akar primer, sekunder, tersier dan kuartener. Akar primer merupakan akar utama yang keluar dari batang.

Akar ini memiliki diameter 6-10 mm, lalu akar primer bercabang dan cabang inilah yang disebut akar sekunder (diameter:2-4 mm).

Akar sekunder juga memiliki cabang lagi yang disebut akar tersier (diameter: 0,7-1,2 mm) dan terakhir adalah akar kuartener yang merupakan percabangan dari akar tersier (diameter:0,1-0,3 mm) dengan panjang 1-4 mm, akar kuartener berbeda dari jenis akar yang lain Karena akar ini tidak memiliki lignin.

Selain itu, berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Christope Jourdan, proses penyerapan atau absorbsi baik air maupun zat hara terjadi 83,7 % di akar tersier dan kuartener dan kurang dari 10% terjadi di akar primer dan sekunder.

2. Batang Tanaman Kelapa Sawit

Pada saat tanaman kelapa sawit masih muda, seluruh permukaan batannya masih tertutup oleh pangkal pelepah. Pangkal pelepah ini akan lepas dengan sendirinya ketika tanaman kelapa sawit berumur 11-15 tahun dan biasanya mulai dari tengah batang.

Batang tanaman kelapa sawit dapat tumbuh hingga 18 meter tingginya. Tanaman kelapa sawit juga memiliki diameter batang hingga 75 cm.

3. Daun Tanaman Kelapa Sawit

Daun tanaman kelapa sawit lebih sering disebut sebagai pelepah. Pelepah pada tanaman kelapa sawit itu sendiri terdiri dari beberapa bagian yaitu:

  • Kumpulan anak daun (leaflets)
  • Helaian daun (lamina)
  • Tulang anak daun (midrib)
  • Tempat anak daun (leaflet) melekat atau disebut rachis
  • Tangkai daun (petiole) yang menghubungkan rachis dengan batang
  • Selubung daun (sheath)

Anak daun tanaman kelapa sawit memiliki bentuk memanjang dengan satu tulang daun. Serta, memiliki pembuluh yang sejajar mengikuti tulang daun seperti pada tanaman monokotil umumnya.

Tanaman kelapa sawit memiliki luas daun yang berbeda –beda tergantung dari beberapa faktor yaitu kesuburan tanah, kelembaban, tingkat stress air, bahkan musim.

4. Bunga Tanaman Kelapa Sawit

Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman yang tergolong monoecious, artinya tanaman kelapa sawit memiliki bunga jantan dan bunga betina dalam satu pohon, meskipun begitu, penyerbukannya adalah penyerbukan silang dan harus ada agen pembantu yaitu serangga penyerbuk kelapa sawit atau Elaeidobius camerunicus.

Bunga tanaman kelapa sawit merupakan bunga majemuk atau dikenal dengan infloresen. Bunga ini tumbuh di ketiak pelepah, dan setelah masa perkembangannya 2-3 bulan salah satu organ reproduktifnya akan berhenti berkembang sehingga hanya satu jenis bunga yang dihasilkan entah itu jantan atau betina. Tapi dalam beberapa kasus ada bunga jantan dan betina dalam satu infloresen atau disebut hermafrodit.

Pada bunga jantan tanaman kelapa sawit jika sedang dalam masa anthesis atau saat sedang sempurna berbunga menghasilkan serbuk sari berwarna kekuningan yang memiliki aroma seperti mint atau adas.

5. Buah Tanaman Kelapa Sawit

Buah Tanaman Kelapa sawit tersusun dari Eksokarp (kulit) yang merupakan bagian terluar, lalu mesokarp atau serabut, kemudian endoskarp atau cangkang yang melindungi inti kelapa sawit, lalau inti sawit atau yang biasa di sebut dengan kernel.

Buah tanaman kelapa sawit bisa dibilang mirip dengan buah kelapa, buahnya tersusun di tandan. Dalam satu tandan buah, bisa terdapat dua ribu buah, namun memiliki tingkat kematangan yang berbeda.

Buah tanaman kelapa sawit juga memiliki perbedaan warna di setiap jenis, yaitu:

  • Nigrescens

Ketika masih muda buah berwarna kehitaman lalu ketika sudah tua berubah menjadi jingga kemerahan.

  • Virescens

Warna hijau menunjukkan bahwa buah ini masih muda, sedangkan saat sudah tua warnanya akan menjadi merah kekuningan.

  • Albescens

Mulai dari warna kuning pucat saat muda lalu berubah menjadi kekuningan dengan ujung kehitam-hitaman.

Baca Juga : Jenis Pupuk Untuk Meningkatkan Produksi Kelapa Sawit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *