Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Mimba

Diposting pada

Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Mimba – Tanaman ini mempunyai nama yang beragam di Indonesia yaitu sebutan daerah jawa untuk tanaman ini adalah imba atau mimba, sedangkan di madura sering disebut membha, mempheuh sementara di Belanda dan Inggris dikenal dengan nama margosier, margosatree, neem tree.

Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Mimba
Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Mimba

Tanaman mimba adalah tanaman yang tumbuh di daerah Hindustani, Madhya Pradesh India.  Habitat tanaman liar ini adalah di iklim tropis terletak pada dataran rendah dengan ketinggian mencapai 300 m dpl.

Tanaman mimba sudah tersebar di beberapa daerah Indonesia seperti, Jawa Barat, Jawa Timur, Madura. Umumnya dapat dijumpai di tepi sungai, hutan.

Klasifikasi Tanaman Mimba

Tanaman dengan nama ilmiah Azadirachta indica, memiliki klasifikasi tanaman sebagai berikut:

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Subkelas : Dialypetaleae
Ordo/ Bangsa : Rutales
Famili/ Suku : Meliaceae
Genus/ Marga : Azadirachta
Spesies/ Jenis : Azadirachta indica A.Juss

Morfologi Tanaman Mimba

1. Akar

Tanaman ini memiliki akar tunggang, akar berbentuk silindris dengan tudung akar berbentuk lancip. Warna pada akar tanaman ini coklat tua, memiliki cabang akar dengan bentuk yang sama seperti akar utamanya.

2. Batang

Karakteristik batang mimba yaitu kulit batang yang tebal dan teksturnya agak kasar. Kandungan nutrisi terdapat dalam batang mimba ini digunakan untuk menyembuhkan obat malaria dengan cara menyeduh kulit batang dengan air panas. Penggunaan kulit barang mimba yang rasanya cenderung pahit dianjurkan sebagai tonikum.

Getah pada kulit batang mimba yang ditoreh pada waktu tertentu setiap tahun menghasilkan cairan dalam jumlah besar, cairan ini dapat digunakan sebagai obat lambung di India.

Batang atau ranting mimba ini dapat digunakan sebagai bahan tambahan yang ada pada pasta gigi, atau bisa digunakan secara langsung untuk menyikat gigi.

3. Daun

Daun mimba tersusun spiralis, mengumpul pada ujung rantai, mimba termasuk tanaman dengan daun majemuk. Panjang daun mimba 5 cm, lebar 3-4 cm, tulang daun menyirip, tulang cabang utama umumnya sejajar dengan lainnya.

Daun mimba memiliki kandungan senyawa β-sitosterol, hyperoside, nimbolide, quercetin, quercitrin, rutin, azadirachtin, dan nimbine, antikanker, selain itu kandungan nutrisi lain pada daun mimba terdapat nimbin, nimbine, 6-desacetylbimbine, nimbolide dan quercetin.

Daun tanaman ini banyak digunakan untuk penambah nafsu makan, antibakteri, sebagai obat cacing hewan ternak, dll.

Cara membuat insektisida dari daun mimba yaitu membuat 5 liter insektisida diperlukan daun mimba sebanyak 1 kg, rendam dalam air selama 1 malam, campurkan dengan sabun (1  ml untuk 1 liter air). Dan siap digunakan untuk menyemprotkan pada daun – daun tanaman sebagai insektisida (ulat, belalang, walang).

Daun mimba sebagai anti bakteri caranya dibuat ekstrak dari daun mimba dan air kemudian rendam selama 1 malam. Nah, ekstrak itu dapat diminum 3 kali sehari 1 sendok teh ekstrak mimba dengan gula.

Daun mimba sebagai obat cacing hewan caranya, daun – daun  mimba dicampur dengan pakan ternak dapat diberikan kepada ternak sebagai obat cacing dengan bahan aktif Azadirachtin.

4. Bunga

Tanaman mimba memiliki bunga berwarna putih baik itu kelopak bunga dan benang sarinya dengan pangal bunga yang menyatu dengan batang mimba berwarna hijau muda. Terdiri 5-6 kelopak bunga. Bunga mimba dapat manfaatkan sebagai wangi – wangian, aromaterapi, yang memberikan efek menenangkan.

5. Buah

Buah mimba berukuran kecil- kecil dan sangat banyak, berwarna hijau muda. Dalam satu batang pohon bisa menghasilkan ½ ember kecil.

6. Biji

Kandungan senyawa yang terdapat dalam biji mimba yaitu zat azadirachtin. Zat tersebut sangat efektif sebagai pestisida dan insektisida dan digunakan sebagai pestisida organik.

Biji mimba sebagai pupuk organik dengan kandungan unsur hara dalam biji mimba sangat rendah dibandingkan dengan urea dll. Misalnya, jika tanah memerlukan 100 kg N/ha, maka biji mimba dibutuhkan sekitar 1000/35,6*100 kgm = 2800 kg atau 2,8 ton/ha. Suatu perbandingan amat jauh dibandingkan dengan penggunaan pupuk urea.

Namun jumlah tersebut dapat digabungkan dengan pemakain daun serta biji dapat diolah menjadi bahan pupuk organik/alami. Daun mimba berguna untuk memperbaiki struktur tanah, sangat dianjurkan dalam pengunaannya.

Cara membuat minyak mimba dari biji adalah kulit biji dikupas dan dipisahkan dari biji, tumbuk secara halus, kumpulkan pada kain yang berserat halus dan direndam dalam wadah air selama satu malam, kemudian diperas untuk menghasilkan ekstraknya. Pilihlan biji mimba berumur 3-8 bulan karena pada masa kandungan zat azadirachtin paling tinggi.

Minyak mimba terbuat dari ektrak dari biji, bisa digunakan sebagai bahan insektisida alami, caranya dengan mencampurkan 30 ml minyak mimba dengan 1 liter air, tambahkan 1 ml sabun untuk menempelkan insektisida pada daun tanaman.

Sebagai obat nyamuk, campurkan 2% minyak mimba dengan minyak kelapa dan oleskan pada kulit. Minyak mimba juga bergunakan sebagai shampo untuk mengatasi masalah rambut kepala.

Ulasan diatas mengenai tanaman mimba, kalau di sini dikenal tanaman liar karena habitatnya ternyata memiliki segudang kaya manfaat bagi kesehatan manusia, hewan, tumbuhan lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *