Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Spider Plant Lengkap
Spider plant merupakan salah satu tanaman hias yang mudah dikenali dari bentuk daunnya yang panjang, sempit, melengkung, dan tumbuh membentuk roset.

Tanaman ini dikenal luas dengan nama spider plant atau tanaman laba-laba karena menghasilkan tangkai memanjang yang dapat membawa tanaman kecil atau plantlet sehingga terlihat seperti laba-laba yang menggantung.
Nama ilmiah spider plant adalah Chlorophytum comosum (Thunb.) Jacques. Tanaman ini termasuk kelompok tumbuhan berbunga dari famili Asparagaceae dan ordo Asparagales. Secara alami, Chlorophytum comosum berasal dari kawasan Afrika dan mampu tumbuh sebagai tanaman herba tahunan.
Selain populer sebagai tanaman hias, spider plant menarik dipelajari dari sisi botani karena mempunyai kombinasi karakter morfologi yang cukup khas. Bagian tersebut meliputi akar yang dapat membengkak, rimpang pendek, daun berbentuk pita yang tersusun dalam roset, tangkai perbungaan yang memanjang, bunga kecil berwarna putih, buah kapsul, biji, serta plantlet yang dapat berkembang menjadi tanaman baru.
Pemahaman terhadap klasifikasi dan morfologi spider plant penting terutama untuk membantu proses identifikasi tanaman. Identifikasi sebaiknya tidak hanya berdasarkan warna atau bentuk daun, tetapi dilakukan dengan mengamati beberapa karakter sekaligus.
Klasifikasi Tanaman Spider Plant
Klasifikasi ilmiah menunjukkan posisi spider plant dalam sistematika tumbuhan. Berdasarkan sumber taksonomi modern yang digunakan dalam naskah, Chlorophytum comosum ditempatkan dalam genus Chlorophytum dan famili Asparagaceae.
Klasifikasi spider plant dapat disusun sebagai berikut:
| Tingkatan taksonomi | Klasifikasi |
|---|---|
| Kingdom | Plantae |
| Kelompok utama | Angiosperms |
| Ordo | Asparagales |
| Famili | Asparagaceae |
| Subfamili | Agavoideae |
| Genus | Chlorophytum |
| Spesies | Chlorophytum comosum (Thunb.) Jacques |
Nama ilmiah lengkap tanaman ini adalah Chlorophytum comosum (Thunb.) Jacques. Nama tersebut menunjukkan riwayat nomenklatur tanaman. Dalam klasifikasi modern, spesies tersebut diterima dalam genus Chlorophytum.
Genus Chlorophytum sendiri tidak hanya terdiri atas spider plant. Genus ini mempunyai banyak spesies yang tersebar di berbagai wilayah Dunia Lama tropis dan subtropis. Karena itu, penyebutan Chlorophytum comosum diperlukan ketika membahas spider plant secara spesifik.
Spider plant juga termasuk kelompok tumbuhan monokotil. Karakter tersebut penting karena dapat digunakan untuk memahami hubungan taksonomi tanaman dengan kelompok tumbuhan berbunga lainnya.
Asal dan Habitat Spider Plant
Secara alami, Chlorophytum comosum berasal dari Afrika. Persebarannya mencakup kawasan Afrika tropis bagian barat hingga sejumlah wilayah Afrika timur dan selatan.
Spider plant merupakan tanaman herba tahunan. Dalam habitat alaminya, tanaman beradaptasi terhadap lingkungan tropis dan kondisi tempat tumbuh yang memungkinkan sistem perakaran berkembang dengan baik.
Kemampuan adaptasi tersebut menjadi salah satu alasan spider plant cukup populer sebagai tanaman hias. Tanaman dapat ditanam dalam pot, wadah gantung, maupun digunakan sebagai tanaman penghias ruangan dan area luar yang mempunyai kondisi lingkungan sesuai.
Dalam budidaya, kondisi media tanam menjadi salah satu faktor penting. Akar spider plant mempunyai bagian yang dapat membengkak sehingga tanaman mempunyai karakter penyimpanan cadangan air dan bahan organik. Namun, hal tersebut bukan berarti tanaman dapat dibiarkan terus-menerus berada dalam media yang tergenang.
Karakter habitat dan bentuk perakaran sebaiknya dipahami bersama karena keduanya berkaitan dengan pertumbuhan tanaman.
Morfologi Tanaman Spider Plant
Morfologi tanaman merupakan kajian mengenai bentuk dan struktur bagian luar organisme. Pada spider plant, karakter morfologi dapat diamati mulai dari bagian bawah tanaman hingga organ reproduktif.
Bagian utama yang perlu diperhatikan meliputi akar, rimpang, daun, tangkai perbungaan, perbungaan, bunga, buah, biji, dan plantlet.
1. Morfologi Akar Spider Plant
Akar merupakan salah satu karakter penting pada spider plant. Akar berkembang dari bagian pangkal tanaman dan dapat membentuk struktur yang relatif tebal atau membengkak.
Berbeda dari akar yang seluruhnya berbentuk sangat halus, akar spider plant dapat mempunyai bagian yang menyerupai umbi memanjang atau berbentuk gelendong. Struktur tersebut merupakan salah satu ciri yang menarik ketika tanaman diamati secara langsung.

Pembengkakan akar berkaitan dengan kemampuan menyimpan cadangan air dan bahan organik. Karena itu, sistem perakaran tidak hanya berfungsi untuk mengambil air dan unsur hara, tetapi juga berperan sebagai tempat penyimpanan cadangan tertentu.
Secara umum, akar spider plant mempunyai beberapa fungsi, yaitu:
- Menyerap air dari media tanam.
- Menyerap unsur hara mineral.
- Menambatkan tanaman pada media.
- Menyimpan sebagian cadangan air dan nutrisi.
- Mendukung pertumbuhan daun dan organ reproduktif.
Ketika spider plant ditanam dalam pot, akar dapat berkembang cukup banyak. Jika media terlalu sempit, akar dapat memenuhi ruang tumbuh sehingga tanaman membutuhkan wadah yang lebih sesuai.
2. Morfologi Rimpang dan Pangkal Tanaman
Spider plant tidak mempunyai batang utama panjang seperti tanaman berkayu. Bagian vegetatif tanaman terkonsentrasi pada pangkal sehingga membentuk roset.
Di bagian bawah roset terdapat rimpang pendek. Rimpang dapat tumbuh dalam posisi relatif vertikal atau pada kondisi tertentu berkembang lebih horizontal.
Rimpang berfungsi sebagai bagian batang yang berada dekat dengan permukaan media. Dari bagian tersebut tumbuh akar dan pangkal daun.
Karena rimpangnya pendek dan daun tumbuh rapat, spider plant sekilas terlihat seperti tidak mempunyai batang. Padahal, bagian batang tetap ada dan mengalami reduksi sehingga struktur yang paling dominan terlihat adalah daun.
Karakter rimpang tersebut juga membantu menjelaskan mengapa tanaman dapat membentuk rumpun yang padat.
3. Morfologi Daun Spider Plant
Daun merupakan bagian spider plant yang paling mudah dikenali. Daun tumbuh berkelompok dari pangkal tanaman dan tersusun membentuk roset basal.
Bentuk daun umumnya memanjang, linear hingga linear-lanset atau menyerupai pita. Daun mempunyai ujung yang meruncing dan pangkal yang menyempit.
Ukuran daun dapat bervariasi. Secara umum, panjangnya sekitar 10–60 cm dengan lebar sekitar 1–4 cm. Pada kondisi tertentu, daun dapat tumbuh lebih panjang.
Beberapa karakter utama daun spider plant antara lain:
- Tumbuh membentuk roset basal.
- Helaian daun memanjang.
- Ujung daun meruncing.
- Pangkal daun menyempit.
- Permukaan umumnya licin dan tidak berbulu.
- Pertulangan memanjang mengikuti helaian.
- Daun dapat melengkung ketika semakin panjang.
- Daun dapat menjuntai pada tanaman yang ditanam sebagai tanaman gantung.
Seiring pertumbuhan, daun keluar dari pusat tanaman kemudian melengkung ke arah luar. Bentuk tersebut menjadi salah satu alasan spider plant mempunyai nilai ornamental tinggi.
Pada tanaman hias, terdapat pula kultivar dengan pola variegasi. Warna putih atau krem dapat ditemukan pada bagian tengah maupun tepi daun.
Namun, pola variegasi merupakan karakter kultivar atau bentuk budidaya dan bukan satu-satunya dasar untuk menentukan identitas spesies.

Sebagai pembanding tanaman hias daun lainnya, pembaca juga dapat melihat pembahasan Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Aglaonema yang memiliki karakter daun berbeda tetapi sama-sama menarik untuk dikaji dari sisi morfologi.
4. Tangkai Daun
Tangkai daun spider plant tidak selalu terlihat jelas karena pangkal daun tumbuh sangat dekat dengan pusat roset.
Bagian pangkal tersebut menjadi penghubung antara helaian daun dan pusat pertumbuhan tanaman. Susunan daun yang rapat membantu tanaman membentuk roset kompak di bagian bawah.
Pada daun yang telah memanjang, helaian dapat melengkung atau menjuntai sehingga batas antara bagian pangkal dan helaian semakin sulit diamati.
Karakter tangkai daun sebaiknya diamati bersama dengan bentuk pangkal daun. Pengamatan tersebut dapat membantu membedakan spider plant dari tanaman berdaun pita lainnya.
5. Morfologi Tangkai Perbungaan
Spider plant mempunyai struktur yang sangat khas berupa tangkai perbungaan yang memanjang dari bagian pusat tanaman.
Tangkai ini disebut pedunkulus atau scape. Tangkai dapat tumbuh lebih panjang daripada daun dan dapat berkembang dalam posisi tegak hingga agak menjuntai.

Pedunkulus dapat berjumlah lebih dari satu. Pada bagian tertentu dapat dijumpai braktea atau struktur seperti daun pelindung berukuran kecil.
Tangkai perbungaan bukan hanya berfungsi membawa bunga. Pada spider plant, struktur tersebut juga berkaitan dengan pembentukan plantlet.
Karakter ini membuat spider plant mudah dikenali ketika tanaman sudah memasuki fase reproduktif.
6. Morfologi Perbungaan
Perbungaan spider plant umumnya berbentuk sederhana dan memanjang. Dalam kondisi tertentu, perbungaan dapat menunjukkan sedikit percabangan.
Bunga tersusun pada bagian tertentu sepanjang sumbu perbungaan. Setiap kelompok bunga berhubungan dengan struktur pelindung atau braktea.
Salah satu karakter yang paling menarik adalah kemampuan tanaman membentuk plantlet pada bagian perbungaan. Struktur tersebut dapat berkembang menjadi tanaman kecil dan selanjutnya membentuk akar.
Kemampuan menghasilkan tanaman kecil pada tangkai perbungaan menjadi salah satu ciri paling khas spider plant.
Dalam konteks botani, fenomena tersebut berhubungan dengan pembentukan individu baru secara vegetatif pada struktur yang berkaitan dengan perbungaan. Karakter tersebut pula yang membuat spider plant relatif mudah diperbanyak.
7. Morfologi Bunga Spider Plant
Bunga spider plant berukuran kecil dan umumnya berwarna putih. Jika diamati secara keseluruhan, bunga dapat terlihat menyerupai bentuk bintang.
Bunga mempunyai struktur perhiasan bunga berupa tepal, karena bagian kelopak dan mahkota tidak terdiferensiasi secara jelas seperti pada sejumlah tanaman lain.
Tepal umumnya berwarna putih dan dapat sedikit membuka atau melengkung ke belakang ketika bunga mekar.
Bunga juga mempunyai benang sari sebagai organ reproduksi jantan. Pada bagian tengah bunga terdapat putik yang terdiri atas ovarium, tangkai putik, dan kepala putik.

Setelah proses penyerbukan dan pembuahan berlangsung, ovarium dapat berkembang menjadi buah.
Walaupun bunga spider plant tidak sebesar atau semencolok bunga tanaman hias berbunga lainnya, keberadaannya tetap penting untuk memahami siklus reproduksi seksual tanaman.
8. Morfologi Buah
Setelah pembuahan berhasil, bunga dapat berkembang menjadi buah. Buah spider plant termasuk tipe kapsul.
Buah mempunyai bentuk bersudut atau menyerupai bentuk tiga sisi. Ukurannya relatif kecil dan menjadi tempat perkembangan biji.
Dalam budidaya tanaman hias, buah spider plant tidak selalu menjadi bagian yang paling diperhatikan karena tanaman lebih mudah diperbanyak melalui plantlet. Meskipun demikian, buah merupakan bagian penting dalam siklus reproduksi seksual.
Pengamatan buah dapat menjadi informasi tambahan dalam identifikasi tanaman, terutama apabila tanaman telah melewati fase pembungaan.
9. Morfologi Biji
Biji spider plant berukuran kecil. Bentuknya dapat agak pipih atau menyerupai cakram dan mempunyai diameter sekitar 2–3 mm.
Biji berfungsi sebagai alat reproduksi generatif. Apabila memperoleh kondisi lingkungan yang sesuai, biji dapat berkecambah dan menghasilkan individu baru.
Perbanyakan melalui biji dapat menghasilkan variasi genetik sehingga karakter tanaman baru tidak selalu sama persis dengan induknya. Kondisi tersebut berbeda dengan perbanyakan vegetatif melalui plantlet yang lebih memungkinkan karakter tanaman induk dipertahankan.
10. Morfologi Plantlet atau Anakan
Plantlet merupakan salah satu karakter paling khas spider plant. Struktur ini muncul pada tangkai perbungaan yang memanjang dan berkembang menjadi tanaman kecil.
Pada tahap awal, plantlet berukuran kecil dan mempunyai beberapa helai daun. Jika memperoleh kelembapan serta media yang sesuai, tanaman kecil tersebut dapat membentuk akar.
Setelah sistem akar berkembang, plantlet dapat dipisahkan dari tanaman induk dan ditanam sebagai individu baru.
Kemampuan tersebut membuat spider plant mudah diperbanyak secara vegetatif. Plantlet juga menjadi karakter visual yang sangat membantu ketika melakukan identifikasi.
Bentuk tanaman kecil yang menggantung pada tangkai panjang merupakan alasan utama spider plant memperoleh nama populer tanaman laba-laba.

Ringkasan Ciri Morfologi Spider Plant
| Bagian tanaman | Ciri morfologi utama |
|---|---|
| Habitus | Herba tahunan |
| Pangkal tanaman | Membentuk roset |
| Rimpang | Pendek, dapat vertikal atau horizontal |
| Akar | Dapat membengkak dan menyerupai umbi memanjang |
| Daun | Memanjang, linear hingga lanset, tersusun dalam roset |
| Panjang daun | Umumnya sekitar 10–60 cm |
| Lebar daun | Sekitar 1–4 cm |
| Permukaan daun | Umumnya licin dan tidak berbulu |
| Tangkai perbungaan | Panjang, dapat tegak atau menjuntai |
| Bunga | Kecil dan umumnya putih |
| Perbungaan | Sederhana dan memanjang |
| Buah | Kapsul dengan bentuk bersudut |
| Biji | Kecil, sekitar 2–3 mm |
| Plantlet | Muncul pada tangkai perbungaan dan dapat menjadi tanaman baru |
Ukuran tersebut merupakan kisaran karakter botani, sehingga tidak berarti setiap individu spider plant akan mempunyai ukuran yang sama.
Faktor genetik, umur tanaman, lingkungan, ketersediaan air, media tumbuh, dan kondisi budidaya dapat memengaruhi penampilan tanaman.
Cara Membedakan Spider Plant dari Tanaman Berdaun Pita Lainnya
Spider plant sering disamakan dengan tanaman lain yang mempunyai daun panjang dan sempit. Karena itu, identifikasi tidak sebaiknya hanya menggunakan bentuk daun.
Beberapa karakter perlu diamati secara bersamaan, yaitu roset daun basal, rimpang pendek, akar yang dapat membengkak, tangkai perbungaan yang panjang, bunga putih berukuran kecil, serta pembentukan plantlet.
Kombinasi karakter tersebut jauh lebih informatif daripada hanya melihat warna daun.
Sebagai contoh, tanaman hias lain seperti Philodendron mempunyai bentuk daun dan kebiasaan tumbuh yang berbeda. Sementara itu, tanaman Kuping Gajah atau Anthurium mempunyai struktur perbungaan khas berupa spata dan spadiks.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa identifikasi tanaman sebaiknya mempertimbangkan seluruh karakter morfologi, bukan hanya bentuk visual yang paling mudah terlihat.
Hubungan Morfologi dengan Perbanyakan Spider Plant
Karakter morfologi spider plant mempunyai hubungan erat dengan kemampuannya berkembang biak.
Perbanyakan generatif berlangsung melalui bunga, buah, dan biji. Setelah terjadi penyerbukan dan pembuahan, ovarium dapat berkembang menjadi buah kapsul yang berisi biji.
Sementara itu, perbanyakan vegetatif dapat berlangsung melalui plantlet. Tanaman kecil tersebut muncul pada tangkai perbungaan dan dapat membentuk akar sebelum atau setelah dipisahkan dari induknya.
Bagi tanaman hias, keberadaan plantlet merupakan karakter yang sangat menguntungkan karena memungkinkan pembentukan tanaman baru tanpa harus menunggu proses pembentukan biji dan perkecambahan.
Karakter vegetatif inilah yang juga menjadi salah satu daya tarik spider plant bagi penghobi tanaman.
Spider Plant sebagai Tanaman Hias
Bentuk morfologi spider plant sangat mendukung penggunaannya sebagai tanaman hias. Roset daun menghasilkan tampilan kompak pada bagian pangkal, sedangkan daun yang panjang memberikan kesan menjuntai.
Ketika tanaman menghasilkan tangkai perbungaan dan plantlet, bentuknya menjadi semakin menarik terutama jika ditempatkan dalam pot gantung.
Variegasi pada beberapa kultivar juga memberikan nilai dekoratif tambahan. Namun, pola warna tersebut perlu dibedakan dari karakter morfologi dasar spesies.
Dengan memahami struktur akar, rimpang, daun, bunga, buah, biji, dan plantlet, penghobi tidak hanya dapat menikmati nilai estetika spider plant tetapi juga memahami karakter biologisnya.
Pembaca yang ingin membandingkan karakter tanaman hias lainnya dapat melihat Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Tanduk Rusa yang mempunyai bentuk pertumbuhan dan struktur vegetatif sangat berbeda dari spider plant.
Kesimpulan
Spider plant atau Chlorophytum comosum (Thunb.) Jacques merupakan tanaman herba tahunan dari famili Asparagaceae dan ordo Asparagales. Tanaman ini berasal dari Afrika dan termasuk genus Chlorophytum.
Ciri morfologi utama spider plant terletak pada roset daun basal, rimpang pendek, akar yang dapat membengkak, daun panjang berbentuk pita, tangkai perbungaan yang memanjang, bunga kecil berwarna putih, buah kapsul, biji kecil, serta plantlet yang dapat berkembang menjadi tanaman baru.
Daun merupakan bagian paling mudah dikenali, tetapi identifikasi yang lebih akurat perlu memperhatikan kombinasi berbagai karakter.
Keberadaan plantlet pada tangkai perbungaan menjadi salah satu ciri paling khas yang membedakan spider plant dari sejumlah tanaman berdaun pita lainnya.
Dari sisi reproduksi, spider plant dapat berkembang secara generatif melalui bunga, buah, dan biji, serta secara vegetatif melalui plantlet.
Kemampuan tersebut menjadi salah satu alasan tanaman ini mudah diperbanyak dan populer sebagai tanaman hias.
Dengan memahami klasifikasi dan morfologinya secara menyeluruh, identifikasi Chlorophytum comosum dapat dilakukan dengan lebih tepat.
Pengetahuan tersebut juga membantu pembaca memahami hubungan antara bentuk tanaman, fungsi setiap organ, serta cara spider plant mempertahankan keberlangsungan hidupnya.
Sumber dan Referensi
- Royal Botanic Gardens, Kew. (n.d.). Chlorophytum comosum (Thunb.) Jacques. Plants of the World Online.
- Royal Botanic Gardens, Kew. (n.d.). Chlorophytum Ker Gawl. Plants of the World Online.
- World Flora Online. (n.d.). Chlorophytum comosum (Thunb.) Jacques. World Flora Online.
- Flora of Tropical East Africa. (n.d.). Chlorophytum comosum (Thunb.) Jacques. Flora of Tropical East Africa.
- Flora Zambesiaca. (n.d.). Chlorophytum comosum (Thunb.) Jacques. Flora Zambesiaca.
- Mabberley, D. J. (2017). Mabberley’s Plant-Book: A Portable Dictionary of Plants, Their Classification and Uses (4th ed.). Cambridge University Press.
- Simpson, M. G. (2019). Plant Systematics (3rd ed.). Academic Press.
- Judd, W. S., Campbell, C. S., Kellogg, E. A., Stevens, P. F., & Donoghue, M. J. (2016). Plant Systematics: A Phylogenetic Approach (4th ed.). Sinauer Associates.
- Evert, R. F. (2006). Esau’s Plant Anatomy: Meristems, Cells, and Tissues of the Plant Body: Their Structure, Function, and Development (3rd ed.). John Wiley & Sons.
- Raven, P. H., Evert, R. F., & Eichhorn, S. E. (2013). Biology of Plants (8th ed.). W. H. Freeman and Company.
- Taiz, L., Zeiger, E., Møller, I. M., & Murphy, A. (2015). Plant Physiology and Development (6th ed.). Sinauer Associates.
- Jones, D. L. (2000). Chlorophytum. Kew Publishing.
- International Plant Names Index. (n.d.). Chlorophytum comosum (Thunb.) Jacques. International Plant Names Index.
- Plants of the World Online. (n.d.). Chlorophytum comosum (Thunb.) Jacques. Royal Botanic Gardens, Kew.
- World Checklist of Selected Plant Families. (n.d.). Chlorophytum comosum (Thunb.) Jacques. Royal Botanic Gardens, Kew.
- Angiosperm Phylogeny Group. (2016). An update of the Angiosperm Phylogeny Group classification for the orders and families of flowering plants: APG IV. Botanical Journal of the Linnean Society, 181(1), 1–20.
- Chase, M. W., Christenhusz, M. J. M., Sanders, D., et al. (2016). An update of the Angiosperm Phylogeny Group classification for the orders and families of flowering plants: APG IV. Botanical Journal of the Linnean Society, 181(1), 1–20.
- Simpson, M. G. (2010). Diversity and Classification of Flowering Plants: Eudicots. Academic Press.
- Prota. (n.d.). Chlorophytum comosum. Plant Resources of Tropical Africa.
- Missouri Botanical Garden. (n.d.). Chlorophytum comosum. Tropicos.

Seorang tenaga pengajar di Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Suska RIAU dengan bidang keahlian Pemuliaan tanaman dan fisiologi tumbuhan. Semoga web ini bermanfaat.
