Operasional Adalah : Pengertian, Ciri, Tujuan, Manfaat dan Contoh

Pemahaman mengenai pengertian operasional sangat penting, terlebih ketika sedang menyusun sebuah penelitian, proposal, skripsi dan sebagainya.

Operasional Adalah  Pengertian, Ciri, Tujuan, Manfaat dan Contoh
Operasional Adalah Pengertian, Ciri, Tujuan, Manfaat dan Contoh

Kenapa? Operasional adalah bagian dari salah satu komponen metodologi penelitian yang mendukung jalannya seminar proposal, presentasi terkait berbagai usulan dalam proses penelitian berlangsung.

Biasanya penggunaan operasional sebagai teknik pengumpulan data, hal-hal yang berkaitan untuk mengetahui detail, rincian secara jelas dan ringkasan mengenai suatu ukuran.

Sebelum melakukan penelitian, membuat proposal atau skripsi ada baiknya pahami materi operasional meliputi definisi, ciri-ciri, tujuan, manfaat, contoh pengaplikasiannya.

Bukan sekadar mencari jenis data, operasional juga memiliki peranan dalam menentukan keputusan benar atau salah berdasarkan fakta yang ada. Ulasan detailnya sebagai berikut:

Pengertian Operasional

Apa itu Operasional? Pengertian operasional adalah panduan bagi peneliti untuk mengukur, menentukan sebuah keputusan ataupun menilai suatu variabel dengan teknik merumuskan kata-kata yang bersifat operasional.

Hasil metode tersebut dapat menunjukkan strategi apa yang harus dilakukan oleh peneliti dalam menguji hipotesisi maupun saat menjawab pertanyaan-pertanyaan.

Beberapa ahli mengemukakan pendapat mengenai pengertian operasional menurut pandangan dan pemikiran masing-masing.

Jadi sebelum mengetahui tujuan, manfaat serta hal-hal lainnya alangkah baiknya memahami pengertian operasional dari para ahli adalah.

1. Sugiyono

Menurut Sugiyono (2015), makna operasional yaitu bagian sifat, nilai-nilai dari suatu objek atau kegiatan yang memiliki variasi tertentu.

Penetapan variasi oleh peneliti sendiri bertujuan untuk mempelajari data-data sehingga bisa menarik kesimpulannya.

2. Hoover

Bagi Hoover, pengertian operasional adalah memuat identifikasi suatu hal bersifat variabel dengan tujuan untuk melakukan penelitian atau observasi.

3. Asep Hermawan

Asep Hermawan memiliki pandangan sendiri mengenai pengertian operasional adalah penjelasan tentang bagaimana peneliti dapat mengukur variabel. Metode pengukuran dengan menggunakan angka-angka ataupun atribut tertentu.

4. Widjono Hs

Pemikiran Widjono Hs, terkait pengertian operasional merupakan batasan-batasan yang ada dalam pengertian yang kemudian digunakan sebagai pedoman untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan.

5. Singarimbun

Singarimbun (1997), menyatakan bahwa pengertian operasional yakni sebagai unsur-unsur saat melakukan penelitian. Dengan kata lain adalah petunjuk tentang bagaimana suatu variabel ini setelah melewati berbagai cara pengujian, pengukuran.

Tujuannya memudahkan pelaksanaan penelitian di lapangan, maka dibutuhkan operasionalisasi dari setiap konsep dalam rangka untuk menggambarkan perilaku, gejala-gejala kemudian diamati dengan kata-kata yang dapat diuji supaya bisa melihat kebenarannya.

6. Sutama

Menurut Sutama (2016:51), setiap variabel harus didefinisikan secara operasional dan terukur juga sesuai kategoriasi, mudah untuk dikoreksi.

Tujuan untuk membantu, memudahkan saat proses penelitian berlangsung terlebih jika variabel-variabel ini dinyatakan secara tertulis.

Secara umum penerapan lebih sering menggunakan dua dimensi yakni konseptual dan operasional. Berikut ulasan mengenai ketiga dimensi menurut pemikiran sutama adalah:

Definisi konstitutif berarti mendefinisikan istilah dengan cara menggunakan istilah lain. Jika kata “kegelisahan” dapat diartikan sebagai “ketakutan yang samar-samar” itulah contoh dari konstitutif, tetapi kebanyakan peneliti tidak menggunakan dimensi ini karena memang belum mencukupi.

Definisi konseptual berupa ungkapan-ungkapan konseptual dengan tujuan menggantikan ungkapan yang sudah terdefinisikan sebelumnya. Misalnya “kecerdasan” adalah intelek yang bekerja, apabila ungkapan “kecerdasan mental” berarti kemampuan untuk berpikir abstrak.

Ciri Operasional

Menurut Yunanto setidaknya ada tiga kategori antara lain A, B, C. Untuk penjelasan ketiga kategori tersebut yaitu:

1. Operasional Tipe A

Susunan operasional tipe A berdasarkan operasi yang harus peneliti lakukan sehingga dapat memicu adanya gejala dan keadaan terdefinisikan menjadi suatu kenyataan. Penerapan operasional tipe A peneliti bisa membuat gejala atau keadaan tersebut menjadi kenyataan.

Contoh “konflik” didefinisikan sebagai suatu keadaan yang dihasilkan dengan menempatkan dua orang maupun lebih. Pada situasi tersebut setiap orang memiliki tujuan yang sama, tetapi hanya satu orang yang dapat mencapai tujuan itu.

2. Operasional Tipe B

Pengaplikasian operasional tipe B harus berdasarkan susunan pada suatu objek yang diartikan atau definisikan lalu tinggal menjalankan.

Kegiatan proses operasional ini berupa menyusun karakteristik secara dinamis. Misalnya “orang pandai”. Kata orang pandai memiliki makna yaitu seseorang mendapatkan nilai tinggi di sekolah.

3. Operasional Tipe C

Dalam penerapan operasional tipe C, susunan yang berdasarkan gambar visual objek maupun gejala-gejalanya. Dengan kata lain berkaitan mengenai apa saja yang menyusun karakteristik secara statis.

Misalnya pengertian kata “orang pandai.” Bukan hanya dapat didefiniskan satu pengertian saja tetapi bisa memiliki makna lain seperti orang yang punya daya ingat kuat atau orang pandai menguasai bahasa asing.

Bisa juga orang punya kemampuan berpikir baik serta sistematis ataupun menghitung dengan cepat. Operasional tipe C hanya dua kata yakni “orang pandai” memiliki berbagai pengertian yang dapat menggambarkan kata tersebut dengan tepat.

Yunanto menegaskan penerapan ketiga operasional tersebut punya prosedur-prosedur dalam penyusunan berbeda-beda.

Peneliti bisa menggunakan  operasional yang sesuai kebutuhan program penelitian supaya berhasil mencapai target.

Tujuan Operasional

Kunci keberhasilan penelitian, seminar dan membuat proposal yakni salah satunya memiliki strategi perencanaan yang matang. Bukan cuma itu, penggunaan operasional dalam mengukur konsep dan variabel penelitian juga penting.

Istilah-istilah dalam penelitian perlu dipelajari untuk mendukung penulisan dokumen/laporan penelitian.

Supaya penelitian berhasil, menentukan variabel secara operasional merupakan bagian cukup penting sebagai upaya memberikan kredibilitas pada metodologi, memastikan reproduktifitas hasil studi. Walaupun peneliti mengidentifikasi variabel yang sama tetapi metode penelitian berbeda tentu hasil studinya tidak dapat dibandingkan apalagi disamakan.

Adapun tujuan secara terperinci secara umum terdapat empat poin sebagai berikut:

  • Menerapkan aturan dan prosedur ketika mengukur variabel-variabel penelitian,
  • Memberikan arti yang tidak ambigu, konsisten terhadap istilah/variabel apabila tidak dilengkapi operasional dapat menafsirkan dengan cara yang berbeda.
  • Untuk membuat pengumpulan data, analisis menjadi lebih tepat serta efisien,
  • Petunjuk mengenai jenis data, informasi apa yang sedang dicari oleh peneliti.

Operasional pada intinya bertujuan untuk mendukung kesuksesan penelitian, seminar ataupun membuat proposal supaya berjalan sesuai terget pencapai dari setiap peneliti.

Artinya meskipun sama-sama menggunakan variabel sejenis, namun metode/tipe operasional berbeda akan berpengaruh pada hasil studi tersebut. Maka cukup sulit membandingkan hasil keduanya dari segi manapun.

Manfaat dan Contoh Operasional

Implementasi operasional akan terlihat berbeda dari satu peneliti dengan peneliti lainnya. Tergambar jalas pada operasional skripsi atau thesis lewat bagian daftar pustaka.

Tahapan menguraikan variabel pada sebuah penelitian merupakan sesuatu yang esensial. Hal tersebut karena saat pengumpulan data-data, harapannya peneliti tidak melakukan kekeliruan sehingga dapat menghasilkan laporan penelitian dengan akurat.

Data yang mengalami kekeliruan biasanya akan mempengaruhi hasil akhir studi menjadi bias atau berbelok arah. Faktor umum terjadi kekeliruan karena dalam menentukan instrumen/data penelitian tidak tepat dan pembuatan pertanyaan-pertanyaan penelitian juga kurang konsisten.

Lantas, apa saja manfaat operasional dalam perumusan penelitian kuantitatif ini sebagai berikut:

  • Untuk memudahkan peneliti saat menetapkan aturan dan prosedur dalam mengukur variabel,
  • Memahami dan menafsirkan setiap variabel-variabel yang digunakan menjadi lebih mudah,
  • Peneliti dapat menghemat waktu dalam menganalisis data-data.

Contoh Operasional

Ulasan artikel ini akan memberikan berbagai contoh kasus operasional. Tujuan utama agar pembaca lebih mengerti, memahami lagi maksud operasional lewat ragam peristiwa atau contoh pengaplikasian yang akan tersaji sebagai berikut:

1. Operasional dalam Penelitian

Misalnya studi penelitian ingin mengukur apakah usia berelasi dengan tingkat kecanduan.

Hipotesis “kecanduan akan meningkat seiring bertambahnya usia” berarti variabel penelitian menggunakan usia dan kecanduan.

Tahapan selanjutnya peneliti menentukan bagaimana cara, strategi dalam mengukur usia seseorang dan mengukur kecanduan. Berikut penjelasan untuk mengetahui variabel-variabel tersebut yakni:

  • Variabel satu/bebas

Bagi orang awam hanya sekadar mengetahui usia seseorang mungkin terbilang cukup mudah, namun mengapa peneliti perlu mendefinisikan “usia” dalam penelitiannya.

Jika semua orang tahu apa itu usia, lalu kenapa peneliti tetap menggunakan itu sebagai variabel penelitian.

Ada bahkan peneliti yang mengukur usia dalam bulan hanya untuk mendapatkan data usia orang secara tepat. Mungkin bagi peneliti lain mengukur usia seseorang menggunakan dalam tahun.

Dari contoh tersebut untuk memahami hasil penelitian dengan melihat bagaimana peneliti ini mengoperasikan usia. Katakanlah misalnya peneliti mendefinisikan usia sebagai berapa lama hidup seseorang dalam hitungan tahun.

  • Variabel dua/terikat

Untuk mengukur variabel kecanduang mungkin sedikit lebih rumit ketimbang mengukur usia. Karena dalam mengoperasikan variabel kecanduan peneliti harus memutuskan metode secara tepat mengukur kecanduan.

Mungkin peneliti akan mempersempit definisi variabelnya dan mengatakan bahwa kecanduan apabila seseorang memenuhi kriteria diagnostik DSM-5 yakni The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders untuk gangguan penggunaan zat apapun.

Kesimpulan contoh studi penelitian ini, penggunaan variabel usia didefinisikan sebagai usia partisipan yang diukur dalam tahun.

Sementara variabel kecanduan menggambarkan apakah partisipan dengan kondisi saat ini dapat memenuhi kriteria diagnostik DSM-5 tanpa adanya pengecualian atau untuk gangguan penggunaan zat apapun.

Menurut pandangan Yunanto menjelaskan beberapa contoh operasional serta definisi konseptual dalam berbagai peristiwa. Berikut penjelasan mengenai contoh-contohnya adalah:

2. Motivasi Berprestasi

Definisi konseptual motivasi berprestasi sebagai dorongan untuk mengerjakan sesuatu yang lebih baik daripada orang lain. Tujuannya mencapai atau bahkan melebihi standar nilai mata pelajaran, lewat usaha belajar sangat keras agar berhasil.

Motivasi berprestasi terjadi karena adanya dorongan kuat yang berasal dari diri manusia serta faktor luar dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Bertujuan agar mencapai hasil di atas target rata-rata orang lain dalam mencapai suatu tujuan organisasi.

Operasional motivasi berprestasi merupakan indikator, kegigihan dalam berusaha dan memiliki tingkat keahlian dalam bekerja.

Mendefinisikan motivasi berprestasi sebagai bentuk prestasi tinggi tanpa tergantung pada siapapun, pandangan tajam terhadap berbagai masalah yang sedang dihadapi, akomodatif dalam menerima berbagai informasi dan masukan.

Upaya Operasional terkait motivasi berprestasi sebagai bertanggungjawab atas segala tindakan serta perbuatan, meminimalisir risiko sekecil mungkin, selalu menggunakan umpan balik dalam penilaian hingga memiliki semangat ingin tampil unggul.

Penilaian skor motivasi belajar meliputi (5) sangat tinggi, (4) tinggi, (3) cukup, (2) rendah, (1) sangat rendah. Untuk skala pengukuran menggunakan interval.

Tinggalkan komentar