Asal Usul dan Sejarah Kerajaan Galuh

Diposting pada

Kota Ciamis, Jawa Barat, menyimpan banyak peninggalan sejarah. Salah satunya yaitu kisah kerajaan terkemuka di Kota Ciamis, yaitu Kerajaan Galuh pada abad ke 7 sampai ke 16.

Asal Usul dan Sejarah Kerajaan Galuh
Asal Usul dan Sejarah Kerajaan Galuh

Asal Usul dan Sejarah Kerajaan Galuh

Kerajaan ini terletak di antara Sungai Citarum (sebelah barat) dan berbatasan dengan Kerajaan Sunda persis di sebelah Sungai Cipamali atau Kali Brebes (sebelah timur). Kedua kerajaan ini sempat bergabung pada masa pemerintahan Sanjaya.

Dibawah ini kami jelaskan mengenai Asal Usul dan Sejarah Kerajaan Galuh secara lengkap dan detail, silahkan di simak :

1. Awal Sejarah Kerajaan Galuh

Saat Linggawarman raja Tarumanegara (666 M – 669 M) meninggal dunia, kekuasaan Tarumanegara jatuh ke tangan Sri Maharaja Tarusbawa, menantu dari Sundapura.

Di bawah pemerintahannya, S.M Tarusbawa memindahkan kekuasaan Tarumanegara ke Sundapura. Kondisi ini pun dimanfaatkan pihak Galuh, dipimpin oleh Wretikandayaun, untuk berdiri sendiri sebagai kerajaan mandiri.

Terjadilah perundingan antara Wretikandayun dengan Tarusbawa mengenai wilayah kekuasaan masing-masing. Hasil kesepakatan keduanya memutuskan bahwa  pembatas daerah kekuasaan yaitu sungai Citarum, di mana daerah sebelah barat Citarum menjadi kekuasaan Kerajaan Sunda dan sebelah timur menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Galuh.

Sejarah mengenai Kerajaan Galuh ini tercatat pada naskah kuno Carita Parahiyangan, suatu naskah berbahasa Sunda yang ditulis pada awal abad ke-16.

Naskah tersebut menceritakan tentang Kerajaan Galuh dimulai dari Rahiyangta ri Medangjati memerintah menjadi raja selama 15 tahun.

Kemudian, kekuaasan selanjutnya diwariskan kepada puteranya di Galuh yaitu Sang Wretikandayun. Kisah tentang Kerajaan Galuh juga populer lewat cerita rakyat Ciung Wanara.

2. Kekuasaan Generasi Pertama

Wretikandayun memerintah Kerajaan Galuh selama 60 tahun yaitu mulai dari 612 hingga 702 M. Ia menikah dengan putri Resi Makandaria, Nay Manawati atau disebut juga Dewi Candrarasmi. Pernikahan tersebut dikaruniai tiga orang anak yaitu Sempakwaja, Wanayasa (Jantaka), dan Mandiminyak (Amara).

Sempakwaja “si bergigi ompong” menjadi resiguru atau pendeta di Galunggung, begitu pula Wanayasa atau Rahyang Kidul memilih menjadi resiguru di Denuh karena dirinya menderita kemir (hernia). Karena kedua saudaranya memiliki kekurangan fisik, maka yang diangkat menjadi raja Galuh menggantikan Wretikandayun adalah si bungsu, Mandiminyak.

Sempakwaja mempunyai dua anak dari istrinya Nay Pwahaci Rababu yaitu Demunawan dan Purbasora. Mandiminyak tergoda dengan kecantikan iparnya, Nay Pwahaci, hingga terseret dalam perbuatan nista dan melahirkan putra bernama Sena (yang berarti sang salah).

Sedangkan dari istri sahnya sendiri, Dewi Parwati, Mandiminyak mempunyai seorang anak perempuan bernama Sannaha.

Dewi Parwati memiliki seorang adik laki-laki bernama Narayana yang menikah dengan putri dari Jayasinghanagara. Pernikahan ini menghasilkan seorang  anak bernama Dewasingha di mana salah satu anak Dewasingha yaitu Limwa (Gajayana) berkuasa memindahkan ibu kota kerajaan ke Linggapura.

Kekuasaan Galuh yang diwariskan pada Mandiminyak (702 – 709) diteruskan oleh Sena. Sena pun menikah dengan Sannaha dan dikarunia seorang putra bernama Rakryan Jambri atau dikenal dengan Sanjaya.

Dalam Prasasti Stirengga atau Prasasti Canggal (732 M) disebutkan bahwa Sanjaya adalah anak Sannaha, sedangkan dalam cerita Parahyangan ia disebut anak Sena.

3. Perang Saudara dan Kudeta Kekuasaan

Namun, Purbasora -anak Sempakwaja- merasa punya hak mahkota dari ayahnya sehingga ingin merebut kekuasaan Galuh dari Sena.

Purbasora melancarkan kudeta merebut Kerajaan Galuh dibantu oleh pasukan dari Kerajaan Indraprahasta. Sena akhirnya digulingkan oleh Purbasora pada tahun 716 M. Ia diusir lalu mengungsi ke daerah timur di sekitar Gunung Marapi.

Purbasora pun berhasil menjadi raja Galuh selama 7 tahun (716 – 723) dan menikah dengan Dewi Citrakirana, putra dari Sang Resi Padmahariwangsa (raja Kerajaan Indraprahasta).

Di sisi lain, Sanjaya (putra Sena) menikah dengan Dewi Tejakancana Hayu Purnawangi (atau Nay Sekarkencana), cucu Tarusbawa, Raja Kerajaan Sunda.

Karena putra mahkota pengganti Tarusbawa meninggal di usia muda, maka ahli waris kerajaan Sunda jatuh kepada Dewi Tejakancana. Otomatis setelah menikah dengan Dewi Tejakancana, Sanjaya dinobatkan sebagai Raja Kerajaan Sunda.

Melihat perbuataan Purbasora kepada ayahnya, Sanjaya pun tidak tinggal diam. Ia berniat membalas Purbasora dengan meminta bantuan kepada Tarusbaru, kakek istrinya. Sanjaya juga telah menyiapkan pasukan khusus di Gunung  Sawal atas bantuan Rabuyut Sawal, sahabat ayahnya.

Pasukan ini dipimpin langsung oleh Sanjaya, sedangkan bantuan pasukan dari Kerajaan Sunda dipimpin oleh Patih Anggada. Serangan dilakukan secara mendadak di malam hari hingga menewaskan Purbasora beserta keluarganya.

Dalam serangan tersebut Bimaraksa, patih kerajaan Galuh, beserta segelintir pasukan yang berhasil meloloskan diri. Bimaraksa (atau Balangantrang) juga merupakan cucu dari Wretikandayun (anak Jakanta) dan menjabat sebagai senopati kerajaan Galuh.

Ia bersembunyi di kampung Geger Sunten dan diam-diam menghimpun kekuatan untuk melawan Sanjaya. Ia mendapat dukungan dari raja-raja Kuningan dan beberapa sisa laskar Indraprahasta.

Sena, ayah Sanjaya, sempat menasehatkan anaknya untuk tidak ikut menyakiti keluarga yang lain, kecuali Purbasora saja. Sanjaya sendiri memang tidak memiliki hasrat untuk menjadi penguasa Galuh. Ia hanya ingin membalaskan dendam ayahnya.

Sanjaya sempat meminta Sempakwaja untuk menobatkan Demunawan sebagai raja Galuh. Namun, ditolak karena Sempakwaja curiga itu hanya tipu muslihat untuk melenyapkan anaknya. Dengan terpaksa, Sanjaya mengangkat dirinya menjadi raja Kerajaan Galuh. Ia pun memerintah dua kerajaan sekaligus, Kerajaan Sunda-Galuh (723 – 732).

Selama menjabat, Sanjaya menyadari bahwa kehadirannya kurang disenangi sehingga ia menobatkan Premana Dikusuma, cucu Purbasora, menjadi penguasa Galuh.

Premana Dikusuma memiliki seorang anak bernama Surotama alias Manarah. Saat Sanjaya melakukan serangan pada Purbasora, Surotama masih berusia 5 tahun. Dalam literatur Sunda klasik, ia dikenal sebagai Ciung Wanara. Nama Ciung Wanara juga terdapat pada Babad Galuh dan Babad Pajajaran.

Tak lama, Premana Dikusuma pergi bertapa meninggalkan istana karena dilematis dengan posisinya. Ia harus menjadi raja Galuh yang tunduk kepada Sanjaya, Raja Sunda, sekaligus pembunuh kakeknya sendiri. Akhirnya, kekuasaan diserahkannya kepada Tamperan, patih Galuh sekaligus anak dari Sanjaya.

4. Ciung Wanara & Dendam Turunan

Tamperan pun berkuasa dari tahun 732 – 739 M. Di sisi lain, Surotama alias Manarah (Ciung Wanara), cicit Purbasora, masih menyimpan dendam atas kematian buyutnya.

Ia berencana merebut kekuasaan Galuh dengan bantuan Bimaraksa (Balangantrang) yang dulu bersembunyi di Geger Sunten.

Tamperan tidak menaruh curiga pada Manarah karena sudah dianggap seperti anak sendiri. Sayangnya, penyerbuan tersebut berlangsung siang hari tepat saat pesta sabung ayam. Balangantrang bertugas memimpin pasukan Geger Sunten untuk menyerang Galuh. Dalam tempo satu malam, penyerangan mendadak ini berhasil dilakukan.

Tamperan beserta istri dan anaknya ditawan oleh Manarah. Namun, Manarah membebaskan Banga anak Tamperan karena dianggap tidak bersalah dalam kasus ini. Akan tetapi, Banga ketahuan membebaskan kedua orang tuanya dari tawanan Manarah.

Tindakan Banga tersebut menimbulkan kemarahan Manarah sehingga terjadi pertikaian antar keduanya. Di sisi lain, kedua orang tua Banga pun tewas ditembak pasukan Manarah saat melarikan diri.

Sanjaya marah mendengar kabar kematian anaknya. Perang saudara hebat pun berlanjut. Namun, perang tersebut dapat berhenti oleh sikap Demunawarman yang meminta kedua belah pihak melakukan kesepakatan.

Alhasil, terjadi kesepakatan di mana Kerajaan Galuh diserahkan kepada Manarah dan Kerajaan Sunda kepada Banga. Akhirnya, kerajaan Galuh-Sunda yang sempat bersatu, kini harus terpisah lagi.

5. Runtuhnya Kerajaan Galuh

Setelah peristiwa tersebut, Kerajaan Galuh mengalami pergantian raja dan perpindahan ibukota beberapa kali. Pada abad ke-13, Kerajaan Galuh berpusat di Kawali dan mencapai kejayaan terutama pada masa pemerintahan Maharaja Niskala Wastu Kancana (1371 – 1475 M). Pada akhir abad ke-16 M, Kerajaan Mataram menginginkan untuk menguasai Kerajaan Galuh.

Alhasil, Kerajaan Galuh kalah dalam perang dan jatuh ke dalam kekuasaan Kerajaan Mataram. Pada awal pemerintahan Sultan Agung, raja Mataram (1613), status Kerajaan Galuh diubah menjadi setingkat dengan kabupaten. Dengan demikian, kekuasaan Kerajaan Galuh pun berakhir.

Nah bagaimana? Demikianlah kilasan artikel kali ini yang membahas mengenai Asal Usul dan Sejarah Kerajaan Galuh. Semoga bisa bermanfaat.

Baca Juga : Asal Usul dan Sejarah Kerajaan Champa Vietnam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *