Sejarah Kerajaan Malaka : Budaya, Ekonomi, Raja-raja dan Runtuhnya

Diposting pada

Kerajaan Malaka atau dikenal juga dengan sebutan Kesultanan Malaka merupakan sebuah Kerajaan bercorak Melayu yang pernah berdiri di Malaka, Malaysia.

Sejarah Kerajaan Malaka  Budaya, Ekonomi, Raja-raja dan Runtuhnya
Sejarah Kerajaan Malaka Budaya, Ekonomi, Raja-raja dan Runtuhnya

Secara geografis, kerajaan ini terletak di antara Pulau Sumatera dan Semenanjung Malaka. Kerajaan ini didirikan oleh Parameswara sekitar tahun 1380 – 1403 M dan mencapai puncak kejayaan di abad ke- 15, sebelum ditakhlukkan oleh Portugal di tahun 1511.

Kerajaan ini tidak meninggalkan bukti arkeologis yang cukup kuat, tetapi beberapa sumber sejarah mencatat kejadian penting terkait Kerajaan Malaka di antaranya:

  • Sulalatus Salatin, menyebutkan bahwa Kerajaan Malaka merupakan kelanjutan dari Kerajaan Melayu di Singapura. Adanya serangan Jawa dan Siam menyebabkan pusat pemerintahan kerajaan Melayu berpindah ke Malaka.
  • Kronik Dinasti Ming, mencatat bahwa Parameswara merupakan pendiri Malaka yang mengunjungi Kisar Tongle di Nanjing pada tahun 1405. Parameswara meminta pengakuan atas wilayah kedaulatannya, kemudian tercatat ada sampai 29 kali utusan Malaka mengunjungi Kaisar Cina. Kaisar Cina pun menyetujui untuk memberikan perlindungan pada Malaka sebagai balasan upeti. Alhasil, Malaka dapat terhindar dari kemungkinan adanya serangan Siam dari utara. Dalam hubungan diplomasi dengan Tiongkok, Malaka mendapat kekuatan dan berkembang menjadi pusat perdagangan di Asia Tenggara.
  • Laporan dari Kunjugan Laksamana Cheng Ho, di tahun 1409 Cheng Ho menggambarkan kehidupan umat beragama Islam yang mulai dianut oleh masyarakat Malaka.
  • Pararaton, disebutkan bahwa terdapat nama tokoh yang mirip yaitu Bhra Hyang Parameswara sebagai suami dari Ratu Majapahit (Suhita)

Sejarah Kerajaan Malaka

Dalam kronik Tiongkok disebutkan bahwa Sejarah Kerajaan Malaka didirikan oleh Parameswara yang saat itu menganut agama Hindu. Ia merupakan putra raja Sam Agi dari Kerajaan Sriwijaya.

Saat Sriwijaya runtuh akibat diserang Majapahit, Parameswara melarikan diri ke Malaka. Di sana terdapat suku pribumi berprofesi sebagai nelayan, yaitu suku Laut, berjumlah kurang lebih 30 keluarga.

Parameswara beserta rombongan yang mengungsi sudah memiliki peradaban lebih tinggi dari suku Laut sehingga mereka berhasil mempengaruhi penduduk asli setempat.

Bersama-sama suku Laut, Parameswara berhasil mengubah Malaka menjadi kota yang ramai dan lebih maju. Penduduk diajarkan bercocok tanam dan rempah-rempah hingga akhirnya wilayah Malaka menjadi pusat perdagangan saat itu.

Nama Malaka diambil dari kata “Malqa” (bahasa Arab) yang berarti tempat bertemu. Ya, di tempat ini para pedagang dari berbagai negeri bertemu dan melakukan transaksi jual-beli.

Kehidupan Politik – Pemerintahan Kerajaan Malaka

Pemerintahan Kerajaan Malaka dimulai dari kekuasaan Parameswara, salah satu keturunan kerajaan Sriwijaya yang melarikan diri ke Malaka karena diserang Majapahit.

Dalam Kronik Dinasti Ming, disebutkan bahwa Parameswara berkali-kali mengunjungi Kaisar China untuk meminta pengakuan atas wilayah kedaulatannya. Permintaan tersebut pun dikabulkan sebagai balasan upeti.

Kaisar Tongle akan memberikan perlindungan atas Kerajaan Malaka sehingga dapat terhindar dari serangan kerajaan Siam dari utara.

Adanya pengaruh dukungan China membuat Malaka menjadi lebih kuat sekaligus menjadi jalur pelayaran terkenal di Asia Tenggara.

Malaka juga menjadi pusat perdagangan karena menguasai pelabuhan penting di pesisir barat Semenanjung Malaya. Kerajaan Malaka juga disebut mengadakan hubungan diplomatik dengan kerajaan Majapahit setelah menikahi putri raja Majapahit.

Adapun wilayah kekuasaan Kerajaan Malaka meliputi Semenanjung Tanah Melayu (Patani, Ligor, Kelantan, dll); Brunei dan Serawak; Pesisir timur Sumatera bagian tengah; Kep. Riau; Tanjungpura (Kalimantan Barat); Indragiri; Palembang; Pulau Jemaja, Tambelan, Siantan, dan Bunguran.

Kehidupan Agama Kerajaan Malaka

Pada mulanya masyarakat Malaka belum menganut agama Islam. Parameswara sendiri masih menganut aliran Hindu bawaan dari Kerajaan Sriwijaya.

Akan tetapi, dalam perkembangan berikutnya, agama Islam berkembang pesat di Malaka. Ditunjukkan dengan pemberian gelar sultan bagi penguasa Malaka berikutnya.

Dalam kitab Sulalatus Salatin juga diceritakan bahwa Kerajaan Malaka memiliki hubungan dekat dengan Kerajaan Samudera Pasai, kerajaan Islam pertama di Indonesia.

Hubungan ini terjadi karena anak Sultan Pasai menikah dengan raja Kerajaan Malaka sehingga memeluk agama Islam dan diberi gelar Sultan Malaka.

Disebutkan pula bahwa Sultan Malaka memiliki peran ikut membantu memadamkan pertikaian di Pasai. Semenjak itu, corak kehidupan masyarakat Malaka menganut agama Islam.

Kehidupan Sosial – Budaya Kerajaan Malaka

Letak geografis dan kondisi alam memberi dampak dalam pembentukan sosial – budaya masyarakat Malaka. Letaknya di semenanjung Malaya membuat kerajaan ini menjadi kerajaan maritim dengan mata pencaharian didominasi sebagai nelayan.

Masyarakat juga melakukan transaksi dagang dan disebut sebagai tempat bertemunya para pedagang dari berbagai negeri.

Sastra dan Budaya Melayu pun berkembang pesat di kerajaan Malaka. Terbukti dengan munculnya karya-karya sastra seperti hikayat Hang Tuah, hikayat Hang Lekir, dan hikayat Hang Jabat. Kebudayaan masyarakat Malaka juga dinilai mirip dengan masyarakat Pasai.

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Malaka

Karena berada di jalur perdagangan internasional, Malaka semakin ramai dikunjungi pedagang dan musafir.

Kerajaan ini membuat aturan-aturan bagi kapal yang melintas di Semenanjung Malaka yaitu dengan diberlakukannya pajak bea cukai sebesar 6% untuk pedagang yang datang dari wilayah barat dan upeti kepada raja dan pembesar pelabuhan untuk pedagang yang berasal dari wilayah timur. Malaka juga memberlakukan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi dalam perdagangan dan diplomatik.

Raja-Raja Malaka yang Pernah Berkuasa

1. Parameswara (1396-1414 M)

Parameswara merupakan pendiri sekaligus menjadi raja pertama kerajaan Malaka. Ia meminta bantuan Kaisar China agar Malaka memiliki kedaulatan.

Ia juga meningkatkan aktivitas perdagangan di Malaka hingga memiliki hubungan akrab dengan Kerajaan Samudera Pasai dan kerajaan-kerajaan lainnya.

2. Muhammad Iskandar Syah (1414-1424 M)

Muhammad Iskandar Syah merupakan anak dari Parameswara yang memerintah kerajaan Malaka sesudah ayahnya. Iskandar Syah berhasil memperluas daerah kekuasaan kerajaan Malaka sampai seluruh Semenanjung Malaya.

Ia memilih untuk melakukan hubungan diplomatik dengan Kerajaan Pasai dengan cara menikahi putri dari raja Pasai saat itu. Sejak saat itu, Kerajaan Malaka mulai menganut agama Islam karena Kerajaan Pasai adalah kerajaan bercorak Islam.

3. Mudzafat Syah (1424-1458 M)

Muhammad Iskandar Syah digantikan oleh Mudzafat Syah dengan gelar sultan. Mudzafat Syah merupakan raja pertama yang bergelar sultan di kerajaan Malaka. Ia berhasil memperluas kekuasaan sampai ke Pahang, Indragiri, sampai ke Kampar.

4. Sultan Mansyur Syah (1458-1477 M)

Masa keemasan Kerajaan Malaka terjadi pada pemerintahan Sultan Mansyur Syah, putra dari Mudzafat Syah. Sultan Mansyur Syah meneruskan pekerjaan ayahnya dengan memperluas daerah kekuasaan, baik di Semenanjung Malaya maupun di wilayah Sumatera Tengah.

5. Sultan Alaudin Syah (1477 M – 1488 M)

Ia merupakan putra dari Sultan Mansyur Syah, di mana pada masa pemerintahannya, kerajaan Malaka mulai mengalami kemunduran.

Terbukti dengan mulai lepasnya daerah kekuasaan satu persatu. Sultan Alaudin Syah dianggap tidak cakap dalam memerintah.

6. Sultan Mahmud Syah (1488 – 1511 M)

Merupakan putra dari Sultan Alaudin Syah sekaligus menjadi raja terakhir kerajaan Malaka dikarenakan pada masa pemerintahannya, kerajaan Malaka menjadi kerajaan yang kecil dengan hanya sebagian wilayah Semenanjung Malaya saja.

Runtuhnya Kerajaan Malaka

Kemerosotan Kerajaan Malaka mulai terlihat dari kurang cakapnya Sultan Alaudin Syah dalam memerintah. Akibatnya Kerajaan Malaka semakin terpecah dan kekuasaannya mengecil.

Diperparah lagi dengan kedatangan Portugis melancarkan serangan di bawah kendali Alfonso d’ Alberquerque pada tahun 1511 M.

Sultan Mahmud Syah dibantu dengan Adipati Unus sempat mencoba menyerang Malaka yang telah jatuh ke tangan Portugis, tetapi mereka dipadamkan oleh pasukan Portugis.

Demikianlah yang bisa kami sampaikan mengenai pembahasan Sejarah Kerajaan Malaka : Budaya, Ekonomi, Raja-raja dan Runtuhnya. Semoga bisa bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *