Sejarah Kerajaan Pajajaran : Masa Pemerintahan, Peninggalan, Keruntuhan

Diposting pada

Nama Kerajaan Pajajaran secara eksplisit tidak begitu disebutkan dalam beberapa sumber. Kerajaan tersebut mulanya lebih dikenal dengan nama Kerajaan Sunda yang kemudian beribu kota di Pajajaran atau Pakuan Pajajaran (Bogor) di Jawa Barat. Pada masa itu, ada kebiasaan menyebutkan nama kerajaan dengan nama ibu kotanya.

Sejarah Kerajaan Pajajaran Masa Pemerintahan, Peninggalan, Keruntuhan
Sejarah Kerajaan Pajajaran Masa Pemerintahan, Peninggalan, Keruntuhan

Beberapa catatan menyebutkan bahwa kerajaan ini berdiri pada tahun 923 oleh Sri Jayabhupati. Dalam naskah kuno Bujangga Manik menyebutkan informasi kerajaan ini bermula dari abad ke-15 sampai awal abad ke-16.

Mengenai nama dan keberadaan “Pakuan Pajajaran” terdapat pada prasasti Tembaga (dari Kebantenan, Bekasi) dan prasasti Batu (Kec. Bogor Selatan).

Istilah tersebut juga terdapat dalam fragmen Carita Parahiyangan, di mana disimpulkan bahwa Pakuan Pajajaran berarti “keraton yang berjajar”.

Pada masa itu Kerajaan Sunda merupakan kerajaan yang berbentuk federal dengan membawahi jajaran kerajaan-kerajaan kecil, di antaranya Sanghiyang, Saunggalah, Sindangkasih, Banten, Cirebon, Galuh, Kawali, dan Pakuan. Pusat ibu kota Kerajaan Sunda sendiri memang sering berpindah-pindah termasuk Pajajaran.

Cikal Bakal Sejarah Kerajaan Pajajaran

Cikal Bakal Sejarah Kerajaan Pajajaran tidak dapat terlepas dari kerajaan terdahulu di daerah Jawa Barat yaitu Kerajaan Tarumanegara, Sunda, dan Galuh.

Kerajaan Sunda-Galuh sempat bersatu lalu terpisah kembali. Sejarah mencatat bahwa pemisahaan kerajaan tersebut merupakan cikal bakal hadirnya Kerajaan Pajajaran sekaligus sebagai bagian kelanjutan sejarah kerajaan-kerajaan Sunda, Jawa Barat.

Bermula ketika Rahyang Wastu Kencana meninggal dunia, Kerajaan Sunda-Galuh dipecah dua yaitu Susuktunggal dan Dewa Niskala.

Pakuan Pajajaran yang beribukota di Pakuan (Bogor) merupakan daerah kekuasaan Prabu Susuktunggal (Sang Haliwungan).

Sedangkan Kerajaan Galuh meliputi Parahyangan tetap berpusat di Kawali dan menjadi daerah kekuasaan Dewa Niskala (Ningrat Kancana).

Dewa Niskala menikah dengan putri keturunan kerajaan Majapahit sehingga membuat Raja Susuktunggal marah. Dewa Niskala dianggap telah melanggar aturan. Keduanya nyaris mengadakan perang hebat, tetapi dapat didamaikan oleh penasehat kerajaan dengan melahirkan sebuah kesepakatan yaitu keduanya harus turun tahta.

Dewa Niskala dan Prabu Susuktunggal pun menyetujui lalu menyerahkan tahtanya kepada putera mahkota yaitu Jayadewata (anak Dewa Niskala sekaligus menantu Prabu Susuktunggal).

Oleh karena itu, dalam pemerintahan Jayadewata, ia menyatukan kembali kedua kerajaan tersebut. Jayadewata kemudian bergelar Sri Baduga Maharaja dan mulai memerintah di Pakuan Pajajaran pada tahun 1482.

Sejarah tersebut tercatat dalam Carita Parahiyangan, di mana ada tertulis bahwa “Sang Susuktunggal, dialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana untuk Sri Baduga Maharaja Ratu Penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Ialah pakuan Sanghiyang Sri Ratu Dewata.”

Sanghiyang Sri Ratu Dewata merupakan gelar lain untuk Sri Baduga. Lalu “pakuan” berarti tempat tinggal untuk raja, biasa pula disebut keraton, kedaton, atau istana.

Jadi, tafsiran Poerbatjaraka sejalan dengan arti dalam  Carita Parahiyangan, yaitu “istana yang berjajar” karena bila diamati terdapat jejeran kerajaan atau istana yang berdiri sendiri-sendiri.

Masa Pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi)

Beberapa catatan menyebutkan bahwa awal mula berdirinya kerajaan Pajajaran ini sejak Sri Baduga Maharaja menjabat. Raja pertama kerajaan Pajajaran yaitu Sri Baduga Maharaja juga disebut Prabu Siliwangi.

Secara harafiah, Siliwangi berasal dari kata asilih wewangi  yang berarti ganti nama. Ia memang telah mengganti namanya beberapa kali.

Anda dapat menemukan keberadaan Sri Baduga Maharaja dalam Carita Parahiyangan episode XVI, Naskah Bujangga Manik, Naskah Lontar Abad XVI, Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, dan naskah yang masih kontroversial Naskah Wangsakerta (di Museum Sribaduga Bandung).

Prabu Siliwangi sendiri dikenal sebagai raja yang adil dan bijaksana. Pada masa pemerintahannya, masyarakat dapat hidup makmur dan sejahtera.

Atas jasa-jasa Sri Baduga maka dibuatlah Prasasti Batu Tulis. Prasasti tersebut dibuat oleh Prabu Surawisesa, Putra dari Siliwangi tujuannya untuk mengenang jasa-jasa Prabu Siliwangi selama memimpin Kerajaan Pajajaran.

Peninggalan Sejarah Kerajaan Pajajaran

Berikut ini beberapa peninggalan dari masa lalu Kerajaan Pajajaran yaitu :

  • Prasasti Batu Tulis (Bogor),
  • Prasasti Sanghyang Tapak (Sukabumi),
  • Prasasti Kawali (Ciamis),
  • Tugu Perjanjian Portugis (padraõ), Kampung Tugu, Jakarta,
  • Taman Perburuan, yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor.

Segi Geografis Kerajaan Pajajaran 

Secara geografis, Kerajaan Pajajaran terletak di Pakuan, Bogor. Dalam The Suma Oriantal, Tom Peres (1513 M) mencatat bahwa Pakuan sebagai ibukota Sunda.

Ia menyebutkan bahwa ibukota Kerajaan Sunda disebut Dayo (dayeuh) itu terletak sejauh dua hari perjalanan dari Kalapa (Jakarta).

Kehidupan Ekonomi dan Politik – Pemerintahaan

Pada umumnya masyarakat Kerajaan Pajajaran menggantungkan hidup dari kegiatan bercocok tanam. Di samping itu, masyarakat Pajajaran juga mengembangkan pelayaran dan perdagangan.

Kerajaan Pajajaran diketahui memiliki enam pelabuhan penting, yaitu Pelabuhan Banten, Tamgara, Cigede, Pontang, Sunda Kelapa, dan Cimanuk (Pamanukan).

Dalam pemerintahannya, Sri Baduga Maharaja membuat karya besar, yaitu membuat talaga besar yang bernama Maharena Wijaya dan membuat jalan yang menuju ke ibukota Pakuan dan Wanagiri.

Ia juga memberikan desa perdikan kepada pendeta dan pengikutnya agar menghidupkan kegiatan agama yang menjadi penuntun kehidupan rakyat.

Masih banyak buah hasil pemerintahaan Sri Baduga seperti membuat kaputren, pagelaran, kesatriaan (asrama prajurit), pamingtonan (tempat pertunjukan), mengatur pemungutan upeti dari raja-raja bawahan, memperkuat angkatan perang, serta menyusun undang-undang kerajaan.

Kondisi Kehidupan Sosial dan Budaya

Kebanyakan masyarakat Pajajaran adalah golongan petani, pedagang, tetapi ada juga golongan yang dianggap jahat (tukang copet, tukang rampas, dan maling).

Sebagian besar masyarakat juga menyukai seni, mereka masuk dalam golongan seniman seperti pemain gamelan, penari, dll.

Masyarakat Pajajaran menganut kepercayaan agama Hindu. Masyarakat sering melakukan ritual budaya dan agama. Peninggalan-peninggalannya berupa kitab Cerita Parahyangan, kitab Sangyang Siksakanda, prasasti-prasasti, dan jenis-jenis batik.

Raja yang Pernah Berkuasa

Konon dikisahkan bahwa Prabu Siliwangi menolak untuk menganut agama Islam. Pada saat itu, kerajaan Pajajaran masih menganut Hindu.

Akhirnya, beliau mengasingkan diri ke Gunung Gede, kemudian melakukan moksa. Sepeninggalan Prabu Siliwangi, Kerajaan Pajajaran pernah dipimpin oleh beberapa raja antara lain:

  • Prabu Surawisesa (1521 – 1535),
  • Prabu Dewata(1535 – 1543),
  • Prabu Sakti (1543 – 1551),
  • Prabu Nilakendra (1551-1567), ia meninggalkan Pakuan karena serangan Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf
  • Ratu RagaMulya (1567 – 1579), ia dikenal sebagai Prabu Surya Kencana, memerintah dari Pandeglang

Keruntuhan Kerajaan Pajajaran

Belum pasti apakah kejayaan Kerajaan Pajajaran terjadi pada masa pemerintahan Sri Baduga (Prabu Siliwangi) atau raja lain.

Akan tetapi, tercatat bahwa Kerajaan Pajajaran mulai mengalami keruntuhan setelah diserang oleh Kerajaan Banten. Pada tahun 1579, pasukan Kasultanan Banten melancarkan serangan di bawah pimpinan Maulana Yusuf.

Akhirnya Palangka Sriman Sriwacana atau singgasana (batu penobatan calon raja) milik Kerajaan Pajajaran berhasil direbut Kerajaan Banten dan diboyong dari Pakuan Pajajaran menuju Surasowan (Banten).

Pemindahaan singgasana tersebut merupakan tradisi politik yang berarti berhentinya kekuasaan sebelumnya sehingga tidak mungkin ada penobatan raja baru di kerajaan Pajajaran. Dengan demikian, masa pemerintahaan Kerajaan Pajajaran pun berakhir.

Sampai saat ini Palangka Sriman Sriwacana (singgasana Kerajaan Pajajaran) masih bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surasowan, Banten. Masyarakat Banten menyebutnya Watu Gigilang yang berarti mengkilap atau berseri.

Baca Juga : Asal Usul dan Sejarah Kerajaan Galuh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *