Merawat anakan Murai Batu membutuhkan perhatian lebih dibandingkan merawat burung yang sudah dewasa. Pada fase anakan, tubuh masih mengalami pertumbuhan sehingga kebutuhan makanan, kebersihan, suhu, keamanan, dan waktu istirahat perlu diperhatikan secara konsisten.

Anakan Murai Batu juga mengalami beberapa perubahan penting sebelum memasuki fase trotol. Ukuran tubuh bertambah, bulu berkembang, kemampuan berdiri dan bertengger semakin baik, kemudian kemampuan terbang mulai terbentuk.
Setiap tahap tersebut membutuhkan penyesuaian perawatan karena kemampuan fisik anakan belum sama dengan Murai Batu dewasa.
Cara Merawat Anakan Murai Batu
Berikut cara merawat anakan Murai Batu agar pertumbuhannya berjalan dengan baik.
1. Siapkan Tempat Perawatan yang Aman
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah tempat anakan Murai Batu tinggal. Anak burung yang masih kecil mempunyai kemampuan bergerak yang terbatas sehingga mudah terjatuh, kedinginan, atau mengalami cedera jika ditempatkan pada lingkungan yang tidak sesuai.
Gunakan tempat yang bersih, kering, aman dari hewan lain, dan tidak terkena angin secara langsung. Lokasi juga sebaiknya jauh dari aktivitas yang terlalu ramai.

Jika anakan masih diasuh induknya, kondisi kandang indukan perlu diperhatikan. Pastikan tidak terdapat celah yang memungkinkan anakan keluar atau jatuh dari sarang.
Jika anakan sudah dipisahkan dari induknya, gunakan wadah pemeliharaan yang sesuai dengan ukuran tubuhnya. Jangan langsung menggunakan tempat yang terlalu luas apabila anakan belum mampu bergerak atau terbang dengan baik.
Dasar tempat juga harus memberikan pijakan yang cukup. Permukaan yang terlalu licin dapat membuat kaki anakan tidak mendapatkan tumpuan dengan baik.
2. Jaga Suhu Tubuh Anakan Tetap Stabil
Anakan Murai Batu yang masih kecil belum mempunyai kemampuan mengatur suhu tubuh sebaik burung dewasa. Karena itu, kondisi lingkungan harus dijaga agar tidak terlalu dingin maupun terlalu panas.
Jika anakan masih sangat muda dan belum memiliki bulu yang sempurna, kebutuhan kehangatan biasanya lebih tinggi. Sumber panas dapat digunakan sesuai kebutuhan, tetapi harus ditempatkan dengan aman dan tidak terlalu dekat dengan tubuh burung.
Jangan hanya mengandalkan perkiraan dari suhu ruangan. Amati perilaku anakan. Anakan yang terlalu dingin dapat terlihat mengumpul atau menjadi kurang aktif, sedangkan kondisi terlalu panas dapat membuatnya terlihat tidak nyaman dan menjauh dari sumber panas.
Kondisi suhu juga perlu disesuaikan dengan perkembangan bulu. Semakin besar dan semakin lengkap bulunya, kemampuan mempertahankan suhu tubuh biasanya semakin berkembang.
Yang paling penting adalah menghindari perubahan suhu yang ekstrem. Perpindahan dari tempat yang hangat ke lingkungan yang sangat dingin secara mendadak dapat membuat anakan tidak nyaman.
3. Berikan Pakan Sesuai Tahap Pertumbuhan
Pakan merupakan salah satu bagian paling penting dalam perawatan anakan Murai Batu karena tubuh sedang mengalami pertumbuhan.
Murai Batu merupakan burung pemakan serangga, sehingga kebutuhan pakan hewani menjadi bagian penting dalam pemeliharaannya. Beberapa jenis pakan yang dikenal dalam pemeliharaan Murai Batu antara lain jangkrik, kroto, cacing, ulat, dan berbagai serangga.
Namun, pakan anakan tidak sebaiknya diberikan hanya berdasarkan kebiasaan memberikan pakan kepada Murai Batu dewasa. Ukuran pakan harus disesuaikan dengan kemampuan anakan dalam menerima dan menelannya.

Jika anakan masih disuapi, makanan harus diberikan dalam kondisi yang sesuai dan tidak terlalu besar. Jangan memaksakan potongan pakan yang sulit ditelan karena dapat meningkatkan risiko tersedak.
Apabila menggunakan pakan formulasi khusus untuk anak burung, ikuti petunjuk produsen mengenai cara pencampuran, penyimpanan, kebersihan, dan pemberiannya.
Untuk anakan yang masih diasuh induk, pemilik perlu memastikan indukan mendapatkan makanan yang cukup sehingga kebutuhan anakan melalui proses pemberian pakan oleh induk tetap terpenuhi.
Baca Juga : 8 Jenis Makanan Murai Batu Agar Gacor
4. Sesuaikan Ukuran Pakan dengan Paruh Anakan
Ukuran makanan sering kali dianggap sepele, padahal anakan mempunyai ukuran paruh dan kemampuan menelan yang masih terbatas.
Jangan memberikan potongan makanan dengan ukuran sama seperti pakan untuk Murai Batu dewasa. Serangga yang terlalu besar dapat menyulitkan anakan ketika mencoba menelannya.
Pakan dapat dipotong menjadi bagian yang lebih kecil sesuai ukuran anakan. Untuk jenis pakan tertentu, bagian yang keras atau terlalu besar juga perlu diperhatikan.
Perhatikan respons anakan ketika menerima makanan. Jika anakan mampu menelan dengan normal dan tidak menunjukkan kesulitan, ukuran pakan kemungkinan lebih sesuai dibandingkan makanan yang terlalu besar.
Pemberian pakan juga harus dilakukan dengan tenang. Jangan memasukkan makanan secara paksa ke dalam mulut karena berisiko membuat anakan stres atau mengalami masalah ketika menelan.
Pada anakan yang masih membutuhkan bantuan manusia untuk makan, teknik pemberian pakan perlu dipelajari dengan benar.
Jika menggunakan formula hand-feeding, ikuti petunjuk produk atau arahan breeder maupun dokter hewan yang berpengalaman menangani burung.
5. Buat Jadwal Pemberian Pakan yang Teratur
Anakan Murai Batu membutuhkan pola pemberian makanan yang teratur. Jangan membiarkan waktu pemberian pakan berubah-ubah secara ekstrem setiap hari.
Jadwal yang konsisten membantu pemilik memantau jumlah makanan yang diberikan sekaligus melihat perubahan nafsu makan.
Namun, jadwal tidak berarti pemilik harus menggunakan satu pola yang sama untuk semua anakan. Kebutuhan makan dipengaruhi oleh usia, perkembangan tubuh, kemampuan makan sendiri, kondisi kesehatan, dan apakah anakan masih diasuh induk atau sudah dipisahkan.
Anakan yang lebih muda biasanya membutuhkan perhatian lebih sering dibandingkan anakan yang sudah mulai mandiri.
Catat perubahan yang terlihat. Jika anakan biasanya aktif meminta makanan kemudian tiba-tiba tidak menunjukkan respons makan, perubahan tersebut perlu diperhatikan.
Pemberian makanan juga jangan dilakukan secara berlebihan hanya karena anakan terlihat terus meminta makan. Kondisi tembolok, perilaku, dan kemampuan mencerna makanan perlu menjadi bagian dari pengamatan.
6. Pastikan Air Bersih Selalu Tersedia Ketika Sudah Mampu Minum Sendiri
Kebutuhan air perlu diperhatikan ketika anakan sudah mulai mampu minum sendiri.
Gunakan wadah air yang ukurannya sesuai sehingga anakan tidak mudah tercebur. Tempat minum juga harus berada pada posisi yang mudah dijangkau.
Air perlu diganti secara rutin, terutama jika terkena pakan atau kotoran. Jangan membiarkan air berada dalam kondisi keruh.
Untuk anakan yang masih sepenuhnya mendapatkan cairan melalui pakan atau formula, jangan memberikan air secara sembarangan menggunakan metode yang berisiko masuk ke saluran pernapasan.
Pada tahap belajar minum, amati kemampuan anakan terlebih dahulu. Pastikan wadah tidak terlalu dalam dan tidak mudah terguling.
Kebersihan wadah juga penting. Tempat minum yang jarang dicuci dapat menjadi tempat menumpuknya sisa makanan dan kotoran.
7. Jaga Kebersihan Tempat Perawatan
Kebersihan harus menjadi rutinitas sejak anakan masih kecil.
Sisa makanan yang tidak segera dibersihkan dapat menempel pada tempat perawatan. Kotoran yang menumpuk juga membuat lingkungan menjadi tidak nyaman.

Bersihkan bagian dasar tempat secara rutin. Wadah pakan juga perlu diperiksa setelah digunakan, terutama apabila terdapat makanan basah yang mudah membusuk.
Jangan menggunakan bahan pembersih yang berbau tajam atau meninggalkan residu di area yang bersentuhan langsung dengan anakan. Setelah dibersihkan, pastikan tempat benar-benar aman digunakan kembali.
Jika anakan masih berada bersama induknya, kebersihan sarang juga perlu diperhatikan tanpa terlalu sering mengganggu induk.
Dalam pemeliharaan Murai Batu secara umum, kebersihan kandang merupakan bagian penting karena kandang menjadi tempat burung makan, minum, bertengger, dan beristirahat.
8. Gunakan Sangkar yang Sesuai Ketika Anakan Mulai Aktif
Ketika kemampuan bergerak anakan mulai meningkat, kebutuhan tempat juga berubah.
Anakan yang sudah mulai melompat dan belajar terbang membutuhkan tempat yang aman agar tidak mudah terbentur atau keluar dari sangkar.
Sangkar jangan memiliki bagian tajam yang dapat melukai kaki, sayap, atau ekor. Jarak jeruji juga harus diperhatikan agar kepala atau tubuh anakan tidak tersangkut.
Ketika ekor mulai tumbuh panjang, ruang gerak harus cukup agar bulu tidak terus-menerus bergesekan dengan jeruji.
Tangkringan juga perlu disesuaikan. Jangan memasang tangkringan terlalu tinggi untuk anakan yang kemampuan terbangnya belum baik.
Pemilihan sangkar pada Murai Batu memang perlu memperhatikan ukuran tubuh, panjang ekor, jarak jeruji, tangkringan, keamanan, dan kemudahan perawatan.
Baca Juga : Cara Memilih Sangkar yang Tepat untuk Murai Batu
9. Berikan Tangkringan Secara Bertahap
Tangkringan berfungsi sebagai tempat anakan belajar berdiri dan mempertahankan keseimbangan.
Pada tahap awal, jangan memasang tangkringan terlalu tinggi. Anakan yang belum mampu terbang dengan baik dapat jatuh dan mengalami cedera.
Gunakan tangkringan yang memiliki permukaan aman dan tidak terlalu licin. Diameter juga harus sesuai dengan ukuran kaki.

Ketika kemampuan anakan semakin berkembang, jumlah dan posisi tangkringan dapat disesuaikan secara bertahap.
Perhatikan bagaimana anakan mencengkeram tangkringan. Jika sering terpeleset atau terlihat kesulitan berdiri, periksa kembali ukuran dan permukaan tangkringan.
Tahap ini penting karena kemampuan bertengger merupakan salah satu perkembangan fisik yang mulai terlihat ketika Murai Batu memasuki fase muda atau trotol.
10. Berikan Waktu Istirahat yang Cukup
Anakan Murai Batu membutuhkan banyak waktu untuk beristirahat karena pertumbuhan tubuh membutuhkan energi.
Jangan terlalu sering mengangkat, memegang, memindahkan, atau mengajak anakan bermain.
Waktu istirahat juga harus dilindungi dari gangguan suara keras. Letakkan tempat perawatan di lokasi yang tenang dan tidak terlalu sering dilalui manusia.
Pada malam hari, kondisi lingkungan sebaiknya dibuat lebih tenang. Hindari lampu yang terlalu terang dan aktivitas berlebihan di sekitar tempat burung beristirahat.
Ketika anakan sedang tidur atau diam dalam waktu cukup lama tetapi masih menunjukkan kondisi normal, jangan langsung menganggapnya sebagai masalah.
Istirahat merupakan bagian dari rutinitas pertumbuhan. Energi yang diperoleh dari makanan tidak hanya digunakan untuk bergerak, tetapi juga untuk perkembangan jaringan tubuh dan bulu.
11. Jaga Lingkungan dari Suara Keras dan Gangguan Mendadak

Anakan Murai Batu perlu diperkenalkan dengan lingkungan secara bertahap.
Suara televisi yang sangat keras, mesin, kendaraan, aktivitas manusia yang berlebihan, atau keberadaan hewan lain dapat membuat anakan terkejut.
Tidak berarti lingkungan harus selalu sunyi. Anakan tetap perlu mengenal suara normal di sekitarnya. Yang perlu dihindari adalah gangguan yang terlalu keras, mendadak, atau berlangsung terus-menerus.
Ketika anakan baru dipindahkan ke tempat baru, berikan waktu untuk mengenali lingkungan. Jangan langsung memberikan banyak rangsangan dalam satu waktu.
Perubahan lokasi sangkar, suara, pencahayaan, rutinitas, pakan, dan keberadaan burung lain dapat memengaruhi proses adaptasi Murai Batu.
Baca Juga : 30 Cara Membuat Murai Batu Cepat Beradaptasi dengan Lingkungan Baru
12. Pantau Pertumbuhan Bulu Secara Rutin
Pertumbuhan bulu merupakan salah satu indikator perkembangan anakan Murai Batu.
Pada awal kehidupan, bulu masih berkembang dan belum mempunyai bentuk seperti Murai Batu dewasa. Seiring pertumbuhan, bulu tubuh, sayap, dan ekor akan semakin berkembang.
Amati apakah terdapat perubahan yang tidak biasa seperti bulu rusak, bulu rontok berlebihan, bagian tubuh tertentu tanpa bulu, atau anakan terus-menerus mencabuti bulunya.
Jangan terlalu sering menyentuh bulu hanya untuk memeriksa pertumbuhan. Pengamatan visual sudah cukup untuk pemeriksaan rutin.
Ketika anakan mulai memasuki fase trotol, perubahan bulu akan semakin mudah diamati. Tahap pertumbuhan ini juga disertai peningkatan kemampuan bergerak, bertengger, dan terbang.

13. Mulai Latih Anakan Mengenal Pakan Secara Bertahap
Ketika anakan mulai mampu makan sendiri, proses pengenalan pakan dapat dilakukan secara bertahap.
Jangan langsung menyediakan terlalu banyak jenis makanan sekaligus. Berikan jenis makanan yang sudah dikenal terlebih dahulu, kemudian perkenalkan variasi secara perlahan.
Tujuannya agar pemilik dapat mengetahui makanan mana yang diterima dengan baik dan bagaimana respons anakan terhadap perubahan menu.
Murai Batu memiliki pola makan berbasis hewan dan serangga. Dalam pemeliharaan, jangkrik, kroto, cacing, ulat, dan serangga lainnya dapat digunakan sebagai bagian dari menu sesuai kondisi burung.
Jika anakan mulai belajar mengambil makanan sendiri, gunakan wadah yang mudah dijangkau. Jangan menggunakan tempat pakan yang terlalu dalam karena anakan bisa kesulitan mengambil makanan.
Pada fase ini, kemampuan makan mandiri juga perlu dipantau. Jangan langsung menganggap anakan sudah sepenuhnya mandiri hanya karena sudah beberapa kali berhasil mengambil makanan.
14. Berikan Pakan dengan Kualitas dan Kebersihan yang Terjaga
Selain jenis pakan, kualitas dan kebersihan makanan juga perlu diperhatikan.
Serangga pakan harus berasal dari sumber yang layak dan tidak terkontaminasi bahan berbahaya. Pakan yang sudah basi, berjamur, atau mengalami perubahan bau sebaiknya tidak diberikan.

Untuk makanan yang mudah rusak, jangan membiarkannya terlalu lama berada di dalam wadah.
Jika menggunakan voer, simpan dalam wadah tertutup dan kering. Hindari mengambil pakan menggunakan alat atau tangan yang kotor.
Pakan tambahan seperti jangkrik dan kroto memang umum digunakan dalam pemeliharaan Murai Batu, tetapi pemberiannya tetap perlu mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan burung.
Pemberian extra fooding secara berlebihan merupakan salah satu kesalahan yang sering dilakukan pemula.
15. Jangan Memberikan Extra Fooding Secara Berlebihan
Keinginan agar anakan cepat besar atau cepat memiliki suara bagus sering membuat pemilik memberikan extra fooding secara berlebihan.
Padahal, jumlah pakan tambahan tidak bisa disamakan untuk semua burung.
Anakan masih berada dalam fase pertumbuhan sehingga pola makan sebaiknya berorientasi pada kebutuhan nutrisi dan perkembangan tubuh, bukan sekadar mengejar aktivitas atau suara.
Jangan meniru jumlah pemberian jangkrik atau kroto milik Murai Batu dewasa secara langsung.
Amati nafsu makan, kondisi tubuh, aktivitas, dan perkembangan anakan. Jika terjadi perubahan setelah jenis atau jumlah pakan diubah, catat perubahan tersebut agar pola perawatan lebih mudah dievaluasi.
Prinsipnya adalah menjaga pemberian pakan tetap terukur dan konsisten. Agrotek.id juga menyebut pemberian EF berlebihan serta perubahan pakan mendadak sebagai kesalahan yang cukup umum dilakukan pemula.
16. Perkenalkan Mandi dan Paparan Matahari Secara Bertahap
Anakan yang sudah cukup kuat dan memiliki perkembangan bulu yang memadai dapat mulai diperkenalkan dengan rutinitas perawatan seperti mandi dan paparan sinar matahari secara bertahap.
Jangan langsung memperlakukan anakan seperti Murai Batu dewasa.
Kemampuan mengatur suhu tubuh masih berkembang, sehingga kondisi cuaca perlu menjadi pertimbangan. Hindari kondisi terlalu panas dan jangan menjemur anakan dalam waktu lama tanpa pengawasan.

Jika anakan masih sangat kecil, prioritas utamanya adalah menjaga suhu, makanan, kebersihan, dan keamanan.
Ketika sudah lebih besar, proses pengenalan mandi dapat dilakukan secara perlahan sesuai respons burung. Jangan memaksakan mandi jika anakan terlihat ketakutan atau belum siap.
Dalam pemeliharaan Murai Batu, mandi dan penjemuran memang termasuk rutinitas perawatan, tetapi harus disesuaikan dengan kondisi burung.
17. Pantau Perubahan Berat, Nafsu Makan, dan Aktivitas
Pemantauan perkembangan perlu dilakukan secara rutin.
Perhatikan apakah anakan makan dengan normal, aktif bergerak sesuai usianya, mampu bertengger, dan menunjukkan perkembangan bulu.
Jika memungkinkan, pemilik dapat mencatat perkembangan berat badan secara berkala menggunakan timbangan yang sesuai dan dilakukan dengan cara yang tidak membuat burung stres.
Yang penting bukan sekadar mendapatkan angka berat tertentu, tetapi melihat pola perubahan dari waktu ke waktu.
Penurunan berat badan yang jelas, nafsu makan tiba-tiba hilang, anakan menjadi sangat lemas, kesulitan bernapas, atau menunjukkan perubahan kondisi yang mencolok perlu mendapatkan perhatian lebih.
Jangan memberikan obat, antibiotik, vitamin, atau suplemen secara sembarangan hanya karena anakan terlihat kurang aktif. Jika muncul tanda penyakit, konsultasi dengan dokter hewan yang memahami burung dapat membantu menentukan penyebab dan tindakan yang tepat.
18. Sesuaikan Perawatan Ketika Anakan Mulai Masuk Fase Trotol
Perawatan perlu berubah seiring pertumbuhan. Anakan yang sebelumnya hanya banyak diam secara bertahap mulai aktif bergerak, belajar bertengger, mengepakkan sayap, kemudian mencoba terbang.
Fase trotol merupakan salah satu tahap penting dalam perkembangan Murai Batu. Pada fase ini, perkembangan bulu, ukuran tubuh, ekor, kemampuan bergerak, dan perilaku mulai terlihat semakin jelas.
Ketika kemampuan terbang meningkat, periksa kembali keamanan sangkar. Pastikan tidak ada celah yang memungkinkan burung keluar atau bagian tajam yang dapat menyebabkan cedera.
Tangkringan juga dapat disesuaikan dengan kemampuan burung. Ruang gerak perlu cukup agar anakan dapat belajar berpindah tanpa sering menabrak jeruji.
Pada fase ini, pemilik juga dapat mulai memperhatikan karakter individu. Ada anakan yang lebih aktif, lebih tenang, lebih mudah beradaptasi, atau lebih responsif terhadap suara lingkungan.
Jangan terburu-buru memberikan latihan berat hanya karena anakan mulai aktif. Prioritas tetap pada pertumbuhan tubuh, perkembangan bulu, pola makan, keamanan, dan pembentukan kebiasaan yang stabil.
Perawatan yang konsisten pada fase anakan akan membantu pemilik memahami perkembangan Murai Batu dari waktu ke waktu, termasuk perubahan fisik dan perilakunya sebelum memasuki fase dewasa.
Kesimpulan
Merawat anakan Murai Batu membutuhkan perhatian yang konsisten karena kondisi fisik dan kemampuan burung masih berkembang.
Perawatan utama meliputi penyediaan tempat yang aman, menjaga suhu tetap stabil, memberikan pakan sesuai tahap pertumbuhan dan ukuran paruh, menyediakan air bersih ketika burung sudah mampu minum sendiri, menjaga kebersihan, serta menyesuaikan sangkar dan tangkringan dengan kemampuan bergeraknya.
Waktu istirahat, lingkungan yang tenang, perkembangan bulu, berat badan, nafsu makan, dan aktivitas juga perlu dipantau secara rutin.
Ketika anakan mulai memasuki fase trotol, pola perawatan perlu disesuaikan secara bertahap tanpa memberikan latihan atau pakan tambahan secara berlebihan.
Jika muncul perubahan kondisi seperti kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan, lemas, atau kesulitan bernapas, sebaiknya mendapatkan pemeriksaan dari dokter hewan yang memahami burung.
Sumber dan Referensi
- Putranto, H.D., Okvianto, D., & Prakoso, H. (2018). Studi Reproduksi Burung Murai Batu (Copsychus malabaricus) pada Penangkaran Lokal di Kota Bengkulu. Jurnal Sain Peternakan Indonesia, 13(2), 130–139. DOI: 10.31186/jspi.id.13.2.130-139.
- Putranto, H.D., Brata, B., & Yumiati, Y. (2020). Pertumbuhan Kuantitatif Anakan Murai Batu Hingga Fase Ranggas Bulu Pertama. Jurnal Sain Peternakan Indonesia, 15(4), 414–419. DOI: 10.31186/jspi.id.15.4.414-419.
- Nijboer, J., Fens, A., & Brandão, J. (2025). Nutrition in Birds. Merck Veterinary Manual.
- Nijboer, J., Fens, A., & Brandão, J. (2025). Nutrition in Passerines. Merck Veterinary Manual.
- Akdiatmojo, S. (2017). Panduan Menangkarkan Murai Batu. Jakarta: AgroMedia Pustaka.
- Asmari, A. (2016). Memilih dan Mencetak Murai Batu Berprestasi. Bandung: CV Idzhar.
- Rasyaf, M. (1996). Memelihara Burung. Yogyakarta: Kanisius.
- Nahrowi, et al. (2001). Kajian kandungan nutrisi bahan pakan yang digunakan dalam pemeliharaan burung. Referensi yang dikutip dalam penelitian Putranto et al. (2018).
- Etches, R.J. (1996). Reproduction in Poultry. Wallingford: CAB International.
- Masyud, B. (2007). Pengelolaan dan Pengembangan Penangkaran Burung untuk Mendukung Konservasi. Bogor: Institut Pertanian Bogor.