Telur merpati yang sedang dierami tidak selalu memiliki peluang menetas yang sama. Ada telur yang berkembang menjadi anak merpati sehat, ada yang tidak dibuahi, dan ada pula yang sempat mengalami perkembangan embrio tetapi kemudian berhenti karena kondisi pengeraman yang kurang mendukung. Perbedaan tersebut tidak selalu terlihat dari bentuk, warna, maupun ukuran cangkang telur.

Bagi peternak merpati, kemampuan membedakan telur yang berisi embrio hidup dan telur yang tidak berkembang sangat penting.
Pemeriksaan yang tepat membantu peternak memantau keberhasilan penetasan, mengetahui kemungkinan penyebab kegagalan, serta menghindari tindakan yang justru membahayakan embrio.
Salah satu metode yang paling mudah dilakukan adalah peneropongan telur menggunakan cahaya atau candling. Dengan bantuan senter LED yang cukup terang dan ruangan gelap, peternak dapat mengamati pembuluh darah, bayangan embrio, perkembangan bagian dalam telur, serta perubahan kantung udara selama pengeraman.
Namun, hasil peneropongan harus ditafsirkan berdasarkan umur pengeraman. Telur yang masih terlalu muda mungkin belum menunjukkan tanda perkembangan yang jelas, sehingga belum tentu infertil atau tidak berkembang.
Cara Membedakan Telur Merpati yang Berisi Embrio dan yang Tidak Berkembang
1. Memahami Perbedaan Telur Fertil, Embrio Hidup, dan Telur Tidak Berkembang
Sebelum melakukan pemeriksaan, peternak perlu memahami bahwa telur fertil tidak selalu berarti embrionya masih hidup.
Telur fertil adalah telur yang telah mengalami pembuahan. Setelah dierami dalam kondisi yang sesuai, sel-sel embrio mulai berkembang. Apabila proses tersebut berlangsung normal, embrio akan tumbuh hingga siap menetas.
Sebaliknya, telur infertil merupakan telur yang tidak mengalami pembuahan. Telur seperti ini tidak akan membentuk embrio meskipun dierami dalam waktu lama.
Ada pula telur yang fertil, tetapi embrionya mati pada awal atau pertengahan pengeraman. Kondisi ini berbeda dari telur infertil karena embrio sempat berkembang sebelum pertumbuhannya berhenti.
Ketiga kondisi tersebut dapat dibedakan melalui pengamatan yang cermat.
- Telur fertil dengan embrio hidup: menunjukkan perkembangan pembuluh darah, bayangan embrio yang semakin jelas, dan terkadang gerakan embrio.
- Telur infertil: umumnya tampak relatif jernih ketika diteropong, tanpa jaringan pembuluh darah yang berkembang.
- Telur dengan embrio mati: dapat memperlihatkan pembuluh darah yang rusak, lingkaran darah, atau bayangan embrio yang tidak lagi berkembang.
Ciri-ciri tersebut tidak selalu terlihat sempurna pada setiap telur. Warna dan ketebalan cangkang, intensitas cahaya, serta pengalaman pemeriksa dapat memengaruhi hasil pengamatan.
2. Menyiapkan Alat untuk Memeriksa Telur Merpati
Langkah pertama adalah menyiapkan alat peneropongan yang aman. Peternak tidak harus memiliki peralatan mahal karena senter LED dengan sorotan terfokus dapat digunakan untuk pemeriksaan sederhana.

Peralatan yang perlu disiapkan meliputi:
- Senter LED terang: pilih senter yang menghasilkan cahaya terfokus dan tidak cepat panas.
- Ruangan gelap: membantu cahaya menembus cangkang sehingga bagian dalam telur lebih mudah terlihat.
- Tangan yang bersih dan kering: mengurangi risiko kontaminasi pada cangkang.
- Catatan pengeraman: digunakan untuk mencatat tanggal telur mulai dierami dan hasil setiap pemeriksaan.
- Tempat yang aman: siapkan permukaan bersih agar telur tidak mudah tergelincir atau terbentur.
Jika tersedia, alat khusus peneropong telur dapat digunakan karena cahaya lebih terarah dan pemeriksaan menjadi lebih praktis.
Hindari memakai lampu yang menghasilkan panas berlebihan. Telur tidak perlu disinari terus-menerus. Pemeriksaan sebaiknya berlangsung singkat agar perubahan suhu dan penanganan berulang tidak mengganggu perkembangan embrio.
3. Menentukan Waktu yang Tepat untuk Meneropong Telur
Waktu pemeriksaan menjadi faktor penting dalam membedakan telur yang berkembang dan tidak berkembang. Jika pemeriksaan dilakukan terlalu awal, embrio yang masih sangat kecil mungkin belum dapat diamati dengan jelas.
Pada merpati domestik, masa pengeraman umumnya sekitar 17–19 hari. Namun, waktu menetas dapat berbeda menurut kondisi pengeraman dan jenis merpati.
Sebagai panduan praktis, pemeriksaan pertama dapat dilakukan sekitar hari kelima hingga ketujuh setelah pengeraman berlangsung secara efektif. Pada periode tersebut, telur yang berkembang biasanya mulai menunjukkan jaringan pembuluh darah.
Apabila hasil pemeriksaan pertama belum meyakinkan, jangan langsung menyimpulkan telur tidak berkembang. Catat hasilnya, kembalikan telur ke sarang dengan hati-hati, lalu lakukan pemeriksaan ulang setelah beberapa hari jika diperlukan.
Pemeriksaan lanjutan membantu memastikan apakah pembuluh darah bertambah jelas dan bayangan embrio membesar. Perubahan dari waktu ke waktu lebih informatif daripada hanya mengandalkan satu kali peneropongan.
Peternak juga sebaiknya mencatat tanggal mulai pengeraman, bukan hanya tanggal telur dikeluarkan. Telur yang baru diletakkan belum tentu langsung mendapatkan pengeraman efektif sepanjang hari.
4. Cara Meneropong Telur Merpati dengan Senter
Peneropongan atau candling merupakan metode sederhana untuk melihat perkembangan di dalam telur tanpa memecahkan cangkangnya. Ikuti tahapan berikut agar hasil pemeriksaan lebih mudah diamati.
Langkah 1: Pilih ruangan yang gelap
Matikan lampu ruangan atau gunakan tempat yang minim cahaya. Kondisi gelap membantu memperjelas bayangan di dalam telur.
Langkah 2: Nyalakan senter dan arahkan ke telur
Pegang senter dengan stabil, lalu dekatkan bagian sumber cahaya ke salah satu ujung telur. Ujung tumpul sering menjadi pilihan karena kantung udara biasanya berada di bagian tersebut, tetapi cahaya juga dapat diarahkan melalui sisi cangkang untuk mengamati bagian dalam.
Langkah 3: Pegang telur dengan lembut
Gunakan ujung jari untuk menopang telur tanpa menekan cangkang. Jangan mengguncang, memutar dengan kasar, atau mengetuk telur untuk mencari tanda kehidupan.
Langkah 4: Amati pola cahaya di dalam telur
Perhatikan apakah bagian dalam terlihat relatif terang, apakah terdapat serabut pembuluh darah kemerahan, atau apakah tampak bayangan gelap yang semakin besar.
Langkah 5: Catat hasil pengamatan
Tuliskan tanggal pemeriksaan dan ciri-ciri yang terlihat. Jika hasilnya belum jelas, tandai sebagai belum pasti dan periksa kembali sesuai kebutuhan.
Langkah 6: Kembalikan telur ke sarang
Segera kembalikan telur ke posisi semula. Usahakan induk tidak terganggu terlalu lama dan hindari pemeriksaan berulang yang tidak diperlukan.

5. Mengenali Ciri Telur Merpati yang Berisi Embrio Hidup
Tanda terpenting dari perkembangan embrio adalah munculnya jaringan pembuluh darah dan perubahan bentuk bayangan di dalam telur.
Pada tahap awal, pembuluh darah dapat terlihat seperti serabut halus berwarna merah yang menyebar dari satu titik. Polanya sering menyerupai jaring laba-laba. Bagian tengahnya dapat terlihat lebih gelap karena keberadaan embrio.
Ketika perkembangan berlangsung normal, jaringan pembuluh darah biasanya semakin jelas dan menyebar. Bayangan embrio juga bertambah besar seiring bertambahnya umur pengeraman.
Pada fase berikutnya, isi telur menjadi lebih gelap karena embrio mengisi ruang yang semakin besar. Kantung udara di ujung tumpul telur tetap dapat terlihat sebagai area terang.
Gerakan embrio terkadang dapat diamati saat peneropongan, terutama ketika embrio telah cukup berkembang. Namun, tidak terlihatnya gerakan dalam pemeriksaan singkat bukan bukti pasti bahwa embrio sudah mati. Embrio mungkin sedang diam atau posisinya tidak memungkinkan gerakan terlihat.
Peternak sebaiknya menggunakan beberapa tanda sekaligus, yaitu:
- Pembuluh darah tampak jelas dan terhubung.
- Bayangan embrio berkembang dari pemeriksaan sebelumnya.
- Bagian dalam telur menjadi semakin gelap seiring pertumbuhan.
- Terkadang terlihat gerakan embrio.
- Kantung udara dan bayangan bagian dalam menunjukkan perubahan sesuai umur pengeraman.
Jika tanda-tanda tersebut muncul dan perkembangan berlanjut pada pemeriksaan berikutnya, kemungkinan telur berisi embrio hidup menjadi lebih besar.
6. Ciri Telur Merpati yang Tidak Dibuahi
Telur yang tidak dibuahi umumnya tampak lebih jernih ketika diteropong setelah beberapa hari pengeraman. Cahaya masih dapat menembus sebagian besar isi telur, sedangkan jaringan pembuluh darah yang seharusnya berkembang tidak terlihat.
Bagian kuning telur dapat menghasilkan bayangan samar. Oleh karena itu, keberadaan bayangan kuning atau bagian gelap kecil saja tidak cukup untuk menentukan bahwa telur fertil.

Ciri yang perlu diperhatikan antara lain:
- Tidak terlihat jaringan pembuluh darah setelah waktu pemeriksaan yang memadai.
- Isi telur tetap relatif jernih pada pemeriksaan berulang.
- Tidak ada pertambahan bayangan embrio dari satu pemeriksaan ke pemeriksaan berikutnya.
- Tidak terlihat perkembangan struktur internal yang sesuai dengan umur pengeraman.
Meskipun demikian, telur yang terlihat jernih belum tentu infertil. Penyebabnya dapat berupa pengeraman yang belum efektif, umur telur yang belum cukup, atau keterbatasan cahaya dan kemampuan pengamatan.
Karena itu, jika hasil pemeriksaan masih meragukan, ulangi peneropongan beberapa hari kemudian. Jangan memecahkan atau membuang telur hanya berdasarkan satu hasil pengamatan awal.
7. Membedakan Embrio Mati dari Telur yang Tidak Dibuahi
Bagian ini penting karena telur infertil dan telur dengan embrio mati dapat terlihat mirip apabila hanya diperiksa sekali.
Telur infertil umumnya tidak menunjukkan jaringan pembuluh darah embrio yang berkembang. Sebaliknya, embrio yang sempat berkembang lalu mati dapat meninggalkan tanda berupa pembuluh darah yang terputus, memudar, atau membentuk lingkaran gelap kemerahan di sekitar bagian embrio.
Lingkaran darah tersebut kadang disebut blood ring. Kemunculannya dapat mengindikasikan kematian embrio pada tahap awal, tetapi interpretasi tetap harus mempertimbangkan umur telur dan kondisi pengamatan.
Pada kematian embrio yang terjadi lebih lanjut, bayangan embrio mungkin sudah cukup besar. Pembuluh darah dapat mengalami kerusakan, dan tidak terlihat pertumbuhan lanjutan pada pemeriksaan berikutnya.

Cara membedakannya adalah dengan membandingkan hasil peneropongan dari waktu ke waktu.
- Jika telur tetap jernih tanpa pembuluh darah, telur mungkin tidak dibuahi atau perkembangannya tidak pernah terlihat.
- Jika sebelumnya tampak pembuluh darah, lalu pembuluh tersebut rusak dan muncul lingkaran darah, kemungkinan terjadi kematian embrio.
- Jika bayangan embrio bertambah besar dan jaringan pembuluh darah tetap terlihat baik, telur kemungkinan masih berkembang.
Penting untuk diingat bahwa tidak semua embrio mati memperlihatkan lingkaran darah yang jelas. Kematian pada tahap lebih lanjut juga dapat sulit dibedakan dari embrio hidup hanya berdasarkan satu kali peneropongan.
8. Memeriksa Perkembangan Berdasarkan Umur Pengeraman
Umur pengeraman membantu peternak menafsirkan tanda-tanda yang terlihat. Berikut gambaran umum perkembangan yang dapat digunakan sebagai panduan, bukan patokan mutlak untuk setiap telur.
Hari ke-1 sampai ke-3
Pada fase ini, perubahan embrio masih terlalu kecil untuk diamati secara jelas menggunakan senter biasa. Telur dapat tampak relatif jernih meskipun telah dibuahi.
Karena itu, jangan menyimpulkan infertilitas hanya berdasarkan peneropongan pada tahap ini.
Hari ke-4 sampai ke-7
Pembuluh darah mulai dapat terlihat pada telur yang berkembang. Pemeriksaan sekitar hari kelima hingga ketujuh umumnya lebih membantu untuk penilaian awal.
Jika tidak ada tanda yang terlihat, periksa kembali beberapa hari kemudian sebelum mengambil keputusan.
Hari ke-8 sampai ke-12
Embrio biasanya semakin besar dan jaringan pembuluh darah lebih jelas. Bayangan gelap mulai mengambil bagian lebih besar dari ruang telur.
Perubahan yang konsisten dari pemeriksaan sebelumnya menjadi indikator penting bahwa perkembangan berlangsung.
Hari ke-13 sampai ke-16
Isi telur menjadi semakin gelap karena embrio bertambah besar. Bagian terang yang terlihat mungkin semakin terbatas, sementara kantung udara tetap tampak pada ujung telur.
Pada tahap ini, pemeriksaan sebaiknya dilakukan seperlunya saja agar induk dan embrio tidak mengalami gangguan.
Hari ke-17 sampai ke-19
Ini merupakan kisaran waktu menetas yang umum pada merpati domestik. Telur yang berkembang normal dapat mulai menunjukkan tanda-tanda menjelang penetasan, tetapi tidak semua tanda terlihat melalui senter.
Jika telur belum menetas sesuai perkiraan, periksa kembali tanggal pengeraman dan kondisi sarang sebelum menyimpulkan kegagalan. Keterlambatan beberapa waktu tidak otomatis berarti embrio telah mati.

9. Memeriksa Kantung Udara dan Perubahan Isi Telur
Selain pembuluh darah, kantung udara merupakan bagian yang berguna untuk diamati ketika telur semakin berkembang.
Kantung udara biasanya terletak di ujung tumpul telur. Pada proses pengeraman, ukurannya dapat berubah secara bertahap seiring pertukaran air dan gas melalui cangkang.
Telur yang berkembang sering memperlihatkan perbedaan antara area kantung udara yang terang dan bagian isi telur yang semakin gelap. Namun, ukuran kantung udara saja tidak cukup untuk menentukan apakah embrio masih hidup.
Posisi kantung udara yang tidak biasa, retakan cangkang, atau isi telur yang tampak tidak normal dapat menjadi alasan untuk melakukan pengamatan lebih lanjut. Jangan langsung menyatakan embrio mati hanya karena kantung udara terlihat lebih besar atau lebih kecil daripada telur lainnya.
Cara terbaik adalah membandingkan perubahan pada telur yang sama, bukan sekadar membandingkan dua telur berbeda. Umur, kondisi penyimpanan, dan karakteristik cangkang dapat menyebabkan tampilan yang tidak identik.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Membedakan Telur
Beberapa kesalahan dapat menyebabkan peternak salah menilai kondisi telur merpati.
Menganggap telur jernih pasti infertil
Telur yang masih muda mungkin belum memperlihatkan pembuluh darah. Ulangi pemeriksaan setelah beberapa hari apabila umur pengeraman belum memadai.
Menganggap tidak ada gerakan berarti embrio mati
Embrio tidak selalu bergerak ketika diteropong. Gunakan perkembangan pembuluh darah dan perubahan bayangan sebagai indikator tambahan.
Memeriksa terlalu sering
Penanganan berulang dapat membuat telur kehilangan panas dan mengganggu induk. Pemeriksaan terencana lebih baik daripada meneropong setiap hari tanpa kebutuhan.
Memegang telur terlalu kuat
Tekanan berlebihan dan benturan dapat merusak cangkang atau struktur di dalamnya. Pegang telur dengan lembut dan stabil.
Menggunakan cahaya yang terlalu panas
Senter yang panas dapat meningkatkan suhu permukaan telur. Pilih lampu LED yang relatif dingin dan lakukan pemeriksaan singkat.
Mengambil keputusan dari satu kali pemeriksaan
Satu pengamatan hanya menunjukkan kondisi pada saat itu. Perubahan dari beberapa pemeriksaan yang dilakukan secara hati-hati lebih berguna untuk memastikan pola perkembangan.
Faktor yang Membuat Embrio Tidak Berkembang
Jika telur terbukti tidak menunjukkan perkembangan, peternak perlu meninjau kondisi pemeliharaan dan proses reproduksi. Penyebabnya tidak selalu sama.
Pertama, telur mungkin tidak dibuahi karena perkawinan tidak berhasil atau terdapat gangguan reproduksi pada indukan. Kedua, embrio mungkin mati akibat suhu pengeraman yang tidak sesuai, perubahan suhu berulang, atau induk yang terlalu lama meninggalkan sarang.
Ketiga, kebersihan sarang yang buruk, kelembapan yang tidak sesuai, dan kerusakan cangkang dapat meningkatkan risiko kegagalan penetasan. Faktor nutrisi dan kondisi kesehatan induk juga perlu diperhatikan.
Untuk mengurangi risiko tersebut, sediakan sarang yang bersih, kering, dan terlindung dari gangguan. Pastikan induk mendapatkan pakan yang sesuai, air bersih, serta kondisi lingkungan yang stabil.
Jika telur berulang kali gagal berkembang pada beberapa periode bertelur, evaluasi pasangan induk, riwayat pengeraman, dan pola pemeliharaan. Bila diperlukan, mintalah bantuan dokter hewan yang memahami kesehatan burung untuk menilai kemungkinan gangguan reproduksi atau penyakit.
Kapan Telur yang Tidak Berkembang Perlu Dikeluarkan?
Jangan terburu-buru mengeluarkan telur hanya karena tidak tampak pembuluh darah pada pemeriksaan pertama. Pastikan terlebih dahulu bahwa umur pengeraman sudah cukup dan hasil pengamatan ulang mendukung dugaan bahwa telur tidak berkembang.
Telur yang mengeluarkan cairan, berbau tidak normal, atau menunjukkan kebocoran perlu ditangani dengan lebih hati-hati karena dapat mengalami kerusakan atau pembusukan. Hindari memecahkannya di dekat sarang atau telur lain.
Untuk telur yang diduga tidak berkembang tetapi tidak menunjukkan tanda kerusakan, keputusan pengeluaran sebaiknya mempertimbangkan umur pengeraman, hasil peneropongan berulang, serta kondisi induk dan sarang. Jika ragu, mintalah saran tenaga yang berpengalaman dalam kesehatan unggas atau burung.
Apabila telur perlu dikeluarkan, lakukan dengan tangan bersih dan hindari mengganggu telur lain. Jangan membuka cangkang untuk memeriksa embrio hidup karena tindakan tersebut dapat membunuh embrio dan meningkatkan risiko kontaminasi.
Membuat Catatan Pemeriksaan agar Hasil Lebih Akurat
Pencatatan sederhana membantu peternak mengenali pola perkembangan telur dan mengevaluasi keberhasilan penetasan dari waktu ke waktu.
Buat tabel yang berisi nomor telur, tanggal mulai pengeraman, tanggal peneropongan, tanda yang terlihat, dan kesimpulan sementara. Gunakan istilah seperti “berkembang”, “belum pasti”, atau “diduga tidak berkembang” agar keputusan tidak terlalu cepat dibuat.
Contohnya, telur nomor satu mungkin tampak jernih pada hari ketiga, tetapi menunjukkan pembuluh darah pada hari keenam. Catatan tersebut membantu peternak memahami bahwa pemeriksaan awal belum tentu menggambarkan kondisi akhir.
Sebaliknya, jika pada pemeriksaan pertama terlihat jaringan pembuluh darah, tetapi beberapa hari kemudian jaringan tersebut rusak dan bayangan embrio tidak bertambah, peternak dapat mencurigai terjadinya kematian embrio.
Catatan juga berguna untuk membandingkan kondisi beberapa periode bertelur. Jika kegagalan sering berulang, informasi tentang tanggal, keadaan sarang, perilaku induk, dan hasil pemeriksaan dapat membantu menentukan langkah perbaikan.
Kesimpulan
Cara paling praktis untuk membedakan telur merpati yang berisi embrio hidup dan telur yang tidak berkembang adalah dengan meneropongnya menggunakan senter LED di ruangan gelap. Telur yang berkembang biasanya menunjukkan pembuluh darah yang semakin jelas, bayangan embrio yang membesar, dan perubahan isi telur seiring bertambahnya umur pengeraman.
Telur infertil umumnya tetap relatif jernih tanpa pembuluh darah yang berkembang, sedangkan embrio yang mati dapat memperlihatkan pembuluh darah rusak, lingkaran darah, atau pertumbuhan yang berhenti.
Namun, tidak ada satu ciri yang selalu cukup untuk memastikan kondisi setiap telur. Perhatikan umur pengeraman, bandingkan hasil pemeriksaan dari waktu ke waktu, dan hindari penanganan yang berlebihan. Dengan pemeriksaan yang teliti, pencatatan yang teratur, serta pemeliharaan induk yang baik, peternak dapat meningkatkan ketepatan penilaian dan mengurangi risiko kegagalan penetasan.
Sumber dan Referansi
- Deeming, D. C. (Ed.). (2002). Avian Incubation: Behaviour, Environment, and Evolution. Oxford University Press.
- Gillespie, M. J., Haring, V. R., Mccoll, K. A., Monaghan, P., Donald, J. A., Nicholas, K. R., Moore, R. J., & Crowley, T. M. (2011). Histological and global gene expression analysis of the “lactating” pigeon crop. BMC Genomics, 12, 452.
- Etches, R. J. (1996). Reproduction in Poultry. CAB International.
- Bellairs, R., & Osmond, M. (2014). The Atlas of Chick Development (3rd ed.). Academic Press.
- Sotherland, P. R., & Rahn, H. (1987). On the composition of bird eggs. The Condor, 89(1), 48–65.
- University of Illinois College of Veterinary Medicine. (n.d.). Candling Eggs. Materi edukasi mengenai pemeriksaan telur menggunakan cahaya untuk mengamati perkembangan embrio.
- Mississippi State University Extension. (n.d.). Hatching Quality Chicks. Materi penyuluhan mengenai faktor yang memengaruhi perkembangan embrio dan keberhasilan penetasan telur unggas.