Dalam konteks pertanian, istilah “anorganik” merujuk pada zat atau bahan yang tidak berasal dari organisme hidup atau tidak mengandung karbon. Anorganik berlawanan dengan istilah “organik” yang merujuk pada bahan atau zat yang berasal dari organisme hidup dan mengandung karbon.
Dalam pertanian, anorganik sering digunakan untuk merujuk pada pupuk anorganik atau pupuk mineral. Pupuk anorganik adalah pupuk yang dibuat dari bahan-bahan yang tidak berasal dari sisa-sisa organisme hidup, melainkan bahan-bahan kimia sintetis atau bahan alami yang telah diproses. Pupuk anorganik biasanya mengandung unsur hara makro seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), serta unsur hara mikro seperti besi (Fe), mangan (Mn), dan seng (Zn). Pupuk anorganik ini digunakan untuk memberikan nutrisi yang diperlukan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman.
Keuntungan penggunaan pupuk anorganik adalah ketersediaan nutrisi yang cepat, kontrol yang lebih baik atas jenis dan kuantitas nutrisi yang disediakan, serta kemampuan untuk mengatasi defisiensi nutrisi yang spesifik. Namun, penggunaan pupuk anorganik harus dilakukan dengan hati-hati dan disesuaikan dengan rekomendasi dosis dan jadwal yang tepat untuk mencegah kerusakan lingkungan, degradasi tanah, dan ketidakseimbangan nutrisi.
Selain itu, istilah anorganik juga dapat merujuk pada bahan lain dalam konteks pertanian yang tidak berasal dari organisme hidup, seperti pupuk kimia sintetis, pestisida anorganik, atau bahan kimia lainnya yang digunakan untuk pengendalian hama dan penyakit tanaman.
Penting untuk dicatat bahwa penggunaan pupuk organik, yang berasal dari bahan organisme hidup seperti kompos, pupuk hijauan, atau pupuk organik alami lainnya, juga penting dalam pertanian berkelanjutan untuk memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kesuburan tanah, dan menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.