Mengawinkan burung merpati membutuhkan persiapan yang tepat agar pasangan dapat berjodoh, melakukan perkawinan, bertelur, dan menghasilkan anakan yang sehat.

Meskipun merpati dikenal mudah berkembang biak, keberhasilan penangkaran tetap dipengaruhi oleh usia, kondisi kesehatan, kecocokan pasangan, kualitas pakan, kebersihan kandang, dan ketenangan lingkungan.
Kesalahan yang sering dilakukan pemula adalah langsung menyatukan dua ekor merpati tanpa memastikan jenis kelamin, kematangan reproduksi, dan kesiapan masing-masing burung. Akibatnya, merpati justru berkelahi, tidak menunjukkan perilaku kawin, atau gagal menghasilkan telur yang fertil.
Baca Juga :
- Mengapa Burung Merpati Sering Mengembangkan Bulu
- Panduan Membuat Kandang Burung Merpati yang Nyaman
- Cara Menjaga Kebersihan Kandang Merpati untuk Mencegah Penyakit
- Penyebab Burung Merpati Tidak Mau Makan
- Cara Membedakan Telur Merpati yang Berisi Embrio
Cara Mengawinkan Burung Merpati agar Berhasil
Proses mengawinkan merpati sebaiknya dilakukan secara bertahap. Mulai dari memilih indukan, mengenalkan pasangan, menyiapkan sarang, menjaga kebutuhan nutrisi, hingga merawat telur dan anakan setelah menetas. Berikut penjelasannya :
1. Pilih Merpati Jantan dan Betina yang Sehat
Langkah pertama adalah memilih calon indukan yang sehat dan memiliki kondisi tubuh yang baik. Kualitas indukan berpengaruh terhadap keberhasilan perkawinan, produksi telur, dan kemampuan merawat anak.

Pilih merpati yang aktif, responsif terhadap lingkungan, memiliki bulu rapi, mata jernih, serta tidak menunjukkan tanda-tanda sakit. Hindari burung yang terlalu kurus, mengalami gangguan pernapasan, diare, atau terlihat lesu.
Untuk indukan, utamakan burung yang sudah matang secara seksual. Merpati domestik umumnya mulai matang seksual pada usia sekitar 5–7 bulan, tetapi kematangan reproduksi yang baik dapat berbeda menurut ras, ukuran tubuh, kesehatan, dan kondisi pemeliharaan.
Untuk pemula, memilih burung yang sudah cukup dewasa dan menunjukkan perilaku reproduksi lebih aman daripada memaksakan perkawinan pada burung muda.
Perhatikan pula bahwa bentuk tubuh atau ukuran kepala saja tidak selalu dapat memastikan jenis kelamin merpati. Perilaku seperti pejantan yang mengembangkan tembolok, membungkuk, berputar, dan mendekati calon pasangan dapat menjadi petunjuk, tetapi tidak selalu akurat.
Jika jenis kelaminnya belum jelas, mintalah bantuan peternak berpengalaman atau dokter hewan yang memahami burung.
2. Pastikan Jantan dan Betina Sudah Siap Kawin
Setelah memilih calon indukan, pastikan keduanya cukup dewasa dan berada dalam kondisi tubuh yang mendukung reproduksi. Jangan terburu-buru mengawinkan burung yang baru sembuh dari penyakit, sedang mengalami stres, atau belum mencapai kondisi tubuh yang stabil.
Merpati jantan yang siap kawin biasanya menunjukkan beberapa perilaku, seperti:
- Mengembangkan tembolok ketika mendekati betina.
- Mengeluarkan suara khas untuk menarik perhatian pasangan.
- Berputar atau berjalan mengelilingi betina.
- Menganggukkan kepala dan mengembangkan bulu leher.
- Berusaha mengarahkan betina menuju lokasi sarang.
Sementara itu, betina yang menerima pendekatan pejantan dapat terlihat mendekat, mengikuti pejantan, atau mulai menunjukkan ketertarikan pada lokasi sarang.
Namun, perilaku tersebut bukan jaminan bahwa burung benar-benar siap bereproduksi. Kondisi kesehatan, kecukupan nutrisi, pengalaman, dan karakter individu juga berpengaruh.
Jangan memaksakan perkawinan jika salah satu burung terus menghindar, menyerang, atau terlihat ketakutan. Berikan waktu untuk beradaptasi sebelum mencoba memperkenalkan keduanya kembali.
3. Kenalkan Kedua Merpati secara Bertahap
Salah satu cara mengurangi risiko perkelahian adalah mengenalkan calon pasangan secara bertahap. Jangan langsung memasukkan burung yang belum saling mengenal ke dalam kandang kecil tanpa pengawasan.

Tempatkan kedua merpati di kandang terpisah yang berdekatan sehingga mereka dapat melihat dan mendengar satu sama lain. Pastikan sekatnya aman dan tidak memungkinkan burung saling melukai melalui celah.
Amati respons keduanya selama beberapa waktu. Jika burung terlihat tenang, saling memperhatikan, dan tidak menunjukkan agresi berlebihan, perkenalan dapat dilanjutkan dengan pertemuan singkat di area yang aman.
Saat mulai disatukan, perhatikan beberapa hal berikut:
- Pastikan tersedia ruang yang cukup untuk bergerak dan menghindar.
- Sediakan tempat pakan dan minum yang mudah dijangkau.
- Awasi interaksi untuk mencegah perkelahian.
- Berikan kesempatan kepada burung untuk berpisah jika salah satunya merasa terancam.
- Pisahkan kembali apabila terjadi serangan berulang atau salah satu burung mengalami cedera.
Merpati yang cocok biasanya mulai menghabiskan waktu berdekatan, saling mengikuti, dan memperlihatkan perilaku pendekatan kawin. Meski begitu, proses berjodoh dapat berlangsung berbeda pada setiap pasangan.
4. Siapkan Kandang yang Nyaman dan Aman
Kandang memiliki peran penting dalam keberhasilan perkawinan. Merpati membutuhkan ruang yang cukup untuk bergerak, bertengger, berinteraksi dengan pasangan, dan membangun sarang.
Gunakan kandang yang kuat, memiliki sirkulasi udara baik, terlindung dari hujan dan angin kencang, serta tidak terkena panas matahari berlebihan. Kandang juga harus aman dari predator dan memiliki lantai yang mudah dibersihkan.
Beberapa hal yang perlu disiapkan meliputi:
- Tempat bertengger yang stabil.
- Wadah pakan dan air minum yang bersih.
- Area sarang yang relatif tenang.
- Sirkulasi udara yang baik tanpa hembusan angin langsung berlebihan.
- Ruang yang memadai agar pasangan tidak terus-menerus berdesakan.
Hindari terlalu sering memindahkan kandang setelah merpati mulai menunjukkan perilaku kawin. Perubahan lingkungan yang berulang dapat mengganggu adaptasi dan membuat burung enggan menggunakan sarangnya.
Jika memelihara beberapa pasangan, sediakan tempat bersarang yang cukup dan atur jarak antarsarang untuk mengurangi perebutan tempat.
5. Sediakan Tempat Sarang Sebelum Perkawinan
Tempat sarang sebaiknya disiapkan sejak awal agar merpati memiliki lokasi yang aman untuk membangun sarang, bertelur, dan mengerami telur.
Gunakan wadah sarang yang stabil, tidak licin, dan cukup luas untuk menampung induk serta telur. Bagian dasarnya dapat diberi bahan sarang yang bersih, kering, dan aman untuk burung.

Merpati biasanya menggunakan bahan seperti ranting kecil atau jerami bersih untuk menyusun sarangnya. Berikan bahan yang tidak mengandung pestisida, jamur, debu berlebihan, atau serat panjang yang berisiko melilit kaki.
Letakkan sarang di area yang tenang dan tidak terlalu sering dilalui manusia. Hindari posisi yang mudah terkena air hujan atau paparan panas berlebihan.
Setelah menemukan lokasi yang sesuai, merpati jantan dapat mulai mengumpulkan bahan sarang, sedangkan betina ikut mengatur bahan tersebut. Perilaku ini merupakan salah satu tanda bahwa pasangan mulai memasuki fase reproduksi.
6. Berikan Pakan yang Mendukung Reproduksi
Pakan berkualitas membantu menjaga kondisi tubuh indukan dan mendukung pembentukan telur. Merpati membutuhkan sumber energi, protein, mineral, vitamin, dan air bersih dalam jumlah yang sesuai.
Pakan dapat berupa campuran biji-bijian yang memang diformulasikan untuk merpati, misalnya jagung pecah, kacang polong, gandum, dan biji-bijian lain sesuai kebutuhan. Komposisi terbaik bergantung pada usia, aktivitas, kondisi tubuh, serta fase reproduksi burung.
Jangan hanya mengandalkan satu jenis biji-bijian karena satu bahan pakan saja belum tentu menyediakan semua nutrisi yang dibutuhkan. Gunakan pakan lengkap atau susunan ransum yang seimbang. Sediakan pula sumber mineral dan kalsium khusus burung sesuai petunjuk produk atau saran tenaga ahli.
Kalsium berperan dalam pembentukan cangkang telur, sedangkan kecukupan protein dan energi membantu menjaga kondisi indukan. Akan tetapi, pemberian suplemen berlebihan tidak otomatis meningkatkan kesuburan dan justru dapat mengganggu keseimbangan nutrisi.
Pastikan air minum tersedia sepanjang hari dan diganti secara teratur. Tempat pakan dan minum juga harus dibersihkan untuk mencegah kontaminasi.
7. Amati Perilaku Kawin tanpa Mengganggu Pasangan
Setelah pasangan mulai cocok dan kondisi kandang memadai, merpati biasanya memperlihatkan rangkaian perilaku pendekatan kawin.
Jantan dapat mengembangkan tembolok, mengeluarkan suara, berjalan mengelilingi betina, dan mengarahkan betina ke sarang. Jika betina menerima pendekatan tersebut, keduanya dapat melakukan perkawinan.
Perkawinan merpati berlangsung singkat sehingga mudah terlewat jika tidak diamati secara langsung. Karena itu, jangan menganggap pasangan gagal kawin hanya karena pemilik tidak melihat prosesnya.
Hal terpenting adalah mengamati perubahan perilaku secara keseluruhan. Pasangan yang berjodoh cenderung sering berada berdekatan, menggunakan sarang, dan menunjukkan interaksi yang lebih tenang dibandingkan saat pertama diperkenalkan.
Hindari memegang, mengejar, atau memindahkan burung berulang kali hanya untuk memastikan perkawinan terjadi. Pengamatan dari jarak yang cukup biasanya lebih baik daripada intervensi langsung.
Jika pasangan tidak menunjukkan kemajuan, evaluasi kembali usia, kesehatan, kecocokan, kondisi kandang, dan pakan. Jangan terus memaksa kedua burung berada bersama apabila mereka terlihat tidak cocok.
8. Kenali Tanda Merpati Betina Akan Bertelur
Setelah perkawinan, betina dapat mulai menunjukkan perubahan perilaku menjelang bertelur. Namun, perilaku ini tidak selalu muncul dengan pola yang sama pada semua burung.
Beberapa tanda yang dapat diamati antara lain:
- Betina semakin sering berada di sarang.
- Pasangan lebih rutin mengunjungi dan merapikan sarang.
- Betina terlihat lebih tenang ketika berada di lokasi sarang.
- Pejantan dan betina mulai bergantian menempati area sarang.
- Perut bagian bawah dapat tampak berubah, tetapi perubahan fisik ini tidak selalu jelas dan tidak boleh dijadikan satu-satunya patokan.
Merpati domestik umumnya menghasilkan dua butir telur per periode bertelur, dengan selang waktu sekitar satu sampai dua hari. Namun, jumlah telur dan waktunya dapat bervariasi.
Tidak semua perkawinan menghasilkan telur yang fertil. Jika betina bertelur tetapi telur tidak berkembang, penyebabnya dapat berkaitan dengan kesuburan indukan, proses perkawinan, usia, kesehatan, atau kondisi inkubasi.
Jangan menekan atau memijat perut betina untuk memeriksa apakah telur sudah terbentuk. Tindakan tersebut berisiko menyebabkan cedera. Jika betina tampak mengejan, lemah, duduk di lantai kandang, atau mengalami kesulitan bertelur, segera hubungi dokter hewan.
9. Jaga Ketenangan saat Merpati Bertelur
Ketika betina mulai bertelur, kurangi aktivitas yang berpotensi mengganggu pasangan. Hindari memindahkan sarang, mengganti susunan kandang tanpa kebutuhan, atau terlalu sering memegang telur.

Bersihkan kandang secara rutin dengan cara yang tidak mengganggu induk. Pastikan sarang tetap kering, air minum bersih, dan pakan tersedia.
Jangan langsung membuang telur hanya karena induk belum terlihat mengerami secara terus-menerus. Pada merpati, pengeraman umumnya menjadi lebih teratur setelah rangkaian telur mulai lengkap.
Merpati jantan dan betina biasanya berbagi tugas mengerami telur. Pergantian pengeraman dapat terjadi pada waktu yang berbeda, sehingga perilaku salah satu induk meninggalkan sarang untuk sementara tidak selalu berarti telur ditelantarkan.
10. Pastikan Telur Dierami dengan Baik
Pengeraman merupakan tahap penting karena telur membutuhkan suhu dan kelembapan yang sesuai agar embrio berkembang. Pada merpati domestik, masa pengeraman biasanya sekitar 17–19 hari, meskipun dapat sedikit berbeda.
Selama periode tersebut, lakukan beberapa langkah berikut:
- Pastikan induk dapat duduk di sarang dengan nyaman.
- Sediakan pakan dan air di lokasi yang mudah dijangkau.
- Hindari mengguncang, memutar, atau memindahkan telur tanpa alasan yang jelas.
- Pertahankan kondisi kandang tetap tenang dan bersih.
- Amati perilaku induk dari jarak yang cukup.
- Hindari paparan panas, hujan, dan perubahan lingkungan yang ekstrem.
Jangan sering mengambil telur hanya untuk memeriksa perkembangannya. Pemeriksaan kesuburan dengan peneropongan telur atau candling dapat dilakukan oleh pemelihara yang memahami prosedurnya, tetapi harus dilakukan dengan tangan bersih, hati-hati, dan pada waktu yang tepat.
Jika telur tidak menetas sesuai perkiraan, jangan langsung menyimpulkan bahwa telur tidak fertil. Catat tanggal bertelur dan perkembangan pengeraman. Jika masalah berulang pada beberapa periode, evaluasi kondisi indukan dan konsultasikan kepada dokter hewan atau peternak berpengalaman.
11. Rawat Anakan setelah Menetas
Setelah telur menetas, induk merpati biasanya memberi makan anaknya dengan cairan bernutrisi yang disebut crop milk atau susu tembolok. Cairan ini dihasilkan oleh induk jantan maupun betina dan menjadi makanan penting pada awal kehidupan anakan.

Pada tahap ini, jangan terburu-buru mengambil anak dari sarang jika induknya merawat dengan baik. Prioritaskan keamanan, ketenangan, kebersihan, dan kecukupan pakan induk.
Perhatikan beberapa hal berikut:
- Anakan berada di bawah pengawasan induk.
- Tembolok anakan terisi setelah diberi makan.
- Sarang tetap kering dan tidak tercemar kotoran berlebihan.
- Induk memiliki akses ke pakan berkualitas dan air bersih.
- Anakan tidak menunjukkan tanda lemas, kesulitan bernapas, atau penurunan kondisi tubuh.
Jika anakan terus-menerus tampak lemah, tembolok tidak terisi, atau induk tidak memberi makan, segera minta bantuan dokter hewan atau peternak yang berpengalaman.
Pemberian makan manual pada anak merpati membutuhkan teknik dan formula yang sesuai; cara yang keliru dapat menyebabkan makanan masuk ke saluran pernapasan atau menimbulkan gangguan pencernaan.
12. Evaluasi Jika Merpati Gagal Bertelur atau Telur Tidak Menetas
Jika pasangan tidak menghasilkan telur setelah beberapa waktu, lakukan evaluasi secara sistematis daripada langsung mengganti indukan.
Beberapa kemungkinan penyebabnya adalah:
- Jenis kelamin tidak sesuai: kedua burung ternyata berjenis kelamin sama.
- Belum matang seksual: burung masih terlalu muda atau belum siap bereproduksi.
- Kondisi tubuh kurang baik: burung terlalu kurus, terlalu gemuk, atau sedang sakit.
- Pasangan tidak cocok: salah satu burung terus menolak atau menyerang pasangannya.
- Nutrisi tidak memadai: pakan tidak memenuhi kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral.
- Lingkungan mengganggu: kandang terlalu ramai, panas, lembap, atau tidak aman.
- Masalah kesuburan: perkawinan terjadi, tetapi telur tidak dibuahi atau perkembangan embrio terhenti.
Buat catatan sederhana berisi identitas pasangan, tanggal mulai disatukan, perilaku kawin, tanggal bertelur, jumlah telur, dan hasil penetasan. Catatan tersebut membantu mengenali pola masalah dan menilai apakah perubahan pemeliharaan memberikan hasil.
Jika kegagalan berulang, terutama disertai penurunan kondisi tubuh atau tanda penyakit, konsultasikan kepada dokter hewan yang memahami unggas atau burung peliharaan.
Kesalahan yang Harus Dihindari saat Mengawinkan Merpati
Agar proses perkawinan berjalan lebih baik, hindari beberapa kesalahan umum berikut:
- Menyatukan merpati tanpa memastikan jenis kelamin dan kondisi kesehatannya.
- Memaksakan pasangan yang terus berkelahi.
- Menggunakan kandang sempit dan tidak menyediakan tempat sarang.
- Memberikan pakan yang hanya terdiri dari satu jenis biji-bijian.
- Memberikan suplemen secara berlebihan tanpa memperhatikan kebutuhan.
- Terlalu sering memegang telur atau mengganggu induk saat mengeram.
- Mengabaikan kebersihan kandang dan kualitas air minum.
- Mengambil anakan terlalu dini tanpa alasan dan persiapan yang memadai.
- Membiarkan burung yang sakit tetap berkembang biak tanpa pemeriksaan.
Keberhasilan mengawinkan merpati bukan hanya ditentukan oleh seberapa cepat pasangan bertelur. Kesehatan induk, perkembangan embrio, keberhasilan penetasan, dan pertumbuhan anakan juga perlu diperhatikan.
Kesimpulan
Cara mengawinkan burung merpati agar berhasil bertelur dan menghasilkan anakan dimulai dengan memilih indukan yang sehat dan cukup dewasa, mengenalkan pasangan secara bertahap, menyediakan kandang serta sarang yang nyaman, dan memberikan pakan seimbang.
Setelah pasangan berjodoh, amati perilaku kawin tanpa mengganggu mereka. Ketika betina bertelur, jaga ketenangan sarang dan dukung proses pengeraman hingga menetas. Selanjutnya, pastikan induk dapat memberi makan anakan dan segera tangani jika ditemukan tanda gangguan kesehatan.
Dengan pengelolaan yang konsisten, pencatatan yang baik, dan perhatian terhadap kesejahteraan burung, peluang keberhasilan perkembangbiakan merpati dapat ditingkatkan tanpa harus memaksakan proses alami.
Sumber dan Referensi
- Djanah, D., & Sulistyani. (1985). Beternak Merpati. Jakarta: CV. Simplex.
- Ismadi. (2019). Panduan Sukses Budidaya Burung Merpati. Indopublika (Desa Pustaka Group).
- Sarjana, T. A., Kismiati, S., & Shihah, H. D. (2022). Panduan Budidaya Merpati. Semarang: Penerbit Universitas Diponegoro.
- Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2021). Standar Usaha Pembibitan Burung Merpati. Jakarta: Kementerian Pertanian Republik Indonesia.Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2025). Peraturan Menteri Pertanian Nomor 34 Tahun 2025. Jakarta: Kementerian Pertanian Republik Indonesia.Wang, L., Zhu, J., Xie, P., & Gong, D. (2023). Pigeon during the breeding cycle: Behaviors, composition and formation of crop milk, and physiological adaptation. Life, 13(9), 1866.Merck Veterinary Manual. (2025). Nutrition in Pigeons and Doves. Merck Veterinary Manual.Canadian Council on Animal Care. (1984). Guide to the Care and Use of Experimental Animals, Volume 2: Pigeons and Doves. Canadian Council on Animal CareRoyal Society for the Prevention of Cruelty to Animals (RSPCA). (Tanpa tahun). Pigeons in the UK: Facts, Behaviour and Common Myths. RSPCA.Internet Center for Wildlife Damage Management. (Tanpa tahun). Pigeon Biology. University of Nebraska–Lincoln dan mitra lembaga terkait.