Open Source: Pengertian, Sejarah, Jenis dan Manfaatnya

Diposting pada

Istilah “Open Source” merujuk pada model pengembangan perangkat lunak di mana kode sumber perangkat lunak tersedia secara publik dan dapat diakses, digunakan, dimodifikasi, dan didistribusikan oleh siapa saja.

Open Source Pengertian, Sejarah, Jenis dan Manfaatnya

Konsep ini mengontraskan dengan model perangkat lunak berbasis properti intelektual, di mana kode sumber biasanya tidak tersedia untuk umum atau hanya dapat diakses oleh pemilik hak cipta.

Pengertian Open Source Menurut Para Ahli

Untuk memberikan pemahaman yang lebih lengkap tentang konsep Open Source, berikut beberapa pandangan beberapa ahli:

1. Richard Stallman

Richard Stallman, pendiri Gerakan Perangkat Lunak Bebas (Free Software Movement) dan proyek GNU (GNU’s Not Unix), memainkan peran penting dalam pengembangan konsep perangkat lunak sumber terbuka.

Baginya, perangkat lunak bebas (free software) adalah konsep yang mendasari Open Source.

Menurut Stallman, “perangkat lunak bebas” merujuk pada kebebasan pengguna untuk menjalankan, menyalin, mendistribusikan, mempelajari, dan memodifikasi perangkat lunak.

Dia juga mendefinisikan “free” dalam konteks ini sebagai “kebebasan” dan bukan “gratis.”

2. Eric S. Raymond

Eric S. Raymond, seorang penulis yang terkenal dengan esainya “The Cathedral and the Bazaar,” adalah salah satu pendukung utama gerakan Open Source.

Dalam esainya itu, dia menggambarkan konsep “bazaar” sebagai model pengembangan perangkat lunak terbuka yang berbasis pada kolaborasi komunitas dan transparansi.

Menurut Raymond, Open Source adalah tentang memanfaatkan “kecerdasan kolektif” untuk menciptakan perangkat lunak yang lebih baik.

3. Linus Torvalds

Linus Torvalds adalah pencipta kernel Linux, yang merupakan salah satu proyek Open Source paling terkenal di dunia.

Torvalds memilih model pengembangan perangkat lunak sumber terbuka untuk Linux, yang memungkinkan kontribusi dari ribuan pengembang di seluruh dunia.

Baginya, Open Source adalah tentang memungkinkan akses terbuka ke sumber daya intelektual dan kolaborasi global.

4. Bruce Perens

Bruce Perens adalah seorang aktivis Open Source yang terkenal karena merumuskan pengertian Open Source yang lebih ringkas dan praktis.

Dia menciptakan Open Source Definition (OSD), yang merinci kriteria yang harus dipenuhi oleh perangkat lunak agar dapat disebut sebagai “Open Source.”

Kriteria ini mencakup aspek-aspek seperti redistribusi bebas, kode sumber yang tersedia, dan tanpa diskriminasi terhadap kelompok atau tujuan.

Jadi, secara singkat, Open Source merujuk pada model pengembangan perangkat lunak yang melibatkan akses terbuka ke kode sumber,

transparansi, kolaborasi komunitas, dan kebebasan pengguna untuk menggunakan, memodifikasi, dan mendistribusikan perangkat lunak tersebut.

Pengertian ini telah dievolusi seiring waktu dan berdasarkan kontribusi berbagai individu dan komunitas dalam gerakan Open Source.

Hal ini juga telah membawa dampak signifikan pada industri teknologi dan memungkinkan pertumbuhan ekosistem perangkat lunak yang dinamis dan inovatif.

Sejarah Open Source

Sejarah Open Source adalah narasi perkembangan gerakan perangkat lunak sumber terbuka yang telah melibatkan banyak individu, komunitas, dan perusahaan selama beberapa dekade.

Sejarah ini mencakup peristiwa-peristiwa penting, tokoh-tokoh utama, dan perubahan signifikan dalam cara perangkat lunak dikembangkan, disebarkan, dan digunakan.

Untuk memahami sejarah Open Source secara lengkap, berikut pembahasannya:

1. Awal Mula Perangkat Lunak Tertutup (1950-1970s)

Pada awal sejarah komputasi, perangkat lunak tidak diperjualbelikan secara terpisah dari perangkat keras.

Perusahaan-perusahaan yang memproduksi komputer juga memberikan perangkat lunak untuk digunakan dengan komputer mereka, dan kode sumbernya tidak tersedia untuk umum.

Hal ini adalah era perangkat lunak tertutup, di mana hanya pemilik perangkat keras yang memiliki akses ke kode sumber.

2. Era Proyek Open Source Awal (1970-1980s)

Meskipun perangkat lunak tertutup mendominasi, beberapa proyek perangkat lunak dengan kode sumber terbuka sudah ada pada era ini.

Salah satu contohnya adalah proyek UNIX yang dikembangkan di Bell Labs. Pada masa ini, sebagian besar pengembangan perangkat lunak masih dilakukan di dalam institusi akademik dan lembaga penelitian.

3. Gerakan Perangkat Lunak Bebas (1980s)

Richard Stallman, seorang peneliti di MIT, mendirikan Gerakan Perangkat Lunak Bebas (Free Software Movement) pada tahun 1980-an.

Dia mengembangkan GNU, proyek yang bertujuan untuk menciptakan sistem operasi berbasis Unix yang sepenuhnya terbuka dan bebas.

Stallman memperkenalkan lisensi GNU General Public License (GPL), yang mengharuskan perangkat lunak yang didistribusikan di bawah lisensi ini untuk tetap terbuka dan bebas.

4. Kernel Linux (1991)

Pada tahun 1991, Linus Torvalds, seorang mahasiswa asal Finlandia, mengumumkan kernel Linux yang merupakan inti dari sistem operasi.

Kernel ini dirilis di bawah lisensi GPL, yang membuatnya perangkat lunak bebas.

Hal ini adalah tonggak penting dalam sejarah Open Source, karena Linux menjadi kernel yang sangat sukses dan menarik kontribusi dari ribuan pengembang di seluruh dunia.

5. Open Source Initiative (OSI) (1998)

OSI didirikan pada tahun 1998 oleh Eric S. Raymond dan Bruce Perens untuk mempromosikan dan melindungi konsep Open Source.

Mereka memformulasikan Open Source Definition (OSD), yang menguraikan kriteria yang harus dipenuhi oleh perangkat lunak agar dapat disebut sebagai “Open Source.”

OSD menjadi panduan bagi banyak proyek Open Source dan pemangku kepentingan.

6. Peningkatan Partisipasi Industri (2000-an)

Pada awal abad ke-21, banyak perusahaan teknologi mulai memahami nilai Open Source dalam pengembangan perangkat lunak.

Perusahaan seperti IBM, Red Hat, dan Google mulai berinvestasi dalam proyek-proyek Open Source.

Hal ini mengarah pada pertumbuhan pesat komunitas Open Source dan integrasi perangkat lunak Open Source dalam produk-produk komersial.

7. Open Source di Seluruh Spektrum (2010-an dan seterusnya)

Open Source telah menyebar ke berbagai bidang, termasuk perangkat keras, jaringan, kecerdasan buatan, dan banyak lagi.

Proyek Open Source yang paling terkenal termasuk Linux, Apache (server web), Mozilla Firefox (peramban web), dan Android (sistem operasi seluler).

Open Source juga telah mempengaruhi prinsip-prinsip pengembangan perangkat lunak, seperti model pengembangan berbasis komunitas dan kontribusi terbuka.

Seiring berjalannya waktu, gerakan Open Source telah menjadi salah satu kekuatan terkemuka dalam dunia perangkat lunak, mendorong inovasi, kolaborasi global, dan akses terbuka ke teknologi.

Hal ini juga telah membuka pintu bagi banyak orang untuk berkontribusi pada proyek-proyek besar dan memanfaatkan perangkat lunak yang kuat tanpa harus membayar biaya lisensi.

Sejarah Open Source adalah cerita tentang perubahan paradigma dalam pengembangan perangkat lunak yang terbuka dan kolaboratif.

Perbedaan antara Open Source dan Closed Source (Proprietary Software)

Perbedaan antara Open Source (perangkat lunak sumber terbuka) dan Closed Source (perangkat lunak berbasis properti intelektual atau proprietary software) mencakup berbagai aspek,

termasuk akses kode sumber, lisensi, pengembangan, distribusi, dan filosofi. Berikut perbedaan secara lengkap:

1. Akses Kode Sumber

Open Source (Sumber Terbuka): Dalam perangkat lunak sumber terbuka, kode sumber perangkat lunak tersedia untuk umum.

Hal ini berarti siapa pun dapat melihat, mengedit, dan memodifikasi kode sumber sesuai kebutuhan mereka. Akses terbuka ini mendorong transparansi dan kolaborasi.

Closed Source (Proprietary Software): Pada perangkat lunak berbasis properti intelektual, kode sumber biasanya tidak tersedia untuk umum.

Hal ini merupakan rahasia dagang dan hanya pemilik hak cipta yang memiliki akses ke kode sumbernya. Pengguna hanya mendapatkan akses ke aplikasi yang telah dikompilasi.

2. Lisensi Penggunaan

Open Source (Sumber Terbuka): Perangkat lunak sumber terbuka biasanya dilisensikan dengan lisensi yang memberikan kebebasan kepada pengguna untuk menggunakan, menyalin, memodifikasi,

dan mendistribusikan perangkat lunak tersebut. Contoh lisensi terkenal seperti GPL (GNU General Public License) dan MIT License.

Closed Source (Proprietary Software): Perangkat lunak berbasis properti intelektual dilisensikan dengan cara yang membatasi penggunaan dan distribusi.

Pengguna biasanya harus membayar lisensi atau mematuhi ketentuan tertentu dalam perjanjian lisensi pengguna akhir (EULA).

3. Pengembangan Kolaboratif

Open Source (Sumber Terbuka): Proyek perangkat lunak sumber terbuka seringkali melibatkan kolaborasi komunitas yang luas.

Ribuan pengembang dapat berkontribusi pada proyek ini, meningkatkan kecepatan pengembangan dan kualitas perangkat lunak. Proyek-proyek ini sering dipelihara oleh komunitas yang peduli.

Closed Source (Proprietary Software): Pengembangan perangkat lunak berbasis properti intelektual biasanya dilakukan oleh tim internal di perusahaan yang memilikinya.

Akses terbatas ke kode sumber dapat membatasi jumlah kontributor yang dapat berpartisipasi dalam pengembangan.

4. Distribusi Perangkat Lunak

Open Source (Sumber Terbuka): Perangkat lunak sumber terbuka dapat dengan mudah didistribusikan oleh siapa pun.

Hal ini memungkinkan pengguna untuk mendapatkan salinan perangkat lunak tanpa harus membayar biaya lisensi. Distribusi ini sering dilakukan melalui berbagai saluran, seperti internet atau media fisik.

Closed Source (Proprietary Software): Distribusi perangkat lunak berbasis properti intelektual terbatas oleh perjanjian lisensi.

Biasanya, pengguna harus membeli lisensi atau mendapatkan izin dari pemilik hak cipta sebelum dapat menginstal dan menggunakan perangkat lunak ini.

5. Filosofi dan Etos

Open Source (Sumber Terbuka): Gerakan Open Source diberdayakan oleh prinsip-prinsip seperti kebebasan pengguna, kolaborasi, dan akses terbuka ke teknologi.

Filosofi ini mendorong pengguna untuk memahami dan mengendalikan perangkat lunak yang mereka gunakan.

Closed Source (Proprietary Software): Model bisnis perangkat lunak berbasis properti intelektual cenderung menekankan perlindungan atas investasi dan hak milik intelektual.

Perusahaan yang mengembangkan perangkat lunak ini sering berusaha menjaga kontrol penuh terhadap produk mereka.

Perbedaan antara Open Source dan Closed Source mencakup akses kode sumber, lisensi penggunaan, model pengembangan, distribusi, dan filosofi yang mendasarinya.

Pilihan antara keduanya sering kali tergantung pada kebutuhan dan nilai-nilai pengguna atau perusahaan.

Open Source mempromosikan kebebasan, kolaborasi, dan transparansi, sementara Closed Source menekankan kontrol dan hak milik intelektual.

Jenis-jenis lisensi Open Source

Lisensi Open Source adalah perangkat hukum yang mengatur cara perangkat lunak sumber terbuka (Open Source Software) dapat digunakan, didistribusikan, dimodifikasi, dan dilisensikan ulang.

Ada berbagai jenis lisensi Open Source yang digunakan oleh berbagai proyek perangkat lunak sumber terbuka.

Di bawah ini, beberapa jenis lisensi Open Source yang paling umum:

1. GNU General Public License (GPL)

GPL adalah salah satu lisensi Open Source yang paling terkenal dan sering digunakan.

Dikembangkan oleh Free Software Foundation (FSF), lisensi ini menetapkan bahwa perangkat lunak yang menggunakan GPL harus tetap terbuka sumber kode sumbernya

dan harus memungkinkan orang lain untuk mendistribusikannya dengan lisensi yang sama.

Kode sumber harus tersedia, perangkat lunak turunan juga harus Open Source, dan perubahan yang dilakukan pada perangkat lunak harus dikembalikan kepada masyarakat dengan lisensi yang sama.

2. MIT License (Massachusetts Institute of Technology License)

MIT License adalah lisensi Open Source yang sangat sederhana dan populer.

Hal ini memberikan kebebasan yang lebih besar kepada pengguna dan pengembang perangkat lunak untuk menggunakan, mengubah, dan mendistribusikan kode sumbernya.

Lisensi ini memungkinkan perangkat lunak yang menggunakan kode berlisensi MIT untuk digunakan dalam proyek komersial tanpa harus membagikan kode sumbernya.

Hal ini memberikan fleksibilitas yang lebih besar dibandingkan dengan lisensi GPL.

3. Apache License

Apache License adalah lisensi Open Source yang banyak digunakan dalam proyek-proyek yang berkaitan dengan perangkat lunak server dan infrastruktur web.

Lisensi ini memungkinkan perubahan dan distribusi kode sumber dengan sedikit pembatasan.

Apache License mendorong kolaborasi dan pengembangan proyek bersama, sering digunakan dalam proyek-proyek seperti server web Apache dan proyek-proyek di bawah naungan Apache Software Foundation.

4. BSD License (Berkeley Software Distribution License)

BSD License adalah lisensi Open Source yang sangat sederhana dan fleksibel.

Ada beberapa variasi dari lisensi BSD, tetapi umumnya, lisensi ini memungkinkan pengguna untuk menggunakan, memodifikasi, dan mendistribusikan kode sumber dengan sedikit pembatasan.

BSD License sering digunakan dalam proyek-proyek yang ingin memberikan kebebasan kepada pengguna untuk menggunakan kode sumber mereka tanpa banyak keterbatasan.

Hal ini juga memungkinkan pengguna untuk menggunakan kode BSD dalam proyek komersial.

5. Creative Commons License

Meskipun Creative Commons lebih sering dikaitkan dengan lisensi konten seperti gambar, teks, dan musik, beberapa lisensi Creative Commons (CC) juga digunakan untuk perangkat lunak.

Lisensi CC untuk perangkat lunak memungkinkan variasi dalam ketentuan lisensi, termasuk yang lebih terbuka (misalnya, CC-BY) hingga yang lebih ketat (misalnya, CC-BY-NC-SA).

Lisensi CC untuk perangkat lunak dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengembang dan pengguna. Beberapa kombinasi lisensi CC dapat mencakup atribusi, non-komersial, dan berbagi serupa.

Penting untuk dicatat bahwa ada banyak lisensi Open Source lainnya dengan karakteristik yang berbeda.

Pemilihan lisensi Open Source harus dipertimbangkan dengan hati-hati oleh pengembang perangkat lunak, karena lisensi akan mempengaruhi cara perangkat lunak dapat digunakan, didistribusikan, dan digunakan oleh orang lain.

Selain itu, kombinasi perangkat lunak dalam proyek tertentu dapat menghasilkan ketergantungan pada lisensi tertentu,

sehingga pemahaman mendalam tentang lisensi sangat penting dalam pengembangan perangkat lunak sumber terbuka.

Manfaat Open Source

Open Source (perangkat lunak sumber terbuka) memiliki banyak manfaat yang memengaruhi berbagai aspek dalam dunia teknologi, pengembangan perangkat lunak, dan masyarakat secara keseluruhan.

Berikut beberapa manfaatnya:

1. Kode Sumber Terbuka dan Akses Terbuka

Salah satu manfaat utama Open Source adalah transparansi penuh. Kode sumber perangkat lunak sumber terbuka dapat dilihat dan diaudit oleh siapa saja.

Hal ini berarti tidak ada rahasia dalam cara perangkat lunak berfungsi. Pengguna dapat memahami bagaimana perangkat lunak bekerja, mengidentifikasi masalah, dan memastikan keamanan.

Akses terbuka ke kode sumber memberikan kontrol kepada pengguna. Mereka dapat mengubah perangkat lunak sesuai dengan kebutuhan mereka tanpa tergantung pada pemilik atau vendor perangkat lunak.

2. Kolaborasi dan Pengembangan Bersama

Proyek-proyek Open Source sering melibatkan kontribusi dari pengembang di seluruh dunia.

Hal ini memungkinkan keragaman pemikiran, keahlian, dan pengalaman, yang dapat menghasilkan inovasi yang lebih baik dan solusi yang lebih kuat.

Kolaborasi dalam proyek Open Source mendorong pengembangan perangkat lunak yang berkelanjutan. Perangkat lunak tersebut ditingkatkan secara terus-menerus oleh komunitas yang peduli.

3. Biaya Rendah dan Efisiensi

Kebanyakan perangkat lunak Open Source dapat diunduh dan digunakan secara gratis. Hal ini mengurangi biaya awal yang biasanya terkait dengan perangkat lunak berbasis properti intelektual.

Pengguna Open Source tidak harus terkunci dalam vendor atau penyedia tertentu. Mereka dapat memilih perangkat lunak yang sesuai dengan kebutuhan mereka dan dapat menggantinya tanpa biaya lisensi tambahan.

4. Kemajuan Teknologi

Kode sumber terbuka memungkinkan akses terbuka ke teknologi terbaru dan praktik terbaik. Ini mendorong inovasi terbuka dan memungkinkan masyarakat untuk berkontribusi pada pengembangan teknologi baru.

Dengan banyak mata yang memeriksa kode sumber, kerentanan keamanan dapat terdeteksi lebih cepat dan diperbaiki. Ini memungkinkan perangkat lunak Open Source untuk menjadi lebih aman dari serangan cyber.

5. Komunitas dan Berbagi Pengetahuan

Proyek Open Source menjadi tempat di mana individu dan organisasi berbagi pengetahuan dan keterampilan. Ini berkontribusi pada peningkatan kualifikasi teknis dan keterampilan di seluruh masyarakat.

Komunitas Open Source memungkinkan individu dengan minat yang sama untuk terhubung, berkolaborasi, dan belajar bersama. Hal ini memfasilitasi jaringan profesional yang kuat.

Dalam keseluruhan, Open Source bukan hanya sekadar model pengembangan perangkat lunak, tetapi juga sebuah filosofi yang mempromosikan transparansi, kolaborasi, dan kebebasan.

Hal ini memiliki dampak positif yang luas, tidak hanya dalam pengembangan perangkat lunak, tetapi juga dalam cara kita berinteraksi dengan teknologi, berbagi pengetahuan, dan membangun komunitas.

Manfaat Open Source menciptakan ekosistem yang dinamis dan inovatif yang menguntungkan semua pihak yang terlibat.

Model Pengembangan Open Source

Model pengembangan Open Source adalah pendekatan yang digunakan untuk mengorganisir dan memfasilitasi kontribusi dari komunitas pengembang dalam proyek perangkat lunak sumber terbuka.

Ada beberapa model yang digunakan untuk mengelola proyek-proyek Open Source. Di bawah ini, beberapa model pengembangan Open Source :

1. Model Kontribusi Komunitas

Model ini melibatkan kolaborasi luas dari komunitas pengembang yang berkontribusi secara sukarela pada proyek perangkat lunak. Tidak ada entitas perusahaan yang mengontrol proyek ini secara eksklusif.

Proyek ini terbuka untuk semua orang yang ingin berkontribusi. Kontributor mungkin berasal dari berbagai latar belakang, dan kolaborasi biasanya dilakukan secara online melalui repositori kode sumber terbuka.

Contoh: Proyek kernel Linux adalah contoh utama dari model kontribusi komunitas.

Ribuan pengembang di seluruh dunia berpartisipasi dalam pengembangan kernel Linux, dan tidak ada entitas perusahaan yang mengontrolnya.

2. Model Perusahaan Terbuka

Model ini melibatkan perusahaan atau organisasi yang mendukung pengembangan perangkat lunak sumber terbuka sebagai bagian dari strategi bisnis mereka.

Mereka mungkin memiliki pengembang internal dan juga menerima kontribusi dari komunitas.

Perusahaan ini sering memiliki kontrol signifikan atas proyek dan mungkin memiliki kepentingan komersial dalam perangkat lunak tersebut. Mereka mungkin menawarkan produk atau layanan terkait dengan perangkat lunak Open Source.

Contoh: Proyek MySQL adalah contoh model perusahaan terbuka. MySQL awalnya dikembangkan oleh MySQL AB (sebuah perusahaan), tetapi kemudian diakuisisi oleh Oracle Corporation.

Namun, versi komunitas MySQL tetap terbuka dan bebas digunakan.

3. Model Hibrida

Model ini merupakan kombinasi dari kontribusi komunitas dan dukungan perusahaan. Proyek ini dapat menerima kontribusi dari berbagai sumber dan memiliki pengembang komunitas dan tim internal.

Perusahaan mendukung proyek ini dengan sumber daya, pengembang internal, dan dana. Mereka juga dapat menjual produk atau layanan yang berkaitan dengan perangkat lunak tersebut.

Contoh: Proyek Docker adalah contoh model hibrida. Docker, Inc. adalah perusahaan yang mengembangkan dan mendukung proyek Docker, tetapi mereka juga menerima kontribusi dari komunitas pengembang Docker.

4. Model Pemerintah Terbuka

Model ini melibatkan pemerintah atau badan pemerintah yang merilis perangkat lunak sumber terbuka untuk digunakan secara bebas oleh masyarakat.

Tujuannya adalah untuk meningkatkan transparansi pemerintahan dan memberikan layanan publik yang lebih baik.

Proyek ini dibiayai oleh dana publik, dan kode sumbernya dapat digunakan oleh siapa saja, termasuk masyarakat dan bisnis.

Contoh: Proyek OpenStreetMap adalah contoh model pemerintah terbuka. Ini adalah proyek pemetaan dunia yang didukung oleh kontribusi dari individu dan badan pemerintah.

5. Model Perpustakaan atau Framework

Model ini melibatkan pengembangan perangkat lunak sumber terbuka yang berfungsi sebagai perpustakaan atau kerangka kerja (framework) yang dapat digunakan pengembang lain untuk membangun aplikasi mereka sendiri.

Perangkat lunak ini dirancang untuk digunakan ulang dan dikembangkan dengan mempertimbangkan kebutuhan pengembang lain.

Biasanya, mereka menyediakan antarmuka pemrograman aplikasi (API) yang bersih dan dokumentasi yang baik.

Contoh: Ruby on Rails adalah kerangka kerja web sumber terbuka yang memungkinkan pengembang untuk membangun aplikasi web dengan cepat. Ini adalah contoh dari model perpustakaan atau framework.

Setiap model pengembangan Open Source memiliki keuntungan dan tantangan uniknya sendiri.

Pemilihan model tergantung pada tujuan proyek, sumber daya yang tersedia, dan strategi yang diinginkan oleh kontributor dan pemilik proyek.

Dalam setiap kasus, tujuan utama dari pengembangan Open Source adalah memfasilitasi kolaborasi dan penggunaan perangkat lunak yang lebih luas melalui akses terbuka dan partisipasi komunitas.

Kesimpulan

Open Source adalah model pengembangan perangkat lunak di mana kode sumbernya tersedia untuk umum dan dapat diakses, digunakan, dimodifikasi, dan didistribusikan oleh siapa saja.

Konsep ini mengutamakan transparansi, kolaborasi komunitas, dan kebebasan pengguna dalam penggunaan dan modifikasi perangkat lunak.

Beberapa tokoh utama dalam gerakan Open Source, seperti Richard Stallman, Eric S. Raymond, Linus Torvalds, dan Bruce Perens, telah memberikan pandangan dan pengertian yang berbeda,

namun semuanya memiliki fokus pada aspek-aspek inti yang mencakup akses terbuka ke sumber daya intelektual dan partisipasi global dalam pengembangan perangkat lunak.

Gerakan Open Source telah mengubah lanskap perangkat lunak, memungkinkan pertumbuhan ekosistem perangkat lunak yang inovatif, dan mendorong kolaborasi lintas batas-batas geografis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *