Tahukah Anda mengenai Penyebab Burung Cendrawasih Hampir Punah? Meski telah berada di tengah perkembangan jaman yang sangat pesat, amat disayangkan bahwa manusia serta teknologinya masih belum dapat mencegah berbagai kepunahan berbagai jenis makhluk hidup, hewan maupun tumbuhan.

Berbagai jenis spesies hewan telah masuk ke dalam golongan yang hampir punah, terutama di Indonesia. Indonesia sendiri masyhur akan keaneka ragaman marga satwanya di seluruh penjuru dunia.
Kabar buruknya, daftar hewan yang terancam punah juga kian bertambah, kini burung elok cendrawasih masuk sebagai anggota yang menghadapi ancaman kepunahan.
Apakah yang bisa kita lakukan untuk terus mempertahankan populasi dan rentang hidup dari burung elok satu ini? Apa penyebab burung cendrawasih hampir punah?
Mari kita pelajari lebih seksama demi mencegah bencana kepunahan yang mengancam segala jenis marga satwa di sekeliling kita.
Penyebab Burung Cendrawasih Hampir Punah
Burung cendrawasih merupakan jenis burung yang habitat aslinya tersebar di Indonesia bagian timur, mencakup beberapa pulau di antara selat Torres, Papua dan Papua Nugini.
Tidak hanya di Indonesia, Australia timur juga menjadi penyebaran dari populasi burung cendrawasih. Diketahui hingga kini bahwa burung cendrawasih memiliki 42 jenis spesies yang telah terdaftar resmi.
Nama umum yang dikenakan pada burung cendrawasih di seluruh dunia adalah birds of paradise. Dari nama yang baru saja kita baca, sedikitnya kita akan mendapat gambaran mengapa burung yang satu ini mendapatkan nama seperti itu.
Benar, burung cendrawasih begitu terkenal akan keindahan dan ke-elokan bentuk serta warna mantel bulu yang menyelubungi tubuhnya.
Mendapat julukan sebagai burung dari surga bukanlah sebuah tak disengaja, jika kalian belum pernah melihatnya secara langsung, kami rekomendasikan secara khusus untuk melihat berbagai foto yang dengan mudah akan kita dapatkan melalui internet.
Burung cendrawasih terbalut dengan hiasan bulu panjang nan indah yang memiliki berbagai varian warna seperti cokelat kemerahan, kuning, putih, dan juga berbagai warna mencolok lain, seperti biru dan oranye.
1. Pemburuan Liar
Kenyataan tragis menghampiri cendrawasih; bahwa justru karena keindahan mereka, mereka menjadi salah satu sasaran utama bagi para pemburu liar.
Karena kualitas, warna, dan bentuk bulu, banyak sekali pihak-pihak yang tak bertanggung jawab tergoda untuk menjadikan makhluk malang ini demi tujuan perdagangan. Dalam kondisi hidup maupun mati, cendrawasih akan dihargai dengan tinggi di pasaran gelap.
Sejarah mencatat bahwa terjadi pemburuan burung cendrawasih secara besar-besaran pada periode tahun 1900-1930 untuk diperdagangkan dan di ekspor ke Eropa. Jenis Mayoritas yang masuk pemburuan saat itu adalah jenis cendrawasih apoda dan cendrawasih kuning kecil.
Diketahui bahwa bulu cendrawasih sering kali dipakai sebagai produksi berbagai jenis hiasan dalam dunia fashion, seperti halnya pada topi dan tas.
Bukan kali pertama industri fashion mendapat sorotan akibat penggunaan bulu hewan sebagai salah satu bahan untuk pakaian mereka.
Beberapa kasus seperti bulu harimau, rubah, dan juga kelinci memicu kecaman di berbagai kalangan ilmuwan, zoologist, maupun rakyat umum.
Kini, telah banyak sekali brand-brand terkenal yang telah menawarkan free-fur fashion yang dapat dinikmati tanpa menjamah ekosistem alam.
Apa yang bisa kita lakukan untuk melindungi cendrawasih dari serangan para pemburu liar ini? Penyuluhan menyeluruh untuk kesadaran akan penting pelestarian burung cendrawasih merupakan poin yang krusial.
Namun, tidak hanya itu, hukuman yang berat patut dijatuhkan kepada oknum-oknum liar sebagai efek jera dan konsekuensi dari tindakan mereka.
Jika seluruh masyarakat sekitar dan juga pihak-pihak yang berwajib mampu bekerjasama dengan baik, tidaklah mustahil untuk menjaga kelangsungan hidup burung cendrawasih untuk jangka waktu yang lama.
2. Proses Perkembangbiakan yang Lama
Salah satu poin krusial mengapa cukup sulit melestarikan populasi burung cendrawasih adalah proses perkembangbiakan cendrawasih yang tergolong cukup lama.
Musim kawin atau masa kawin pada burung cendrawasih hanya terjadi sekali dalam satu tahun penuh. Dan dalam satu masa kawin tersebut, burung cendrawasih betina hanya mampu menghasil dua hingga tiga butir telur.
Telur-telur tersebut juga memiliki resiko kegagalan yang tak pasti. Menurut data yang dikeluarkan oleh ahli, di lapangan terjadi sebuah ketimpangan jumlah antara telur-telur yang ditetaskan dan pengembalian burung cendrawasih itu sendiri ke alam liar. Karena hal inilah, sudah dipastikan bahwa suatu hari nanti, burung elok ini pastilah akan punah.
Diketahui di dalam masa kawin tersebut, burung cendarawasih akan melakukan ritual menari. Sang betina akan memilih pejantan dari bentuk tubuh, warna bulu, serta suara yang mereka keluarkan.
Telur-telur yang dikeluarkan oleh cendrawasih akan menetas dalam kurun waktu 16-22 hari; dalam kurun waktu 16-30 hari selanjutnya, cendrawasih muda akan mulai meninggalkan sarang mereka.
Meskipun pada suatu hari nanti burung cendrawasih tetaplah akan punah, sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai manusia, makhluk yang lahir dengan segala kecerdasan dan kesempurnaan untuk membantu memperpanjang rentang hidup dari cendrawasih. Itu merupakan sebuah tanggung jawab bukanlah sebuah pilihan.