Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Jangkrik

Diposting pada

Tahukah Anda tentang Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Jangkrik? Jangkrik merupakan serangga yang mempunyai suara kencang atau nyaring dan juga berperan penting dalam kehidupan manusia.

Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Jangkrik
Klasifikasi, Morfologi dan Jenis Jangkrik

Dengan suaranya yang kencang ini, jangkrik dapat menakut-nakuti tikus sehingga rumah bebas dari hama tikus ini.

Kemudian para petani juga sering menggunakan jangkrik untuk disebar ke sawah agar tikus takut dengan suara jangkrik tersebut.

Klasifikasi Jangkrik

Dalam dunia taksonomi, jangkrik ini masuk dalam famili Gryllidae yang merupakan anggota ordo Orthoptera. Ada kurang lebih 900 spesies yang terbagi dalam 21 genus.

Menurut Ahli Biologi alumni UGM, Pratama Adi kurang lebih ada 123 spesies jangkrik yang tersebar di Indonesia.

Kemudian, dari 123 spesies itu paling banyak adalah Gryllus bimaculatus atau yang lebih dikenal dengan jangkrik Jawa dan sering dibudiyakan sebagai pakan hewan seperti burung dan ikan arwana. Berikut adalah klasifikasi jangkrik.

  • Filum : Arthropoda
  • Kelas : Insecta
  • Ordo : Orthoptera
  • Subordo : Ensifera
  • Super famili : Ensifera
  • Famili : Gryllidae

Jenis dan Morfologi Jangkrik

Seperti penjabaran di atas bahwa di Indonesia ada kurang lebih 123 spesies jangkrik yang tersebar di seluruh nusantara.

Masing-masing spesies biasanya dapat dibedakan dari warna tubuh atau variasi lainnya. Kemudian dari 123 spesies tersebut, beberapa diantaranya bisa ditemukan di sekitar kita.

Di bawah ini adalah beberapa jenis jangkrik yang dapat kita temukan di lingkungan kita beserta morfologinya.

1. Jangkrik Rumah (Acheta domesticus)

Jangkrik rumah adalah spesies yang paling mudah kita temukan di lingkungan kita. Hewan ini aslinya berasal dari Timur Tengah, tetapi pada sekitar tahun 1950 silam jangkrik rumah ini telah dibudidayakan untuk menjadi pakan ternak. Jangkrik rumah tubuhnya berwarna abu-abu atau kecokelatan dengan panjang sekitar 16-21 mm.

Baik jangkrik yang jantan ataupun betina mempunyai ukuran dan bentuk tubuh yang serupa. Namun ada perbedaan yang mencolok yakni ovipositor yang ada di bagian belakang abdomen betina, panjangnya sekitar 12 mm.

Banyak peternak yang menyukai spesies ini karena dianggap lebih produktif dan bisa dipanen dalam waktu 28 hari saja. Kemudian, kapasitas produksi telurnya pada indukan betina dapat menghasilkan 100 butir telur.

Disamping itu ukuran tubuhnya yang relatif besar, sangat cocok digunakan untuk pakan burung dan ikan pemangsa.

2. Jangkrik Kalung (Gryllus bimaculatus)

Jangkrik kalung berasal dari Indonesia dan mempunyai kulit serta sayap yang berwarna hitam atau kadang-kadang agak kemerahan. Lalu pada bagian punggungnya ada garis kuning seperti kalung.

Banyak peternak yang membudidayakan jangkrik kalung ini karena dapat bereproduksi dan dipanen dalam waktu 25 hari. Selain itu, setiap induk jangkrik betinanya menghasilkan telur sebanyak 300 butir.

Namun spesies jangkrik kalung ini mempunyai sifat yang terlalu agresif, sehingga dapat menyebabkan kematian pada sesamanya apabila diletakan pada kandang yang kecil.

Lalu, kekurangan lain dari jangkrik kalung ini adalah kurang disukai oleh burung sebab kandungan air didalam tubuhnya terlalu banyak.

3. Jangkrik Gangsir (Brachytrupes portentosus)

Spesies jangkrik gangsir dapat ditemukan secara alami di hutan atau kebun di wilayah pedesaan. Jangkrik ini mempunyai ukuran tubuh yang besar dengan warna hitam semu abu-abu.

Namun spesies jangkrik gangsir ini jarang dibudidayakan karena mudah stress dan mati. Apalagi hewan ini tidak mempunyai suara mengerik yang bagus.

Selain itu, spesies ini tidak cocok dijadikan pakan hewan lainnya karena di dalam tubuhnya terdapat racun yang dapat membuat burung atau ikan keracunan hingga mati saat memakannya.

4. Jangkrik Seliring (Teleogryllus mitratus)

Spesies jangkrik seliring banyak dibudidayakan di daerah Jawa Timur. Warna tubuh dan sayapnya hitam kecoklatan.

Namun pada saat fase nimfa, pada bagian punggungnya terdapat garis kuning seperti pada jangkrik kalung, meskipun setelah dewasa garis itu akan menghilang.

Kemudian spesies jangkrik seliring jarang dibudidayakan karena waktu panennya lama, walau begitu harga jualnya justru lebih mahal.

Ini karena spesies ini sangat disukai oleh burung kicau, sebab tubuhnya tidak mengandung banyak air, mengandung banyak protein dan ukuran tubuhnya tidak terlalu besar dan mudah untuk dikunyah.

5. Jangkrik Ladang (Gryllus campestris)

Jangkrik ladang berasal dari kepulauan Inggris, namun sudah tersebar ke hampir seluruh dunia bersamaan dengan penjelajahan oleh orang Inggris di masa silam.

Mempunyai ukuran tubuh yang besar dan berwarna hitam dengan sayap yang berwarna cokelat atau hitam kecokelatan. Panjang tubuh untuk serangga jantan sekitar 1,9 – 2,3 cm sedangkan betina dewasa sekitar 1,7- 2,2 cm.

Meskipun serangga ini telah tersebar hampir ke seluruh dunia, namun spesies jangkrik ini konon populasinya sudah mulai langka. Penyebabnya adalah karena hilangnya habitat yang ada di negara-negara Eropa.

6. Xenogryllus marmoratus

Untuk spesies jenis jangkrik yang terakhir ini bukan dibudidayakan oleh manusia. Hewan ini adalah spesies liar yang banyak ditemukan di daerah padang rumput.

Bagian tubuhnya termasuk sayap dan kakinya mempunyai warna coklat. Spesies ini juga jarang mengeluarkan bunyi dan apabila bersuara biasanya tanpa irama dan kurang kencang. Jika ingin melihat spesies ini di Indonesia banyak terdapat di daerah Nusa Tenggara.

Baca Juga : Cara Melatih Jangkrik Agar Menang Aduan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *