5 Panduan dan Cara Budidaya Udang Windu Untuk Pemula

Diposting pada

Tahukah Anda tentang Cara Budidaya Udang Windu? Udang windu merupakan salah satu jenis udang yang dapat dijadikan sebagai bahan pangan.

5 Panduan dan Cara Budidaya Udang Windu Untuk Pemula
5 Panduan dan Cara Budidaya Udang Windu Untuk Pemula

Udang windu memiliki nama Latin Penaeus monodon Fabricius, dengan nama Inggrisnya yaitu giant tiger prawn atau tiger prawn.

Jenis udang ini berhabitat di sekitaran pantai Australia, Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Afrika Timur.

Dari letak habitat ini, maka tidak heran jika negara-negara pada benua tersebut menjadi salah satu pengekspor udang windu ke seluruh dunia, salah satunya adalah Bangladesh, India, Indonesia, Madagascar, Malaysia, Filipina, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.

Sama halnya dengan daging hewani pada umumnya, udang windu juga dapat membantu memenuhi kebutuhan protein tubuh kita. Selain protein, udang windu juga mengandung kolesterol, natrium, karbohidrat, lemak, dan asam lemak omega 3.

Udang windu juga merupakan komoditas udang yang banyak dipilih untuk dibudidayakan. Banyak orang yang memilih budidaya udang windu sebagai bentuk usahanya.

Hal ini disebabkan karena adanya keuntungan besar yang dapat diperoleh, selain itu ditambah dengan banyaknya masyarakat yang menyukai makanan olahan dari udang.

Cara Budidaya Udang Windu

Udang windu juga dapat diolah menjadi terasi, sarden, sambal goreng, kerupuk, dan makanan lainnya. Rasa enak yang dihasilkan dari udang windu ini juga membuat banyak orang yang tertarik untuk memakannya, sehingga permintaan pasar meningkat dan usaha budidaya udang windu ini semakin lama semakin digandungi masyarakat.

Oleh karena itu, cara budidaya udang windu merupakan hal yang penting untuk diketahui, terutama bagi para petani udang windu yang masih pemula. Berikut ini merupakan cara membudidayakan udang windu.

1. Pilihlah lokasi budidaya yang tepat

Keberhasilan proses pembudidayaan sangat dipengaruhi oleh lokasi budidaya yang tepat.

Hal ini sangat mempengaruhi keberhasilan budidaya karena jika lokasi budidaya tidak sesuai, maka udang windu tidak dapat hidup.

Untuk itu, sangat penting untuk mengetahui terlebih dahulu bagaimana habitat dan cara hidup dari udang windu.

Udang windu hidup di air payau, oleh karena itu lokasi budidaya yang paling cocok untuk udang windu adalah di dekat pantai.

Pantai memiliki sumber air payau yang melimpah. Selain itu, jika memilih lokasi dekat pantai, petani tidak akan sulit untuk membangun saluran air ke tempat penambakan udang.

Karena di pantai sudah banyak memiliki air, maka saluran airnya pun juga tidak harus dibuat sedemikian rupa karena sirkulasi air di tambak dapat berjalan secara alamiah layaknya sirkulasi air di alam.

Selain itu, perhatikan juga kadar garam, derajat keasaman (pH) dan suhu air. Idealnya, kadar garam pada lokasi tambak berkisar antara 10 – 25 ppm, dengan pH air berkisar antara 7 – 8, dan suhu airnya 25oC – 29oC.

2. Persiapkan tambak yang senatural mungkin

Setelah memilih lokasi budidaya yang tepat, maka langkah selanjutnya adalah membuat tambak udang. Hal yang paling penting dalam proses pembuatan tambak adalah udang windu harus dapat hidup dalam tambak seperti layaknya mereka hidup di habitat aslinya.

Oleh karena itu, tambak yang dibuat pun juga harus dapat senatural mungkin dan dengan kondisi yang sangat mirip dengan kondisi habitat alaminya.

Saluran air di dalam tambak harus lancar, agar air dapat masuk dan keluar dengan mudah dan kualitas air di dalam tambak tetap dapat terjaga.

Tambak udang yang dibuat juga sebaiknya lebih dari satu, dengan tingkat ketinggian yang berbeda. Buatlah agar tambak-tambak tersebut dapat saling terhubung satu sama lain.

Hal ini penting untuk dilakukan agar udang dapat dipilah berdasarkan ukurannya. Dengan memilah udang berdasarkan ukurannya, maka udang dengan ukuran tertentu dapat kita gunakan sebagai gelondongan, dan udang yang lain dapat digunakan untuk pendederan dan pembesaran.

3. Pilihlah bibit yang unggul

Memilih bibit yang unggul merupakan salah satu hal yang penting untuk dilakukan. Sama seperti dalam pembuatan tambak, untuk memilih bibit yang unggul maka kita perlu tahu terlebih dahulu bagaimana cara hidup udang windu di habitat alaminya.

Udang memiliki kebiasaan untuk berenang melawan arus, oleh karena itu pilihlah juga bibit udang yang bisa berenang melawan arus dan dapat bergerak dengan lincah dan bebas. Selain itu, bibit yang dipilih tidak boleh memiliki cacat fisik apapun.

Bibit yang unggul dapat menghasilkan udang yang unggul pula, oleh karena itu memilih bibit yang unggul merupakan salah satu hal yang sangat menentukan keberhasilan budidaya udang.

4. Tebarlah benih pada saat cuaca teduh

Setelah bibit unggul sudah dipilih maka dilakukan penebaran benih. Sebelum benih ditebar, suhu air di tambak harus diatur terlebih dahulu, supaya suhu air di kolam tidak terlalu dingin dan juga tidak terlalu panas.

Selain itu, bibit udang harus melalui proses aklimitasi terlebih dahulu. Proses ini merupakan proses penyesuaian bibit udang terhadap suhu tambak, hal ini perlu dilakukan agar udang tidak stres dan tidak cepat mati.

Caranya agar bibit udang dapat melalui proses aklimitasi yaitu dengan cara masukkan bibit ke dalam tambak, lalu bibit akan beradaptasi dalam waktu 15 – 30 menit.

5. Lakukan proses pembesaran dan pemeliharaan

Setelah bibit dimasukkan ke dalam tambak, maka perlu dilakukan proses pembesaran udang dan pemeliharaan tambak.

Proses pembesaran udang meliputi pemberian pakan, pencegahan penyakit dan hama, dan terakhir proses pemanenan udang.

Pakan alami udang dapat berupa lumut, plankton, pellet, dedak, atau sisa hewan dan tumbuhan lain yang membusuk di dalam tambak.

Pencegahan penyakit pada udang juga harus dilakukan, salah satu penyakit yang paling sering dialami udang windu adalah penyakit virus bintik putih. Penyebab hama yang paling umum biasanya disebabkan oleh burung dan ikan mujair.

Cara yang mudah untuk mencegah penyakit dan hama yaitu memberikan antibiotik dan anti jamur pada udang, memasang jarring di atas tambak dan memberikan ikan bandeng agar dapat memakan hama lainnya.

Setelah udang menjadi besar dan mencapai umur 150 hari, maka udang dapat dipanen. Proses pemeliharaan tambak dapat meliputi pemberian pupuk urea dan pupuk kompos.

Kadar garam dan pH air pada tambak juga harus dicek secara berkala agar udang dapat berkembang senatural mungkin.

Baca Juga : Jenis Udang Yang Bisa Dibudidayakan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *