Pori Makro: Pengertian, Karakteristik, Fungsi, Faktor dan Contohnya

Diposting pada

Daftar Isi

Pori makro merupakan salah satu komponen penting dalam sifat fisik tanah yang berperan dalam mengatur pergerakan air, pertukaran udara, drainase, dan perkembangan akar tanaman.

Pori Makro Pengertian, Karakteristik, Fungsi, Faktor dan Contohnya

Ruang pori berukuran besar ini terbentuk di antara agregat tanah, melalui aktivitas organisme seperti cacing tanah, serta dari saluran akar tanaman yang telah mati dan terurai.

Keberadaan pori makro yang memadai membantu air hujan masuk ke dalam tanah, mengurangi risiko genangan, dan menyediakan oksigen bagi akar serta mikroorganisme. Sebaliknya, tanah yang mengalami pemadatan dapat kehilangan sebagian pori makronya sehingga pergerakan air dan udara menjadi terhambat.

Oleh karena itu, memahami pengertian, karakteristik, fungsi, faktor pembentukan, serta cara meningkatkan pori makro sangat penting untuk mendukung pengelolaan lahan pertanian yang produktif dan berkelanjutan.

Pengertian Pori Makro dalam Tanah

Pori makro adalah ruang kosong berukuran relatif besar di dalam tanah yang dapat ditemukan di antara agregat, di sekitar akar, maupun pada saluran yang terbentuk akibat aktivitas organisme tanah. Ruang ini dapat terisi oleh udara atau air, bergantung pada kondisi kelembapan dan kemampuan tanah mengalirkan air.

Dalam ilmu tanah, pori makro dikenal dengan istilah macropores atau pori berukuran besar. Salah satu klasifikasi yang umum digunakan menetapkan diameter pori makro lebih dari 0,08 mm atau 80 mikrometer. Namun, batas ukuran ini dapat berbeda menurut metode pengukuran dan sistem klasifikasi yang digunakan.

Pengertian Pori Makro dalam Tanah

Pori makro merupakan bagian dari keseluruhan sistem pori tanah. Sistem tersebut terbentuk dari ruang di antara partikel mineral, agregat, bahan organik, serta rongga biologis yang berkembang selama proses pembentukan dan pengelolaan tanah.

Ukuran pori bukan satu-satunya hal yang menentukan fungsinya. Bentuk, kedalaman, dan keterhubungan antarruang pori turut menentukan seberapa cepat air bergerak, seberapa mudah udara bertukar, dan seberapa jauh akar dapat menembus tanah.

Perbedaan pori makro dengan ruang kosong biasa

Pori makro bukan sekadar rongga yang terlihat pada permukaan tanah. Rongga tersebut merupakan bagian dari jaringan pori yang memengaruhi fungsi tanah secara keseluruhan.

Sebagai contoh, tanah yang memiliki saluran vertikal dari permukaan hingga lapisan bawah dapat mengalirkan air lebih cepat dibandingkan tanah yang mempunyai rongga besar tetapi terputus-putus. Artinya, keterhubungan pori sangat penting untuk menentukan kemampuan tanah meloloskan air.

Pori makro juga dapat terbentuk secara alami maupun akibat aktivitas manusia. Liang cacing, saluran bekas akar, celah antargumpalan tanah, dan retakan pada tanah tertentu merupakan beberapa contoh jalur pori berukuran besar.

Hubungan pori makro dengan porositas tanah

Porositas tanah adalah persentase volume tanah yang ditempati oleh ruang pori. Sementara itu, pori makro merupakan salah satu kelompok ukuran pori yang menyusun total porositas tersebut.

Tanah dengan porositas tinggi belum tentu memiliki pori makro yang banyak. Sebagian besar ruang porinya mungkin berukuran kecil sehingga lebih dominan menahan air daripada mengalirkannya dengan cepat.

Sebaliknya, tanah dengan jaringan pori makro yang terhubung dengan baik dapat memiliki kemampuan infiltrasi dan aerasi yang baik, meskipun jumlah total ruang porinya tidak selalu paling tinggi.

Untuk memahami konsep tersebut lebih lanjut, baca artikel porositas tanah dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman.

Karakteristik dan Ukuran Pori Makro Tanah

Pori makro memiliki karakteristik yang membedakannya dari pori berukuran lebih kecil. Karakteristik tersebut dapat diamati melalui ukuran rongga, bentuk, posisi, keterhubungan, serta pengaruhnya terhadap pergerakan air dan udara.

1. Memiliki ukuran relatif besar

Pori makro umumnya didefinisikan sebagai pori dengan diameter lebih dari 0,08 mm dalam salah satu klasifikasi ilmu tanah. Ukuran tersebut memungkinkan air bergerak dengan pengaruh gravitasi yang lebih besar dibandingkan pada pori mikro.

Pada kondisi tanah yang cukup basah, pori makro yang terbuka dan terhubung dapat mengalirkan kelebihan air menuju lapisan yang lebih dalam. Setelah air mengalir keluar, ruang tersebut dapat kembali terisi udara.

Ukuran pori makro sangat bervariasi. Sebagian berupa celah kecil di antara agregat, sedangkan sebagian lainnya berbentuk saluran yang lebih besar akibat aktivitas akar dan organisme tanah.

2. Bentuk dan susunannya tidak seragam

Pori makro dapat berbentuk bulat, memanjang, tidak beraturan, atau menyerupai saluran. Bentuk tersebut bergantung pada proses pembentukannya.

Rongga di antara agregat umumnya mengikuti susunan struktur tanah. Saluran bekas akar cenderung memanjang mengikuti arah pertumbuhan akar, sedangkan liang cacing dapat membentuk jalur yang berkelok dan bercabang.

Perbedaan bentuk ini memengaruhi pergerakan air. Pori yang memanjang dan terhubung dari permukaan ke lapisan bawah dapat menjadi jalur aliran cepat, sedangkan rongga yang tertutup pada salah satu ujungnya mungkin hanya berperan terbatas dalam pertukaran air dan udara.

3. Dapat ditemukan di antara agregat tanah

Agregat adalah kumpulan partikel tanah yang terikat menjadi satu kesatuan. Susunan agregat membentuk ruang dengan ukuran berbeda-beda, termasuk pori makro.

Pada tanah dengan struktur remah atau granular yang stabil, ruang antargumpalan dapat mendukung pergerakan air dan udara. Sebaliknya, jika agregat hancur dan partikel halus menutup permukaan rongga, jaringan pori dapat berkurang.

Pelajari juga struktur tanah, jenis, faktor pembentukan, dan cara memperbaikinya untuk memahami hubungan antara agregat dan pembentukan pori makro.

4. Mempermudah pergerakan air secara gravitasi

Air yang masuk ke pori berukuran besar relatif mudah bergerak ke bawah akibat gaya gravitasi. Proses ini membantu mengalirkan kelebihan air dari zona perakaran, selama tidak terdapat lapisan kedap atau hambatan drainase di bawahnya.

Namun, aliran cepat melalui pori makro juga memiliki konsekuensi. Air yang membawa unsur hara terlarut atau bahan kimia pertanian dapat bergerak melewati sebagian zona tanah yang biasanya berperan dalam menahan atau menguraikan zat tersebut.

Karena itu, pori makro perlu dikelola sebagai bagian dari sistem tanah dan air, bukan hanya ditingkatkan sebanyak-banyaknya.

5. Mendukung pertukaran udara

Setelah air gravitasi mengalir keluar dari pori makro, ruang tersebut dapat terisi udara. Kondisi ini membantu oksigen masuk ke dalam tanah dan karbon dioksida keluar dari zona perakaran.

Ketersediaan oksigen sangat penting bagi respirasi akar serta aktivitas berbagai organisme tanah. Jika tanah terus-menerus jenuh air, sebagian besar pori dapat terisi air sehingga pertukaran gas menjadi lebih lambat.

6. Sebagian pori makro dapat diamati secara langsung

Pori makro yang terbentuk dari liang cacing atau saluran akar terkadang terlihat ketika tanah digali dengan hati-hati. Rongga antargumpalan juga dapat diamati pada bongkahan tanah yang memiliki struktur baik.

Meskipun demikian, pengamatan visual hanya memberikan gambaran awal. Tidak semua pori makro terlihat dengan mata, dan banyaknya rongga pada permukaan bongkahan belum tentu menunjukkan kondisi jaringan pori pada seluruh lapisan tanah.

Pengukuran yang lebih akurat dapat dilakukan menggunakan metode laboratorium atau pengujian infiltrasi yang sesuai dengan tujuan evaluasi.

Fungsi Pori Makro dalam Tanah

Pori makro menjalankan berbagai fungsi yang berhubungan langsung dengan kondisi fisik tanah dan pertumbuhan tanaman. Perannya tidak terbatas pada mempercepat aliran air, tetapi juga berkaitan dengan aerasi, perkembangan akar, aktivitas organisme, dan pengaturan keseimbangan air di dalam tanah.

Fungsi Pori Makro dalam Tanah

1. Meningkatkan infiltrasi air

Infiltrasi adalah proses masuknya air dari permukaan ke dalam tanah. Pori makro yang terbuka dan terhubung dapat menjadi jalur bagi air hujan maupun air irigasi untuk memasuki profil tanah.

Ketika jaringan pori berfungsi dengan baik, air tidak seluruhnya tertahan di permukaan. Sebagian dapat masuk ke lapisan bawah dan mengurangi kemungkinan terbentuknya genangan akibat kapasitas infiltrasi permukaan yang rendah.

Manfaat ini penting pada lahan pertanian yang sering menerima hujan dengan intensitas tinggi. Tanah dengan jalur pori yang memadai berpotensi menyerap air lebih cepat daripada tanah yang mengalami pemadatan atau pembentukan kerak.

Meskipun demikian, kemampuan infiltrasi juga dipengaruhi kondisi awal kelembapan, kemiringan lahan, tutupan permukaan, tekstur, dan keberadaan lapisan tanah yang sulit ditembus air.

2. Memperbaiki drainase tanah

Drainase merupakan proses pengeluaran kelebihan air dari tanah. Pori makro membantu air bergerak dari zona perakaran menuju lapisan yang lebih dalam atau menuju sistem pembuangan air.

Drainase yang baik membantu mencegah akar berada dalam kondisi jenuh air terlalu lama. Kondisi ini penting bagi tanaman yang memerlukan aerasi memadai untuk mendukung respirasi akar.

Pada tanah bertekstur halus, pori makro yang terbentuk melalui agregasi dan aktivitas biologis dapat membantu memperbaiki pergerakan air. Namun, manfaatnya bergantung pada adanya jalur pembuangan yang memadai.

Jika lapisan bawah kedap air atau muka air tanah terlalu tinggi, penambahan pori makro di permukaan saja belum tentu mampu mengatasi genangan.

3. Menyediakan oksigen bagi akar tanaman

Akar tanaman membutuhkan oksigen untuk melakukan respirasi dan menghasilkan energi yang digunakan dalam pertumbuhan serta penyerapan unsur hara.

Pori makro yang tidak terisi air menyediakan jalur pergerakan udara menuju zona perakaran. Pertukaran udara ini membantu menjaga kondisi tanah agar tidak terlalu kekurangan oksigen.

Pada tanah yang padat dan jenuh air, pertukaran gas dapat melambat. Akar berpotensi mengalami gangguan respirasi, pertumbuhan menjadi kurang optimal, dan kemampuan menyerap unsur hara tertentu dapat menurun.

Karena itu, mempertahankan struktur tanah dan mencegah pemadatan merupakan langkah penting untuk menjaga fungsi pori makro.

4. Mempermudah penetrasi dan pertumbuhan akar

Akar tanaman perlu menembus tanah untuk memperoleh air dan unsur hara. Pori makro menyediakan jalur dengan hambatan mekanis yang relatif rendah sehingga akar dapat memanfaatkan celah yang sudah tersedia.

Saluran bekas akar tanaman sebelumnya juga dapat membantu akar tanaman berikutnya menembus lapisan yang lebih dalam, terutama jika tanah di sekitarnya cukup padat.

Pada lahan yang memiliki jaringan pori baik, akar berpotensi menjangkau volume tanah lebih luas. Hal ini dapat meningkatkan peluang tanaman memperoleh air dan unsur hara dari berbagai bagian profil tanah.

Namun, akar tetap memerlukan kondisi kelembapan, suhu, oksigen, dan unsur hara yang sesuai. Keberadaan pori makro saja tidak menjamin pertumbuhan akar akan optimal.

5. Mendukung kehidupan organisme tanah

Pori makro dapat menjadi ruang hidup atau jalur pergerakan bagi organisme tanah, termasuk cacing tanah dan berbagai hewan tanah berukuran kecil.

Aktivitas organisme tersebut turut memengaruhi kondisi tanah. Cacing tanah, misalnya, dapat membentuk liang, mencampurkan bahan organik, dan menghasilkan kotoran yang membantu pembentukan agregat.

Hubungan ini membentuk proses yang saling mendukung. Struktur tanah menyediakan ruang bagi organisme, sementara aktivitas organisme dapat membantu membentuk dan mempertahankan jaringan pori.

6. Membantu mengurangi risiko erosi permukaan

Pori makro yang berfungsi dengan baik dapat meningkatkan masuknya air ke dalam tanah sehingga mengurangi jumlah air yang mengalir di permukaan dalam kondisi tertentu.

Ketika limpasan permukaan berkurang, potensi pengangkutan partikel tanah oleh aliran air juga dapat menurun.

Akan tetapi, pori makro bukan satu-satunya faktor pengendali erosi. Penutupan permukaan dengan vegetasi, mulsa, pengaturan arah pengolahan, terasering pada lahan miring, serta pemeliharaan agregat tetap dibutuhkan.

7. Mendukung siklus air dan unsur hara

Air yang bergerak melalui jaringan pori membantu mendistribusikan air dan zat terlarut di dalam profil tanah. Pergerakan ini dapat mendukung ketersediaan air bagi akar serta perpindahan unsur hara.

Namun, aliran yang terlalu cepat melalui pori makro juga dapat membawa unsur hara melewati zona perakaran sebelum sempat dimanfaatkan tanaman.

Oleh sebab itu, tujuan pengelolaan tanah bukan sekadar memperbesar jumlah pori makro, melainkan menjaga keseimbangan antara infiltrasi, drainase, penyimpanan air, dan retensi unsur hara.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pembentukan Pori Makro

Jumlah, ukuran, bentuk, dan keterhubungan pori makro dipengaruhi oleh sifat alami tanah serta proses biologis dan aktivitas pengelolaan lahan. Memahami faktor-faktor tersebut membantu menentukan tindakan yang tepat untuk memperbaiki kondisi fisik tanah.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pembentukan Pori Makro

1. Struktur dan kestabilan agregat tanah

Struktur tanah menentukan cara partikel mineral dan bahan organik bergabung membentuk agregat. Ruang di antara agregat merupakan salah satu tempat terbentuknya pori makro.

Struktur remah atau granular yang stabil sering kali mendukung jaringan pori yang baik pada lapisan permukaan. Sementara itu, struktur yang rusak akibat pemadatan atau penghancuran agregat dapat menyebabkan sebagian ruang pori tertutup.

Kestabilan agregat penting karena pori yang terbentuk harus mampu bertahan ketika tanah mengalami pembasahan, pengeringan, dan gangguan mekanis.

2. Kandungan bahan organik

Bahan organik berperan dalam pembentukan agregat dan pemeliharaan struktur tanah. Sumbernya dapat berasal dari kompos matang, pupuk kandang yang telah terolah dengan baik, sisa panen, akar mati, dan seresah tanaman.

Bahan organik menyediakan substrat bagi organisme tanah serta mendukung pembentukan senyawa yang membantu mengikat partikel tanah.

Ketika bahan organik dikelola dengan baik, agregat dapat menjadi lebih stabil dan ruang antargumpalan berpeluang dipertahankan.

Sebaliknya, hilangnya bahan organik secara terus-menerus dapat memperburuk kestabilan agregat, terutama apabila disertai pengolahan intensif dan minimnya penutupan permukaan tanah.

3. Aktivitas akar tanaman

Akar tanaman membantu membentuk jaringan pori melalui pertumbuhan dan penetrasinya ke dalam tanah. Ketika akar mati dan terurai, sebagian salurannya dapat tetap terbuka dan dimanfaatkan oleh akar tanaman berikutnya.

Tanaman dengan sistem perakaran yang berbeda dapat membentuk pola pori yang berbeda pula. Akar serabut cenderung menyebar di banyak bagian tanah, sedangkan akar yang menembus lebih dalam dapat menghasilkan saluran vertikal.

Karena itu, pemilihan tanaman penutup tanah dan penerapan rotasi tanaman dapat menjadi bagian dari strategi memperbaiki kondisi pori tanah.

4. Aktivitas organisme tanah

Cacing tanah dan organisme penggali lainnya dapat membentuk liang yang menjadi jalur aliran air dan udara. Aktivitas mereka juga dapat memengaruhi susunan agregat dan distribusi bahan organik.

Intensitas aktivitas biologis dipengaruhi ketersediaan makanan, kelembapan, suhu, kondisi kimia tanah, dan gangguan habitat.

Penggunaan bahan organik yang sesuai serta pengurangan gangguan tanah berlebihan dapat membantu mempertahankan lingkungan yang mendukung organisme tersebut.

5. Tekstur tanah

Tekstur menunjukkan perbandingan relatif antara pasir, debu, dan liat. Perbedaan komposisi ini memengaruhi ukuran pori yang terbentuk dan cara air bergerak di dalam tanah.

Tanah berpasir umumnya memiliki pori antarpartikel yang relatif besar sehingga air mudah mengalir. Akan tetapi, pori besar pada tanah berpasir tidak selalu berarti tanah memiliki struktur agregat yang baik.

Pada tanah dengan kandungan liat tinggi, ukuran pori di antara partikel cenderung lebih kecil. Meskipun demikian, tanah berliat dapat memiliki pori makro yang berkembang baik apabila agregatnya stabil dan terdapat saluran akar serta liang organisme.

Tekstur tanah terutama merupakan sifat dasar yang relatif sulit diubah melalui pengelolaan biasa. Oleh karena itu, tindakan perbaikan lebih diarahkan pada struktur, kandungan bahan organik, dan kondisi pemadatan.

6. Pemadatan tanah

Pemadatan terjadi ketika partikel tanah menjadi lebih rapat akibat tekanan. Kondisi ini dapat dipicu oleh lalu lintas alat berat, injakan ternak, pengolahan ketika tanah terlalu basah, atau aktivitas mekanis berulang.

Pemadatan dapat mengurangi volume dan keterhubungan pori makro, meningkatkan hambatan penetrasi akar, serta memperlambat pergerakan air.

Dampaknya bisa berbeda menurut jenis tanah dan kedalaman lapisan yang mengalami pemadatan. Pada beberapa lahan, pemadatan berat membentuk lapisan keras yang menghambat pertumbuhan akar meskipun permukaan tanah terlihat cukup gembur.

7. Pengolahan tanah

Pengolahan tanah dapat mengubah pori makro dalam dua arah. Penggemburan mekanis mungkin meningkatkan rongga untuk sementara, tetapi pengolahan intensif juga dapat merusak agregat dan mempercepat pemadatan kembali.

Jika tanah diolah saat terlalu basah, tekanan alat dapat merusak struktur dan menimbulkan lapisan padat. Sebaliknya, pengolahan yang sesuai dengan kondisi tanah dapat membantu menyiapkan lahan tanpa menimbulkan kerusakan berlebihan.

Dalam jangka panjang, pengelolaan yang mempertahankan agregat dan saluran biologis dapat membantu menjaga jaringan pori secara lebih stabil daripada hanya mengandalkan penggemburan mekanis berulang.

8. Kelembapan dan kondisi drainase

Kelembapan memengaruhi kestabilan agregat, kemampuan tanah menahan tekanan, dan kondisi ruang pori.

Tanah yang terlalu basah lebih rentan mengalami pemadatan ketika dilalui alat berat. Pada kondisi tertentu, pembasahan juga dapat menyebabkan agregat yang tidak stabil hancur.

Drainase yang buruk dapat membuat pori makro terus terisi air sehingga fungsinya dalam pertukaran udara berkurang. Karena itu, pengelolaan kelembapan perlu disesuaikan dengan jenis tanah, tanaman, dan sistem budidaya.

9. Curah hujan dan erosi

Tetesan hujan yang kuat dapat menghancurkan agregat permukaan yang tidak stabil. Partikel halus kemudian dapat menutup sebagian pori dan membentuk kerak.

Kerak tersebut mengurangi kemampuan permukaan tanah menyerap air dan dapat meningkatkan limpasan.

Penanaman tanaman penutup, penggunaan mulsa, dan pemeliharaan agregat merupakan cara untuk mengurangi dampak langsung hujan terhadap permukaan tanah.

Pengaruh Tekstur dan Struktur Tanah terhadap Pori Makro

Tekstur dan struktur tanah merupakan dua sifat fisik yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan pori makro. Keduanya saling berkaitan, tetapi memiliki pengertian berbeda. Tekstur menunjukkan komposisi fraksi pasir, debu, dan liat, sedangkan struktur menjelaskan cara partikel-partikel tersebut tersusun menjadi agregat.

Pengaruh Tekstur dan Struktur Tanah terhadap Pori Makro

Perbedaan tekstur dan struktur menyebabkan setiap jenis tanah mempunyai karakteristik pori, kemampuan menyerap air, serta tingkat aerasi yang berbeda.

1. Pengaruh tekstur tanah berpasir

Tanah berpasir didominasi oleh partikel pasir yang berukuran relatif besar. Ruang di antara partikel dapat membentuk jalur aliran air yang relatif cepat, terutama jika susunannya tidak terlalu rapat.

Karakteristik tanah berpasir antara lain:

  • Air cenderung lebih cepat meresap dan mengalir.
  • Drainase umumnya relatif cepat.
  • Aerasi dapat berlangsung dengan baik ketika pori tidak terisi air.
  • Kemampuan menahan air umumnya lebih rendah dibandingkan tanah bertekstur halus.
  • Unsur hara tertentu lebih mudah tercuci apabila air bergerak cepat.

Meskipun demikian, tidak semua rongga antarpartikel pasir termasuk pori makro menurut batas ukuran tertentu. Distribusi ukuran partikel dan cara penyusunannya turut menentukan ukuran pori yang sebenarnya.

Tanah berpasir juga tidak selalu mempunyai agregat yang stabil. Oleh karena itu, penambahan bahan organik dan penggunaan mulsa tetap bermanfaat untuk mendukung kondisi fisik serta kemampuan tanah menahan air.

2. Pengaruh tekstur tanah berdebu

Tanah dengan kandungan debu tinggi mempunyai karakteristik di antara tanah berpasir dan tanah berliat. Partikel debu lebih kecil daripada pasir, tetapi lebih besar daripada liat.

Tanah berdebu dapat mempunyai kemampuan menahan air yang lebih baik dibandingkan tanah berpasir. Namun, agregatnya dapat rentan mengalami kerusakan akibat pukulan air hujan jika kestabilan strukturnya rendah.

Ketika agregat hancur, partikel halus dapat menutup rongga pada permukaan tanah. Akibatnya, infiltrasi menurun dan pembentukan kerak menjadi lebih mudah terjadi.

Pemeliharaan bahan organik, penutupan permukaan tanah, dan pengurangan gangguan mekanis dapat membantu mempertahankan struktur serta jaringan pori pada tanah berdebu.

3. Pengaruh tekstur tanah berliat

Tanah berliat mempunyai banyak partikel berukuran sangat halus. Ruang pori di antara partikel tersebut umumnya berukuran kecil, sehingga tanah berliat sering mempunyai kemampuan menahan air yang relatif tinggi.

Akan tetapi, tanah berliat tidak selalu mempunyai pori makro yang sedikit. Apabila agregatnya berkembang dengan baik, ruang di antara agregat dapat membentuk pori makro yang berfungsi mengalirkan air dan udara.

Sebaliknya, tanah berliat yang mengalami pemadatan dapat mempunyai jalur pori besar yang lebih sedikit atau kurang terhubung. Akibatnya, drainase dan penetrasi akar dapat terganggu.

Pengelolaan tanah berliat perlu memperhatikan waktu pengolahan. Mengolah tanah ketika terlalu basah dapat merusak agregat dan memperparah pemadatan.

4. Pengaruh struktur remah dan granular

Struktur remah dan granular yang stabil dapat mendukung pembentukan jaringan pori yang beragam. Ruang antargumpalan menyediakan jalur untuk pergerakan air dan udara, sedangkan pori di dalam agregat berperan dalam penyimpanan air.

Kondisi ini umumnya menguntungkan bagi pertumbuhan akar, terutama pada lapisan permukaan tanah yang aktif secara biologis.

Struktur tersebut dapat dipelihara melalui penambahan bahan organik, pengembalian sisa tanaman, penggunaan tanaman penutup, dan pengurangan pengolahan tanah yang tidak diperlukan.

5. Pengaruh struktur tanah yang padat

Struktur tanah yang padat dapat membatasi pembentukan dan keterhubungan pori makro. Partikel serta agregat yang tertekan menjadi lebih rapat sehingga ruang yang tersedia bagi air dan udara berkurang.

Dampaknya dapat berupa:

  1. Air lebih sulit meresap ke dalam tanah.
  2. Genangan lebih mudah terjadi pada kondisi drainase yang terbatas.
  3. Pertukaran oksigen di zona akar menjadi lebih lambat.
  4. Akar menghadapi hambatan mekanis lebih besar.
  5. Sebagian unsur hara dan air menjadi lebih sulit dijangkau akar.

Tanah yang padat perlu diperbaiki berdasarkan penyebab dan kedalaman masalahnya. Penggemburan permukaan saja mungkin tidak cukup apabila terdapat lapisan padat di bawahnya.

Perbandingan karakteristik tanah

Karakteristik Tanah berpasir Tanah berdebu Tanah berliat
Pergerakan air Umumnya cepat Bervariasi Cenderung lebih lambat jika padat
Penyimpanan air Relatif rendah Sedang hingga cukup tinggi Relatif tinggi
Risiko kerak permukaan Umumnya lebih rendah Dapat tinggi Bergantung pada agregasi dan pengelolaan
Pembentukan pori makro Dipengaruhi susunan partikel Dipengaruhi kestabilan agregat Dipengaruhi agregasi, retakan, dan aktivitas biologis
Fokus pengelolaan Menjaga air dan unsur hara Menjaga agregat dan permukaan Mengurangi pemadatan dan memperbaiki struktur

Untuk penjelasan lebih lengkap mengenai karakteristik masing-masing fraksi tanah, baca artikel tekstur tanah, komponen, jenis, dan cara memperbaikinya.

Perbedaan Pori Makro dan Pori Mikro Tanah

Pori makro dan pori mikro merupakan dua kelompok ruang pori yang memiliki fungsi berbeda dalam mengatur air, udara, dan perkembangan akar. Tanah yang sehat tidak hanya membutuhkan salah satunya, tetapi memerlukan kombinasi ukuran pori yang sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kondisi lingkungan.

Perbedaan Pori Makro dan Pori Mikro Tanah

Pori makro terutama berperan dalam drainase dan pertukaran gas, sedangkan pori mikro lebih berperan dalam menahan air melalui gaya kapiler.

1. Perbedaan ukuran

Dalam salah satu sistem klasifikasi yang umum digunakan, pori makro mempunyai diameter lebih dari 0,08 mm, sedangkan pori mikro berdiameter kurang dari 0,08 mm. Batas klasifikasi dapat berbeda menurut metode pengukuran yang digunakan.

Perbedaan ukuran tersebut memengaruhi cara air tertahan dan bergerak. Air lebih mudah mengalir keluar dari pori besar akibat gravitasi, sedangkan air dalam pori kecil dapat tertahan lebih kuat.

2. Perbedaan fungsi utama

Pori makro menyediakan jalur untuk infiltrasi, drainase, aerasi, dan penetrasi akar. Pori ini membantu membuang kelebihan air sekaligus menyediakan ruang udara setelah air mengalir keluar.

Pori mikro membantu menyimpan air di dalam tanah. Sebagian air yang tertahan pada pori mikro dapat dimanfaatkan tanaman, meskipun air yang diikat terlalu kuat tidak selalu dapat diserap akar.

Ketersediaan air bagi tanaman karena itu tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pori, tetapi juga distribusi ukuran pori dan kekuatan air tertahan di dalamnya.

3. Perbedaan kondisi air dan udara

Pada tanah yang memiliki drainase baik, pori makro cenderung lebih cepat kembali terisi udara setelah hujan atau irigasi. Kondisi tersebut membantu pertukaran gas di zona akar.

Pori mikro umumnya tetap mampu menahan air setelah sebagian air gravitasi meninggalkan pori makro.

Ketika tanah terlalu basah, pori makro dan pori mikro dapat sama-sama terisi air. Jika kondisi ini berlangsung lama, oksigen yang tersedia bagi akar dapat berkurang.

Sebaliknya, ketika tanah terlalu kering, air yang tersisa mungkin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman, walaupun sebagian pori mikro masih menyimpan air.

4. Perbedaan letak dan pembentukan

Pori makro banyak ditemukan di antara agregat, pada saluran bekas akar, dan pada liang organisme tanah. Sebagian dapat pula terbentuk akibat retakan atau gangguan fisik tertentu.

Pori mikro banyak ditemukan di dalam agregat dan pada ruang di antara partikel halus. Ukuran dan distribusinya dipengaruhi oleh tekstur, mineral liat, susunan partikel, dan bahan organik.

Kedua kelompok pori tersebut saling melengkapi dalam mengatur fungsi fisik tanah.

Tabel perbedaan pori makro dan pori mikro

Aspek Pori makro Pori mikro
Ukuran umum Lebih dari 0,08 mm pada klasifikasi tertentu Kurang dari 0,08 mm pada klasifikasi yang sama
Fungsi dominan Drainase dan aerasi Penyimpanan air
Pergerakan air Relatif mudah oleh gravitasi Air tertahan lebih kuat
Pertukaran gas Menjadi jalur penting saat tidak terisi air Lebih terbatas karena ukuran pori kecil
Contoh pembentukan Liang cacing, saluran akar, celah agregat Ruang kecil dalam agregat dan susunan partikel halus
Risiko jika tidak seimbang Drainase terlalu cepat atau pencucian zat terlarut pada kondisi tertentu Air dapat tertahan kuat atau pertukaran udara menjadi terbatas jika banyak pori jenuh air

5. Mengapa keseimbangan pori makro dan mikro penting?

Tanah yang didominasi pori besar dapat meloloskan air dengan cepat, tetapi belum tentu mampu menyediakan cadangan air yang memadai bagi tanaman.

Sebaliknya, tanah yang mempunyai banyak pori kecil dapat menyimpan air, tetapi belum tentu memiliki aerasi dan drainase yang baik apabila pori makronya sedikit atau tidak terhubung.

Karena itu, pengelolaan tanah harus diarahkan pada pembentukan jaringan pori yang seimbang. Penambahan bahan organik, pemeliharaan agregat, pengurangan pemadatan, dan penggunaan tanaman penutup dapat membantu memperbaiki kondisi tersebut.

Cara Meningkatkan Pori Makro melalui Pengelolaan Tanah

Peningkatan pori makro dapat dilakukan melalui pengelolaan fisik, biologis, dan kimia tanah yang sesuai. Tujuannya bukan sekadar membuat tanah terlihat gembur, melainkan membentuk jaringan pori yang stabil, terhubung, dan mampu berfungsi dalam jangka panjang.

Cara Meningkatkan Pori Makro melalui Pengelolaan Tanah

1. Menambahkan bahan organik

Penambahan bahan organik merupakan salah satu langkah penting untuk mendukung pembentukan agregat tanah. Bahan yang dapat digunakan meliputi kompos matang, pupuk kandang yang telah terolah dengan baik, dan sisa tanaman yang dikelola secara tepat.

Bahan organik menyediakan sumber makanan bagi organisme tanah dan mendukung proses biologis yang membantu mempertahankan struktur agregat.

Pada tanah yang mudah memadat atau mempunyai agregat tidak stabil, perbaikan bahan organik secara bertahap dapat membantu meningkatkan kualitas struktur dan mempertahankan ruang pori.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penerapannya adalah:

  • Gunakan bahan organik yang matang dan sesuai dengan kebutuhan lahan.
  • Sesuaikan jumlah pemberian dengan kondisi tanah serta sistem budidaya.
  • Hindari penggunaan bahan yang terkontaminasi atau memiliki kadar garam berlebihan.
  • Lakukan pemantauan terhadap perubahan struktur, infiltrasi, dan kondisi tanaman.

Bahan organik bukan solusi instan untuk semua masalah pori makro. Jika terdapat lapisan padat yang dalam, perbaikan biologis perlu disertai tindakan lain yang sesuai.

2. Mengurangi pemadatan tanah

Pemadatan merupakan salah satu penyebab utama berkurangnya ruang pori berukuran besar pada lahan pertanian.

Untuk menguranginya, lalu lintas alat berat perlu diatur agar tidak berulang kali melewati seluruh area pertanaman. Jalur khusus kendaraan atau alat pertanian dapat membantu membatasi area yang mengalami tekanan.

Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan ketika kelembapan sesuai. Tanah yang terlalu basah lebih mudah mengalami deformasi dan pemadatan akibat beban mekanis.

Pada lahan dengan aktivitas ternak, pengaturan kepadatan ternak dan waktu penggembalaan juga dapat membantu mengurangi pemadatan akibat injakan.

3. Menggunakan tanaman penutup tanah

Tanaman penutup tanah membantu melindungi permukaan dari pukulan air hujan, mengurangi erosi, dan menyediakan sumber bahan organik.

Akar tanaman penutup juga dapat membentuk saluran di dalam tanah. Ketika akar mati dan terurai, sebagian salurannya dapat menjadi jalur pergerakan air dan udara.

Pemilihan tanaman perlu disesuaikan dengan iklim, jenis tanah, ketersediaan air, dan kebutuhan tanaman utama. Tanaman yang memiliki sistem akar berbeda dapat memberikan pengaruh yang berbeda pula terhadap jaringan pori.

Penggunaan tanaman penutup sebaiknya menjadi bagian dari sistem pengelolaan lahan yang terencana, bukan hanya ditanam tanpa mempertimbangkan persaingan air dan unsur hara.

4. Melakukan rotasi tanaman

Rotasi tanaman membantu mengubah pola perakaran, kebutuhan unsur hara, dan masukan bahan organik pada lahan.

Penggunaan tanaman dengan sistem perakaran berbeda dapat membantu membentuk jaringan saluran akar pada kedalaman yang bervariasi.

Rotasi yang melibatkan tanaman penutup atau tanaman berakar dalam, jika sesuai dengan kondisi lahan, dapat membantu memperbaiki kondisi fisik tanah secara bertahap.

Selain memengaruhi pori, rotasi tanaman juga dapat mendukung pengelolaan organisme pengganggu serta meningkatkan keragaman sistem budidaya.

5. Mempertahankan sisa tanaman sebagai mulsa

Sisa tanaman yang diletakkan di permukaan tanah dapat berfungsi sebagai mulsa. Lapisan ini membantu mengurangi dampak langsung tetesan hujan terhadap agregat, menjaga kelembapan, dan mengurangi pembentukan kerak.

Ketika residu tanaman terurai, sebagian bahannya dapat menambah pasokan bahan organik tanah.

Penerapan mulsa perlu disesuaikan dengan tanaman budidaya dan kondisi lahan. Residu yang membawa patogen atau organisme pengganggu tertentu perlu dikelola secara tepat agar tidak menjadi sumber masalah baru.

6. Mengurangi pengolahan tanah berlebihan

Pengolahan tanah yang terlalu intensif dapat menghancurkan agregat dan mengganggu jaringan pori yang terbentuk secara alami.

Mengurangi frekuensi pengolahan, menggunakan pengolahan minimum, atau menerapkan sistem tanpa olah tanah pada kondisi yang sesuai dapat membantu mempertahankan saluran biologis dan agregat yang stabil.

Namun, pengurangan pengolahan tidak selalu dapat diterapkan secara seragam. Jenis tanah, drainase, sisa tanaman, gulma, dan kebutuhan persiapan lahan harus menjadi pertimbangan.

Pada lahan yang mengalami pemadatan berat, intervensi mekanis mungkin masih diperlukan setelah penyebabnya diketahui.

7. Mengelola drainase dan irigasi

Drainase dan irigasi perlu dikelola agar tanah tidak terlalu lama berada dalam kondisi jenuh air maupun mengalami kekeringan berlebihan.

Pada lahan dengan genangan, perbaikan saluran pembuangan dapat diperlukan. Namun, sebelum membangun sistem drainase, penyebab genangan harus diperiksa, termasuk kemungkinan adanya lapisan kedap atau muka air tanah yang tinggi.

Pengairan juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan karakteristik tanah. Pemberian air berlebihan pada tanah dengan drainase buruk dapat memperburuk kekurangan oksigen di zona akar.

Pori makro yang baik akan lebih bermanfaat apabila terhubung dengan sistem pergerakan dan pembuangan air yang berfungsi.

8. Mengoptimalkan aktivitas organisme tanah

Cacing tanah dan organisme lain dapat membantu membentuk liang, mencampurkan bahan organik, dan mendukung pembentukan agregat.

Untuk mendukung aktivitas tersebut, pengelola lahan dapat mempertahankan masukan bahan organik, menjaga kelembapan yang sesuai, mengurangi gangguan tanah berlebihan, serta menggunakan bahan kimia pertanian secara bijaksana sesuai kebutuhan dan petunjuk penggunaan.

Tidak semua lahan memiliki populasi organisme yang sama. Aktivitasnya dipengaruhi oleh jenis tanah, iklim, pH, sumber makanan, dan kondisi habitat.

Karena itu, peningkatan aktivitas biologis sebaiknya menjadi bagian dari pendekatan pengelolaan tanah terpadu.

9. Mengatasi lapisan tanah yang padat

Pada beberapa lahan, masalah utama bukan terletak pada permukaan tanah, melainkan pada lapisan bawah yang padat. Lapisan tersebut dapat membatasi aliran air dan pertumbuhan akar.

Langkah pertama adalah mengidentifikasi kedalaman dan tingkat pemadatannya. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui pengamatan profil tanah, perkembangan akar, pengujian penetrasi, atau pengukuran sifat fisik yang relevan.

Jika pemadatan cukup berat, penggemburan mekanis pada kedalaman yang tepat dapat dipertimbangkan. Namun, tindakan tersebut sebaiknya dilakukan saat kondisi kelembapan sesuai agar tanah tidak kembali memadat.

Penggemburan tanpa memperbaiki penyebab pemadatan sering hanya memberikan manfaat sementara. Karena itu, pengaturan lalu lintas alat dan pemeliharaan bahan organik tetap diperlukan.

10. Memantau kondisi pori makro secara berkala

Perubahan kondisi pori makro perlu dipantau agar tindakan pengelolaan dapat dievaluasi.

Beberapa indikator yang bisa diamati antara lain:

  1. Kecepatan air meresap ke dalam tanah.
  2. Lama genangan setelah hujan.
  3. Kemudahan akar menembus lapisan tanah.
  4. Keberadaan liang organisme dan saluran akar.
  5. Tingkat kepadatan tanah pada lapisan permukaan dan bawah.
  6. Kondisi agregat ketika tanah digali secara hati-hati.

Pengamatan tersebut memberikan gambaran awal, tetapi tidak menggantikan pengukuran laboratorium jika diperlukan data kuantitatif.

Infiltrasi yang cepat, misalnya, tidak selalu membuktikan bahwa seluruh profil tanah memiliki kondisi pori yang baik. Air mungkin bergerak melalui beberapa saluran besar, sementara bagian tanah lainnya tetap padat.

Contoh Tanah dengan Kandungan Pori Makro Tinggi

Kandungan pori makro dapat ditemukan pada berbagai jenis tanah. Namun, jumlahnya tidak hanya ditentukan oleh nama atau klasifikasi tanah, melainkan juga oleh tekstur, struktur, bahan organik, aktivitas akar, organisme tanah, dan sejarah pengelolaannya.

Contoh Tanah dengan Kandungan Pori Makro Tinggi

Beberapa contoh berikut menggambarkan kondisi tanah yang berpotensi mempunyai pori makro relatif banyak atau jaringan pori yang berfungsi baik.

1. Tanah berpasir dengan susunan partikel yang renggang

Tanah berpasir umumnya mempunyai ruang antarpartikel yang memungkinkan air bergerak relatif cepat. Pada tanah dengan susunan partikel yang renggang, sebagian ruang tersebut dapat termasuk pori makro.

Kondisi ini mendukung drainase dan aerasi, tetapi tidak selalu memberikan kemampuan penyimpanan air yang tinggi.

Tanah berpasir tetap dapat mengalami pemadatan lokal, terutama akibat tekanan mekanis atau terbentuknya lapisan tertentu. Karena itu, pengelolaannya perlu memperhatikan bahan organik, ketersediaan air, dan efisiensi pemupukan.

2. Tanah lempung dengan struktur remah yang stabil

Tanah lempung yang mempunyai struktur remah atau granular stabil dapat memiliki kombinasi pori makro dan mikro yang mendukung pertumbuhan tanaman.

Pori makro terbentuk di antara agregat, sedangkan pori yang lebih kecil membantu menyimpan air. Kombinasi ini memungkinkan air masuk ke tanah sekaligus menyediakan cadangan air bagi tanaman.

Kondisi tersebut sering diupayakan pada lahan pertanian melalui penambahan bahan organik, rotasi tanaman, penutupan permukaan, dan pengurangan pemadatan.

Namun, tidak semua tanah lempung memiliki struktur yang sama. Pengolahan yang salah dapat menyebabkan tanah lempung menjadi padat dan kehilangan sebagian pori makronya.

3. Tanah hutan dengan banyak saluran akar dan liang organisme

Tanah hutan yang mempunyai lapisan seresah, bahan organik, serta aktivitas akar dan organisme yang tinggi dapat mengembangkan jaringan pori yang beragam.

Akar yang tumbuh dan mati menghasilkan saluran di dalam tanah. Organisme tanah juga dapat membentuk liang dan membantu pencampuran bahan organik.

Pada kondisi yang mendukung, jaringan pori tersebut memfasilitasi pergerakan air dan udara serta membantu perkembangan akar tumbuhan.

Meskipun demikian, tidak semua tanah hutan memiliki pori makro tinggi. Kondisi tanah yang sangat basah, jenis bahan induk, dan tingkat pemadatan juga dapat memengaruhi karakteristik porinya.

4. Tanah padang rumput dengan sistem perakaran rapat

Tanah padang rumput dapat memiliki jaringan pori yang berkembang melalui pertumbuhan akar serabut, pergantian akar, dan aktivitas organisme tanah.

Akar yang menyebar di berbagai bagian tanah membantu membentuk jalur pori, sedangkan sisa akar dan bahan organik berkontribusi terhadap pembentukan agregat.

Apabila tanah tidak mengalami pemadatan berat, kombinasi jaringan akar dan struktur agregat dapat mendukung infiltrasi serta pertukaran gas.

Namun, tanah padang rumput yang mengalami tekanan berlebihan akibat ternak atau kendaraan juga dapat kehilangan sebagian fungsi pori makronya.

5. Tanah pertanian yang dikelola secara konservatif

Lahan pertanian dengan pengelolaan yang mempertahankan bahan organik, mengurangi gangguan tanah, dan menjaga aktivitas akar berpotensi memiliki jaringan pori makro yang lebih stabil.

Sistem tersebut dapat mencakup penggunaan tanaman penutup, rotasi tanaman, pengembalian residu panen, dan pembatasan lalu lintas alat berat.

Dalam kondisi yang sesuai, saluran akar dan liang organisme dapat tetap berfungsi sebagai jalur aliran air dan udara.

Akan tetapi, sistem konservasi tidak otomatis menghasilkan pori makro tinggi pada semua lahan. Hasilnya bergantung pada kondisi awal tanah, iklim, jenis tanaman, durasi penerapan, dan tingkat pemadatan.

6. Tanah vulkanik dengan struktur berpori

Sebagian tanah yang berkembang dari bahan vulkanik dapat memiliki struktur agregat dan porositas yang baik. Karakteristiknya bergantung pada mineral penyusun, bahan organik, tingkat pelapukan, dan kondisi pembentukan tanah.

Tanah vulkanik tertentu memiliki agregat yang stabil dan ruang pori yang mendukung pergerakan air serta perkembangan akar. Namun, porositas total yang tinggi tidak selalu berarti proporsi pori makronya juga tinggi.

Karena itu, penilaian pori makro pada tanah vulkanik tetap perlu mempertimbangkan distribusi ukuran pori, kondisi struktur, dan hasil pengukuran yang sesuai.

Ringkasan contoh tanah dan karakteristiknya

Contoh tanah atau lingkungan Potensi pembentukan pori makro Hal yang perlu diperhatikan
Tanah berpasir renggang Ruang antarpartikel dapat mendukung aliran air cepat Cadangan air dan unsur hara dapat terbatas
Tanah lempung berstruktur remah Ruang antargumpalan dapat membentuk jaringan pori Struktur perlu dijaga agar tidak rusak
Tanah hutan Saluran akar dan liang organisme dapat berkembang Kondisi sangat dipengaruhi lingkungan setempat
Tanah padang rumput Jaringan akar dan aktivitas organisme mendukung pori biologis Pemadatan akibat ternak dapat menjadi masalah
Tanah pertanian konservatif Pori dapat dipertahankan melalui pengelolaan jangka panjang Hasil bergantung pada kondisi awal dan praktik budidaya
Tanah vulkanik tertentu Struktur dan agregasi dapat mendukung jaringan pori Porositas tinggi tidak selalu berarti pori makro tinggi

Kesimpulan

Pori makro adalah ruang pori berukuran relatif besar yang berperan penting dalam mengatur infiltrasi, drainase, aerasi, pertumbuhan akar, dan aktivitas organisme tanah.

Pembentukannya dipengaruhi oleh tekstur dan struktur tanah, kestabilan agregat, kandungan bahan organik, aktivitas akar dan organisme, kelembapan, serta tekanan akibat pengolahan dan lalu lintas alat pertanian.

Tanah berpasir, tanah lempung berstruktur remah, tanah hutan, dan lahan pertanian yang dikelola secara konservatif dapat memiliki jaringan pori makro yang berkembang baik, tetapi kondisinya tetap bergantung pada karakteristik setiap lahan.

Upaya mempertahankan pori makro dapat dilakukan melalui penambahan bahan organik, penggunaan mulsa dan tanaman penutup, rotasi tanaman, pengurangan pemadatan, pengelolaan drainase, serta pemantauan kondisi tanah secara berkala.

Dengan menjaga keseimbangan pori makro dan pori mikro, tanah dapat menyediakan air dan oksigen secara lebih sesuai bagi tanaman sekaligus mendukung produktivitas lahan dalam jangka panjang.

Sumber dan Referensi

  • Hanafiah, K. A. (2014). Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Jakarta: Rajawali Pers.
  • Hardjowigeno, S. (2015). Ilmu Tanah. Jakarta: Akademika Pressindo.
  • Sarief, E. S. (1989). Fisika-Kimia Tanah Pertanian. Bandung: Pustaka Buana.
  • Arsyad, S. (2010). Konservasi Tanah dan Air. Bogor: IPB Press.
  • Islami, T., dan Utomo, W. H. (1995). Hubungan Tanah, Air dan Tanaman. Semarang: IKIP Semarang Press.
  • Notohadiprawiro, T. (1998). Tanah dan Lingkungan. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
  • Kartasapoetra, A. G., dan Sutedjo, M. M. (2005). Pengantar Ilmu Tanah: Terbentuknya Tanah dan Tanah Pertanian. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Sutedjo, M. M., dan Kartasapoetra, A. G. (2002). Pengantar Ilmu Tanah: Terbentuknya Tanah dan Tanah Pertanian. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Buckman, H. O., dan Brady, N. C. (1982). Ilmu Tanah. Terjemahan dari The Nature and Properties of Soils. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.
  • Foth, H. D. (1994). Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Terjemahan dari Fundamentals of Soil Science. Jakarta: Erlangga.
  • Pairunan, A. K., dkk. (1985). Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Makassar: Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Timur.
  • Munir, M. (1996). Tanah-Tanah Utama Indonesia: Karakteristik, Klasifikasi, dan Pemanfaatannya. Jakarta: Pustaka Jaya.
  • Dariah, A., dan Rachman, A. (2006). Kajian mengenai sifat fisik tanah dan pengelolaan tanah untuk pertanian berkelanjutan. Bogor: Balai Penelitian Tanah.
  • Balai Penelitian Tanah. (2009). Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Bogor: Balai Penelitian Tanah.
  • Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2019). Publikasi teknis mengenai pengelolaan tanah, konservasi lahan, dan peningkatan produktivitas pertanian. Jakarta: Kementerian Pertanian.