Asimilasi adalah ilmu yang seringkali ditemukan pada subjek ilmu pengetahuan Sosiologi, dimana asimilasi membahas mengenai sosial, masyarakat, kultur, dan budaya.

Asimilasi sendiri seringkali disamakan dengan akulturasi, hal ini karena keduanya memiliki perbedaan yang tidak begitu banyak. Lantas apa sebenernya asimilasi dalam ilmu sosiologi?
Berikut kita akan membahasa mengenai segala hal yang berkaitan dengan asimilasi, mulai dari pengertian, syarat hingga contoh dan hal lainnya yang berkaitan dengan asimilasi
Pengertian Asimilasi
Apa itu asimilasi? Asimilasi seringkali dipahami sebagai pembauran dari dua kebudayaan yang dapat menghasilkan kebudayaan yang baru, selain itu ada beberapa pengertian dan pemaknaan dari asimilasi yang didapat dari para ahlis, sebagai berikut;
1. Menurut KBBI
KBBI mengartikan asimilasi sebagai penyesuaian (peleburan) sifat asli yang dimiliki dengan sifat lingkungan sekitar yang dipengaruhi oleh adanya sifat baru yang datang dari luar.
2. Menurut Wikipedia
Pembauran satu kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli sehingga membentuk kebudayaan baru.
Pembauran disini diartikan sebagai pencampuran atau peleburan yang berasal dari dua kebudayaan atau lebih yang dapat menghasilkan kebudayaan baru.
Namun, ada pula yang mengartikan Dalam istilah linguistik, asimilasi merupakan proses perubahan bunyi yang menyebabkannya mirip atau sama dengan bunyi lain yang ada di dekatnya, seperti sabtu dalam bahasa Indonesia yang diucapkan saptu.
3. James Danandjaja
Menurut James, ia mengatakan bahwa similasi ialah suatu adaptasi sebuah kelompok masyarakat, dimana kelompok tersebut mempunyai budaya yang berbeda baik dalam hal biodata dan ciri / ciri masing – masing yang memperlambat pembentukan dan pembentukan budaya suatu kelompok. budaya baru.
Dari pengertian – pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa asimilasi adalah proses pencampuran dua kebudayaan atau lebih dengan meninggalkan atau menghapus kebudayaan lama dan menghasilkan kebudayaan baru pada suatu lingkungan masyarakat.
Dan dapat dipahami bahwa asimilasi berbeda dengan akulturasi, dimana asimilasi dapat melahirkan kebudayaan baru yang merupakan hasil dari dua kebudayaan, sedangkan akulturasi hanya pembauran dua kebudayaan tanpa adanya kebudayaan baru.
Syarat Asimilasi
Asimilasi memiliki syarat yang harus ada agar asimilasi dapat berjalan atau terjadi pada suatu lingkungan dan dapat menjadi factor pemicu terjadinya asimilasi. Beberapa syarat – syarat tersebut diantaranya;
- Adanya kelompok yang memiliki kebudayaan yang berbeda
syarat ini menjadi mutlak ada dalam asimilasi agar kebudayaan yang berbeda tersebut dapat membaur nantinya.
- Terjadi hubungan yang intensif dan konsisten antar masing-masing individu dan kelompok dalam waktu yang cukup lama.
Hubungan yang intensif dan konsisten ini diartikan kebudayaan yang berbeda tersebut memiliki komunikasi jangka panjang yang terjadi secara kontinu, intens dan konsisten
- Masing masing kebudayaan tiap kelompok tersebut dapat menyesuaikan dan berubah satu sama lain.
Kebudayaan yang berbeda tadi diharuskan untuk dapat menerima satu sama lain, berbaur, bercampur dan menyesuikan satu dengan yang lainnya.
Faktor Pendorong Asimilasi
Selain dari persyaratan asimilasi menyeluruh di dalam terbentuknya asimilasi itu, setidaknya terdapat berbagai faktor-faktor yang mampu menjadi pendorong serta penghalangnya Selain memiliki syarat, asimilasi juga didampingi dengan factor pendukung yang memicu terjadinya asimilasi di tengah-tengah masyarakat.
Apa saja yang menjadi factor pendukung dari asimilasi, berikut factor – factor nya;
1. Sikap toleransi
Sikap toleransi atau saling menghargai akan memberikan dampak yang besar pada perkembangan asimilasi yang ada, jika sikap ini diterapkan ditengah – tengah masyarakat maka asimilasi akan mudah dilakukan.
2. Kesempatan yang sama dalam bidang ekonomi
Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi ketimpangan yang nyata ditenga masyarakat, maka kesempatan yang sama di bidang ekonomi akan berpengaruh secara tidak langsung pada proses asimilasi, dengan adanya kesempatan yang sama ini masyarakat akan mudah melakukan pembauran kebudayaan atau sifat dari dua lingkungan yang berbeda.
3. Sikap menghormati dan menghargai orang asing dan kebudayaannya
Sikap ini hampir sama dengan sikap toleransi, kita sebagai masayarakt lokal diharapkan mampu menghargai kebudayaan asing yang berasal dari luar sehingga orang lain juga akan menghargai kebudayaan kita dan proses asimilasi akan mudah di kembangkan.
4. Sikap terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat
Sikap ini mengindikasikan perlunya sikap keterbukaan dari kalangan yang berkuasa untuk mendorong terjadinya asimilasi.
5. Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan universal
Persamaan unsur-unsur kebudayaan ini diartikan sebagai suatu persamaan yang bersifat universal 9umum) dan dapat diterima baik di suatu lingkungan masyarakat.
6. Perkawinan campuran antarkelompok yang berbeda budaya
Dahulu saat Indonesia dijajah, seringkali terjadi perkawaninan dari dua kebudayaan yang berbeda, hal ini melahirkan terjadinya asimilasi karena perkawaninan tersebut akan melahirkan kebudayaan baru.
Baca Juga : Pengertian Budaya
Faktor Penghambat Asimilasi
Selain factor pendukung, asimilasi juga memiliki factor penghambat, yang mana factor ini akan menghambat secara langsung ataupun tidak proses asimilasi. Apa saja factor-faktor penghambat asimilasi, berikut uraiannya;
- Pengambat asimilasi ialah adanya kebudayaan dalam masyarakat yang terisolasi, atau juga bahkan dalam hal ini kebudayaan yang itu memilih untuk menutup diri serta juga tetap kekeh pada pendiriannya. Contohnya seperti, dalam kasus kehidupan suku pedalaman Baduy, Provinsi Banten serta juga Suku Pedalaman di Padang, Sumatra Barat.
- Minimnya wawasan serta juga pengetahuan mengenai beragam kemajuan yang ada.
- Terdapatnya prasangka negatif didalam masyarakat terhadap kelompok baru yang datang di lingkuangnnya.
- Perbedaan mencolok pada ciri-ciri fisik, yang akhirnya itu membuat masyarakat berprasangka beda serta juga malah memunculkan masalah-masalah sosial.
- Adanya kekuasaan yang di dapatkan oleh golongan mayoritas yang mempersoalkan adanya budaya baru didalam masyarakat, gangguan tersebut dapat bentuk aturan yang ketat atau juga dalam bentuk penindasan didalam kehidupan bermasyarakat.
- Kelompok yang terasing (biasanya kelompok minoritas)
- Kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan baru yang dihadapi oleh masyarakat
- Prasangka negatif terhadap pengaruh kebudayaan baru. Kekhawatiran ini dapat diatasi dengan meningkatkan fungsi lembaga-lembaga kemasyarakatan
- Perasaan bahwa kebudayaan kelompok tertentu lebih tinggi daripada kebudayaan kelompok lain. Kebanggaan berlebihan ini mengakibatkan kelompok yang satu tidak mau mengakui keberadaan kebudayaan kelompok lainnya
Contoh Asimilasi
Asimilasi memiliki banyak contoh yang bisa kita temukan dikehidupan sehari-hari, contoh asimilasi sendiri terbagi ke dalam beberapa contoh, seperti berikut ini;
1. Contoh Asimilasi di Indonesia
Beragam kegiatan serta contoh yang dapat kita jadikan refrensi untuk memahami asimilasi itu misalnya saja yang sangat dekat dengan kehidupan kita, yaitu Musik Dangdut.
Musik dangdut ini merupakan salah satu bentuk asimilasi yang di dapatkan oleh masyarakat Indonesia dari peleburan didalam Musik India.
Keberadaan musik dangdut di Indonesia ini dianggap sesuai dengan cerminan musik tradisional sehingga masyarakat luas dapatdengan mudah menerimanya.
2. Contoh Asimilasi Budaya
Aspek yang lainnya, dari proses asimilasi yang melekat ialah budaya/kebudayaan. Contoh dari asimilasi dalam budaya ini misalnya seperti dalam ajaran Agama Hindu dikenal dengan adanya peringatan 3 harian, 7 harian, 40 harian.
Sebab sejarah Agama Hindu itu menjadi kepercayaan pertama masyarakat Indonesia, serta lambat laun Islam datang. Tradisi tradisional tersebut kemudian di lakukan penyesuaian dengan adat setempat.
Dan dalam Agama Islam sampai saat ini juga banyak yang melakukan peringatan 3 harian, 7 harian, dan juga 40 harian.
Meski dalam bentuk yang berbeda tradisi ini seolah sudah mendarah daging didalam kehidupan masyarakat, tanpa adanya konflik sosial yang bisa mengacauakan keteraturan sosial.
3. Contoh Asimilasi dalam Kehidupan Seharai-hari
Contoh lainnya, mengenai asimilasi didalam kehudupan sehari-hari misalnya saja seperti dalam penggunakan sendok makan, yang umumnya sendok makan ialah prilaku yang banyak dilakukan oleh masyarakat di Eropa/barat, sebagai bekas jajahan negara Eropa, akhirnya prilaku tersebut kemudian di contoh dalam kehidupan masyarakat kita, sampai saat ini.
4. Contoh Asimilasi dalam Masyarakat
Asimilasi didalam masyarakat, misalnya saja seperti soal pengenalan dengan pakaian bikini yang banyak disebarluaska oleh turis asing, selain dari itu juga ada pacaran, hamil di luar nikah, serta lain sebaginya.
Segala kejadian tersebut banyak terjadi di masyarakat Indonesia, apabila tidak dilakukan antisipasi yang baik, maka lambat laut budaya buruk yang dapat mengancam identitas masyarakat Indonesia ini dapat menjadi salah satu bentuk asimilasi.
- Adanya budaya zina/hubungan pra nikah berkedok pacaran yang notabene bukan kebudayaan Indonesia.
- Masyarakat Indonesia yang ikut-ikutan turis asing mengenakan pakaian bikini di Pantai.
- Adanya pembangunan gereja katedral (pengaruh Eropa Barat karena memperkenalkan agama Katolik)
- Agama Hindu di Bali, merupakan hasil dari perpaduan budaya kepercayaan animisme tradisional dengan agama Hindu yang dibawa dari India.
- Musik Hip Hop Jawa. Dikenal sebagai budaya Amerika dengan teknik menyanyi rap. Musik hip hop kemudian dikombinasikan dengan budaya Jawa sehingga menghasilkan sub-genre hip hop Jawa. Hip hop Jawa menggunakan lirik bahasa Jawa dengan instrumen musik daerah.
- Bangunan Masjid. Contoh asimilasi dapat dilihat pada masjid dengan corak Tionghoa. Masjid merupakan tempat ibadah umat Islam. Namun menggunakan corak Tionghoa khas agama Konghucu sehingga menghasilkan proses asimilasi yang unik.
- Seni Kaligrafi. Seni kaligrafi merupakan budaya Islam berupa seni aksara indah dengan huruf bahasa Arab. Kesenian ini kemudian dipadukan dengan budaya Jawa sehingga menghasilkan kaligrafi Jawa yang unik. Bentuk kaligrafi ini kemudian diimplementasikan di daerah lainnya di Indonesia.
Asimilasi terkadang berperan penting dalam kehidupan sehari-hari, hal ini sebagai suatu pembelajaran terhadap kebudayaan yang dapat melahirkan kebudayan baru dari hasil pembauran dua kebudayan atau lebih, dari asimilasi kita juga belajar toleransi, sikap menghargai dan dapat mempelajari kebudayaan orang lain agar lebih menambah wawasan.
Sehingga asimilasi dapat berproses menjadi suatu hal yang positif, melahirkan nilai-nilai positif dan mengembangkan norma positif terhadap kebudayaan yang berbeda-beda.
Namun, seringkali tanpa disadari kadang kita juga menghambat proses asimilasi dengan sikap intoleran dan mudah meremehkan atau berburuk sangka apda kebudayaan orang lain. Sehingga hal ini akan berujung tidak baik.
Semoga dengan mempelajari asimilasi dan segala hal yang berkaitan dengan asimilasi dapat mengembangkan sifat toleransi kita dan dapat menerima kebudayaan orang lain dengan lebih baik.

Perkenalkan nama saya Rita Elfianis, Seorang tenaga pengajar di Universitas Islam Negeri Suska RIAU. Semoga artikel yang dibuat bermanfaat