Proses dan Sistem Ekskresi Hewan Cacing

Diposting pada

Tahukah Anda tentang Proses dan Sistem Ekskresi Hewan Cacing? Sama halnya dengan manusia, hewan juga mempunyai sistem ekskresi.

Proses dan Sistem Ekskresi Hewan Cacing
Proses dan Sistem Ekskresi Hewan Cacing

Bagi yang belum tahu bahwa sistem ekskresi merupakan sebuah sistem di mana proses pengeluaran zat-zat sisa dilakukan.

Zat-zat sisa ini merupakan sebuah hasil metabolisme yang sudah tidak digunakan lagi. Jadi, tubuh akan menyerap zat-zat yang bermanfaat kemudian zat yang tidak bermanfaat akan dibuang.

Sama dengan manusia, sistem ekskresi yang dimiliki hewan juga beragam. Terdapat berbagai alat pengeluaran yang dimiliki ekskresi.

Antara hewan yang satu dengan hewan yang lainnya pun alat pengeluarannya tidak sama. Semakin tinggi tingkatan atau kelas hewan tersebut, maka sistem ekskresinya akan semakin kompleks.

Proses dan Sistem Ekskresi pada Hewan Cacing

Berikut ini kami akan memberikan penjelasan tentang seperti apa sistem ekskresi yang dimiliki oleh cacing. Perlu kamu tahu bahwa cacing juga memiliki sistem ekskresi.

Namun tentunya sistem pengeluaran yang dimiliki oleh cacing tidak sama dengan hewan yang lainnya.

Maka dari itu, kamu bisa menyimak baik-baik informasi yang akan kami jelaskan di bawah ini. Dalam hal ini kami akan membahas tentang sistem ekskresi cacing tanah dan juga cacing pipih.

1. Sistem Ekskresi Cacing Pipih

Cacing pipih atau yang juga dinamakan Filum Platyhelminthes mempunyai alat ekskresi yang sederhana. Kita ambil contoh Planaria.

Pada hewan ini, alat ekskresinya berupa sela api yang terletak di bagian kanan dan juga kiri tubuhnya. Setiap sel tapi yang ada pada tubuh makhluk tersebut mempunyai rambut getar silia.

Sementara itu untuk saluran yang berperan dalam menjalankan proses ekskresi ini dinamakan protonefridium. Pergerakan yang dilakukan rambut getar dapat menarik air dan juga zat terlarut ke sel api.

Selanjutnya air dan juga zat terlarut tersebut akan disaring. Getaran silia inilah yang juga akan mendorong sisa metabolisme agar bisa keluar dari tubuh dengan melalui suatu lubang pengeluaran. Lubang tersebut dinamakan nefridiopori.

2. Sistem Ekskresi Cacing Tanah

Lalu bagaimana dengan sistem ekskresi yang dimiliki cacing tanah? Sama-sama merupakan makhluk tanpa tulang belakang alias invertebrata, cacing tanah atau Filum Annelida mempunyai alat ekskresi yang berbeda.

Cacing tanah mempunyai alat ekskresi yang khusus dan terdapat pada setiap segmen tubuhnya.

Setiap segmen pada tubuh cacing tanah memiliki sepasang nefridium. Namun hanya pada segmen pertama dan juga segmen terakhir yang tidak memiliki alat ini.

Nefridium memiliki corong bersilia yang terbuka. Letaknya berada di bagian sekat pemisah antara segmen tubuh di mana alat ini dinamakan nefrostom.

Nefrostom memiliki fungsi penting yaitu untuk menarik cairan tubuh dari satu segmen ke segmen yang lainnya.

Kemudian untuk sisa metabolisme akan dikeluarkan melewati sebuah lubang. Lubang inilah yang dinamakan nefridiopori.

Pada saat silia yang ada di nefrostom bergetar, cairan tubuh yang ada di segmen sebelahnya mengalir menuju nefridium.

Di nefridium inilah zat yang bermanfaat seperti glukosa serta ion-ion akan diserap oleh darah. Selanjutnya keduanya akan dialirkan menuju pembuluh kapiler.

Sementara untuk zat-zat sisa seperti senyawa nitrogen, air, dan juga garam yang tidak dibutuhkan tubuh akan dikeluarkan melalui nefridiopori.

Baca Juga : Ciri dan Habitat Cacing Tanah

Lalu Bagaimana dengan Sistem Ekskresi Pada Belalang?

Ketika membahas tentang sistem ekskresi yang dimiliki cacing, terkadang kita juga tidak bisa mengesampingkan seperti apa sistem ekskresi yang dimiliki belalang.

Organ ekskresi yang dimiliki belalang dinamakan pembuluh Malpighi. Organ ini memiliki bentuk seperti sekumpulan benang halus berwarna putih kekuningan.

Benang ini akan melekat pada  dinding usus. Mengenai proses ekskresi pada belelang dimulai dari hemolimfa. Hemolimfa merupakan sebuah cairan yang digunakan untuk kebutuhan sirkulasi yang melewati pembuluh Malpighi.

Pada saat itu juga berlangsung proses pemindaian urea, ion K, Cl, sampah nitrogen, dan air. Perpindahan tersebut berlangsung dari hemolimfa menuju pembuluh Malpighi.

Kemudian air dan juga zat yang masih bermanfaat untuk tubuh seperti ion K, Cl, maupun air akan diserap kembali pada rektum. Selanjutnya akan disebarkan ke seluruh bagian tubuh oleh hemolimfa.

Sementara itu, zat yang di dalamnya terdapat sampah nitrogen akan diendapkan dan nantinya akan menjadi kristal asam urat. Selanjutnya akan dikeluarkan bersamaan dengan fases melalui anus.

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan terkait seperti apa sistem ekskresi yang dimiliki cacing dan juga belalang.

Kesimpulannya, baik cacing pipih dan cacing tanah memiliki sistem ekskresi  yang berbeda. Begitu juga jika kamu membandingkannya dengan belalang. Semoga bermanfaat.

Baca Juga : Cara Budidaya Cacing Sutra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *