Nusantara Adalah : Pengertian, Sejarah, Konsep dan Wilayah

Nusantara adalah istilah yang paling sering didengar oleh masyarakat Indonesia. Kata Nusantara sering dipakai untuk menggambarkan wilayah Indonesia diantara Sumatra dan Papua.

Nusantara Adalah Pengertian, Sejarah, Konsep dan Wilayah
Nusantara Adalah Pengertian, Sejarah, Konsep dan Wilayah

Sebagai masyarakat yang tinggal di negara kepulauan, apakah kamu sudah yakin telah mengenal lebih dalam mengenai istilah nusantara? Atau hanya sekedar tahu istilah tersebut, akan tetapi tidak tahu mengenai pengertian, konsep, dan wilayah nusantara?

Kali ini, mari kita bahas semua hal mengenai istilah ‘nusantara’ agar nilai kebangsaan yang ada didalam diri kita masing-masing semakin tinggi.

Pengertian Nusantara

Apa itu nusantara? pengertian nusantara adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan wilayah kepulauan Indonesia, istilah ini sudah digunakan oleh masyarakat Indonesia sejak abad ke-12 sampai abad ke-16 yang pertama kali dicatat dalam sebuah literatur berbahasa Jawa Pertengahan menggambarkan sebuah konsep kenegaraan yang telah dianut oleh kerajaan Majapahit.

Nusantara saat itu digunakan dalam konteks politik, lalu secara politis kawasan nusantara terdiri dari rangkaian pulau yang terdapat diantara benua Asia dan benua Australia dan termasuk juga Semenanjung Malaya.

Secara morfologi, kata nusantara diambil dari Bahasa Jawa Kuno yang terdiri dari kata “Nusa” yang artinya “pulau atau kepulauan” dan kata “Antara” yang artinya “lain atau seberang”.

Jika berdasarkan wawasan nusantara, definisi atau pengertian nusantara merupakan sebuah sudut pandang atau cara pandang, dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri, orang lain dan lingkungannya yang sangat beragam, berbeda dan bernilai yang juga mengutamakan kesatuan dan persatuan bangsa dan kesatuan wilayah dalam menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, wawasan nusantara tersebut juga tercantum dalam Pancasila dan berdasarkan UUD 1945 serta ada pula di ketetapan MPR yang berusaha mencapai tujuan nasional.

Sejarah Nusantara

Kata Nusantara pertama kali diucapkan oleh Gajah Mada, seorang Patih dari Kerajaan Majapahit yang pada saat itu mengucapkan sumpah ketika upacara pengangkatan Gajah Mada menjadi Patih Amangkubumi Majapahit, saat ini dikenal dengan nama Sumpah Palapa.

Sumpah Palapa tersebut, berisi “Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring Seran. Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, Samana isun amukti palapa.” artinya adalah “Jika telah mengalahkan Nusantara, saya baru akan melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikian saya baru akan melepaskan puasa.”

Pada masa tersebut, Jawa Tengah dan Jawa Timur tidak masuk dalam istilah Nusantara yang dimaksudkan oleh Gajah Mada karena kerajaan-kerajaan di tanah Jawa sudah berada langsung dibawah pemerintahaan Kerajaan Majapahit.

Ada tujuh kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa yang telah memberlakukan aturan Majapahit, seperti Kerajaan Singasari, Kerajaan Kahuripan, Kerajaan Matahun, Kerajaan Pajang, Kerajaan Daha, Kerajaan Lasem, dan Kerajaan Wengker. Maka dari itu, Nusantara digunakan untuk menyebut daerah diluar Kerajaan Majapahit yang ingin ditaklukan.

Setelah Kerajaan Majapahit telah bubar, istilah Nusantara terlupakan dan baru kembali digunakan pada abad ke-20 yang dihidupkan kembali oleh Ki Hajar Dewantara sebagai salah satu kekeliruan satu nama alternatif untuk negara merdeka yang melanjutkan Hindia Belanda atau Nederlandsch Oost-Indie yang belum terwujud.

Saat nama “Indonesia” digunakan dan telah disetujui untuk dipakai, maka kata Nusantara akhirnya dipakai sebagai sinonim untuk menggambarkan kepulauan Indonesia yang luas. Pengertian ini juga yang hingga kini masih dipakai di Indonesia.

Setelahnya karena adanya dampak perkembangan politik di indonesia, maka istilah ini dipakai juga untuk menggambarkan kesatuan geografi dan antropologi kepulauan Indonesia yang terletak di selang benua Asia dan Australia, termasuk Semenanjung Malaya namun biasanya tidak mencakup negara Filipina.

Saat ini, istilah “nusantara” adalah istilah untuk Kepulauan Melayu (Malay Archipelago), yang juga merupakan suatu istilah yang telah populer pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 ditambah lagi dalam literatur berbahasa Inggris juga sering digunakan.

Konsep Nusantara

Jika berdasarkan konsep kenegaraan Jawa pada abad ke-13 sampai abad ke-15, raja dianggap sebagai Raja Dewa oleh masyarakat atau dalam artian lain, raja adalah seseorang yang memerintah adalah titisan dari dewa.

Maka dari itu, daerah kekuasaan yang diperintah atau dikepalai oleh seorang raja mencerminkan konsep kekuasaan seorang dewa, seperti Kerajaan Majapahit yang dijadikan sebagai teladan oleh tiga bagian wilayah, seperti :

  1. Negara Agung : Daerah yang berada di sekeliling ibu kota kerajaan tempat raja untuk memerintah para pengabdi dan rakyatnya.
  2. Mancanegara : Cakupan seluruh wilayah atau daerah di Pulau Jawa dan Sekitarnya. Seringkali, budaya di daerah mancanegara ini masih memiliki budaya yang serupa dengan Negara Agung akan tetapi berada di daerah perbatasan. Bagian dari mancanegara pada masa itu adalah Pulau Madura dan Pulau Bali.
  3. Nusantara : Pulau lain yang berada di luar Pulau Jawa dan merupakan pulau yang ingin ditaklukan oleh Pulau Jawa. Para pengusaha di daerah tersebut harus membayar sejumlah upeti. Seperti yang dikatakan pada bagian Sejarah Nusantara, bahwa dalam Kitab Negarakertagama wilayah Nusantara mencakup seluruh wilayah modern di Indonesia termasuk wilayah Negara Malaysia, Brunei, Singapura dan sebagian kecil Filipina bagian Selatan.

Diketahui bahwa konsep nusantara pertama kali diucapkan oleh Gajah Mada ketika mengucapkan Sumpah Palapa pada saat upacara di tahun 1336.

Akan tetapi, tidak sedikit sejarawan menduga bahwa konsep nusantara berawal sejak abad sebelumnya oleh Kertanegara pada tahun 1275 karena cakrawala konsep yang dikenal sebagai Mandala Dwipantara ini dipelopori oleh Kertanegara, seorang raja dari Kerajaan Singasari.

Dwipantara adalah istilah yang berasal dari Bahasa Sansekerta yang identik dengan nusantara, sedangkan kata “dwipa” identik dengan arti atau istilah tanah air yang juga dapat diartikan sebagai pulau atau kepulauan.

Jika pada abad ke-20, Ki Hajar Dewantara yang juga dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional ini sempat memperkenalkan istilah nusantara yang mengacu pada Hindia Belanda, tapi dipilihnya istilah tersebut juga sebagai alternatif karena memiliki unsur bahasa asing, yaitu bahasa India.

Alasan lainnya diperkenalkan kata nusantara adalah karena pada masa tersebut, Belanda sebagai penjajah lebih menyukai menggunakan istilah Indie atau India yang menyebabkan kekeliruan atau kebingungan literatur dalam bahasa lain. Tapi tentu saja, definisi ini sangat berbeda dengan definisi pada abad ke-14.

Konsep nusantara juga sangat sering digunakan dalam literatur luar misalnya literatur Eropa yang ditulis dalam Bahasa Inggris dan kemudian juga diikuti oleh literatur bahasa lainnya kecuali Belanda.

Nusantara juga dapat diartikan sebagai gugusan pulau dari Sumatra hingga Maluku yang kemudian disebut “Malay Archipelago” atau dapat diaetikan juga sebagai “Kepulauan Melayu”.

Hal tersebut dicetuskan pada abad ke-19 hingga abad ke-20 yang kemudian semakin populer dan mendunia sebagai nama geografis setelah Alfred Russel Wallace menyebutkannya dalam karya monumentalnya.

Sementara Papua dan daerah sekitarnya tidak termasuk kedalam konsep Kepulauan Melayu karena hanya pribumi yang menempati wilayah tersebut dan tidak ada cabang ras Mongoloid seperti Kepulauan melayu dan alasan lainnya adalah penduduk Papua yang memiliki budaya yang sangat berbeda, hal tersebutlah yang memunculkan konsep Kepulauan Melayu atau Malay Archipelago sebagai antropogeografis atau geografis budaya.

Selain itu, ada dua aspek yang menjadikan latar belakang konsep nusantara turut berpengaruh hingga saat ini, seperti :

  1. Aspek Historis : Sebelumnya, Indonesia merupakan negara yang dijajah dan bangsa Indonesia sangat menginginkan menjadi bangsa yang bersatu dengan wilayah yang utuh. Deklarasi Djuanda menjadi salah satu pengaruh lahirnya konsep nusantara melalui aspek historis karena laut tidak lagi dianggap sebagai pemisah tetapi penghubung. Selain itu, Deklarasi Djuanda juga diperjuangkan ketika forum internasional yang akhirnya pada Konferensi PBB menerima The United Nation Convention on The Law of The Sea atau dikenal dengan singkatan UNCLOS. Berdasarkan konvensi tersebut, Indonesia diakui sebagai negara dengan asas negara kepulauan.
  2. Aspek Geografis dan Sosial Budaya : Indonesia yang juga disebut sebagai bangsa heterogen memiliki keunikan tersendiri yang menjadikan bangsa Indonesia harus memiliki visi yang kuat dan tepat agar menjadi bangsa yang utuh. Ketetapan MPR tahun 1993 dan tahun 1998 tentang GBHN, wawasan nusantara dianggap sebagai wawasan nasional yang merupakan cara pandang serta sikap bangsa Indonesia yang mengenai diri dan lingkungan serta diikuti pula dengan mengutamakan kesatuan dan persatuan wilayah dalam menyelenggarakan kehidupan berbangsa dan bernegara untuk mencapai tujuan nasional secara bersama-sama.

Baca Juga : Pengertian Budaya Adalah

Wilayah Nusantara

Dalam sejarah, wilayah nusantara masuk kedalam kawasan utama dari daratan dibentuk dari dua ujung Superbenua Pangaea di Era Mesozoikum sekitar 250 juta tahun yang lalu. Namun bagian dari lempeng benua tersebut berbeda.

Tapi, pada Zaman Es yang terakhir wilayah nusantara sudah terbentuk selat luhur dari selang Paparan Sunda di barat dan Paparan Sahul dari timur.

Pulau Sulawesi dan pulau sekitarnya terdapat dua benua yang berseberangan. Kepulauan ini pertama kali dipopulerkan oleh sejarawan dan ilmuwan biologi berbakat yang sekarang dinamakan sebagai Wallacea, suatu kawasan yang memiliki flora dan fauna yang unik serta fosil-fosil hewan laut ditemukan di kawasan ini.

Nusantara terletak di kawasan tropik, yang memiliki manfaat laut hangat dan mendapat penyinaran cahaya matahari sambung-menyambung sepanjang tahun dengan intensitas yang tinggi.

Keadaan ini mendorong terbentuknya ekosistem yang sangat kaya dengan keanekaragaman baik tumbuhan maupun hewan. Lautnya yang hangat dan menjadi titik pertemuan dua samudera yang sangat kaya akan sumber daya laut.

Terumbu karang di kawasan nusantara merupakan tempat dengan keanekaragaman hayati sangat tinggi. Banyak penduduk asli yang hidup dengan mengandalkan kekayaan laut dan penduduk setempat juga memahami navigasi pelayaran landasan.

Pada masa kejayaan Majapahit, setidaknya ada sekitar 30an kerajaan Hindu-Budha dan 50an kerajaan islam yang sudah ditaklukan oleh kerajaan Majapahit.

Kitab Negarakertagama, menjelaskan atau sudah mencantumkan wilayah-wilayah Nusantara, yang pada masa sekarang bisa mencakup beberapa wilayah modern di Indonesia, seperti daerah Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi dan pulau disekitarnya, Kepulauan Maluku, dan Papua Barat, serta wilayah di luar Indonesia seperti, Negara Malaysia, Singapura, Brunei dan beberapa kecil Filipina bagian selatan.

Sekarang ini, wilayah Nusantara sendiri adalah semua wilayah di bawah negara Indonesia dari sabang sampai merauke. Maka dari itu, istilah nusantara saat ini digunakan untuk menggambarkan Indonesia sebagai negara kepulauan.

Itulah beberapa hal mengenai nusantara, mulai dari pengertian, sejarah, konsep dan wilayah yang harus kamu ketahui. Setelah membaca semuanya, semoga kamu lebih memahami lebih mendalam mengenai istilah nusantara, ya!

Tinggalkan komentar