Pengertian, Faktor, Dampak dan Solusi Urbanisasi

Tanpa disadari, penduduk di wilayah perkotaan semakin padat. Pada tahun 1920, proporsi penduduk perkotaan berada pada angka 5,8 persen dari seluruh penduduk yang ada.

Pengertian, Faktor, Dampak dan Solusi Urbanisasi
Pengertian, Faktor, Dampak dan Solusi Urbanisasi

Sedangkan pada dua dasawarsa ini, pertumbuhan penduduk terutama di wilayah perkotaan menunjukkan pertumbuhan hingga mencapai 4,60 persen per tahun pada tahun 1971-1980 dan jumlah ini meningkat menjadi 5,36 persen per tahun pada 1980-1990.

Pertambahan penduduk terutama di wilayah perkotaan yang semakin meningkat terjadi karena urbanisasi yang meningkat dengan cepat di Indonesia.

Urbanisasi ini bahkan membuat laju pertumbuhan penduduk di perkotaan mencapai sekitar dua kali lipat dibandingkan pertumbuhan penduduk yang hanya 1,97 persen per tahun dan mencapai 65 persen karena terjadinya migrasi.

Diperkirakan, pada 2025 pertumbuhan penduduk di Indonesia akan mencapai 57,39 persen.

Urbanisasi memang memiliki berbagai pengaruh tak hanya terhadap kehidupan perkotaan tetapi juga kehidupan pedesaan.

Sebelum mengetahui mengenai faktor, dampak, hingga solusi dari urbanisasi, maka terlebih dahulu mari mengetahui mengenai pengertian dari urbanisasi.

Pengertian Urbanisasi

Apa itu urbanisasi? Secara umum, pengertian urbanisasi adalah perpindahan masyarakat dari desa ke kota.

Namun, tentu saja ada beberapa pendapat ahli yang mendefinisikan mengenai pengertian dari urbanisasi yang tentu memiliki perbedaan antara satu sama lainnya.

H De Goede

Urbanisasi dalam pendapat J.H De Goede merupakan perpindahan penduduk ke kota yang bisa menyebabkan semakin meningkatnya jumlah tenaga kerja di kota terutama pada sektor industri dan sektor jasa.

Tak hanya meningkatkan jumlah tenaga kerja, urbanisasi juga menjadi salah penyebab pemukiman sehingga muncul kota baru atau pemukiman baru yang mungkin berbentuk pemukiman kumuh.

Bintarto

Bintarto mendefiniskan urbanisasi sebagai peningkayan jumlah serta kepadatan penduduk kota yang diakibatkan dari pertumbuhan penduduk karena kenaikan tingkat fertilisasi dari penghuni kota maupun karena adanya pertambahan penduduk yang bermukim dan berkembang di kota.

Perkembangan penduduk ini biasanya juga akan memengaruhi perkembangan ekonomi, budaya, serta perkembangan teknologi.

Tak hanya berdampak pada kota, menurut Bintarto, urbanisasi juga bisa mengubah suasana kehidupan di desa menjadi seperti suasana kehidupan di kota.

Paul Knox

Berbeda dengan dua pendapat ahli di atas yang mengedepankan urbanisasi pada perpindahan penduduk, Paul Knox menambahkan bahwa pertambahan proporsi penduduk yang berdiam di daerah kota juga bisa terjadi karena perluasan daerah kota.

Sehingga, menurut pendapat dari Paul Knox, urbanisasi bisa terjadi karena proses perubahan ukuran suatu kota dengan penambahan komposisi penduduk yang juga mengakibatkan terjadinya perubahan struktur ekonomi.

Dr. Herlianto

Menurut Prof. Dr. Herlianto, urbanisasi merupakan proses pertumbuhan daerah dari wilayah pertanian menjadi wilayah perkotaan yang bisa ditandai dengan perpindahan kehidupan agrasis yang khas dengan wilayah pedesaan dengan kehidupan industri yang menjadi ciri khas wilayah perkotaan.

Urbanisasi juga bisa diartikan sebagai daerah pedesaan yang berkembang menjadi daerah perkotaan atau memiliki ciri-ciri seperti kota.

Dari pendapat tersebut, bisa diketahui pula bahwa urbanisasi bisa menjadikan proses perpindahan penduduk dari desa ke ke kota atau bisa diukur dengan peralihan pekerjaan dari pertanian ke pekerjaan industri di wilayah perkotaan.

Pengertian yang disampaikan beberapa ahli mengenai urbanisasi memang bisa beragam, tetapi secara umum pengukuran urbanisasi bisa menggunakan proporsi penduduk yang bertempat tinggal di wilayah perkotaan.

Dalam pengukuran tersebut, terdapat tiga komponen utama yang bisa menentukan dari pengukuran urbanisasi yaitu migrasi yang terjadi dari desa ke kota, pertumbuhan penduduk alami, serta reklasifikasi wilayah.

Dalam urbanisasi, pengukuran pun biasanya didasarkan pada presentase penduduk yang tinggal dan dalam pengukuran presentase tersebut, terdapat tiga kriteria yang bisa menentukan wilayah perkotaan yaitu kepadatan penduduk yang mencapai minimal 5.000 orang per km persegi.

Karena wilayah perkotaan identik dengan wilayah industri  maka jumlah pekerja atau rumah tangga yang bekerja pada sektor pertanian pun hanya mencapai 25 persen bahkan bisa lebih kecil.

Faktor Urbanisasi

Tentunya beragam faktor bisa menjadi alasan banyak penduduk desa yang tertarik melakukan urbanisasi. Dari beragam faktor yang menjadi alasan seseorang melakukan urbanisasi. Beberapa alasan tersebut antara lain

Kondisi Ekonomi

Tak bisa dipungkiri, kondisi ekonomi menjadi faktor terbesar yang memengaruhi seseorang melakukan urbanisasi atau migrasi.

Lapangan pekerjaan yang makin minim serta peningkatan angka kelahiran yang membuat penduduk di wilayah asal semakin banyak sehingga semakin sulit pula mendapatkan pekerjaan yang bisa berakibat tak terpenuhinya kebutuhan dasar.

Keinginan untuk meningkatkan taraf hidup bisa menjadi faktor pendorong yang membuat seseorang melakukan urbanisasi.

Bila dikaitkan dengan kondisi ekonomi, maka bisa pula diketahui bahwa terdapat kaitan antara peningkatan serta penurunan PDB dalam suatu negara dengan tingkat urbanisasi di negara tersebut.

Fasilitas yang Memadai

Fasilitas juga bisa menjadi salah satu faktor penarik bagi penduduk di wilayah pedesaan untuk melakukan urbanisasi ke wilayah perkotaan.

Kemudahan akses terhadap hasil pembangunan ini bisa mempermudah perolehan pendidikan yang layak, layanan kesehatan yang mudah diakses hingga pendapatan yang memadai.

Kemudahan akses ini dapat meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia. Berkaitan dengan Indeks Pembangunan Manusia, di Indonesia pada 2017 tren IPM mengalami peningkatan dari 68,9 pada 2014 menjadi 70,81 pada 2017.

Kemudahan Akses Terhadap Fasilitas Dasar

Akses pelayanan dasar seperti ketersediaan air bersih, sanitasi yang layak, hingga listrik yang merata juga bisa menjadi faktor penarik seseorang melakukan migrasi atau urbanisasi.

Namun, kondisi kelayakan sanitasi dan air bersih mungkin berkebalikan dengan prinsip urbanisasi yang selama ini dilakukan dari desa ke kota karena data menunjukkan bahwa persentasi wilayah di daerah Jawa-Bali yang bisa mengakses air yang layak terutama di wilayah perkotaan lebih rendah dibandingkan di wilayah pedesaan terutama perihal air minum yang layak.

Sedangkan untuk pemerataan listrik, wilayah perkotaan persebaran wilayah yang telah terjangkau listrik lebih banyak dibandingkan dengan listrik yang tersebar di wilayah pedesaan.

Dalam hal ini, bisa terlihat bahwa baik pengelolaan air bersih maupun keterjangkauan listrik masih belum merata antara desa dan kota dan itu bisa menjadi hal yang memengaruhi terjadinya migrasi.

Kebijakan Pemerintah dan Industri

Meskipun dua hal ini jarang menjadi pertimbangan atau tak banyak yang mempertimbangkan dua faktor seperti kebijakan pemerintah dan industri dalam melakukan migrasi ataupun urbanisasi tetapi beberapa orang mempertimbangkan faktor seperti kebijakan yang memengaruhi lapangan kerja, kemudahan perkembangan usaha, serta perkembangan industri dalam melakukan migrasi hingga urbanisasi.

Misalnya dalam peraturan Kementerian Perindustrian melaporkan bahwa pertumbuhan industri pengolahan non migas mengalami kenaikan pada triwulan pertama 2018 dan kenaikan ini bisa disebabkan salah satunya karena kinerja industri non migas yang mengalami peningkatan.

Peningkatan kinerja industri non migas ini tentu memengaruhi keputusan seseorang untuk melakukan migrasi terkait dengan adanya lapangan pekerjaan karena peningkatan industri tersebut.

Dampak Urbanisasi

Perpindahan penduduk baik itu dari desa ke kota tentu menimbulkan beberapa dampak entah itu dampak secara ekonomi, dampak secara sosial, hingga dampak budaya.

Kebijakan urbanisasi utamanya di Indonesia mulai bergulir ketika masa orde baru dimana adanya kebijakan ekonomi makro yang membuat kota dijadikan sebagai pusat ekonomi.

Selain itu, kebijakan yang muncul terutama di bidang industri yang terpusat di kota utamanya Jakarta juga menjadi salah satu penyebab dari adanya urbanisasi.

Namun, sebelum jauh membahas hal tersebut, mari terlebih dahulu mengetahui mengenai dampak dari adanya urbanisasi baik itu dampak positif maupun dampak negatif.

Peningkatan Kondisi Ekonomi

Sebagian besar masyarakat yang melakukan urbanisasi dari desa ke kota memiliki tujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan meningkatkan kondisi ekonomi.

Hal ini karena kota identik dengan beragam industri sehingga di kota tersedia lebih banyak lapangan kerja dibandingkan tempat asal.

Dengan adanya perpindahan penduduk yang bisa mendapatkan pekerjaan di kota, maka akan makin meningkat pula pendapatan yang diperoleh.

Terutama di kota besar yang penetapan upah minimum kota lebih tinggi dibandingkan di kabupaten yang bukan termasuk wilayah industri.

Akses Kesehatan yang Terjangkau

Pertumbuhan serta perkembangan kota termasuk pula pada pembangunan fasilitas serta infrastruktur yang bertujuan untuk mempermudah kehidupan masyarakat yang tinggal di sana.

Salah satu fasilitas kota yang mungkin masih ada ketimpangan adalah kelengkapan akses kesehatan termasuk layanan kesehatan, dan fasilitas kesehatan.

Kerap kali, tenaga kesehatan yang tersedia di desa juga terbatas sehingga seseorang yang memiliki penyakit tertentu yang tak dapat ditangani oleh tenaga kesehatan di desa harus menempuh perjalanan jauh ke kota.

Hal ini tentu akan menyulitkan seseorang yang memiliki gangguan kesehatan dan membutuhkan perawatan jangka panjang.

Karena hal itulah, melakukan urbanisasi ke kota yang memiliki fasilitas lebih lengkap dan memadai menjadi salah satu pilihan.

Melakukan migrasi ke kota juga bisa dibilang meningkatkan kualitas hidup karena adanya akses kesehatan yang mudah dijangkau sehingga beragam masalah kesehatan pun bisa dengan lebih mudah ditangani.

Peningkatan Sumber Daya Manusia

Bagi yang melakukan urbanisasi dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya atau kemampuan yang dimiliki, maka pilihan melakukan urbanisasi ke tempat dengan sarana pendidikan yang lebih lengkap didukung dengan teknologi yang lebih memadai bisa menjadi pilihan bagi peserta didik atau bagi orang yang ingin meningkatkan kemampuan dalam bidang tertentu.

Penduduk yang Makin Padat

Perpindahan penduduk tentu membutuhkan lahan sebagai tempat tinggal, sehingga dengan makin banyaknya penduduk yang pindah ke kota, maka lahan yang ada di kota pun akan semakin minim.

Terlebih, bila tata ruang kota tak bisa dikelola dengan baik, maka lahan kosong pun bisa menjadi tempat pemukiman baik legal maupun ilegal dan bahkan tempat pengelolaan usaha.

Hal ini tentu semakin mengurangi lahan kosong dan lahan hijau yang tentu masih dibutuhkan oleh warga yang tinggal di daerah perkotaan.

Selain itu, dengan semakin banyaknya penduduk yang tinggal di suatu wilayah, maka akan makin tinggi pula pemanfaatan air tanah sehingga bisa menyebabkan penurunan tanah.

Hal ini tentu membahayakan terutama bila datang bencana alam dan hilangnya pemukiman pesisir karena air laut yang kian naik.

Solusi Urbanisasi

Urbanisasi memang memberikan dampak positif, tetapi dampak negatif seperti lahan kosong yang makin berkurang, peningkatan angka pengangguran karena keterampilan yang dimiliki tak sesuai dengan kebutuhan hingga peningkatan polusi pun menjadi beragam dampak negatif yang bisa terjadi karena adanya urbanisasi.

Karena itulah, perlu dicari solusi dari dampak yang terjadi karena adanya urbanisasi.

Solusi dari dampak urbanisasi sebenarnya bisa dimulai dari tahap pencegahan, yaitu pada pencegahan perpindahan penduduk dari desa ke kota.

Tentunya, hal ini bisa dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan pembangunan di desa.

Pembangunan bisa dimulai dengan pembangunan infrastuktur sehingga masyarakat desa pun bisa merasa tercukupi dengan infrastuktur yang ada di desa dan bila mungkin membutuhkan pergi ke kota hanya dilakukan sesekali dan tidak untuk tinggal menetap.

Pembangunan di desa pun tak hanya berupa infrastruktur tetapi juga pembangunan yang bisa menyerap tenaga kerja seperti menggalakkan kembali industri pertanian yang bisa menyerap banyak tenaga kerja serta pembebasan lahan bagi petani sehingga petani tak kehilangan pekerjaan yang dimiliki.

Tinggalkan komentar