CRISPR-Cas9 merupakan salah satu teknologi penyuntingan genom yang berkembang sangat pesat dalam bidang biologi molekuler, bioteknologi, genetika, dan pemuliaan tanaman.

Teknologi ini memungkinkan peneliti menargetkan bagian tertentu dari DNA dan melakukan perubahan pada wilayah genom yang telah ditentukan.
Kemampuan tersebut membuat CRISPR-Cas9 menjadi salah satu pendekatan penting dalam penelitian fungsi gen dan pengembangan tanaman dengan karakter tertentu.
Dalam bidang pertanian, teknologi penyuntingan genom membuka peluang untuk mempercepat pengembangan tanaman dengan sifat yang diinginkan.
Target penyuntingan dapat berkaitan dengan ketahanan terhadap penyakit, toleransi terhadap kekeringan dan salinitas, produktivitas, kualitas hasil, umur berbunga, ukuran tanaman, kandungan nutrisi, maupun karakter agronomis lainnya.
Berbeda dengan pemuliaan tanaman konvensional yang mengandalkan persilangan dan seleksi selama beberapa generasi, CRISPR-Cas9 memungkinkan perubahan diarahkan pada gen atau wilayah genom yang telah diketahui.
Teknologi ini juga berbeda dengan transgenik klasik yang umumnya bertujuan memasukkan materi genetik baru ke dalam tanaman. Pada CRISPR-Cas9, perubahan dapat dilakukan terhadap gen yang memang sudah terdapat di dalam genom tanaman.
Namun, CRISPR-Cas9 tidak berarti bahwa setiap perubahan dapat dilakukan secara sempurna atau tanpa risiko. Keberhasilan penyuntingan dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk pemilihan gen target, desain guide RNA, keberadaan PAM, metode pengiriman, karakteristik genom tanaman, efisiensi regenerasi, serta mekanisme perbaikan DNA.
Karena itu, tanaman hasil penyuntingan tetap membutuhkan proses seleksi, verifikasi molekuler, evaluasi fenotipe, dan pengujian lebih lanjut.
Artikel ini membahas CRISPR-Cas9 secara lengkap, mulai dari pengertian, sejarah perkembangan, prinsip kerja, komponen utama, tahapan penyuntingan, metode pengiriman, jenis perubahan genetik, aplikasi dalam pemuliaan tanaman, kelebihan dan keterbatasan, hingga perbedaannya dengan teknologi transgenik.
Pengertian CRISPR-Cas9
CRISPR-Cas9 adalah teknologi penyuntingan genom yang memanfaatkan sistem pertahanan alami yang ditemukan pada mikroorganisme untuk mengenali dan menghadapi materi genetik asing.
Istilah CRISPR merupakan singkatan dari Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats, yaitu pola pengulangan DNA tertentu yang ditemukan pada genom berbagai mikroorganisme.
Sementara itu, Cas9 merupakan protein yang termasuk kelompok CRISPR-associated proteins. Cas9 mempunyai aktivitas nuklease sehingga dapat memotong DNA ketika diarahkan menuju lokasi target oleh RNA pemandu.
Secara sederhana, CRISPR-Cas9 dapat dibayangkan sebagai sistem pencari dan pemotong DNA. Guide RNA atau gRNA berfungsi memberikan informasi mengenai lokasi DNA yang harus dicari, sedangkan Cas9 bertindak sebagai komponen yang melakukan pemotongan.
Setelah DNA mengalami pemotongan, sel tidak membiarkannya dalam kondisi rusak. Sel mempunyai mekanisme alami untuk memperbaiki DNA. Mekanisme perbaikan inilah yang kemudian dimanfaatkan dalam teknologi penyuntingan genom untuk menghasilkan perubahan tertentu.
Misalnya, apabila pemotongan terjadi pada bagian penting suatu gen, proses perbaikan dapat menghasilkan perubahan kecil berupa penambahan atau penghilangan basa. Perubahan tersebut dapat mengganggu fungsi gen sehingga menghasilkan kondisi yang dikenal sebagai knock-out.
Keunggulan utama CRISPR-Cas9 adalah kemampuannya untuk diarahkan menuju lokasi genom tertentu. Peneliti dapat memilih gen kandidat berdasarkan penelitian genetika, genomik, QTL mapping, marker genetik, atau hasil penelitian sebelumnya.
Meskipun sering disebut sebagai teknologi yang sangat presisi, istilah tersebut harus dipahami secara hati-hati. CRISPR-Cas9 memang dapat diarahkan ke target tertentu, tetapi kemungkinan perubahan pada lokasi lain yang memiliki kemiripan dengan target tetap harus diperhatikan.
Oleh karena itu, desain gRNA dan verifikasi hasil penyuntingan merupakan bagian yang sangat penting. Teknologi ini bukan hanya tentang memotong DNA, tetapi juga tentang memastikan bahwa perubahan yang dihasilkan sesuai dengan tujuan penelitian.
Dalam pemuliaan tanaman, CRISPR-Cas9 menjadi menarik karena dapat digunakan untuk mengubah gen yang sudah ada di dalam tanaman. Apabila fungsi suatu gen diketahui berkaitan dengan karakter yang tidak diinginkan, gen tersebut dapat menjadi kandidat untuk disunting.
Pendekatan ini membuat CRISPR-Cas9 menjadi salah satu komponen penting dalam perkembangan pemuliaan tanaman modern berbasis informasi genom.
Sejarah Perkembangan Teknologi CRISPR-Cas9
Sejarah CRISPR-Cas9 tidak langsung dimulai sebagai teknologi penyuntingan gen. Perkembangannya berawal dari pengamatan terhadap pola DNA yang tidak biasa pada mikroorganisme.

Para peneliti menemukan adanya rangkaian DNA berulang yang dipisahkan oleh segmen DNA unik pada genom bakteri dan archaea. Pada awalnya, fungsi rangkaian tersebut belum dipahami dengan jelas.
Penelitian berikutnya menunjukkan bahwa sebagian segmen di antara pengulangan CRISPR mempunyai kemiripan dengan materi genetik virus atau elemen genetik asing lainnya. Temuan tersebut menjadi petunjuk bahwa CRISPR berkaitan dengan sistem pertahanan mikroorganisme.
Sistem CRISPR kemudian diketahui bekerja bersama protein yang disebut CRISPR-associated proteins atau Cas. Salah satu protein yang kemudian menjadi sangat penting adalah Cas9.
Cas9 mampu melakukan pemotongan DNA dan dapat diarahkan oleh RNA menuju urutan DNA tertentu. Pemahaman mengenai hubungan antara RNA pemandu dan protein Cas9 menjadi dasar pengembangan CRISPR sebagai teknologi penyuntingan genom.
Tonggak penting terjadi pada tahun 2012 ketika penelitian yang melibatkan Emmanuelle Charpentier, Jennifer Doudna, dan rekan-rekan menunjukkan bahwa sistem CRISPR-Cas9 dapat diprogram menggunakan RNA untuk mengarahkan pemotongan DNA pada lokasi tertentu.
Setelah itu, pada tahun 2013, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa teknologi CRISPR-Cas9 dapat digunakan pada sel eukariotik. Perkembangan ini membuat CRISPR semakin cepat digunakan dalam penelitian berbagai organisme.
Dalam bidang tanaman, teknologi tersebut kemudian dikembangkan pada berbagai tanaman model dan tanaman pertanian. Peneliti menggunakannya bukan hanya untuk mengubah karakter tanaman, tetapi juga untuk mempelajari fungsi gen.
Perkembangan CRISPR selanjutnya menghasilkan berbagai teknologi turunan. Selain Cas9 konvensional, terdapat pendekatan seperti base editing, prime editing, CRISPRi, dan sistem Cas lain yang mempunyai karakteristik berbeda.
Hal ini menunjukkan bahwa CRISPR sebaiknya dipahami sebagai sebuah platform teknologi penyuntingan genom, bukan hanya satu metode tunggal.
Prinsip Kerja CRISPR-Cas9
Prinsip kerja CRISPR-Cas9 secara umum adalah mengarahkan enzim Cas9 menuju urutan DNA tertentu menggunakan guide RNA.
Guide RNA mempunyai bagian yang dirancang agar sesuai dengan urutan DNA target. Ketika kompleks gRNA-Cas9 menemukan lokasi yang sesuai dan persyaratan PAM terpenuhi, Cas9 dapat melakukan pemotongan DNA.
Secara sederhana, mekanismenya dapat digambarkan sebagai:
DNA target → gRNA mengenali target → Cas9 terikat → DNA dipotong → DNA diperbaiki oleh sel → muncul perubahan genetik.
Tahap pertama adalah menentukan gen atau wilayah DNA yang ingin diubah. Target dapat berupa gen yang telah diketahui fungsinya atau gen kandidat yang diperoleh dari penelitian genetika.
Setelah target ditentukan, peneliti merancang guide RNA. Urutan gRNA dirancang agar dapat mengenali wilayah DNA tertentu.
Guide RNA kemudian berasosiasi dengan Cas9. Kompleks tersebut mencari DNA yang mempunyai kecocokan dengan informasi yang dibawa gRNA.
Cas9 tidak hanya bergantung pada kecocokan gRNA dengan DNA. Sistem Cas9 tertentu juga memerlukan motif pendek yang disebut PAM atau Protospacer Adjacent Motif.
Pada Cas9 yang banyak digunakan dari Streptococcus pyogenes, PAM yang umum dikenal adalah NGG. Huruf N menunjukkan bahwa posisi tersebut dapat ditempati oleh salah satu basa DNA.
Jika target dan PAM sesuai, Cas9 dapat melakukan pemotongan pada DNA. Pada Cas9 konvensional, pemotongan dapat menghasilkan double-strand break atau DSB, yaitu patahan pada kedua untai DNA.
Patahan tersebut kemudian dikenali oleh sistem perbaikan DNA sel.
Salah satu mekanisme perbaikan yang penting adalah non-homologous end joining atau NHEJ. Mekanisme ini dapat menyambungkan kembali DNA yang rusak, tetapi prosesnya dapat menghasilkan insersi atau delesi kecil.
Jika perubahan tersebut terjadi pada bagian penting suatu gen, fungsi gen dapat terganggu. Kondisi inilah yang sering dimanfaatkan untuk menghasilkan tanaman knock-out.
Mekanisme lainnya adalah perbaikan berbasis homologi yang menggunakan cetakan DNA tertentu. Dalam kondisi yang sesuai, pendekatan tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan perubahan yang lebih terarah.
Dengan demikian, CRISPR-Cas9 sebenarnya memanfaatkan mekanisme perbaikan DNA alami tanaman. Cas9 menghasilkan perubahan awal, sedangkan hasil akhir ditentukan oleh proses perbaikan yang terjadi di dalam sel.
Komponen Utama CRISPR-Cas9

1. CRISPR
CRISPR merupakan bagian penting dari sistem pertahanan adaptif mikroorganisme. Dalam teknologi penyuntingan genom, prinsip CRISPR digunakan untuk memungkinkan sistem mengenali materi genetik berdasarkan informasi urutan tertentu.
CRISPR bukan sekadar istilah untuk “gunting DNA”. Fungsi pengenalan terhadap urutan target merupakan bagian penting dari sistem penyuntingan.
Dalam sistem yang direkayasa, RNA pemandu dirancang agar Cas9 diarahkan menuju lokasi genom tertentu.
2. Enzim Cas9
Cas9 adalah protein yang berfungsi sebagai nuklease. Protein ini mempunyai kemampuan memotong DNA ketika berada pada lokasi target yang sesuai.
Cas9 tidak menentukan target secara mandiri. Informasi mengenai target terutama diberikan oleh guide RNA.
Karena itu, hubungan antara Cas9 dan gRNA sangat penting. Cas9 dapat dianggap sebagai komponen eksekutor, sedangkan gRNA bertindak sebagai pemandu.
Perkembangan teknologi juga menghasilkan berbagai varian protein Cas dengan karakteristik yang berbeda. Varian tersebut dapat memperluas lokasi target dan memungkinkan pendekatan penyuntingan yang tidak selalu bergantung pada pemotongan DNA untai ganda.
3. Guide RNA atau gRNA
Guide RNA merupakan RNA pemandu yang digunakan untuk mengarahkan Cas9 menuju lokasi DNA target.
Pemilihan gRNA merupakan salah satu tahap penting karena kualitas desainnya dapat memengaruhi efisiensi penyuntingan serta kemungkinan perubahan pada lokasi lain.
Desain gRNA biasanya mempertimbangkan urutan target, posisi PAM, karakteristik genom, prediksi efisiensi, dan potensi off-target.
Beberapa kandidat gRNA dapat dirancang dan dibandingkan sebelum sistem terbaik dipilih.
4. DNA Target
DNA target adalah bagian genom yang ingin disunting. Target dapat berupa gen, wilayah regulator, atau bagian tertentu dari genom.
Pemilihan target sebaiknya didasarkan pada pemahaman biologis yang memadai. Peneliti perlu mengetahui fungsi gen dan kemungkinan konsekuensi apabila gen tersebut diubah.
Target yang dipilih juga harus mempunyai hubungan yang masuk akal dengan karakter fenotipe yang ingin dipelajari.
5. PAM
PAM merupakan motif DNA pendek yang berada berdekatan dengan wilayah target dan dibutuhkan oleh sistem Cas tertentu untuk melakukan pengenalan.
PAM menjadi salah satu faktor yang membatasi lokasi yang dapat ditargetkan.
Pengembangan berbagai varian Cas telah memperluas pilihan PAM sehingga semakin banyak lokasi genom yang berpotensi dapat disunting.
Mekanisme CRISPR-Cas9 dalam Penyuntingan Gen Tanaman
Mekanisme penyuntingan dimulai ketika komponen CRISPR-Cas9 berhasil masuk ke dalam sel tanaman.
Guide RNA kemudian berasosiasi dengan Cas9. Kompleks ini mencari DNA yang memiliki karakteristik sesuai dengan target.
Ketika kompleks menemukan PAM yang sesuai, gRNA dapat berinteraksi dengan DNA target melalui pasangan basa.
Jika pengenalan memenuhi persyaratan, Cas9 melakukan pemotongan DNA. Pada sistem konvensional, pemotongan dapat menghasilkan patahan pada kedua untai DNA.
Patahan tersebut kemudian menjadi sinyal bagi sistem perbaikan DNA.
Jika sel menggunakan NHEJ, proses perbaikan dapat menghasilkan insersi atau delesi kecil. Perubahan tersebut dapat menyebabkan perubahan kerangka baca atau mengganggu fungsi protein.
Hasil akhirnya dapat berupa tanaman knock-out.
Jika tujuan penelitian adalah mengganti atau memasukkan sekuens tertentu, pendekatan perbaikan dengan cetakan DNA dapat digunakan dalam kondisi yang sesuai.
Setelah penyuntingan terjadi, tanaman tidak langsung dianggap berhasil. Sel yang telah mengalami perubahan perlu diperiksa secara molekuler.
Pada tanaman, tantangan besar berikutnya adalah mendapatkan tanaman utuh dari sel atau jaringan yang telah diedit.
Karena itu, CRISPR-Cas9 dalam pemuliaan tanaman harus dipahami sebagai rangkaian proses yang mencakup penyuntingan, seleksi, regenerasi, verifikasi, dan evaluasi fenotipe.
Tahapan Penyuntingan Gen dengan CRISPR-Cas9
1. Identifikasi Gen Target
Tahap pertama adalah menentukan gen atau wilayah genom yang ingin disunting.
Identifikasi target dapat dilakukan berdasarkan penelitian sebelumnya, analisis genom, studi ekspresi gen, marker genetik, QTL mapping, maupun penelitian hubungan gen dengan karakter fenotipe.
Dalam pemuliaan tanaman, target dapat berkaitan dengan ketahanan penyakit, toleransi kekeringan, salinitas, kualitas hasil, umur berbunga, tinggi tanaman, ukuran buah, atau karakter agronomis lainnya.
Pemilihan target harus mempertimbangkan fungsi biologis gen. Gen yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman tidak selalu cocok untuk dibuat knock-out.
2. Perancangan Guide RNA
Setelah target diketahui, langkah berikutnya adalah merancang gRNA.
Urutan gRNA harus sesuai dengan wilayah DNA target dan memenuhi persyaratan PAM dari sistem Cas yang digunakan.
Desain gRNA umumnya dibantu oleh perangkat bioinformatika. Beberapa kandidat dapat dianalisis untuk memperkirakan efisiensi penyuntingan dan kemungkinan off-target.
Desain yang baik tidak hanya mempertimbangkan kecocokan dengan target, tetapi juga kondisi genom di sekitar lokasi target.
3. Pembentukan Kompleks gRNA-Cas9
Guide RNA kemudian dipasangkan dengan protein Cas9 sehingga membentuk sistem penyuntingan.
Komponen CRISPR dapat diperkenalkan ke sel dalam berbagai bentuk, misalnya melalui konstruksi DNA, RNA, atau kompleks protein-RNA.
Pilihan tersebut bergantung pada jenis tanaman, jaringan yang digunakan, tujuan penelitian, dan metode transformasi yang tersedia.
4. Pengenalan DNA Target
Kompleks gRNA-Cas9 mencari lokasi genom yang sesuai.
Cas9 terlebih dahulu memerlukan PAM yang kompatibel. Setelah PAM dikenali, gRNA berinteraksi dengan DNA target.
Kecocokan antara gRNA dan DNA menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan penyuntingan.
5. Pemotongan DNA
Jika kondisi pengenalan terpenuhi, Cas9 melakukan pemotongan DNA.
Pada Cas9 konvensional, pemotongan menghasilkan patahan pada kedua untai DNA.
Pemotongan tersebut bukan merupakan tujuan akhir, tetapi menjadi titik awal bagi mekanisme perbaikan DNA.
6. Perbaikan DNA
Sel memperbaiki DNA yang telah mengalami pemotongan.
NHEJ dapat menghasilkan insersi atau delesi kecil yang kemudian dapat mengganggu fungsi gen.
Pendekatan perbaikan berbasis homologi dapat digunakan untuk perubahan yang lebih terarah dalam kondisi tertentu.
Perkembangan teknologi selanjutnya juga menghasilkan base editing yang memungkinkan perubahan basa tertentu tanpa menggunakan pola pemotongan DNA untai ganda seperti Cas9 konvensional.
7. Seleksi dan Verifikasi
Sel atau jaringan yang telah mengalami penyuntingan kemudian diidentifikasi.
Kandidat tanaman dapat dikembangkan melalui sistem regenerasi yang sesuai.
Verifikasi molekuler dilakukan untuk mengetahui apakah perubahan benar-benar terjadi pada lokasi target.
Setelah genotipe diketahui, tanaman kemudian dievaluasi berdasarkan fenotipe.
Misalnya, apabila target penyuntingan berkaitan dengan ketahanan penyakit, tanaman harus diuji untuk mengetahui apakah perubahan DNA benar-benar memberikan peningkatan ketahanan.
Metode Pengiriman CRISPR-Cas9 ke Sel Tanaman
Keberhasilan CRISPR-Cas9 tidak hanya ditentukan oleh desain gRNA. Komponen penyuntingan juga harus dapat masuk ke dalam sel dan bekerja pada lokasi yang sesuai.
Tidak ada satu metode pengiriman yang paling baik untuk semua tanaman. Pemilihan metode sangat dipengaruhi oleh spesies, jaringan target, kemampuan transformasi, sistem kultur, dan kemampuan regenerasi.
1. Agrobacterium-mediated Transformation
Agrobacterium mempunyai kemampuan alami untuk mentransfer materi genetik ke sel tanaman.
Kemampuan tersebut dimanfaatkan dalam berbagai sistem transformasi tanaman, termasuk pengiriman konstruksi yang mengandung komponen CRISPR.
Keuntungan metode ini adalah tersedianya berbagai protokol untuk banyak tanaman.
Namun, apabila konstruksi DNA terintegrasi ke genom, status materi genetik yang masuk perlu dianalisis lebih lanjut.
2. Biolistic atau Gene Gun
Biolistik menggunakan partikel mikroskopis sebagai pembawa materi genetik menuju sel tanaman.
Metode ini dapat digunakan pada tanaman atau jaringan yang relatif sulit ditransformasi menggunakan Agrobacterium.
Namun, kerusakan jaringan, efisiensi transformasi, dan kemungkinan integrasi materi genetik perlu menjadi perhatian.
3. Elektroporasi
Elektroporasi memanfaatkan perubahan sementara pada membran sel untuk membantu memasukkan molekul tertentu.
Metode ini dapat digunakan dalam sistem sel atau protoplas tanaman.
Tantangan utamanya adalah mempertahankan viabilitas sel serta mendapatkan sistem regenerasi tanaman yang efektif.
4. PEG-mediated Transformation
Polietilen glikol atau PEG dapat digunakan untuk membantu memasukkan molekul tertentu ke dalam protoplas.
Pendekatan ini menarik untuk sistem yang menggunakan RNA atau kompleks protein-RNA.
Keterbatasannya adalah tidak semua tanaman memiliki kemampuan regenerasi protoplas yang baik.
5. Pengiriman Ribonucleoprotein
Pada pendekatan RNP, Cas9 dan gRNA diberikan dalam bentuk kompleks protein-RNA.
Pendekatan ini menarik karena komponen penyuntingan tidak harus berupa konstruksi DNA yang menetap dalam sel.
Namun, efisiensi pengiriman dan regenerasi tetap menjadi faktor penting.
Jenis Perubahan Genetik yang Dapat Dihasilkan
1. Knock-out Gen
Knock-out adalah kondisi ketika fungsi suatu gen dikurangi atau dinonaktifkan.
CRISPR-Cas9 konvensional dapat menghasilkan perubahan kecil pada bagian penting gen sehingga protein yang dihasilkan kehilangan atau mengalami gangguan fungsi.
Knock-out sangat berguna dalam penelitian fungsi gen.
Jika tanaman yang gennya dinonaktifkan menunjukkan perubahan fenotipe tertentu, peneliti dapat memperoleh informasi mengenai peran gen tersebut.
Dalam pemuliaan, strategi ini dapat digunakan apabila kehilangan fungsi suatu gen menghasilkan karakter yang menguntungkan.
2. Knock-in Gen
Knock-in mengacu pada pemasukan atau penyisipan sekuens tertentu ke lokasi genom.
Pendekatan ini lebih kompleks dibandingkan knock-out karena memerlukan mekanisme untuk memasukkan sekuens yang diinginkan.
DNA donor dapat digunakan dalam strategi perbaikan berbasis homologi.
Namun, efisiensi knock-in pada tanaman dapat menjadi tantangan sehingga sistem harus disesuaikan dengan spesies dan jaringan yang digunakan.
3. Substitusi atau Perubahan Basa
Perkembangan CRISPR menghasilkan teknologi base editing yang dapat mengubah basa tertentu.
Pendekatan ini sangat menarik karena perubahan satu nukleotida dapat memengaruhi fungsi protein atau regulasi gen.
Perubahan basa juga dapat digunakan untuk mempelajari hubungan antara variasi DNA dengan karakter tanaman.
4. Pengaturan Ekspresi Gen
CRISPR tidak selalu digunakan untuk memotong DNA.
Sistem Cas yang telah dimodifikasi sehingga tidak lagi melakukan pemotongan DNA dapat diarahkan menuju lokasi tertentu untuk memengaruhi ekspresi gen.
Pendekatan seperti CRISPRi dapat digunakan untuk mengurangi aktivitas gen, sedangkan pendekatan aktivasi dapat digunakan untuk meningkatkan ekspresi gen tertentu.
Teknologi tersebut berguna untuk mempelajari hubungan antara tingkat ekspresi gen dengan fenotipe.
Aplikasi CRISPR-Cas9 dalam Pemuliaan Tanaman
CRISPR-Cas9 mempunyai potensi besar dalam pemuliaan tanaman karena memungkinkan peneliti menghubungkan informasi genom dengan karakter agronomis.
Salah satu penerapan penting adalah pengembangan tanaman dengan ketahanan terhadap penyakit.
Jika suatu gen diketahui berperan sebagai faktor kerentanan terhadap patogen, gen tersebut dapat menjadi kandidat untuk disunting.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti menguji apakah perubahan pada gen tertentu benar-benar memengaruhi interaksi tanaman dan patogen.
CRISPR juga dapat digunakan dalam penelitian toleransi terhadap cekaman lingkungan.
Kekeringan, salinitas, suhu tinggi, dan kondisi lingkungan lainnya dapat memengaruhi produktivitas tanaman.
Gen yang berhubungan dengan respons tanaman terhadap cekaman dapat menjadi target penelitian.
Selain ketahanan dan toleransi, CRISPR dapat digunakan untuk mempelajari karakter kualitas hasil.
Jalur metabolisme yang mengatur kandungan minyak, pati, protein, vitamin, pigmen, atau metabolit tertentu dapat menjadi sasaran penyuntingan.
Teknologi ini juga berpotensi digunakan untuk memodifikasi tinggi tanaman, arsitektur tanaman, umur berbunga, ukuran buah, kualitas biji, serta karakter pascapanen.
Namun, karakter agronomis umumnya tidak berdiri sendiri. Satu gen dapat berinteraksi dengan gen lain dan lingkungan.
Karena itu, perubahan pada gen target belum tentu langsung menghasilkan tanaman yang lebih unggul.
Hubungan CRISPR-Cas9 dengan Marker Genetik
CRISPR-Cas9 dapat dipadukan dengan marker genetik untuk membangun alur penelitian yang lebih terarah.
Marker genetik dapat digunakan untuk mengidentifikasi variasi DNA yang berhubungan dengan karakter tertentu.
Dalam penelitian pemuliaan, informasi tersebut dapat membantu memilih wilayah genom atau kandidat gen yang layak diteliti.
Setelah kandidat gen ditemukan, CRISPR-Cas9 dapat digunakan untuk menguji fungsi gen tersebut.
Dengan demikian, marker genetik dan CRISPR mempunyai fungsi yang berbeda tetapi saling melengkapi.
Marker membantu mengenali atau melacak variasi genetik, sedangkan CRISPR dapat digunakan untuk melakukan perubahan pada target atau menguji fungsi gen.
Pendekatan tersebut sangat berguna dalam functional genomics dan pemuliaan berbasis genom.

Hubungan CRISPR-Cas9 dengan QTL Mapping
QTL mapping merupakan pendekatan yang digunakan untuk menemukan wilayah genom yang berhubungan dengan karakter kuantitatif.
Karakter seperti hasil panen, tinggi tanaman, umur berbunga, toleransi kekeringan, dan beberapa komponen hasil biasanya dipengaruhi oleh banyak faktor.
QTL mapping dapat membantu mempersempit wilayah genom yang berkaitan dengan karakter tersebut.
Setelah wilayah QTL ditemukan, peneliti dapat mengombinasikan informasi marker, genom, dan data gen untuk mencari kandidat gen.
Kandidat gen kemudian dapat diuji menggunakan CRISPR-Cas9.
Alurnya dapat digambarkan sebagai:
Populasi tanaman → Fenotiping → Genotiping → QTL mapping → Kandidat gen → Validasi → CRISPR-Cas9 → Penyuntingan → Evaluasi fenotipe.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa CRISPR bukan teknologi yang berdiri sendiri.
Keberhasilannya dapat ditingkatkan melalui integrasi dengan genetika, marker molekuler, QTL mapping, bioinformatika, kultur jaringan, genomik, dan fenotiping.
CRISPR-Cas9 dalam Pemuliaan Tanaman Modern
Pemuliaan tanaman bertujuan menghasilkan tanaman dengan karakter yang lebih sesuai dengan kebutuhan pertanian.
Pemuliaan konvensional dapat dilakukan melalui persilangan dan seleksi. Proses tersebut sangat penting, tetapi untuk karakter tertentu dapat membutuhkan banyak generasi.
Perkembangan teknologi molekuler memberikan tambahan informasi yang dapat membantu proses tersebut.
Marker genetik memungkinkan pemulia melihat variasi DNA.
QTL mapping membantu mengidentifikasi wilayah genom yang berkaitan dengan karakter kuantitatif.
Informasi genomik dapat membantu menemukan kandidat gen.
CRISPR-Cas9 kemudian dapat digunakan untuk menguji atau mengubah kandidat gen tersebut.
Dengan demikian, CRISPR dapat ditempatkan sebagai salah satu bagian dari sistem pemuliaan tanaman modern.
Alur integrasinya dapat diringkas menjadi:
Keragaman genetik → Fenotiping → Genotiping → Marker/QTL → Kandidat gen → Validasi fungsi → CRISPR → Seleksi → Verifikasi → Evaluasi → Kandidat varietas.
Pendekatan ini tidak berarti pemuliaan konvensional menjadi tidak diperlukan.
Sebaliknya, CRISPR dapat menjadi teknologi tambahan yang memperkuat proses pemuliaan ketika target genetik telah diketahui.

CRISPR-Cas9 untuk Ketahanan Tanaman terhadap Penyakit
Ketahanan terhadap penyakit merupakan salah satu karakter yang banyak diteliti menggunakan teknologi penyuntingan genom.
Patogen dapat berinteraksi dengan tanaman melalui berbagai mekanisme. Dalam beberapa kasus, tanaman memiliki gen yang dapat dimanfaatkan patogen untuk mendukung proses infeksi.
Gen tersebut dapat menjadi kandidat sebagai faktor kerentanan.
Apabila fungsi gen tersebut dapat dikurangi tanpa menyebabkan gangguan serius terhadap pertumbuhan tanaman, CRISPR-Cas9 dapat digunakan untuk menguji apakah perubahan tersebut meningkatkan ketahanan.
Namun, ketahanan penyakit tidak selalu dikendalikan oleh satu gen.
Patogen juga mempunyai keragaman genetik sehingga perubahan yang memberikan ketahanan terhadap satu strain belum tentu memberikan ketahanan terhadap strain lain.
Oleh karena itu, tanaman hasil penyuntingan harus diuji terhadap kondisi yang relevan.
CRISPR-Cas9 untuk Toleransi Cekaman Lingkungan
Perubahan iklim dan perubahan kondisi lingkungan meningkatkan kebutuhan terhadap tanaman yang mampu bertahan dalam kondisi kurang ideal.
Kekeringan, salinitas, suhu tinggi, genangan, dan cekaman lainnya dapat menurunkan produktivitas.
CRISPR dapat digunakan untuk mempelajari gen yang berhubungan dengan respons tanaman terhadap kondisi tersebut.
Peneliti dapat melakukan perubahan terhadap gen tertentu kemudian mengamati respons tanaman.
Namun, toleransi cekaman merupakan karakter yang kompleks.
Banyak gen dapat bekerja secara bersama-sama, sedangkan lingkungan juga mempunyai pengaruh yang besar.
Karena itu, hasil penyuntingan harus diuji pada kondisi yang relevan dan, apabila diperlukan, pada lingkungan yang berbeda.
CRISPR-Cas9 untuk Peningkatan Kualitas Nutrisi
Kualitas nutrisi merupakan bidang lain yang mempunyai potensi besar untuk memanfaatkan penyuntingan genom.
Tanaman menghasilkan berbagai metabolit yang menentukan nilai gizi, rasa, warna, aroma, maupun karakter kualitas lainnya.
Dengan memahami jalur biosintesis, peneliti dapat menentukan gen yang berpotensi menjadi target.
Penyuntingan gen tertentu dapat digunakan untuk mengubah produksi senyawa tertentu.
Tujuannya dapat berupa peningkatan kandungan nutrisi, pengurangan senyawa yang tidak diinginkan, atau perubahan komposisi metabolit.
Namun, metabolisme tanaman bersifat kompleks.
Perubahan satu jalur dapat memengaruhi jalur lain. Karena itu, pengembangan tanaman dengan perubahan nutrisi perlu disertai evaluasi komposisi, stabilitas karakter, sifat agronomis, dan aspek keamanan yang relevan.
Contoh Pemanfaatan CRISPR-Cas9 pada Tanaman
Berbagai tanaman telah menjadi objek penelitian CRISPR-Cas9.
Padi
Pada padi, CRISPR digunakan untuk mempelajari gen yang berkaitan dengan produktivitas, arsitektur tanaman, ketahanan penyakit, dan berbagai karakter agronomis.
Padi menjadi salah satu tanaman penting karena mempunyai nilai strategis bagi ketahanan pangan.
Tomat
Pada tomat, penyuntingan genom digunakan untuk mempelajari karakter pertumbuhan, pembungaan, ukuran buah, kualitas buah, dan jalur metabolisme tertentu.
Tomat juga sering digunakan sebagai tanaman model untuk mempelajari hubungan gen dengan karakter buah.
Gandum
Gandum mempunyai genom yang kompleks sehingga menjadi tantangan tersendiri dalam penyuntingan gen.
CRISPR dapat digunakan untuk mempelajari gen yang berhubungan dengan ketahanan penyakit dan karakter agronomis.
Keberadaan beberapa salinan gen pada tanaman poliploid dapat membuat strategi penyuntingan menjadi lebih kompleks.
Jagung dan Kedelai
Jagung dan kedelai juga menjadi objek penelitian penyuntingan genom untuk mempelajari karakter agronomis, ketahanan, dan kualitas hasil.
Pada tanaman dengan genom yang kompleks, strategi target dan verifikasi harus dirancang secara hati-hati.
Kentang dan Tanaman Hortikultura
CRISPR juga dikembangkan pada kentang dan berbagai tanaman hortikultura.
Karakter yang diteliti dapat mencakup kualitas hasil, ketahanan penyakit, komposisi metabolit, umur panen, serta karakter pascapanen.
Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa CRISPR mempunyai dua fungsi penting, yaitu sebagai alat penelitian fungsi gen dan sebagai alat potensial dalam pengembangan tanaman dengan karakter yang diinginkan.
Kelebihan CRISPR-Cas9
1. Target Dapat Dirancang
Salah satu keunggulan utama CRISPR adalah target dapat ditentukan berdasarkan urutan DNA.
Hal ini memungkinkan peneliti memusatkan perhatian pada gen yang mempunyai hubungan dengan karakter tertentu.
2. Relatif Fleksibel
Perubahan gRNA memungkinkan target yang berbeda dipelajari menggunakan platform yang sama.
Fleksibilitas ini membuat CRISPR dapat digunakan pada banyak penelitian.
3. Mendukung Functional Genomics
CRISPR sangat berguna untuk menguji fungsi gen.
Dengan menonaktifkan atau mengubah suatu gen, peneliti dapat mengamati perubahan fenotipe yang dihasilkan.
4. Potensial Mempercepat Pemuliaan
Jika gen target telah diketahui, perubahan dapat diarahkan secara lebih spesifik dibandingkan hanya mengandalkan seleksi fenotipe.
5. Dapat Diintegrasikan dengan Teknologi Molekuler
CRISPR dapat dikombinasikan dengan marker genetik, QTL mapping, genomik, bioinformatika, kultur jaringan, dan fenotiping.
Integrasi tersebut membuat CRISPR menjadi bagian dari ekosistem pemuliaan modern.
Kekurangan dan Keterbatasan CRISPR-Cas9
1. Risiko Off-target
Off-target merupakan perubahan pada lokasi genom lain yang memiliki kemiripan dengan target.
Desain gRNA dapat membantu mengurangi risiko, tetapi verifikasi tetap diperlukan.
2. Efisiensi Penyuntingan Berbeda-beda
Tidak semua target dapat disunting dengan tingkat efisiensi yang sama.
Faktor seperti urutan DNA, struktur kromatin, jenis sel, metode pengiriman, dan karakteristik tanaman dapat memengaruhi hasil.
3. Regenerasi Tanaman Menjadi Tantangan
Keberhasilan penyuntingan DNA tidak otomatis menghasilkan tanaman utuh.
Sel yang telah diedit harus dapat berkembang dan diregenerasikan menjadi tanaman.
4. Mosaicism
Pada beberapa kondisi, penyuntingan dapat terjadi pada waktu berbeda sehingga satu tanaman dapat mempunyai sel dengan genotipe yang berbeda.
Kondisi tersebut dapat menyulitkan interpretasi hasil.
5. Knock-in Lebih Kompleks
Memasukkan sekuens tertentu secara tepat biasanya lebih sulit daripada membuat knock-out.
6. Tidak Semua Gen Cocok untuk Knock-out
Gen yang mempunyai fungsi sangat penting mungkin tidak dapat dinonaktifkan tanpa menimbulkan gangguan serius terhadap pertumbuhan tanaman.
7. Fenotipe Tidak Selalu Sesuai Prediksi
Perubahan satu gen tidak selalu menghasilkan karakter yang diharapkan.
Gen bekerja dalam jaringan biologis yang kompleks dan dapat berinteraksi dengan gen lain serta lingkungan.
8. Regulasi
Status regulasi tanaman hasil penyuntingan genom berbeda-beda antarnegara dan dapat bergantung pada jenis perubahan serta metode yang digunakan.
Karena kebijakan dapat berubah, pengembangan produk harus mengikuti ketentuan resmi yang berlaku pada wilayah pengembangan dan pemasaran.
Perbedaan CRISPR-Cas9 dengan Transgenik
CRISPR-Cas9 dan transgenik sama-sama dapat digunakan dalam bioteknologi tanaman, tetapi keduanya mempunyai prinsip yang berbeda.
Transgenik klasik umumnya bertujuan memperkenalkan materi genetik tertentu ke dalam tanaman sehingga tanaman memperoleh karakter baru.
Sementara itu, CRISPR-Cas9 merupakan teknologi penyuntingan genom yang dapat digunakan untuk mengubah gen yang telah terdapat dalam tanaman.
Perbedaan utama dapat diringkas sebagai berikut:
| Aspek | CRISPR-Cas9 | Transgenik |
|---|---|---|
| Prinsip | Menyunting DNA target | Memasukkan materi genetik |
| Target | Gen atau wilayah genom tertentu | Konstruksi/gen yang diperkenalkan |
| Sumber perubahan | Dapat memodifikasi gen yang sudah ada | Umumnya menambahkan sekuens baru |
| Pengarahan target | Menggunakan gRNA dan persyaratan PAM | Integrasi transgen klasik tidak selalu berada di lokasi tertentu |
| Knock-out | Sangat umum | Bukan tujuan utama transgenik klasik |
| Knock-in | Dapat dilakukan dengan strategi tertentu | Gen baru dapat diperkenalkan melalui konstruksi |
| DNA asing pada produk akhir | Tidak selalu ada, tergantung metode | Umumnya terdapat sekuens transgen pada tanaman transgenik klasik |
| Perubahan basa | Dapat dilakukan dengan teknologi turunan | Bukan fungsi utama |
| Pemanfaatan | Penyuntingan genom dan functional genomics | Introduksi sifat melalui gen yang diperkenalkan |
Perbedaan tersebut tidak berarti CRISPR dan transgenik selalu berada pada dua kelompok yang sepenuhnya terpisah.
Dalam penelitian CRISPR, DNA yang membawa gen Cas9 dan gRNA dapat digunakan sebagai salah satu cara menghadirkan sistem penyuntingan ke dalam sel.
Karena itu, istilah CRISPR tidak otomatis berarti bahwa semua tanaman hasil CRISPR pasti bebas dari DNA asing.
Hal yang lebih penting adalah melihat bagaimana tanaman tersebut dibuat dan seperti apa perubahan genetik akhirnya.
CRISPR-Cas9 dan Pemuliaan Konvensional
CRISPR tidak sepenuhnya menggantikan pemuliaan konvensional.
Pemuliaan konvensional tetap penting untuk menghasilkan keragaman genetik dan menggabungkan karakter dari berbagai sumber.
Persilangan memungkinkan kombinasi genetik baru terbentuk.
CRISPR dapat digunakan ketika pemulia atau peneliti telah mempunyai informasi mengenai gen tertentu yang ingin diubah.
Dengan demikian, kedua pendekatan dapat saling melengkapi.
Pemulia dapat memanfaatkan persilangan untuk menghasilkan kombinasi genetik dan menggunakan teknologi molekuler untuk mengidentifikasi material yang sesuai.
Jika target gen telah diketahui, CRISPR dapat digunakan sebagai pendekatan tambahan untuk menghasilkan perubahan tertentu.
Peran Bioinformatika dalam CRISPR-Cas9
Bioinformatika mempunyai peran penting dalam penyuntingan genom.
Salah satu penerapannya adalah membantu merancang guide RNA.
Perangkat bioinformatika dapat digunakan untuk mencari kandidat target berdasarkan urutan DNA dan memeriksa kemungkinan lokasi yang mempunyai kemiripan dengan target.
Selain desain gRNA, bioinformatika juga membantu analisis hasil sekuensing.
Data hasil verifikasi dapat digunakan untuk mengetahui apakah perubahan terjadi pada lokasi target dan apakah terdapat perubahan lain yang perlu diperhatikan.
Dalam penelitian skala besar, bioinformatika juga membantu mengintegrasikan data genom, ekspresi gen, marker, fenotipe, dan hasil penyuntingan.
Dengan semakin berkembangnya teknologi sekuensing dan komputasi, hubungan antara CRISPR dan bioinformatika diperkirakan akan semakin kuat.
Tantangan Masa Depan Teknologi CRISPR-Cas9
Masa depan CRISPR tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memotong DNA.
Tantangan berikutnya adalah meningkatkan ketepatan, efisiensi, kemampuan menargetkan lebih banyak wilayah genom, serta kemampuan memprediksi hasil penyuntingan.
Pengembangan base editing merupakan salah satu perkembangan penting karena memungkinkan perubahan basa tertentu tanpa mekanisme pemotongan DNA untai ganda seperti Cas9 konvensional.
Prime editing juga dikembangkan untuk memungkinkan perubahan genetik tertentu dengan pendekatan yang lebih fleksibel.
Perkembangan teknologi sekuensing dapat membantu peneliti memeriksa hasil penyuntingan secara lebih menyeluruh.
Kombinasi CRISPR dengan genomik, bioinformatika, kecerdasan buatan, dan pemodelan biologis juga berpotensi membantu pemilihan target dan prediksi hasil.
Dalam pemuliaan tanaman, perkembangan tersebut dapat mendorong pergeseran dari pendekatan yang terutama mengandalkan pengamatan fenotipe menuju pemuliaan yang lebih banyak memanfaatkan informasi genom.
Namun, keberhasilan teknologi tetap bergantung pada kemampuan menghubungkan perubahan DNA dengan karakter agronomis yang nyata.
Alur CRISPR-Cas9 dalam Pengembangan Tanaman
Secara keseluruhan, proses pengembangan tanaman berbasis CRISPR dapat dipahami sebagai rangkaian berikut:
Identifikasi masalah → Identifikasi karakter → Analisis genetika → Kandidat gen → Desain gRNA → Pengiriman CRISPR → Penyuntingan → Seleksi → Verifikasi DNA → Regenerasi → Evaluasi fenotipe → Uji lanjutan → Kandidat tanaman.
Alur tersebut menunjukkan bahwa CRISPR hanya merupakan salah satu bagian dari proses.
Keberhasilan akhir tetap memerlukan pengetahuan mengenai genetika, fisiologi tanaman, kultur jaringan, pemuliaan, statistik, bioinformatika, dan evaluasi agronomis.

Kesimpulan
CRISPR-Cas9 merupakan teknologi penyuntingan genom yang menggunakan guide RNA (gRNA) untuk mengarahkan protein Cas9 ke DNA target yang memiliki PAM, kemudian memotong DNA sehingga proses perbaikan sel menghasilkan perubahan genetik seperti knock-out.
Komponen utamanya meliputi CRISPR, Cas9, gRNA, DNA target, dan PAM, dengan tahapan mulai dari desain target hingga verifikasi hasil.
Dalam pemuliaan tanaman, CRISPR-Cas9 berpotensi meningkatkan ketahanan penyakit, toleransi cekaman, kualitas hasil, dan karakter agronomis, serta membantu menguji fungsi gen kandidat.
Meskipun memiliki keterbatasan seperti off-target, mosaicism, efisiensi penyuntingan, regenerasi tanaman, dan regulasi, teknologi ini dapat dipadukan dengan marker genetik, QTL mapping, genomik, kultur jaringan, bioinformatika, dan fenotiping untuk mempercepat pengembangan varietas tanaman.
Sumber dan Referensi
- Doudna, J. A., & Charpentier, E. (2014). The new frontier of genome engineering with CRISPR-Cas9. Science, 346(6213), 1258096.
- Jinek, M., Chylinski, K., Fonfara, I., Hauer, M., Doudna, J. A., & Charpentier, E. (2012). A programmable dual-RNA-guided DNA endonuclease in adaptive bacterial immunity. Science, 337(6096), 816–821.
- Cong, L., Ran, F. A., Cox, D., et al. (2013). Multiplex genome engineering using CRISPR/Cas systems. Science, 339(6121), 819–823.
- Mali, P., Yang, L., Esvelt, K. M., et al. (2013). RNA-guided human genome engineering via Cas9. Science, 339(6121), 823–826.
- Shan, Q., Wang, Y., Li, J., et al. (2013). Targeted genome modification of crop plants using a CRISPR-Cas system. Nature Biotechnology, 31, 686–688.
- Feng, Z., Zhang, B., Ding, W., et al. (2013). Efficient genome editing in plants using a CRISPR/Cas system. Cell Research, 23, 1229–1232.
- Zhang, Y., Massel, K., Godwin, I. D., & Gao, C. (2018). Applications and potential of genome editing in crop improvement. Genome Biology, 19, 210.
- Chen, K., Wang, Y., Zhang, R., Zhang, H., & Gao, C. (2019). CRISPR/Cas genome editing and precision plant breeding in agriculture. Annual Review of Plant Biology, 70, 667–697.
- Molla, K. A., & Yang, Y. (2020). Predicting CRISPR/Cas9-induced mutations for precise genome editing. Trends in Biotechnology, 38(12), 1366–1376.
- Anzalone, A. V., Randolph, P. B., Davis, J. R., et al. (2019). Search-and-replace genome editing without double-strand breaks or donor DNA. Nature, 576, 149–157.
- Komor, A. C., Kim, Y. B., Packer, M. S., Zuris, J. A., & Liu, D. R. (2016). Programmable editing of a target base in genomic DNA without double-stranded DNA cleavage. Nature, 533, 420–424.
- Zetsche, B., Gootenberg, J. S., Abudayyeh, O. O., et al. (2015). Cpf1 is a single RNA-guided endonuclease of a class 2 CRISPR-Cas system. Cell, 163(3), 759–771.
- Bortesi, L., & Fischer, R. (2015). The CRISPR/Cas9 system for plant genome editing and beyond. Biotechnology Advances, 33(1), 41–52.
- Zaidi, S. S.-A., Mahfouz, M. M., & Mansoor, S. (2018). CRISPR-Cpf1: A new tool for plant genome editing. Trends in Plant Science, 23(6), 550–553.

Seorang tenaga pengajar di Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Suska RIAU dengan bidang keahlian Pemuliaan tanaman dan fisiologi tumbuhan. Semoga web ini bermanfaat.
