7 Jenis Penyakit Kelinci dan Cara Mengatasinya

Diposting pada

Tahukah Anda mengenai Jenis Penyakit Kelinci dan Cara Mengatasinya? Kelinci memang menjadi salah satu hewan yang paling banyak dipelihara. Selain karena wajahnya yang imut dan menggemaskan, pemeliharaan kelinci juga relatif mudah dan murah.

7 Jenis Penyakit Kelinci dan Cara Mengatasinya
7 Jenis Penyakit Kelinci dan Cara Mengatasinya

Namun layaknya makhluk hidup lainnya khusunya hewan peliharaan, kelinci juga bisa terserang penyakit yang tentu bisa menjadi masalah. Selain menjadi masalah bagi si kelinci itu sendiri, tentu saja juga masalah bagi pemelihara.

Ketika kelinci terserang penyakit, maka harus diperlukan penanganan yang tepat agar kelinci bisa segera sembuh dan menghindari sakit yang lebih parah atau yang paling buruk kelinci akan mati.

Berbeda penyakit maka berbeda pula cara penanganannya. Berikut adalah informasi mengenai beberapa penyakit yang kerap menyerang kelinci dan disertai pula dengan cara mengatasinya.

Jenis Penyakit Kelinci

Jenis-jenis penyakit ini adalah yang paling umum dan sering diderita oleh kelinci. Informasi ini sangat penting bagi siapapun yang memlihara kelinci. Berikut adalah beberapa penyakit yang kerap menyerang hewan kelinci:

1. Tungau Telinga

Seperti namanya, penyakit ini adalah penyakit yang menyerang pada telinga kelinci yang disebabkan oleh tungau. Penyakit ini biasa juga disebut dengan nama Scabies.

Apabila kelinci terkena scabies akan ditandai dengan gejala munculnya bintik-bintik berwarna merah muda pada sekitaran telinga kelinci. Bintik tersebut terasa gatal sehingga kelinci akan terus mencoba menggaruknya.

Jika sudah ada gejala seperti itu kelinci harus segera ditangan, karena jika tidak akan menimbulkan cairan yang beraroma tak sedap dan yang lebih parah akan muncul jamur di telinga kelinci.

Cara mengatasinya adalah dengan memisahkan kelinci tersebut dengan yang lain dan berikan obat scabies yang banyak beredar di apotek.

Selain itu selalu jaga kandangnya tetap bersih dan tidak lembab untuk mencegah datangnya kembali penyakit scabies.

2. Gigi Tumbuh Berlebihan

Ini adalah jenis penyakit yang sangat sering terjadi pada kelinci. Pasalnya kelinci memiliki jenis gigi hypsodont yang bisa tumbuh secara terus-menerus.

Secara alami kelinci akan memakan tanaman berserat untuk mengikis gigi depannya dan mencegah giginya tumbuh panjang.

Namun ketika sudah terlanjur, maka kelinci butuh bantuan si pemelihara untuk mengatasi masalah tersebut.

Caranya adalah dengan membawanya ke dokter hewan untuk memotong giginya. Ini sangat penting untuk dilakukan, karena jika dibiarkan akan menimbulkan luka pada lidah, gusi dan pipi dari kelinci.

Selain itu kelinci juga tidak mau makan karena giginya yang panjang.

3. Myxomatosis

Penyakit yang satu ini sangat berbahaya bagi kelinci, sebabnya myxomatosis bisa membunuh kelinci dalam waktu 10 hari saja jika tidak segera ditangani. Mymomatosis disebabkan oleh serangga seperti tungau ataupun nyamuk.

Gejala yang diderita kelinci ketika terserang myxomatosis antara lain adalah terjadi pembengkakan di beberapa area tubuh dan kehilangan selera makan.

Bahkan ketika tingkat lanjut gejala yang ditimbulkan lebih mengerikan lagi seperti mata keluar dari tempatnya, mengalami kebutaan hingga susah bernafas.

Upaya pencegahan dari penyakit myxomatosis bagi kelinci adalah dengan memberikan vaksin.

4. Pasteurellosis

Penyakit yang berikutnya ini juga tak kalah berbahaya bagi kelinci. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri pasteurella multocida.

Pasteurellosis ditandai dengan terinfeksinya saluran air mata dan hidung pada kelinci sehingga ia akan mengalami mata dan hidung berair.

Selain itu ia juga akan sering bersin. Ketika mengalami penyakit ini maka kelinci harus segera dipisahkan, karena pasteurellosis bisa menular ke kelinci lainnya.

Untuk pengobatannya, bawa kelinci ke dokter hewan dimana ia kan diberi antibiotic. Sementara jika sudah parah dan terdapat abses maka akan dilakukan upaya operasi pembedahan.

Untuk mencegah penyakit ini pada kelinci adalah dengan selalu menjaga kebersihan kandang. Untuk kelinci baru lakukan karantina selama beberapa hari sebelum digabung dengan kelinci lainnya.

5. Hairball

Hairball atau gumpalan rambut ini memang kerap kali menyerang hewan-hewan yang memiliki bulu tebal seperti kucing ataupun kelinci.

Ini terjadi karena sifat alami kelinci yang suka menjilat-jilat tubunya untuk urusan membersihkan diri.

Agak berbeda dengan kucing yang bisa memutahkan gumpalan rambutnya sendiri, untuk kasus kelinci, mereka tidak bisa memuntahkannya kembali dan jalan satu-satunya adalah kaluar lewat usus.

Namun masalah datang ketika gumpalan tersebut sudah terlalu banyak menggumpal di usus. Maka jalan satu-satunya adalah melakukan opersai pembedahan untuk mengeluarkan gumpalan rambut tersebut.

Sering-sering sisir bulu kelinci dengan sisir khusu hewan. Ini bertujuan untuk mengurangi gumpalan rambut yang tertelan ole kelinci.

6. Tumor

Ternyata hewan kelinci pun juga bisa terserang tumor. Umunya tumor pada kelinci sering tumbuh pada bagian organ reproduksi dan kelenjar susu.

Gejala ketika tumbuh tumor pada kelinci ditandai dengan muncul benjolan, penurunan berat badan, kelelahan dan kesulitan bernafas.

Apabila tumor masih jinak maka bisa dilakukan upaya pengangkatan lewat pembedahan. Namun ketika sudah mengganas perlu dilakukan kemoterapi.

Untuk mencegah dan mengurangi resiko kanker pada kelinci maka bisa dilakukan sterilisasi pada kelinci.

7. Encephalitozoonosis

Penyakit yang satu ini berasal dari parasit kecil yang masuk ke dalam sel tubuh kelinci. Penyakit ini bisa menular dari induk kelinci ke anak-anaknya lewat Rahim atau urin yang terkontaminasi.

Gejala paling terlihat dari penyakit ini adalah adanya bintik putih pada bagian mata seperti katarak. Selain itu nafsu makan kelinci juga akan berkurang.

Baca Juga : Jenis Makanan Yang Baik dan Tidak Baik Untuk Kelinci

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *