Pengertian Respirasi Anaerobik Adalah : Manfaat dan Manfaatnya

Diposting pada

Pengertian Respirasi Anaerobik Adalah : Manfaat dan Manfaatnya – Dalam sebuah proses metabolisme baik itu pada manusia ataupun hewan, dikenal nama respirasi anaerobik yang digunakan oleh tubuh suatu individu untuk bisa mengubah energi-energi kimia dalam tubuh menjadi zat yang berguna bagi penunjang aktivitas mereka.

Pengertian Respirasi Anaerobik Adalah Manfaat dan Manfaatnya
Pengertian Respirasi Anaerobik Adalah Manfaat dan Manfaatnya

Respirasi jenis ini menjadi sebuah bagian yang sangat penting dalam menjalankan proses metabolisme karena akan mempengaruhi bagaimana tingkat pertumbuhan, kelancaran proses reproduksi serta menunjang revitalisasi atau perbaikan-perbaikan yang terjadi dalam sel.

Pengertian respirasi anaerobik

Dari segi bahasa, aerobik merupakan sebuah frasa yang mewakili oksigen yaitu zat asam yang terdapat dalam bumi dan dapat dengan mudah mengalami reaksi terhadap unsur lainnya.

Adapun pengertian respirasi anaerobik sendiri, adalah sebuah proses metabolisme dalam tubuh makhluk hidup dimana setiap sel yang terdapat dalam tubuh tersebut akan menghasilkan energi kimia tanpa mempergunakan oksigen.

Salah satu contoh jenis utama dari proses anaerobik yang sering ditemui pada sebagian besar organisme adalah glikosis yang merupakan sebuah zat yang mampu mengubah gula menjadi bentuk molekul-molekul energi.

Berdasarkan golongannya, respirasi anaerobik masuk dalam jenis respirasi selular yaitu sejenis metabolisme pada sel yang mampu mengekstrak energi biokimia, yang berasal dari aneka macam bahan kimia dalam nutrisi, kemudian mengubahnya menjadi ATP (Adenosin Trifosfat) dimana merupakan sumber energi utama bagi tubuh.

Respirasi anaerobik yang merupakan golongan dari respirasi seluler ini, terjadi terhadap sel-sel yang tidak memerlukan oksigen dalam proses metabolismenya.

Manfaat respirasi anaerobik

Berbeda dengan respirasi aerobik, yang mengandalkan oksigen dalam proses metabolismenya, biasanya respirasi anaerobik terjadi pada organisme yang rendah.

Apabila respirasi aerobik mampu menghasilkan lebih banyak molekul energi (ATP) dalam metabolismenya, maka respirasi anaerobik hanya bisa menciptakan dua molekul ATP melalui glikosis.

Pada saat awal periode evolusi, berbagai makhluk di bumi ini menggantungkan metabolisme selnya pada keberadaan oksigen yang pada saat itu memang cukup banyak tersedia di atmosfer bumi.

Bahkan untuk bisa memperoleh energi anaerobik, mereka masih membutuhkan molekul-molekul lainnya. Pada beberapa spesies atau organisme yang primitif, termasuk di dalamnya adalah bakteri serta makhluk hidup purba yang hidup di dasar laut, masih mengandalkan molekul lain ini untuk melakukan respirasi anaerobik, karena ketika mereka mendapatkan oksigen, justru akan membahayakan nyawa mereka sendiri.

Contoh respirasi anaerobik pada kehidupan manusia dan hewan

Pada manusia serta hewan-hewan tertentu lainnya, mereka menggunakan kombinasi antara respirasi aerobik dan juga respirasi anaerobik dalam proses metabolismenya.

Respirasi anaerobik sangat penting dalam proses memunculkan energi pada otot untuk bisa beraktivitas dengan kuat, dimana dalam aktivitas tersebut menggunakan kekuatan glikosis serta produktivitas asam laktat, dimana asam inilah yang sering mengakibatkan kram atau nyeri otot apabila sampai terbentuk.

Contoh lain dari proses respirasi jenis ini adalah pada proses peragian dimana menggabungkan proses fermentasi dan respirasi jenis ini dalam metabolismenya.

Proses fermentasi akan mencerna gula dan kemudian menciptakan etil alkohol dan beberapa jenis gas lain sebagai efek produk sampingannya.

Hal inilah yang mengakibatkan mengapa adonan roti bisa mengembang bila didiamkan, karena terjadi proses biokimia dimana ragi yang mengubah reaksi kimia dalam adonan secara anaerob.

Pada umumnya unsur sulfur, nitrogen dan karbon pada atmosfer bumi dikelola serta dihasilkan oleh respirasi anaerobik.

Misalnya saja bakteri yang bermetabolisme tanpa oksigen ternyata mereka juga menghasilkan gas metana sebagai produk sampingan.

Meskipun proses metabolisme ini sangat menunjang industri perminyakan, namun produk gas sampingan yang dihasilkan (metana) tersebut ternyata juga menimbulkan efek rumah kaca yang bisa mempengaruhi perubahan iklim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *