Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Labu Siam

Diposting pada

Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Labu Siam – Dalam bidang pertanian, tentunya Anda sering mendengar istilah labu siam.

Labu siam termasuk salah satu komoditas yang sangat mudah ditemukan, hal ini sesuai dengan data statistik yang menyatakan bahwa produksi labu siam dari tahun 2000 hingga tahun 2012 mengalami peningkatan yaitu dari 158.654 ton menjadi 428.083 ton (BPS, 2013).

Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Labu Siam
Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Labu Siam

Labu siam (Sechium edule (Jacq.) Sw.) merupakan tanaman subtropis dan termasuk ke dalam spesies cucurbitaceus yang sering digunakan sebagai bahan makanan.

Budidaya Tanaman Labu Siam telah dilakukan sejak zaman pra-Kolombia (Saade, 1996). Pada artikel ini, kita akan membahas mengenai klasifikasi dan morfologi tanaman labu siam. Simak penjelasan lengkap berikut ini!

Sejarah Singkat Labu Siam

Tanaman labu siam (Sechium edule (Jacq.) Sw.) merupakan tanaman yang hidup di daerah tropis maupun sub tropis, awalnya terkenal di wilayah selatan Meksiko dan Amerika Tengah.

Nama “chayote” (labu siam) berasal dari bahasa Aztec “chayotli” (Rubatzky dan Mas, 1999). Labu siam banyak ditanam di kawasan Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Penduduk di Indonesia memiliki beberapa sebutan, seperti waluh jipang (Jawa Tengah), gambas (Jawa Barat), manisah (Jawa Timur), dan sebagainya.

Klasifikasi Tanaman Labu Siam

Menurut ITIS (2010), tanaman labu siam dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

  • Kerajaan               : Plantae
  • Subkingdom         : Viridiplantae
  • Superdivisi           : Empbrophyta
  • Divisi                   : Tracheophyta
  • Bagian                  : Spermathophytaina
  • Sub divisi             : Angiospermae
  • Kelas                    : Dicotyledonae
  • Bangsa                 : Cucurbitales
  • Suku                     : Cucurbitaceae
  • Marga                   : Sechium
  • Jenis                     : Sechium edule Sw
  • Morfologi Tanaman Labu Siam

Morfologi Tanaman Labu Siam

Putri pada tahun 2012 menjelaskan mengenai morfologi tanaman labu siam, diantaranya adalah:

  • Habitus

Habitus labu siam berupa tanaman perdu merambat dan semusim. Setelah berbunga dan berbuah, tanaman ini akan mati.

Bunga tanaman labu siam memiliki tipe bunga jantan dan bunga hermaprodit berumah satu (monoecious). Tanaman ini dapat merambat hingga mencapai 3-5 meter.

  • Batang

Labu siam memiliki batang yang lunak, beralur, banyak cabang, serta memiliki alat untuk membelit yang berbentuk spiral.

Permukaan batang umumnya kasar atau agak kasar, berwarna hijau, dan permukaan berbulu. Batang tanaman labu siam berbentuk bulat dan melilit

  • Daun

Daun labu siam memiliki ciri-ciri yaitu daunnya tunggal dan berbentuk jantung, tepi bertoreh, dengan ujung yang meruncing, pangkal runcing, permukaan kasar, panjang 4-25 cm dengan lebar antara 3-20 cm.

  • Bunga

Bunga tanaman labu siam memiliki bunga majemuk yang keluar dari ketiak daun, dengan kelopak bertajuk lima, mahkota beralur, lima benang sari, kepala sari jingga, satu putik yang berwarna kuning.

  • Biji

Warna biji buah labu siam yang telah mengering adalah hitam, putih, atau putih kecoklatan. Buahnya menggantung di tangkai dengan permukaan berlekuk berwarna hijau keputih-putihan.

Buah labu siam berwarna hijau ketika mudadengan larik-larik putih kekuningan. Semakin matang, warna bagian luar buah berubah menjadi hijau pucat sampai putih.

Dalam budidaya tanaman labu siam, jumlah buah harus dibatasi untuk menghasilkan ukuran buah yang lebih besar.

  • Akar

Akar tanaman labu siam berwarna putih kecoklatan. Akarnya berupa akar serabut, bercabang banyak, berbentuk bulat sampai agak persegi, dan berbatang lemah. Akar tanaman labu siam menyebar, tetapi dangkal.

Manfaat Buah Labu Siam

Labu siam memiliki rasa yang enak dan dapat dijadikan lauk setelah dikukus atau direbus dan dapat dimakan mentah sebagai lalapan. Selain itu, labu siam mempunyai kandungan gizi yang tinggi dan komposisi gizi yang cukup lengkap.

Labu siam memiliki banyak kandungan gizi, salah satunya adalah serat nabati yang dijadikan sumber serat makanan. Menurut Daryono (2012), labu siam memiliki kandungan pektin sebesar 6,7%.

Pektin merupakan komponen serat yang terdapat pada dinding sel tumbuhan. Pektin berguna dalam pembentukan gel dan bahan penstabil pada pembuatan jeli, selai, dan sari buah.

Mengonsumsi serat dala jumlah yang cukup juga baik untuk mengatasi sembelit dan aman untuk lambung yang sensitif atau radang usus.

Labu siam dipercaya digunakan sebagai tumbuhan obat oleh masyarakat. Bagian tanaman yang digunakan agar diperoleh masing-masing aktivitas biologi dan farmakologi tersebut tidak selalu sama, misalnya agar diperoleh aktivitas sebagai antihiperlipidemia digunakan bagian daging buah dari labu siam.

Pengolahan untuk mendapatkan efek tersebut untuk buah labu siam biasanya dijadikan minuman seperti jus terlebih dahulu.

Dalam bidang pengobatan, labu siam memiliki aktivitas diuretik, antihiperlipidemia, antiinflamasi (Sateesh et al., 2012), dan penurunan kadar glukosa darah (Putri, 2012).

Saponin sangat bermanfaat dalam menghambat dan mencegah penyerapan kolesterol dalam tubuh. Alkaloid mampu meperlancar peredaran darah sehingga dapat mencegah stroke, sedangkan tanin memiliki aktivitas antimikroba.

Senyawa polifenol, antosianin, dan flavonoid memiliki aktivitas antioksidan, menurunkan risiko penyakit jantung, menurunkan tekanan darah, membantu mencegah kanker, dan membantu menghentikan proses inflamasi (Higgins, 2004; Mélo et al., 2006).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *